Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, July 30, 2012

Inspirasi vs Plagiarisme

Minggu, 28 Juli 2012

KlabKlassik Edisi Playlist kali itu tidak seperti biasanya yang mewajibkan masing-masing pesertanya membawa satu lagu. Kali ini peserta mesti membawa dua lagu karena ada yang harus dipersandingkan. Topiknya adalah tentang inspirasi vs plagiarisme. Jika ada satu lagu mirip dengan lagu lainnya, kita bisa pertanyakan: Apakah itu inspirasi, ataukah itu plagiasi?

Meski yang hadir tidak terlalu banyak, namun edisi playlist kali ini justru menyuguhkan lagu cukup banyak. Selain karena memang yang dibawa masing-masing orang adalah dua, tapi penyebab utamanya adalah keberadaan Rahardianto yang membawa hingga belasan lagu. Katanya, "Mudah sekali menemukan lagu Indonesia yang mirip dengan lagu asing. Bahkan di youtube pun ramai-ramai mempersandingkan." Berikut adalah beberapa lagu yang kemarin diputar, yang dirasa punya kemiripan:

1. Le Marseilles (Lagu Kebangsaan Prancis) dengan Dari Sabang Sampai Merauke. Kemiripan ini cukup identik, meski yang sangat persis hanyalah dua bar pertamanya. Namun jika dicermati, bar-bar berikutnya dari lagu Dari Sabang Sampai Merauke hanyalah variasi sedikit dari Le Marseilles.

2. Frozen (Madonna) dan Ma Vie Fout Le Camp (Salvatore Acquaviva). Kemiripannya ada di beberapa bar bagian verse. Konon Acquaviva menggugat Madonna dan memenangkannya. Lagu Frozen pun dilarang diputar di Belgia. 

3. Kopi Dangdut (Fahmi Syahab) - Moliendo Cafe (Hugo Blanco). Siapa yang tidak kenal lagu Kopi Dangdut? Hampir semua lapisan masyarakat Indonesia tahu lagu dangdut populer ini. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Moliendo Cafe nyaris tidak punya perbedaan dengan Kopi Dangdut.

4. Jangan Sakiti Aku Lagi (Radja) - No More Lonely Night (Paul McCartney). Rahar menyebut persamaan kedua lagu ini sebagai "persamaan pada intinya". Atau sekilas berbeda, tapi intinya sama-sama saja. Dalam arti kata lain, ini masuk kategori "plagiasi yang samar-samar".

5. Mari Bercinta (Aura Kasih) - Give it To You (Sean Paul). Kemiripan ini sangat identik. Hanya karena Aura Kasih memainkannya dengan beat disko dan Sean Paul hip-hop, maka bagi orang awam tidak akan terlalu kentara. Namun melodi lagunya sungguh persis.

6. Pupus (Dewa) - Life is Real (Queen). Ahmad Dhani terlihat sekali terinspirasi Queen dalam banyak lagunya. Rahar juga mengategorikan kemiripan ini sebagai cukup samar dan lebih terasa sebagai inspirasi daripada plagiasi.

7. Mak Comblang (Potret) - Alright (Supergrass). Kemiripan ini tidak terlalu jelas, namun terasa sekali dari ritem dan "semangat"-nya. Bahkan konsep video klip diantara keduanya pun punya kemiripan.

8. Bagaikan Langit (Potret) - Good Life (Weezer). Rahar mencium persamaan ini pada fill-in drum dan juga bagian tengah, semacam bridge dan solo-nya. Melly mengambil style yang luar biasa identik meski terlihat ia mengubahnya sedikit-sedikit.

9. Take em All (Cockspringer) - Iwa Peyek. Iwa Peyek orisinil? Tunggu sampai mendengarkan bagian reffrain lagu Cockspringer tersebut!

Ada cukup banyak lagu yang diputar, belum termasuk yang dihadirkan oleh Diecky -yang dengan niat ia sudah potong-potong lagu tersebut ke dalam satu file-. Namun yang lebih terpenting adalah membahasnya. Kata Diecky, dalam aturan hak cipta sendiri, lagu baru dianggap plagiasi jika menjiplak hingga delapan bar. Kenyataannya, banyak musisi, walaupun mirip, tapi secara cerdik berhasil menghindari aturan hingga delapan bar tersebut (simak Dari Sabang sampai Merauke yang cuma dua bar). "Selebihnya," lanjut Diecky, "Dikembalikan pada harga diri si musisi itu. Jika memang terasa menjiplak walaupun tidak bisa dibuktikan, ia bisa mendapat sanksi dari masyarakat berupa cap plagiator yang tidak resmi."


Tapi apa bedanya kemiripan seperti ini dengan misalnya Marcel Duchamp yang melukis monalisa dan hanya menambahkan kumis? Lanjut Diecky, "Beda, kalau Duchamp ada semacam mocking yang terang-terangan. Persis seperti parodi yang dilakukan oleh Project Pop. Namun musisi-musisi ini, sepertinya sengaja 'terinspirasi' oleh musisi yang kurang terkenal, yang asumsinya tak bisa dilacak oleh masyarakat banyak. Sedangkan 'menjiplak' Monalisa itu kasus lain, siapa yang tak tahu lukisan Monalisa?"  Inilah yang menjadi persoalan: Ketika akses terhadap internet sudah semakin marak, orang sudah bisa melacak lagu-lagu ke seluruh dunia, tidakkah sebaiknya pencipta lagu malah harus semakin mawas diri dalam mencipta? 


No comments: