Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, December 31, 2012

Catatan di Tahun Ketujuh

KlabKlassik tanpa terasa berulangtahun yang ketujuh di bulan Desember 2012 kemarin. Berdiri sejak 9 Desember 2005, KlabKlassik rutin menyelenggarakan sejumlah kegiatan baik dalam bentuk komunitas mingguan maupun konser-konser. Berikut sejumlah catatan kegiatan KlabKlassik di tahun 2012:

1. Konser-Konser
Di tahun 2012, KlabKlassik termasuk aktif mengadakan sejumlah konser. Bulan Januari langsung dibuka dengan Resital Empat Gitar, bulan-bulan berikutnya berentetan konser-konser menarik semisal konser Anime String Orchestra, Resital Piano Levi Gunardi, Classical Guitar Fiesta 2012, Resital Gitar Jardika Eka dan Syarif Maulana, dan Resital Oboe Afdhal Zikri. Kecuali Resital Piano Levi Gunardi yang diadakan di gedung Dana Mulia, konser-konser lainnya diselenggarakan di Auditorium CCF Bandung yang sekarang sudah berganti nama menjadi IFI.

2. Konsistensi Kegiatan Komunitas
Penyelenggaraan kegiatan komunitas mingguan yang berlangsung di Tobucil mendapatkan angin segar seiring dengan konsistensi dan penjadwalan yang baik. Minggu pertama libur, minggu kedua untuk Edisi Nonton garapan Yunus Suhendar, minggu ketiga untuk Edisi Playlist garapan Adrian Benn, sedangkan minggu keempat adalah Edisi Bincang-Bincang yang dipimpin oleh Diecky K. Indrapraja. Penyelenggaraan ini berlangsung konsisten dan menciptakan topik-topik yang menarik minat seperti membahas music scoring film 2001: Space Odyssey, Malena, dan Social Network. Sedangkan Edisi Playlist yang sudah berlangsung sejak tahun lalu, sekarang mulai dikenakan sejumlah tema seperti Blacklist Wedding Song, Musik Indonesia tahun 2000-an atau Merayakan Kehidupan sehingga lagu yang dibawa menjadi lebih terspesifikkan. KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang bertemakan topik-topik musik yang amat luas mulai dari Psikedelik, Ska, hingga Black Metal. Imbasnya, sejumlah peserta yang datang ke KlabKlassik pun semakin beragam.

3. Perginya Sejumlah Punggawa
Meski di awal hingga pertengahan tahun cukup stabil dan konsisten, menjelang akhir terdapat semacam cobaan yaitu perginya empat punggawa KlabKlassik secara hampir bersamaan. Afifa Ayu ke Jepang, Diecky K. Indrapraja menikah dan tinggal di Pontianak, Bilawa Ade Respati ke Jerman, dan Rahar Palsu ke Prancis. Kepergian empat orang yang cukup krusial bagi penyelenggaraan komunitas ini, menimbulkan guncangan sesaat sehingga kegiatan sempat diliburkan beberapa minggu. Namun di akhir tahun, KlabKlassik kembali aktif lewat latihan gitar bersama Ririungan Gitar Bandung.

Sunday, December 23, 2012

Dua Lagu Baru untuk RGB

Minggu, 23 Desember 2012

Meskipun rata-rata aktivitas di Tobucil sudah mulai libur akhir tahun, grup Ririungan Gitar Bandung (RGB) belum juga mau menyerah. Mereka masih tetap berlatih rutin seperti biasanya. Hal ini tentu saja didorong oleh kenyataan bahwa mereka harus konser di bulan Maret nanti. Kata sang ketua, Sutrisna, "Persiapan tidak boleh longgar."


Konser yang akan digelar Maret nanti, seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, akan bertemakan lagu-lagu The Beatles. Setelah cukup lancar dengan sejumlah stok lagu seperti Drive My Car dan Come Together, RGB mendapatkan asupan lagu baru yaitu Let It Be dan Imagine. Meski Imagine adalah lagu yang digubah setelah John Lennon lepas dari The Beatles, namun karya tersebut tetap dilatih. Hanya dihadiri enam orang, RGB tetap bersemangat. Terbukti dengan karya Let it Be yang sukses dibaca hingga akhir. Imagine tidak langsung dilatih karena peserta tidak memenuhi kuorum -Imagine diaransemen untuk delapan gitar!-.


Meski waktu konser sudah dekat, RGB ini mengandung sejumlah persoalan. Misalnya, jumlah peserta yang hadir terlalu sedikit dan jauh di bawah peserta konser tahun 2009 silam yang mencapai lebih dari sepuluh. Padahal, keanggotaan RGB kali ini sudah sangat murah, yakni lima ribu per bulan -bandingkan dengan tahun 2009 dimana kebijakan administrasi diterapkan lima puluh ribu untuk tiga bulan-. Untuk RGB kali ini, sebenarnya jumlah repertoar serta kesempatan tampil pun cukup meningkat. Dalam sebulan terakhir, RGB sudah main di dua acara publik yakni Car Free Day Buahbatu dan sebuah acara sekolah musik di Metro Trade Centre. 

Memang kehadiran yang secara kuantitas sedikit ini, sama sekali tidak menyurutkan semangat peserta. Namun alangkah indahnya jika label 'ririungan' sejalan dengan kuantitas yang cukup. Setidaknya dari sudut pandang penonton, kelihatan bahwa yang tampil di atas panggung begitu meriah, semangat, dan terkesan para gitaris sedang bersilaturahim: 'ngariung' sambil bercanda tawa. 

Saturday, December 15, 2012

Page Turner (2)

Ini adalah kali kedua saya didaulat menjadi petugas pembalik halaman partitur alias page turner. Ini kali kedua juga saya merasa harus menuliskannya karena betapa pengalaman ini sedemikian berkesan.
Pengalaman pertama datang setahun lalu tepatnya tanggal 3 Desember 2011. Waktu itu di Surabaya, debut saya tak tanggung-tanggung: Menjadi page turner bagi resital yang melibatkan dua pemain berkelas, yang satu adalah Urs Bruegger, klarinetis asal Swiss, dan Ratnasari Tjiptorahardjo, pianis Indonesia domisili Australia. Ketegangan yang dialami luar biasa, terutama disebabkan itu merupakan pengalaman pertama. Pada akhirnya, kegiatan membulak balik halaman itu berlangsung cukup lancar -Ibu Ratna mencatat saya satu kali terlambat membalik-. Saya mendapat kesimpulan istimewa: Inilah posisi VVIP dalam apresiasi musik klasik. Tidak ada senot pun yang terlewat untuk diapresiasi. Adrenalin khas konser pun mau tak mau ikut ditularkan pemain, sehingga saya terseret untuk tegang. 
Kesempatan kedua kali baru saja datang tadi malam. Pianis Mutia Dharma meminta saya untuk membukakan tiga dari empat karya yang dibawakan malam itu. Resital Sarah Tunggal (flute) dan Arya Pugala Kitti (biola) tersebut membawakan komposisi dari Bach, Schubert, Dvorak, dan Faure. Dengan penuh rasa syukur, sekali lagi saya mendapatkan kesempatan untuk duduk di samping pianis dan merasakan aura konser secara utuh penuh. Liukan sahut menyahut ala Bach, sentimentalitas Schubert, serta keluasan Dvorak -bagai ia sedang memandangi tanah baru bernama Amerika yang penuh harapan- sanggup dinikmati tanpa kehilangan satu not pun. Sayang sekali saya tidak kebagian menikmati Faure dari tempat istimewa tersebut, padahal sungguh saya ingin mengapresiasi geliat scale janggal yang penuh kejutan dari sang impresionis. Rasa ngantuk yang sebelum konser sempat melanda, hilang entah kemana -berubah menjadi terjaga sepenuhnya-.Terdengar jelas bagaimana sang pianis sesekali berdecak kesal, bernapas tersengal, hingga melepaskan napas penuh kemenangan. Saya belum kehilangan nikmat itu, sebagaimana setahun lalu saya mendapati karya-karya Poulenc, Verdi dan Schumann bisa dikonsumsi tanpa sedikitpun gizinya terbuang. 
Foto diam-diam dari posisi page turner di samping Mutia Dharma.











Posisi page turner barangkali sedang dalam ancaman disebabkan keberadaan tablet yang sejumlah pianis sudah mulai menggunakannya. Partitur ditampilkan dalam tablet sehingga untuk membaliknya tinggal disentuh saja. Saya bisa paham jika lama-lama page turner tak digunakan. Selain digantikan teknologi, keberadaannya juga kerap mengganggu pemandangan dan tetap menyisakan kemungkinan human error yang fatal. Tapi sebelum kita ucapkan selamat tinggal pada posisi page turner ini dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, saya akan sekali lagi bertestimoni: Inilah posisi terbaik dalam apresiasi musik klasik. Kalian yang sanggup membaca notasi secara cepat, seyogianya pernah mencoba duduk di sana. Sebelum istilah page turner tinggal sejarah.