Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, October 21, 2012

Tarkus dan Pemberontakan Kaum Proletar

Minggu, 21 Oktober 2012


KlabKlassik tengah mencoba inovasi baru. Yang menjadi perbincangan kali ini adalah per karya setelah sebelumnya biasanya pembahasan menyangkut satu tema besar seperti genre musik tertentu. Tarkus karya Emerson, Lake and Palmer (ELP) tahun 1971 -sebuah karya berdurasi dua puluh menit- diperdengarkan hingga tuntas sebelum dibicarakan bersama-sama.

Karya tersebut dihadirkan tanpa jeda. Semua terdiam selama dua puluh menit, menyimak Tarkus yang dibagi tujuh bagian berjudul Eruption, Stones of Years, Iconoclast, Mass, Manticore, Battlefield, dan Aquatarkus. Hanya bermodalkan tiga pemain, band beraliran symphonic progressive rock tersebut menghentak dengan musik yang kompleks dan mengguncang. Sesekali disisipkan juga irama yang lebih lembut agar apresiator bisa menghela napas sebentar, sebelum dipaksa menahan kembali di menit-menit berikutnya. Musik berhenti di dua puluh menit tiga puluh lima detik, menimbulkan tepuk tangan meriah di beranda Tobucil.

"Bosen, ngantuk," begitu tanggapan Kristianus, meski ia juga mengakui kualitas musiknya yang njelimet. Hal yang sama juga diamini oleh Dody dan Mas Dudi yang mengaku memang sedikit jenuh karena durasinya yang panjang. Namun kompleksitas musiknya membuat para peserta diskusi yang hari itu berjumlah delapan tetap bertahan dalam tempat duduknya. "Membuatku ingat animasi yang biasa diproduksi oleh Marvel," ujar Permata yang hari itu hadir mendampingi Iqbal. "Padahal pada masa itu, orang mudah sekali mengapresiasi musik sepanjang dua puluh menit. Sekarang, rasanya lima menit pun sudah kehilangan konsentrasi. Apa karena industri?" tanya Rendy yang dijawab anggukan Kristianus.

Diskusi menjadi menghangat ketika Mas Ismail Reza ikut. Mas Reza langsung mengeluarkan isi pikirannya tentang Tarkus, "Ada orang-orang yang menginterpretasikan Tarkus sebagai representasi ideologi komunis. Hal tersebut wajar karena masa itu komunis sedang hangat-hangatnya, menunjukkan kebesarannya yang mewujud dalam negara semacam Uni Soviet dan RRC." Mengapa ada kekaguman pada komunisme? Bukankah ELP adalah representasi anak muda AS yang notabene waktu itu sedang gencar-gencarnya berperang dingin melawan Uni Soviet? "Iya, justru ini semacam pemberontakan. ELP berasal dari kaum hippies yang tidak setuju terhadap Perang VIetnam. Komunisme menjadi semangat yang diambil untuk menunjukkan masyarakat bawah, jika bersatu, akan mampu menggulung diri seperti Tarkus yang berwujud armadillo alias trenggiling."

Mas Reza tidak berhenti sampai di situ. Ia menambahkan simbolisasi Manticore yang disebut dalam movement kelima dalam Tarkus. "Manticore adalah binatang dalam mitos yang jika ia hadir, bisa membusuki lingkungan sekitarnya. Ini bisa jadi merupakan representasi ideologi kapitalis." Lebih lanjut, Mas Reza mengomentari bagian terakhir dari Tarkus berjudul Aquatarkus. Katanya, "Dalam pertarungannya dengan Manticore, Tarkus mengalami kekalahan. Ia pergi ke air dan melahirkan anak-anaknya. Disitulah representasi komunisme kembali ditunjukkan: Meski kalah melawan kapitalisme, namun idenya selalu menggaung."

Pembahasan menjadi masuk ke band ELP itu sendiri. Pada masa itu, lanjut Mas Reza, ada semacam upaya agar musik rock sejajar dengan musik klasik. "Keith Emerson, sang kibordis, kerap membawa wine ketika bermain. Ia ingin menunjukkan bahwa rock juga bisa bergaya aristokrat." Tidak hanya dari gaya, dalam hal bermusik pun, ada semangat untuk memperlihatkan bahwa rock bisa sedemikan kompleks dan dinikmati secara serius. "Keith Emerson tidak hanya berkemampuan tinggi, ia juga pandai bereksperimen. Contohnya adalah penggunaan moog modular synthesizer yang ia gunakan dalam banyak lagu-lagu ELP," lanjut Mas Reza. Alat tersebut adalah yang memungkinkan Emerson menghasilkan bebunyian yang luar biasa aneh pada masanya. "Segala yang berbau elektronis, pada masa itu, sangatlah menghebohkan. Emerson adalah salah satu pelopornya," tambah Mas Reza.

Setelah pemaparan panjang lebar yang bergizi, Mas Reza menambahkan beberapa suplemen musik agar peserta semakin memahami apa itu progressive rock. Mas Reza memutar Mahavishnu Orchestra dan King Crimson beberapa lagu. Pertanyaan semisal, "Apa ciri-ciri progressive rock?" tidak akan serta merta dijawab oleh Mas Reza sebagai rock yang punya ciri-ciri musik kompleks. Pertama-tama ia akan mengatakan bahwa, "Dengerin aja dulu sebanyak-banyaknya, maka kita akan tahu ciri-ciri progressive rock itu sendiri." Tapi jika terpaksa harus mengungkapkan dengan kata-kata, ia akan menjawab, "Pokoknya jika ada lagu cinta tapi alih-alih terdengar galau, tapi malah terdengar suram, maka kita bisa curigai itu progressive rock." Demikian pernyataan tersebut yang langsung disambut tawa para peserta.

Rendi (kiri) dan Mas Reza (kanan)

No comments: