Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, October 01, 2012

Mengapa Tidak Semua Kegiatan KlabKlassik berkaitan dengan Musik Klasik?

Meskipun tidak ada yang sungguh-sungguh bertanya tentang hal di atas, namun saya entah kenapa merasa harus menjawabnya. Karena sejak awal tahun 2012, KlabKlassik punya program komunitas baru, yang penjabarannya seperti ini: 

  • Minggu Kedua: Edisi Nonton dengan koordinator Yunus Suhendar. Film yang ditonton memang pernah beberapa kali berkaitan dengan musik klasik seperti From Mao to Mozart dan Amadeus. Namun pernah juga film-film yang tidak ada hubungannya seperti Nosferatu.
  • Minggu Ketiga: Edisi Playlist dengan koordinator Adrian Benn. Ini adalah semacam sesi mendengarkan musik bersama. Peserta membawa lagunya sendiri untuk diapresiasi secara bersama-sama. Lagunya ini dibawa sesuai tema, misalnya: "Blacklist Wedding Song", "Lagu yang ingin Kamu Perdengarkan jika Kamu Mati", "Musik Pengantar Tidur" atau "Inspirasi versus Plagiarisme". Harus musik klasik? Tidak harus!
  • Minggu Keempat: Edisi Bincang-Bincang dengan koordinator Diecky K. Indrapraja. Diskusinya juga tidak melulu tentang musik klasik, bahkan hampir tidak pernah. Edisi ini biasanya mengundang narasumber untuk memperbincangkan musik seperti ska, black metal, blues, hingga psikedelik. 
Lantas, sebelah mana sisi musik klasiknya? Bukankah ini mengkhianati visi dan misi KlabKlassik sendiri? Hal seperti ini pernah berkerut di kening mahasiswa antropologi yang datang untuk meneliti KlabKlassik. Bukan mereka yang bertanya, tapi ketika mahasiswa-mahasiswa tersebut mempresentasikan tentang KlabKlassik di depan kelas, mereka dicecar pertanyaan dari mahasiswa lainnya, "Terus, mana musik klasiknya?" Adrian Benn ketika pertama kali bergabung dengan KlabKlassik pun bertanya-tanya, "Ini bahas apa sih?" tanyanya yang waktu itu sedang membahas musik India oleh Pak Hardianto.

Ini akan saya coba memberi jawaban yang belum tentu memuaskan, dan juga tidak bermaksud sebagai pembelaan diri. Melainkan semacam pertanggungjawaban saja tentang apa yang kami lakukan:

  1. Apa yang dilakukan terkait dengan musik klasik sudah dilakukan lewat konser-konser yang diadakan sekitar dua atau tiga bulan sekali. 
  2. Setiap minggunya, rutin KlabKlassik mengadakan latihan ensembel gitar bernama Ririuangan Gitar Bandung (RGB). Repertoarnya biasanya musik klasik atau minimal dilakukan dengan teknik fingerstyle.
  3. Ada satu kritik dari kami bahwa baik musisi maupun apresiator musik klasik kerap terjebak di menara gading. Misalnya, lagu yang didengar hanya musik klasik, repertoar yang dimainkan hanya musik klasik, sejarah yang dipelajari adalah hanya tentang sejarah musik klasik. Yang demikian tidak bisa dibilang salah jika atas nama profesionalitas musisi. Namun terutama sebagai apresiator, kami menganggap bahwa apresiator yang baik adalah mereka yang bisa mengapresiasi segala jenis musik dan kesenian. Karena kami berasumsi, bahwa tidak ada musik yang baik dan buruk, yang ada hanyalah bagaimana apresiator menempatkan sesuatu dalam konteksnya. Misalnya, membandingkan musik reggae dengan musik mozart tentu saja tidak kontekstual secara timeline sejarah. Namun melihat pengaruh reggae dalam masyarakat Jamaika tentu saja akan membuat kita lebih bijaksana dalam mengapresiasi.
  4. Mereka yang terbiasa mengapresiasi musik klasik, akan mempunyai pisau bedah analisis yang lebih lengkap untuk melihat musik-musik lainnya. Orang yang terbiasa mengapresiasi musik klasik (terutama yang akademisi) akan lebih bisa merasakan melodi, kadens, instrumentasi, harmoni, progresi, tema, dan lain sebagainya (meskipun hal ini tidak mutlak, karena ada apresiator musik klasik yang tak pandai dalam hal semacam ini, ada juga orang non-musik klasik yang peka terhadap analisis). Atas dasar itu, diharapkan pembahasan tentang musik dan kesenian lainnya akan lebih lengkap. Misalnya, membahas film tapi kita bisa dengan jeli mengamati musik latarnya, ditinjau dari instrumentasi dan ketegangan yang dibangunnya.
  5. Dengan membahas musik-musik dari non-klasik, akan hadir juga penikmat-penikmat yang lebih umum. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh beberapa orang dari komunitas musik black metal yang hadir ke KlabKlassik. Katanya, "Di kalangan kami sendiri, jarang sekali diskusi seperti ini. Anehnya, diskusi black metal malah dihadirkan di komunitas musik klasik."
Demikian. Diharapkan, dengan program rutin KlabKlassik yang membedah berbagai jenis musik dan seni lainnya, para apresiator menjadi lebih bijak dan arif, bahkan ketika mereka kembali mengapresiasi musik klasik itu sendiri. Selain itu, citra eksklusivitas musik klasik yang kerapkali mengurung diri di menara gading juga bisa diusir jauh-jauh. Harusnya, musik klasik, sebagaimana seni secara umum, bertujuan -kembali lagi- untuk membuat manusia menjadi lebih manusiawi.

No comments: