Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Tuesday, November 26, 2013

Dari "A Very Serious Guitar Concert"

Konser A Very Serious Guitar Concert sudah berlalu nyaris dua bulan yang lalu. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 4 Oktober 2013 ini menampilkan para gitaris yang kebanyakan aktif di komunitas KlabKlassik seperti Aldi Rudianto, Kristianus Triadisusanto, Royke Ng, Ilalang Dzahira Anwar, Tubagus Pandu Mursabdo, Rendy Lahope, dan Luthfi Farabi. Mereka bergantian tampil membawakan karya-karya dari Bach, Piazzolla, Lauro, Chopin, dan Dyens. Untuk memeriahkan acara yang dipandu oleh Adrian Benn sebagai MC ini, diundang pula beberapa penampil di luar mereka yang aktif di KlabKlassik seperti Ulfa Kania (gitar), Irwan Setya Budi (gitar), Donny Dwiputra (gitar) serta dari instrumen non gitar yakni Pavana Wind Quintet (alat tiup), Afifa Ayu (biola), dan Jalu Rohanda (bas). Semoga dapat dimaklumi jika foto-fotonya baru ditampilkan kali ini.

Foto bersama seluruh pengisi acara.

Persiapan terakhir sebelum naik panggung.

Duet Kristianus dan Rendy memainkan Bohemian Rhapsody.

Suasana gembira di belakang panggung.

Luthfi Farabi memainkan Nocturne Op. 9 no. 2 karya Chopin.

Penampilan puncak dari konser.

Monday, September 23, 2013

Pra-Konser KlabKlassik

Minggu, 22 September 2013

KlabKlassik tengah dalam persiapan untuk konser gitar pada tanggal 4 Oktober nanti. Konser yang akhirnya diputuskan akan bertajuk A Very Serious Guitar Concert ini tidak akan seperti konser-konser KlabKlassik biasanya yang diwarnai suasana santai dan non-formal. Sebaliknya, konser ini akan berlangsung dalam situasi yang amat formal dan diupayakan untuk tidak sedikitpun menyelipkan humor-humor. Kristianus selaku ketua mengatakan, "Ini dilakukan karena pertimbangan repertoar dari para pemain yang memang kebanyakan diantaranya adalah lagu-lagu klasik yang memang lebih cocok dinikmati dalam suasana yang serius." 

Salah satu bentuk dari persiapan tersebut adalah meminta peserta untuk tampil bergiliran membawakan repertoarnya masing-masing. Tubagus, Kristianus, Royke, Irwan, Rendy, Luthfi, hingga Lalang tampil bergantian membawakan karya-karya dari Francisco Tarrega, Antonio Lauro dan Astor Piazzolla. Tidak hanya tampil dalam format solo, direncanakan penampilan di konser nanti juga ada dalam bentuk duet, trio, hingga kuartet. Pada pertemuan minggu depan tanggal 29 September, KlabKlassik akan melakukan pertemuan yang terakhir dalam rangka persiapan konsernya.


Sunday, September 15, 2013

Mencari Akar Musik Metal

Minggu, 15 September 2013

KlabKlassik Edisi Nonton sore itu, sesuai yang dijanjikan sebelumnya, mengadakan pemutaran film dokumenter berjudul Metal: A Headbanger's Journey. Film berdurasi sekitar sembilan puluh menit ini disaksikan oleh tujuh orang peserta. Setelah itu, Rahardianto mengajak para peserta untuk berdiskusi.

Dalam film Metal: A Headbanger's Journey, kita diajak untuk terlebih dahulu mencari akar paling keras dari musik metal. Setelah melalui wawancara disana-sini, maka Sam Dunn (narator sekaligus peneliti) mendapatkan kesimpulannya: Black Sabbath adalah pelopornya. Suara gitar yang katanya mempunyai interval tritonus -konon interval tersebut "dekat dengan iblis"- menjadi fundamen dasar musik metal yang mula-mula diletakkan oleh band asal Birmingham tersebut. Kemudian Sam berkeliling ke berbagai negara untuk mendapatkan fakta-fakta lebih lanjut. Ia pergi ke salah satu festival metal terbesar di dunia yakni di Wacken, Jerman, serta bertemu dengan musisi metal ternama seperti Bruce Dickinson (Iron Maiden), Tom Araya (Slayer), Lemmy (Motorhead), dan George "Corpsegrinder" Fisher (Cannibal Corpse). Mereka diwawancara secara bergantian untuk menjawab apapun tentang musik metal agar kata Sam, "Orang lebih mengenal tentang musik ini sehingga tidak ada lagi yang mispersepsi."


Kemudian ketika masuk sesi diskusi,  Kristianus bertanya tentang, "Adakah metal yang 'asli' itu? Karena sepertinya jika melihat metal-metal dari Skandinavia, mereka sepertinya mengklaim sebagai yang paling asli oleh sebab kebrutalan aksi panggung dan sikap dalam kesehariannya." Rahar kemudian menjawab singkat, "Tidak ada." Kemudian lanjutnya, "Masing-masing grup metal seringkali mengklaim dirinya sendiri sebagai yang paling murni seperti misalnya Manowar atau metal-metal dari Skandinavia. Banyak faktor yang membuat mereka mengakui dirinya sebagai true metal, entah dari musiknya sendiri, atau justru dari attitude. Metal-metal dari Skandinavia kerap mengaku dirinya sebagai metal sejati karena mungkin kedekatannya dengan atribut-atribut satanis."

Pembahasan kemudian menjadi berlanjut pada apakah betul metal itu identik dengan satanisme? Rahar kembali menjawab, "Sebenarnya banyak band-band metal yang kemudian mengakrabkan dirinya justru dengan agama dan ketuhanan. Di Eropa ada christian metal, di Bandung sendiri ada metal yang mengusung lirik-lirik tauhid." Tapi pertanyaan dari Agun kemudian lebih mendalam, "Kita jangan bicara lirik. Kalau musiknya sendiri, punya kontradiksi tidak dengan sifat-sifat kudus dari agama? Misalnya, adakah orang yang mendengarkan metal sambil khusyuk beribadah?" Rahar menjawab, "Bagi saya sendiri, ada metal-metal tertentu yang terasa sangat kudus. Hal ini bisa jadi karena mereka mengambil spirit musik dari gereja-gereja jaman dulu seperti misalnya era Gregorian." Pembahasan kemudian terus melebar menjadi hubungan metal dan ekonomi, hubungan metal dengan jiwa muda, hubungan metal dan popularitas, serta sub-sub genre metal yang lebih kompleks mulai dari drone hingga depressive suicidal black metal. Intinya, menurut Rahar, "Metal itu luas dan kompleks, mungkin lebih rumit dari musik klasik."

Friday, September 13, 2013

KlabKlassik Edisi Nonton: Metal: A Headbanger's Journey (2005)

Minggu, 15 September 2013
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum


Metal: A Headbanger's Journey adalah film dokumenter yang bercerita tentang musik metal. Segala tetek bengek tentang musik yang konon dipelopori oleh Black Sabbath tersebut, dibahas oleh Sam Dunn dari aspek keilmuannya sebagai seorang antropolog. Sam, yang menyukai musik metal sejak usia dua belas tahun, mengajak penonton untuk mengenali bahwa metal adalah sebentuk identitas kultural -yang dalam konteks urban bisa dianggap sebagai sebuah kebudayaan tersendiri-. Setelah acara nonton bareng tersebut, akan ada diskusi yang dipandu oleh Yunus Suhendar dan Rahardianto.

Sunday, September 08, 2013

Dari Bach hingga Lifelover

Minggu, 8 September 2013

KlabKlassik untuk pertama kalinya berkumpul setelah terakhir kali mengadakan acara komunitas pada Bulan Ramadhan kemarin. Apa yang digelar oleh KlabKlassik kali ini adalah Edisi Playlist. Seperti biasa, Edisi Playlist mengajak para peserta untuk memutar lagu-lagu kesukaannya -kali ini dalam koridor tema "Lagu Kebebasan"-.


Ada sekitar lima belas orang hadir untuk membawa masing-masing lagu favoritnya untuk kemudian didengarkan dan dibahas bersama-sama. Berikut adalah lagu-lagu yang diputar pada Edisi Playlist kemarin.

Cello Suite no. 1 - Mstislav Rostropovich
Karya komposisi Bach yang cukup populer, yakni Cello Suite no. 1, membuka Edisi Playlist. Lagu yang dibawa oleh Gin-Gin tersebut dimainkan dan diinterpretasi oleh Mstislav Rostropovich secara lebih cepat dari biasanya. Gin-Gin mengaku bahwa lagu tersebut membebaskan karena dimainkan secara solo. Hal itu ditegaskan pula oleh Afifa, "Karena bermain solo, meski tentu saja harus menaati rambu-rambu partitur, tapi ada interpretasi dan ekspresi yang sifatnya personal." Sementara Mas Yunus berujar bahwa ia lebih suka interpretasi Cello Suite no. 1 yang lebih lambat.

The End of The World - Sketter Davis
The End of The World adalah lagu yang juga dibawa oleh Gin-Gin. Tentang lagu ini tidak banyak orang berkomentar kecuali Gin-Gin sendiri yang mengatakan bahwa The End of The World membuat ia menerima kenyataan bahwa dirinya tengah mengalami suatu kecamuk hati. Dengan penerimaan itu, katanya, ia menjadi semakin lebih bebas.

Moro, Lasso - Carlo Gesualdo
Awalnya, Bach dikira sebagai komposer yang secara periodisasi lebih tua. Ternyata Benn meralatnya. Katanya, "Yang saya bawa, Gesualdo, ini berasal dari jaman Renaisans." Karya Gesualdo yang dibuat untuk dua sopran, satu alto, satu tenor dan satu bas tersebut diputar terlebih dahulu sebelum dibahas. Afifa berpendapat bahwa lagu berjudul Moro, Lasso tersebut lebih bernuansa kudus. Namun ketika Benn menceritakan asal muasal lagu tersebut, ada perubahan dalam cara pandang para peserta. Ujar Benn, "Gesualdo adalah seorang sado-masokhis yang jauh lebih duluan dari Marquis de Sade. Ia membunuh anak dan istrinya sendiri dan memutilasinya. Setelah itu, ia mengurung diri di menara dan mempunyai pembantu khusus untuk memukulinya setiap hari." Musiknya tersebut adalah salah satu ekspresi kegilaannya, lanjut Benn.

Miserere - Carlo Gesualdo
Setelah mendengarkan kisah menarik dari Benn tentang Gesualdo, para peserta tampak tertarik untuk mendengarkan lagu berikutnya meskipun Benn tidak merekomendasikan. Alasannya, "Terlalu panjang, hingga sembilan menit." Namun ternyata lagu tersebut tetap diperdengarkan dan para peserta mendengarkan dari awal hingga akhir secara tertib. Rudy berpendapat bahwa ada kemungkinan lagunya yang Miserere ini dibuat ketika Gesualdo mungkin sudah menyadari berbagai kekeliruan dalam hidupnya. 

Feelin So Good - Olivia Ong
Musik bossa-nova ini dibawa oleh Afifa dengan alasan, "Sangat membebaskan dan cocok untuk kita dengarkan di pagi hari sebelum memulai aktivitas." Afifa juga menyebut bahwa mungkin karena dirinya adalah seorang perempuan, maka ia lebih memerhatikan liriknya. Lagu tersebut mungkin dianggap terlalu panjang untuk ukuran sebuah lagu pop yakni lima menit. Kata Rahar, "Biasanya lagu pop itu struktur lagu keseluruhannya sudah dapat kita kenali sejak menit pertama. Sehingga jika lagu pop bisa sampai bisa lima menit, biasanya kita sudah agak bosan di menit ketiga." Meski demikian, Mas Yunus mengoreksi bahwa Feelin So Good adalah bossa-nova. "Ini adalah samba, karena lebih cepat dan rapat," ralatnya.

Wave - Olivia Ong
Meski berasal dari artis yang sama, namun lagu Wave ini dibawa oleh orang yang berbeda. Rudy, sang pembawa, mengatakan bahwa lagu ini sangat membebaskan jika diputar di malam hari. Liriknya pun cukup menarik. Terjadi sedikit diskusi setelah mendengarkan dua lagu bossa-nova secara berurutan. Mengapa bossa-nova menjadi musik yang biasanya cocok diputar di kafe-kafe? Kata Benn, "Mungkin beat-nya cocok untuk santai, tidak terburu-buru, dan membuat kita lupa akan waktu."

Simple Man - Lynyrd Skynyrd
Simple Man, lagu berdurasi enam menit ini dibawa oleh Liky yang baru pertama kali datang ke KlabKlassik. Ketika ditanyai, mengapa membawa lagu ini? Ia menjawab, "Lirik lagu ini cukup mendalam. Tentang bagaimana nasihat orangtua kepada anaknya, bahwa jadi orang itu biasa-biasa saja, tidak usah terlalu begini atau terlalu begitu." Pembahasan menjadi sedikit menyentuh tentang band Lynyrd Skynyrd sendiri yang diakui Rahar sebagai band yang cukup fenomenal dan masih berdiri hingga hari ini. Meski demikian, Rahar dan Benn mengaku bahwa lagu yang ia suka adalah Free Bird.

Air on G String - The Swingle Singers
Lagu ini meski sudah diperdengarkan dari awal sampai akhir, namun Mas Yunus mengaku keliru. Katanya, yang dimaksudnya bukan lagu yang ini melainkan yang bersama Modern Jazz Quartet dimana isinya mengandung improvisasi piano jazz. Kata Mas Yunus, sisi itu yang membuat Air on G String versi The Swingle Singers dan Modern Jazz Quartet memberikan nuansa kebebasan tersendiri. "Ketika kita mendengarkan satu komposisi barok yang 'kaku' dan lantas disambut oleh improvisasi piano yang sangat kaya, kita akan merasakan suatu kebebasan yang mengejutkan," ujar Mas Yunus.

Sore-Sore - Desy Dingdong
Secara mengejutkan, Bagus membawa lagu dangdut untuk diperdengarkan. Kata Bagus, lagu dangdut punya semangat untuk membebaskan terutama ketika ia pikir di sekolah tempatnya kuliah, semua orang menyukai jazz dan klasik. Bagus kemudian bertutur pengalamannya, "Saya waktu itu iseng putar lagu dangdut padahal di kampus saya hampir semua orangnya mendengarkan jazz dan klasik. Namun ternyata ada kakak kelas yang menghampiri dan sangat suka dengan bagaimana saya jujur pada diri sendiri dengan memutar lagu dangdut." Kemudian pembahasan berkembang menyentuh topik Rhoma Irama. Kata Bagus, "Rhoma Irama pernah disebut oleh majalah di luar sana sebagai rock asli Indonesia." 

Les Marseilles - Edith Piaf
Mohammad Syafari Firdaus atau akrab dipanggil Mas Daus, datang terlambat tapi langsung menyuguhkan sebuah lagu yang membuat diskusi menjadi lebih panjang. Les Marseilles, lagu yang menjadi kebangsaan Prancis, dahulunya adalah lagu penyemangat revolusi. Kata Mas Daus, "Biasanya lagu kebangsaan Prancis tidak pernah menjadi perhatian saya. Tapi ketika Edith Piaf menyanyikannya, saya langsung merinding." Meski demikian, Rahar mengatakan bahwa lagu Les Marseilles sekarang menjadi semacam "lagu kebangsaan" bagi kelompok sayap kanan Prancis yang tengah berupaya memurnikan bangsanya dari kaum imigran. Jadi lagu tersebut tidak lagi bernuansa revolusi ataupun kebangsaan, melainkan juga mendukung rasisme. 

Les Marseilles - Django Reinhardt
Kemudian Mas Daus membandingkan versi Edith Piaf tadi dengan versi lain yang dimainkan secara instrumental oleh Django Reinhardt dan Stephane Grapelli. Mas Daus langsung bertanya, "Coba dengarkan, apakah kita mau revolusi jika interpretasinya seperti ini?" Peserta tertawa karena jelas bahwa lagu revolusi memang harus memberikan efek membangun dan bukannya mendayu-dayu seperti yang ditampilkan oleh Reinhardt dan Grapelli. 

I Love (To Hurt) You - Lifelover 
Lagu terakhir dibawakan oleh Rahar. Ia menghadirkan satu musik beraliran black metal yang secara spesifik ia katakan bahwa sub-alirannya adalah depressive suicidal black metal. Katanya, black metal semacam itu akrab dengan rasa sakit untuk menambah efek depresif dalam musik-musiknya. Rahar mengatakan, "Depressive suicidal black metal menganggap bahwa kebebasan adalah bebas untuk mengekspresikan rasa sakit dengan senyatanya." Setelah itu, terjadi diskusi ringan tentang mengapa aliran semacam ini justru timbul di Eropa bagian utara atau Skandinavia. Mas Daus menuding bahwa itu mungkin akibat negaranya terlalu tertib dan makmur, sehingga orang-orang kebingungan mencari apa lagi yang dilakukan. Rahar juga menambahkan bahwa itu bisa jadi disebabkan oleh kepercayaan pada dewa-dewi kuno-nya yang sebenarnya sudah diupayakan untuk digantikan oleh Kristianitas. 

KlabKlassik sore itu meski sudah ditutup dari pukul enam, namun ternyata diskusi antara Rahar dan Mas Daus terus berlangsung. Hal ini didorong oleh keingintahuan Mas Daus akan topik depressive suicidal black metal yang cukup dikuasai oleh Rahar. Namun Rahar berkata, "Minggu depan kita akan sama-sama saksikan dua film yakniGlobal Metal dan Metal: A Headbanger's Journey. Mari kita bahas lebih dalam nanti."

Friday, September 06, 2013

KlabKlassik Edisi Playlist: Lagu Kebebasan

Minggu, 8 September 2013
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum


Latar Belakang Edisi Kali Ini

Dalam sejarah, segala bentuk perlawanan terhadap penguasa selalu mempunyai soundtrack yang mendampinginya. Ada beberapa contohnya mengenai hal ini, misalnya: Revolusi Prancis pada abad ke-18 menggunakan lagu Le Marseilles untuk menyemangati kelompok pro-republik dalam menggulingkan kekuasaan; Kaum hippies di Amerika Serikat pada tahun 70-an memutar musik-musik psikedelik sebagai motivator dalam upayanya menentang kebijakan pemerintah dalam mengirim tentara ke Vietnam; Di Tunisia, seorang rapper bernama Hamada Ben Amor, turut mensponsori rakyat dalam penggulingan presiden Zine El Abidine Ben Ali lewat lagunya yang berjudul Rais Le Bled

Kita tidak sedang akan membahas musik-musik yang dalam sejarahnya telah berhasil membebaskan sebuah kelompok masyarakat dari ketertindasan oleh penguasa yang lalim. Kita akan sama-sama mendengarkan musik apa yang setidaknya membebaskan dirimu sendiri dari keterpenjaraan akan apapun.

Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati.


Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa dua lagu (tidak harus klasik loh!) untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Tuesday, August 27, 2013

Program KlabKlassik Bulan September

Setelah beristirahat lebih dari sebulan penuh oleh sebab bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, KlabKlassik akan kembali aktif mulai bulan September. Program yang akan diketengahkan adalah KlabKlassik Edisi Playlist, KlabKlassik Edisi Nonton, KlabKlassik Edisi Panggung dan KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang. Seperti biasa, tidak semua kegiatan KlabKlassik berhubungan dengan musik klasik secara langsung. Mengapa? Simak alasannya di sini.

KlabKlassik diselenggarakan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 setiap hari Minggu pukul 15.00 - 17.00. Acara-acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

"Lagu Kebebasan" - 8 September 2013 (KlabKlassik Edisi Playlist)
KlabKlassik Edisi Playlist adalah salah satu program unggulan KlabKlassik. Isinya adalah kegiatan mendengarkan musik bersama dengan aturan masing-masing peserta membawa satu lagu favoritnya untuk diapresiasi peserta yang lain. Setelah mendengarkan bersama-sama, ada diskusi kecil yang biasanya dipandu oleh narasumber seperti Ismail Reza dan Rahardianto yang merupakan penikmat sekaligus kolektor musik. Untuk bulan September, tema KlabKlassik Edisi Playlist adalah Lagu Kebebasan.

"Metal: A Headbanger's Journey (2005)" - 15 September 2013 (KlabKlassik Edisi Nonton)
KlabKlassik Edisi Nonton adalah program KlabKlassik yang menyajikan film apapun yang sekiranya dapat didiskusikan aspek musikalnya. Misalnya, pernah dibahas tentang music scoring dari film Taxi Driver, Apocalypse Now, 2001: A Space Odyssey dan A Clockwork Orange. Selain itu juga pernah diputar film tentang Mozart yang berjudul Amadeus, film tentang bagaimana musik klasik masuk ke RRC yang berjudul From Mao to Mozart, hingga film dokumenter tentang musisi yang albumnya tidak laku di AS tapi ternyata sangat populer di Afrika Selatan yang judulnya Searching for Sugarman. Untuk bulan September, KlabKlassik Edisi Nonton akan memutar film dokumenter Metal: A Headbanger's Journey yang bercerita tentang seluk beluk musik metal dengan pendekatan ilmu antropologi.

"Pre-Konser dari Konser Gitar KlabKlassik" - 22 September 2013 (KlabKlassik Edisi Panggung)
KlabKlassik Edisi Panggung adalah program KlabKlassik yang menampilkan musik secara live. Musik klasik dianggap lebih mudah untuk ditampilkan secara live karena tidak membutuhkan sound system sehingga bisa langsung dibawakan secara akustik. Untuk KlabKlassik Edisi Panggung kali ini, yang akan ditampilkan adalah orang-orang yang hendak tampil di Konser Gitar KlabKlassik yang akan diselenggarakan pada awal Oktober nanti sebagai bagian dari persiapan. Lagu-lagu yang ditampilkan antara lain adalah karya-karya dari Bach, Piazzolla, dan Morricone. 

"Fusion" - 29 September 2013 (KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang) 
KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang adalah program KlabKlassik yang isinya adalah diskusi musik. Dalam edisi ini pernah dibahas mulai dari musik blues, ska, shoegaze, hingga black metal. Untuk edisi kali ini, yang akan dibahas adalah fusion. Fusion berarti "peleburan" antara musik-musik yang sudah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang benar-benar baru. 

Saturday, August 17, 2013

Silaturahim KlabKlassik

Minggu, 11 Agustus 2013

Dalam rangka hari raya Idul Fitri, KlabKlassik mengadakan halal bihalal dengan mengundang beberapa awaknya untuk makan siang bersama. Diantara yang hadir di acara yang digelar di Garasi10 tersebut, ada satu nama yang sudah lama tidak muncul yakni Ahmad Ramadhan. Pemain biola yang dulu aktif di berbagai acara KlabKlassik ini sempat menghilang karena harus kuliah musik di Yogya. Namun kemarin Rama, panggilannya, datang kembali sambil mengatakan bahwa ia sekarang sudah tinggal di Bandung dan tidak akan kembali ke Yogya. Selain Rama, yang hadir dalam acara silaturahim itu adalah Kristianus, Sutrisna, Luthfi, Royke dan Aldi. 


Monday, July 15, 2013

Musik dan Habitatnya

Minggu, 14 Juli 2013

KlabKlassik, setelah sekian lama menyerahkan aktivitasnya hanya pada Ririungan Gitar Bandung (RGB), akhirnya berkumpul lagi untuk berdiskusi. Kali ini KlabKlassik membahas tentang film Searching for Sugar Man (2012). Sebelum mulai didiskusikan, terlebih dahulu para peserta menyaksikan filmnya bersama-sama.

Searching for Sugar Man adalah film dokumenter yang disutradarai oleh Malik Bendjelloul. Isinya tentang musisi asal AS bernama Sixto Rodriguez yang dua albumnya, Cold Fact (1970) dan Coming from Reality(1971) tidak laku sama sekali di AS. Yang menarik, ternyata Rodriguez mendapatkan pendengarnya di Afrika Selatan -di sana, ia lebih populer dari Rolling Stones dan Elvis Presley-. Meski demikian, Rodriguez tidak tahu sama sekali tentang popularitasnya tersebut hingga di tahun 1998 ia diberitahu oleh kedua penggemarnya, Stephen 'Sugar' Segerman dan Craig Bartholomew Strydom. 

Setelah selesai menonton film berdurasi sekitar 90 menit tersebut, diskusi dibuka dengan pendapat spontan dari Kang Trisna, "Seperti mimpi saja Rodriguez nasibnya bisa berubah seketika dengan manggung di Afrika Selatan." Ketika ditanya, bagaimana kualitasnya dibandingkan dengan Bob Dylan yang jauh lebih tenar dibanding Rodriguez di masa yang sama? Kang Trisna, yang sudah terlanjur menggemari Dylan mengatakan, "Saya masih menganggap Dylan lebih berkualitas." Meski demikian, peserta lain tetap mendiskusikan tentang "apa yang salah" pada musik Rodriguez sehingga katanya hanya terjual enam keping di seluruh AS. "Kemungkinan besar adalah kenyataan bahwa dia adalah seorang turunan Meksiko," ujar Rendy yang diamini juga oleh Arul. Tapi Mas Yunus menolak argumen tersebut, katanya, "Carlos Santana juga punya nama latin tapi dia sukses di masa yang sama."

Kegagalan Rodriguez di pasaran sebenarnya menunjukkan bahwa karya seni apapun sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks ruang dan waktu. Barangkali penjualan albumnya merosot pada masa itu disebabkan oleh kenyataan bahwa Dylan memang dikatrol oleh industri. Sementara Beben punya argumen yang cukup menarik. Katanya, "Jangan-jangan musik, sebagaimana makhluk hidup, punya habitatnya. Musik Rodriguez tak cocok hidup di iklim AS, maka itu ia berkembangbiak di Afrika Selatan."

Wednesday, July 10, 2013

KlabKlassik Edisi Nonton: Searching for Sugar Man (2012)


Minggu, 14 Juli 2013
Pk. 13.00 - 15.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Setelah sekian lama tidak berkegiatan, KlabKlassik Edisi Nonton muncul lagi di bulan Ramadhan ini dengan film Searching for Sugar Man. Film dokumenter ini bercerita tentang musisi asal Amerika Serikat, Sixto Rodriguez, yang dua albumnya, Cold Fact (1970) dan Coming from Reality (1971) gagal total di pasaran. Namun tanpa sepengetahuan Rodriguez, ternyata musiknya laku keras di Afrika Selatan. Tidak hanya ia menjadi lebih populer dari Elvis Presley ataupun Rolling Stones di negara tersebut, tapi juga ternyata karya-karyanya sangat berpengaruh dalam gerakan anak muda yang menentang politik apartheid. Film ini penting untuk diputar dan didiskusikan, untuk mengetahui bahwa kualitas musik bisa saja absolut dan tidak tergantung oleh corong industri. Buktinya, meski musik Rodriguez tak punya pendengar, tetap ada yang merestorasinya di ujung sana oleh sebab merasakan kualitasnya yang sejati. 


Sunday, July 07, 2013

Geliat Kuartet RGB

Minggu, 7 Juli 2013

Ririungan Gitar Bandung (RGB) merupakan kelompok ensembel gitar untuk umum binaan KlabKlassik. Sejak mereka konser menampilkan lagu-lagu The Beatles pada bulan Maret lalu, jadwal latihan RGB memang belum kembali konsisten. 

Namun dalam beberapa minggu belakangan, geliat itu muncul kembali. RGB kembali berlatih bersama meski jumlahnya tak banyak sama sekali. Ketika sang ketua, Sutrisna, ditanyai mengenai latihan yang melibatkan sedikit orang itu, ia menjawab, "Ini sengaja yang latihan sedikit, memang dipersiapkan untuk konser peserta RGB yang dianggap 'senior'. Jadi kami menyiapkan semacam resital." Yang berlatih bisa dikatakan hadir dalam format kuartet saja yakni Kristianus, Rendy, Tubagus, dan Trisna. Mereka tengah serius berlatih lagu W.A. Mozart berjudul Eine Kleine Nachtmusic. Rencananya, resital kuartet RGB ini akan diadakan bulan Oktober nanti.



Monday, June 03, 2013

Konser Orchestre des Champs-Élysées




Kolaborasi KlabKlassik dan IFI-Bandung mencapai puncaknya lewat pertunjukkan orkestra dari Prancis, Orchestre des Champs-Élysées yang akan membawakan karya-karya dari Mozart. 

 Orchestre des Champs-Élysées memfokuskan diri pada repertoar Haydn sampai Mahler, dan membawakannya dengan alat-alat musik dari jaman tersebut. Sejak dibentuk pada tahun 1991, orkestra ini tampil di berbagai panggung bergengsi, seperti Musikverein (Wina), Concertgebouw (Amsterdam), Barbican Centre (London) dan Lincoln Center (New York). Untuk tur pertama di Indonesia, Orchestre de Champs-Élysées, dipimpin oleh Alessandro Moccia yang juga solois biola orkestra ini, akan menampilkan dua konser yang dipersembahkan untuk Rigel, salah satu dari komposer simfoni berbakat asal Prancis, dan Mozart, untuk memainkan konserto untuk klarinetnya yang terkenal. 

 Harga tiket Rp. 50.000 (pre-sale) dan Rp. 100.000 (on the spot) dapat menghubungi Syarif (0817-212-404) atau ke IFI-Bandung, Jl. Purnawarman no. 32 pada jam kerja.

Monday, May 20, 2013

Bruno Procopio & Batavia Madrigal Singers



Satu lagi konser kolaborasi antara KlabKlassik dengan IFI-Bandung

Bruno Procopio lahir di Brazil pada tahun 1976. Ia merupakan pemain harpsichord berbakat juga seorang pimpinan orkestra lulusan Konservatorium Musik Paris. Ia sering membawakan repertoar, khususnya karya gemilang para komposer Brasil dari era kolonial dan komposer Eropa dari era yang sama. Untuk konsernya kali ini, ia akan melakukan sebuah residensi di Jakarta dan mengonduktori paduan suara terbaik Indonesia, Batavia Madrigal Singers. Mereka akan mempersembahkan sebuah program, yang menyatukan musik sakral dan profan dari repertoar Prancis, Portugis, dan musik populer Brazil.


Formasi:
Konduktor: Bruno Procopio
Batavia Madrigal Singers
Pimpinan: Avip Priatna
Soprano: Anny Johan, Ade Ayu Anggraeni, Fitri Muliati, Felisia Renna, Fiona Luisa
Alto: Romualda Nuniek R., Luciana D. Dendoen, Agata Jacqueline P., Paulina Rosari
Tenor: Antonius Halawa, Agus Santosa, Renno Krisna, Theofilus Martasundjaja.
Bas: Hari Santosa, Rainer Riverino, Vito Lieguna

Program:
Clement Janequin: A ce joli mois de maiL'Alouette, La Guerre (Bataille de Marignan)
Marcos Portugal: Missa Grande 
Heitor Villa Lobos: Rosa Amarela 
Anonimus: Muie Rendera
Mamao: Tristeza pe no chao


Minggu, 2 Juni 2013 jam 20.00 di Gereja Katedral St. Petrus, Bandung. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.


Thursday, May 09, 2013

Siapa Bisa Menggantikan Diecky?

Agaknya sudah hampir delapan tahun saya mengenal Diecky K. Indrapraja meskipun baru sejak sekitar lima tahun silam kami mulai sering intens bekerjasama hingga akhirnya menjadi kawan dekat. Akibat dari kedekatan tersebut, saya memetik banyak hal terutama mengenai pengetahuannya tentang musik kontemporer. Tidak hanya soal pengetahuannya saja, melainkan pada bagaimana konsistensi Diecky dalam berbagi dan "meracuni" orang-orang agar kupingnya lama-lama sanggup menerima musik-musik yang dia tawarkan. Tentu saja penolakan pada mulanya lazim terjadi. Musik yang disuguhi Diecky, yang berasal dari komposer semisal Frank Zappa, Gyorgy Ligeti, John Cage, Karlheinz Stockhausen, hingga Philip Glass sepertinya susah sekali untuk ditelan.

Diecky K. Indrapraja
Diecky, dengan latar belakang akademik di bidang musik dan pengetahuan teori yang kompeten, menyebarkan virus kontemporer ini lewat berbagai medium. Kadang lewat diskusi filosofi, lainnya lagi lewat kelas teori musik dan komposisi, serta ada pula lewat permainan musik secara langsung. Pada akhirnya, sulit untuk mengukur keberhasilan aksi militan yang dilakukan Diecky ini sehubungan dengan kepindahannya ke Kalimantan -ia menikah dan ditawari untuk mengajar disana-. Meski demikian, kepergian Diecky ini menyisakan pertanyaan serius yang mengganggu saya dalam beberapa bulan terakhir: Siapakah yang punya sikap dan pengetahuan setara Diecky di Bandung ini? Siapa pendekar yang berani berteriak soal idealisme musik ketika orang rata-rata menilai musik hanya apakah ia memuaskan telinga atau tidak? Kalaupun ada mereka penyuka musik kontemporer dengan pengetahuan cukup, siapa yang punya kecintaan untuk berbagi seperti Diecky yang mau dengan sabar meladeni murid-muridnya hingga dini hari?

Ketika Diecky pergi, yang saya rasakan adalah musik seni di Bandung kehilangan suatu denyut  kontemporer-"isme". Saya tentu saja mengetahui beberapa orang yang setaraf Diecky, bahkan lebih, menyoal kemampuan mereka dalam pemahaman soal musik kontemporer tersebut. Tapi soal militansi dan gelegak semangat yang tak terperi, saya khawatir Diecky sulit tergantikan. Pak Haryo Yose atau Pak Iwan Gunawan misalnya, dengan pengetahuan garda depan yang mereka miliki, tetap saja posisi mereka sebagai senior membuat kita tidak bisa memaksa mereka untuk aktif bergerilya seperti halnya Diecky melompat dari komunitas ke komunitas. Disini kita sedang bicara dalam konteks anak muda yang sedikit banyak masih bersemangat untuk menyuarakan idealisme tanpa rasa takut -Untuk mereka yang sudah senior, saya yakin mereka pernah sangat aktif di waktu mudanya kesana kemari seperti halnya apa yang saya lihat dari seorang Diecky-.

Tentu saja terlalu naif jika saya mencari seseorang dengan kemiripan tinggi dengan Diecky dalam soal pengetahuan dan idealisme. Yang saya lebih khawatirkan sebenarnya lebih ke arah tradisi pengetahuan musik-musik kontemporer dan garda-depan yang cukup memprihatinkan di Bandung -kita bisa melihat Yogyakarta atau Surabaya sebagai perbandingan bagaimana apresiasi mereka terhadap musik-musik semacam itu-. Mesti ada suatu upaya untuk berbagi tentang musik-musik yang revolusioner di jaman kini sebagaimana halnya Bach, Beethoven, atau Debussy juga adalah seorang "pemberontak estetik" di jamannya yang pada masa itu barangkali ditolak mentah-mentah sebagaimana halnya kita hari ini mempertanyakan yang avant-garde. Jika tidak menemukan orang semacam Diecky, siap-siap Bandung terjebak pada romantisme musik klasik (menganggap musik klasik eksklusif dan luhur tanpa memahami seluk beluk kontekstualnya), pragmatisme musik jazz (menganggap musik jazz sebagai suatu "penipuan estetik" yang terkesan mewah untuk mencari uang) serta eksotisisme buta musik etnis-tradisional (menganggap musik tradisi sebagai hal yang eksotis hanya dengan memasukkan unsur-unsur instrumentalistiknya agar terdengar kaya tanpa paham apa yang disebut Dieter Mack sebagai "aspek interkultural"). 

Mari bertanya sekali lagi: Siapa bisa menggantikan Diecky?


Wednesday, May 08, 2013

Konser Quatuor Manfred

Quatuor Manfred dibentuk pada tahun 1986 dan merupakan kuartet yang paling banyak meraup penghargaan di antara kuartet-kuartet Prancis segenerasinya. Anggota Quatuor Manfred adalah lulusan sekolah-sekolah musik bergengsi (Juiliard School New York, Konservatorium Musik Genewa dan Conservatoire National Superieur Paris). Diskografi mereka menggambarkan kesuksesan mereka dalam mengekslorasi repertoar romantik dan komposisi kuartet awal abad ke-20. Untuk turnya di Indonesia, mereka akan mempersembahkan dua repertoar string quartet yang terpenting, yaitu karya Ravel, sang komposer Bolero legendaris, dan Schubert.

Tiket untuk konser ini adalah seharga Rp. 20.000 jika dibeli di tempat dan Rp.10.000 jika dibeli sebelum hari-H. Informasi tiket bisa hubungi Syarif (0817-212-404).


Monday, April 15, 2013

Mendengarkan Multi-Lapis Musik Sheik Yerbouti

Minggu, 14 April 2013

Mungkin akibat hujan deras yang konstan, mungkin juga akibat bincang-bincang edisi sebelumnya yang terlalu memusingkan telinga, KlabKlassik hari itu sepi peminat. Namun diskusi tetap berjalan seru oleh sebab topik menarik yang dibawa oleh Mas Ismail Reza tentang pembahasaan album Frank Zappa yang menurutnya, "Penting sebagai jalan masuk untuk memahami kegilaan Frank."

Sebelum masuk ke pembahasan mengenai Sheik Yerbouti, Mas Reza seperti biasa memberikan semacam pemanasan bagi telinga kita dengan sejumlah lagu yang bisa dianggap "ringan". Lagu-lagu yang diputarnya berasal dari band Return to Forever yang digawangi Chick Corea. Kata Mas Reza, mereka membentuk diri lagi setelah sempat tidak aktif untuk beberapa lama. Personil-personil seperti Frank Gambale, Al di Meola dan Jean Luc Ponty ikut terlibat dan memberikan rasa baru bagi salah satu lagu Chick Corea yang paling terkenal berjudul Spain. Setelah menanti beberapa saat dan tidak ada tambahan peserta, maka Mas Reza segera memulai diskusi meski dengan segelintir orang.

Album Sheik Yerbouti ini dirilis tahun 1979 dan merupakan album Zappa yang paling komersil. Kata Mas Reza, "Album ini adalah respon dari Zappa terhadap lagu-lagu pop yang beredar pada masa itu, yang terlalu sederhana dengan lirik-lirik yang dangkal." Atas dasar itu, lanjutnya, Zappa menggarap album Sheik Yerbouti yang merupakan parodi dari lagu-lagu pop yang beredar, namun diberi sentuhan mixing yang canggih. Akibatnya, album ini bisa diterima secara luas baik di kalangan serius maupun awam. Bagi Kang Tikno, ia merasa album Sheik Yerbouti ini tidak serumit album Zappa yang lain, malah sangat enak untuk dicerna. Namun jika diperhatikan dengan seksama, musik-musiknya mengandung banyak lapisan suara yang digabung-gabungkan secara rapi oleh sang maestro.

Ada tiga lagu yang langsung diputar dari awal oleh Mas Reza, yakni I Have Been in You, Flakes, dan Broken Heart Are for Assholes. Terasa sekali bahwa di dalam lagunya, terdapat sejumlah parodi yang kita hanya bisa paham jika tahu lagu atau musisi aslinya. Misal, ada nyanyian yang amat terasa meniru Bob Dylan lengkap dengan harmonikanya. Zappa juga tidak segan memasukkan suara-suara dari instrumen India di layer-layer yang agak tersembunyi. Kemudian, lanjut Mas Reza, Zappa juga "bermain" di lirik dengan menyuguhkan kata-kata yang kata Mas Reza, "Tidak penting sama sekali." Seperti misalnya di lagu Flakes, Zappa bercerita tentang montir yang tidak becus sehingga tak mampu memperbaiki kendaraan.

Seperti biasa, obrolan selalu menjadi lebih luas melebihi dari yang ditopikkan. Kesuksesan Zappa mendamaikan sisi idealisme dan pragmatisme menciptakan kekaguman tersendiri bagi Beben yang sebelumnya, meski sudah diberitahu oleh guru komposisinya, Diecky, namun tetap saja kesulitan untuk mengapresasi Zappa. Mas Reza kemudian menyarankan bahwa agar bisa menyukai Zappa, pertama harus dimulai justru dari album Sheik Yerbouti, setelah itu Mas Reza menyuguhkan beberapa contoh lagu Zappa dari luar album yang juga pantas diapresiasi sebagai jalan masuk. Sebagai informasi tambahan, Mas Reza juga menyebutkan Edgar Varese sebagai komposer panutan dari Zappa.

Daftar Lagu yang Diputar:

I Have Been inYou
Flakes
Broken Heart Are for Assholes
Dancing Fool
Jewish Princess
Bobby Brown Goes Down
Yo Mama
RDNZL
Dupree's Paradise
200 Motel
Valley Girl

Saturday, April 06, 2013

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Sheik Yerbouti (1979)


Minggu, 14 April 2013
Pk. 16.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no.56
Narasumber: Ismail Reza
Gratis dan terbuka untuk umum

Frank Zappa sering disebut sebagai komposer yang sanggup mengatasi dua dunia yang sering bertentangan dalam seni: idealis dan pragmatis. Selain dikenal sebagai komposer nyentrik yang menghasilkan sejumlah karya kontemporer, Zappa juga ternyata cukup disukai oleh pasar. Album Sheik Yerbouti yang dirilisnya tahun 1979 -terjual lebih dari dua juta kopi- adalah buktinya. Sheik Yerbouti, yang merupakan pelesetan dari kata "Shake your Booty" adalah album hasil dari rekaman live yang diolah kembali di studio. Beberapa lagu di dalamnya terkenal karena mengandung unsur humor dan parodi. Seperti apakah sesungguhnya humor dan parodi yang dimaksud dalam musik? Apakah efeknya betul-betul membuat kita tertawa, atau "tertawa" dalam konteks yang lain? Lantas, pertanyaan paling mendasarnya adalah: Apakah betul-betul ada musik yang sanggup diterima -dengan ikhlas- oleh pasar tapi juga sekaligus orang-orang serius? Mari simak pembahasannya.

Jika timbul pertanyaan, mengapa KlabKlassik membicarakan musik-musik di luar klasik, jawabannya ada di sini.

Monday, March 25, 2013

Visiting Lecture Prof. Dieter Mack di UPI

Pada hari Rabu 20 Maret 2013, beberapa anggota Klabklassik yaitu Afifa, Syarif, Fiola, Royke, Mutia, dan Beben mendapatkan kesempatan untuk menghadiri visiting lecture dari Professor Dieter Mack yang dilaksanakan di Auditorium FPBS UPI. Kesempatan ini dinilai sangatlah berharga karena kuliah beliau memang telah dikenal selalu inspiratif dan membuka wawasan tentang musik. Sebagai seorang tokoh yang bisa dibilang cukup memberikan pengaruh pada kurikulum pendidikan musik Indonesia, pada kesempatan ini beliau memberikan kuliah bertemakan pendidikan musik sekolah umum di Indonesia. 

Sebagai negara yang memiliki berbagai keanekaragaman termasuk dalam ranah musik, sangatlah disayangkan bahwa terkadang pendidikan musik sekolah umum di Indonesia dinilai belum bisa memberikan kompetensi secara musikal yang bersumber dari keanekaragaman musik Indonesia. Sebelum dilakukan pembaharuan terhadap kurikulum, pendidikan musik sekolah umum di Indonesia kebanyakan berasal dari ranah musik Barat. Seharusnya pendidikan musik sekolah umum harus mencakup pula musik yang berasal dari Indonesia. 

Dengan banyaknya jenis musik yang ada di Indonesia, apakah lebih baik bagi seorang peserta didik untuk menerima pendidikan musik mengenai hampir semua jenis musik lokal di Indonesia atau satu musik lokal saja yang berasal dari daerahnya tinggal? Profesor Dieter Mack berpendapat bahwa lebih baik seorang peserta didik mendapatkan pendidikan musik yang berfokus kepada satu atau dua musik lokal saja yang berasal dari daerahnya tinggal. Mengapa demikian? 

Pertama, musik adalah bagian dari seni yang merupakan hal yang bersifat lokal, berbeda-beda untuk setiap daerah. Hal ini tidak dapat disamakan dengan sains yang bersifat universal dan dapat disamakan di semua belahan bumi manapun. Kedua, tujuan utama dari pendidikan pada sekolah umum sebenarnya adalah memberikan model atau contoh yang kelak dapat dipelajar lebih lanjut oleh siswa sendiri. Tidak mungkin dalam pendidikan sekolah umum semua materi dapat diberikan oleh karena itu hanya model atau contoh yang diberikan. 

Ketiga, pendidikan musik yang berfokus pada musik lokal merupakan suatu pendekatan yang baik untuk memenuhi sasaran utama pendidikan musik yaitu memberikan kompetensi musikal pada peserta didik. Sebagai contoh apabila diberikan materi mengenai gamelan terhadap peserta didik, pendidikan musik yang berfokus hanya pada satu jenis gamelan lokal walaupun hanya melalui media sederhana, apabila meliputi suatu pengalaman bermusik lebih dapat memberikan kompetensi musikal terhadap peserta didik daripada apabila diberikan pembelajaran mengenai semua jenis gamelan yang ada di Indonesia. Pembelajaran mengenai jenis-jenis gamelan di Indonesia merupakan suatu apresiasi terhadap keanekaragaman atau bahkan hanya merupakan informasi budaya yang tidak dapat meningkatkan kompetensi musik bagi peserta didik.

Kompetensi bermusik meliputi warna suara, bentuk musik, ritme, dan tinggi rendah nada (laras). Pemahaman mengenai hal-hal tersebut pun sebenarnya dapat dicapai melalui media sederhana apabila alat musik yang ingin dipelajari tidak ada. Sebagai contoh, pembelajaran mengenai suatu jenis gamelan dapat dilakukan dengan cara melakukan imitasi terhadap ritme dari instrumen gamelan tersebut seperti gong yang dilakukan oleh guru dan diimitasikan lagi oleh peserta didik. Untuk mengetahui laras, guru juga dapat menggunakan botol yang diisi air dengan ketinggian berbeda. Tentu saja keberadaan media seperti audio visual juga dapat digunakan sebagai pendamping pembelajaran tetapi tindak imitasi yang dilakukan peserta didik merupakan suatu bentuk praktek yang dapat meningkatkan kompetensi musikal. 

Berdasarkan buku Learning Sequences of Music karangan Edwin E. Gordon, imitasi ialah suatu proses pembelajaran paling alamiah yang disebut sebagai figural knowledge. Proses figural knowledge dapat diibaratkan dengan mengisi “laci-laci” di otak dengan cara imitasi mempraktekkan, layaknya bayi yang belajar berbicara. Pada tingkat ini, pembelajaran musik yang diterima masih belum terkait satu sama lain. Setelah proses figural knowledge terdapat proses formal knowledge yaitu mengaitkan isi “laci-laci” di otak tersebut dengan arti otonom. Pengalaman figural yang telah didapatkan peserta didik kemudian diformalkan. Cara pembelajaran musik seperti ini dijamin akan lebih memberikan memori yang kuat sekaligus meningkatkan kompetensi musik peserta didik dibandingkan pendidikan musik secara kognitif terlebih dahulu. 

Salah satu pesan lain dari Profesor Dieter Mack mengenai pendidikan musik sekolah umum di Indonesia ialah hendaknya kita tidaklah selalu mendewakan kurikulum karena kurikulum hanyalah materi dan seharusnya bisa lebih fleksibel diatur sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebagai pengajar musik kita harus dapat menentukan sendiri secara kreatif metodologi penyampaian yang tepat untuk anak didik karena metodologi penyampaian ialah kunci dari proses pendidikan musik. 

Wednesday, March 20, 2013

A Piano Recital by Randy Ryan


Pianis muda berbakat Indonesia yang telah memenangkan berbagai penghargaan nasional maupun internasional, di antara Ananda Sukarlan Award 2012 dan Chopin Competition, akan datang ke Bandung untuk memberikan resital perdananya di sini. Jangan lewatkan penampilan virtuostiknya membawakan karya-karya Bach, Beethoven, Mendelssohn, Chopin, dan Poulenc.

Minggu, 31 Maret 2013

Pk. 16.00
Auditorium Indra Music
Jl. Progo no. 28
Bandung

Tiket Rp 30.000 (pelajar) dan Rp 40.000 (umum) dapat diperoleh di Indra Music School atau di pintu masuk. Hubungi 022-700.21.446 untuk reservasi.

Monday, March 18, 2013

Mencari Wujud Jazz di Era Third Stream

Minggu, 17 Maret 2013


KlabKlassik akhirnya berjumpa untuk pertama kalinya di tahun 2013. Sebelumnya, KlabKlassik tampak fokus untuk menyiapkan konser Ririungan Gitar Bandung sehingga meliburkan dulu berbagai bentuk diskusi yang seyogianya diselenggarakan setiap Minggu sore pukul tiga. Sebagai pembuka tahun ini, KlabKlassik memulai Edisi Bincang-Bincang-nya dengan sebuah topik yang tidak mudah untuk dicerna: Jazz setelah post-bop.

Ismail Reza menjadi narasumber yang cukup antusias dalam menampilkan persoalan ini. Ia menyiapkan sejumlah playlist yang sangat menantang telinga dari peserta diskusi yang berjumlah lima belas orang. Sambil menyetel Caravan-nya Duke Ellington -kita bisa katakan lagu pembuka ini masih cukup bisa diterima telinga karena memang Mas Reza ingin membuai peserta terlebih dahulu-, ia membicarakan tentang periodisasi dalam musik jazz yang meski bisa didefinisikan, tapi tidak bisa seteratur musik klasik yang seolah linear. Post-Bop adalah era dimana jazz memasuki perdebatan tentang apakah rasa swing -ayunan khas jazz- itu harus tersurat atau tersirat pun tidak apa-apa. Mas Reza menyebut istilah swing yang tersirat itu sebagai "jazz in mindframe". Maksudnya, jazz itu cukup dengan apa yang dalam kepala kita disebut jazz. Tidak perlu didefinisikan dengan kata-kata.

Di era Post Bop ini, jazz mulai berani melangkahkan kakinya ke era yang disebut third stream. Suatu gelombang yang belum diketahui identitasnya setelah first stream (musik klasik) dan second stream (musik jazz). Tokoh-tokoh semacam John Coltrane, Miles Davis dan Charles Mingus sangat berperan dalam memberi fondasi bagi lahirnya berbagai macam jazz yang lebih eksperimental seperti free jazz dan the avant garde. Untuk melihat cikal bakal third stream ini, Reza secara rapi menyiapkan playlist berupa lagu Charles Mingus yang berjudul Black Saint & Sinner Lady, karya Alice Coltrane yang berjudul Galaxy in Turiya dan karya John Coltrane yang berjudul Stellar Regions. Lagu yang disebut terakhir sesungguhnya di luar playlist yang disiapkan Mas Reza, namun diputar atas permintaan Yuty yang penasaran bagaimana suami-istri John dan Alice Coltrane saling mempengaruhi dari segi ideologi musik.

Telinga peserta mulai "kacau" ketika Mas Reza sudah mulai masuk ke Ornette Coleman. Duetnya dengan Pat Metheny dalam lagu yang berjudul Song X, disebut Mas Reza menggunakan teori harmolodics. Harmolodics ini terdengar sangat bebas dan tidak memiliki acuan "gravitasi". Kata Yuty, "Memang musiknya tidak jatuh pada tonik sebagaimana umumnya." Dampak dari ketiadaan gravitasi ini sesungguhnya adalah kegelisahan pada diri setiap peserta. Umumnya, musik apapun seyogianya kembali ke tema semula atau setidaknya jatuh di "pusat"-nya. Namun Song X itu terus menerus seperti bersikap sengaja untuk tidak harmonis dan masing-masing baik Coleman maupun Metheny berdiri di permainannya sendiri tanpa memedulikan tonalitas.

Berikutnya, Mas Reza tanpa ampun menghantam telinga para peserta dengan karya-karya dari John Coltrane yang berjudul Meditation, John Zorn dengan dua lagu yang berjudul Dens of Sins/Demon Sanctuary dan Hue Di serta Curlew dengan judul Oklahoma. Di lagu-lagu terakhir ini, sulit bagi para peserta untuk menangkap sebelah mana sisi jazz-nya. Mas Reza tetap bersikukuh bahwa free jazz semacam ini beda dengan konsep kontemporer yang ditawarkan oleh para komposer semisal John Cage atau Philip Glass. Meski Yuty mengakui bahwa John Zorn sesungguhnya diakui di dua dunia tersebut (kontemporer dan free jazz). Melihat suasana yang sudah semakin muram, Mas Reza kemudian memutar lagu yang menurutnya berfungsi sebagai detoksifikasi. "Ini karya populer judulnya New York New York," ujarnya mengacu pada lagu yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra. Ternyata, New York New York yang dimainkan oleh Django Bates ini sangat jauh dari aslinya. Eksperimentatif, liar, dan sama sekali tidak membuat efek detoksifikasi. 


Dua anak dari jurusan musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bernama Ayu dan Putri mengungkapkan secara kompak bahwa meski mereka sulit untuk mencerna lagu-lagu yang dibawakan Mas Reza, namun mereka merasa wawasannya jauh bertambah. Rahardianto yang diplot sebagai narasumber kedua -namun karena hadir menjelang diskusi selesai, ia jadi tidak banyak bicara- mengatakan bahwa mendengarkan musik semacam ini akan meningkatkan kepekaan estetis sehingga dapat mencerna lebih banyak musik lagi. Yuty bahkan memberi saran bagi mereka yang sulit untuk menerima musik-musik "aneh", "Tambah lagi ya dosis mendengarkannya setiap hari!" ujarnya sambil disambut tawa para hadirin.



Daftar lagu yang diputar (musisi - album - komposisi):
Charles Mingus - Black Saint & Sinner Lady - Duet Solo Dancers
Alice Coltrane - World Galaxy - Galaxy in Turiya
John Coltrane - Stellar Regions - Stellar Regions
Ornette Coleman - Skies of America - The Artist in America
Pat Metheny & Ornette Coleman - Song X - Song X
John Coltrane - Meditation - The Father and The Son and The Holy Ghost
Naked City - Naked City - Dens of Sins/Demon Sanctuary
John Zorn - New Traditions in East Asian Bar Bands - Hue Di
Curlew - North America - Oklahoma
Django Bates - Winter Truce (and Home Blazes) - New York New York
Sun Ra - Atlantis - Atlantis (excerpt)

Monday, March 11, 2013

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Jazz setelah Post Bop

Minggu, 17 Maret 2013
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Pk. 15.00 - 17.00
Gratis dan Terbuka untuk Umum




KlabKlassik akhirnya memulai kegiatan diskusinya di tahun 2013 setelah beberapa bulan terakhir fokus mempersiapkan ensembel gitar Ririungan Gitar Bandung (RGB) untuk konser. Diskusi pembuka tahun ini adalah tentang jazz -setelah sempat sebelumnya membahas musik psikedelik, black metal, ska dan blues-. Jazz yang dibahas adalah spesifik tentang satu periode yang disebut sebagai "setelah post-bop". Periode "setelah post-bop" ini barangkali dalam kacamata hari ini masihlah sebagai yang paling mutakhir, avant-garde, liar, dan tentu saja cutting edge. Tokoh-tokoh yang akan dibahas adalah Sun Ra, Alice Coltrane, Cecil Taylor, Ornette Coleman, Anthony Braxton, dan John Zorn. Diskusi akan dipandu oleh dua orang narasumber yakni Ismail Reza dan Rahardianto -dua orang yang diam-diam merupakan penikmat jazz kontemporer yang akut-.

Jika ada pertanyaan: Mengapa tidak semua kegiatan KlabKlassik berkaitan dengan musik klasik? Temukan jawabannya di http://www.klabklassik.blogspot.com/2012/10/mengapa-tidak-semua-kegiatan.html

Wednesday, March 06, 2013

RGB Main The Beatles: Dari Latihan di Beranda ke Panggung yang Nyata

Sabtu, 2 Maret 2013

Kerja keras Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang berlatih setiap minggunya di beranda Tobucil sejak enam bulan terakhir terbayar jua. Mengusung konsep memainkan lagu-lagu The Beatles, para pemain yang berjumlah sebelas orang tersebut berhasil menuntaskan empat karya dalam konser yang digelar Senin lalu di Auditorium IFI.
Karena empat lagu dirasa terlalu singkat untuk sebuah konser, maka RGB mengundang sejumlah penampil lain dalam berbagai format untuk meramaikan. Setelah video pembukaan dari Diecky selama kurang lebih sembilan menit -Diecky khusus mengirim dari Pontianak!- yang berkisah sedikit tentang sejarah The Beatles dan pengaruh musiknya terhadap dunia, acara langsung dibuka dengan penampilan solo Ilalang Dzahira Anwar memainkan karya Yesterday. Setelah lagu yang cukup pendek itu, berturut-turut masuk penampil solo lainnya yakni Dudy Arifullah dan Alkautsar Purnama Agung yang membawakan The Long and Winding Road dan I Want to Hold your Hand. Keduanya sukses memainkan karya tersebut secara apik.
Dudy Arifullah memainkan Long and Winding Road.
Setelah habis penampilan solo, acara konser RGB Main The Beatles sekarang memasuki sesi ensembel. Duet Prabu Perdana dan Deni Ramdani tampil syahdu membawakan karya The Beatles yang terkenal dengan harmonisasi vokal Lennon dan McCartney yakni Because. Setelah Prabu-Deni, kemudian yang naik panggung berikutnya adalah Johanes Dodi dan Rendy Lahope. Keduanya tampil atraktif memainkan lagu-lagu The Beatles yang diaransemen oleh komposer kenamaan, Leo Brouwer. Dua lagu yang dimainkan Dodi - Rendy adalah Fool on The Hill dan Penny Lane. Lagu yang disebutkan terakhir banyak mengundang tepuk tangan karena penuh dengan liukan-liukan blues
Prabu - Deni membawakan Because.
Setelah dua penampilan duo menghibur penonton, sekarang yang tampil adalah format kuartet. Kuartet Bandung Guitar Society dengan lagu In My Life tampil rapi dengan aransemen yang menyerupai aslinya. Berbeda dengan penampil setelahnya yaitu Royke Ng Kuartet yang tampil dengan aransemen yang betul-betul berbeda. Lagu Hey Jude digarap ulang oleh Cindy (salah satu personel Royke Ng kuartet)  dengan sangat atraktif hingga sanggup membuat penonton ikut bernyanyi di bagian, "Na.. na.. na.. Hey Jude." Setelah Royke Ng Kuartet, hadir kemudian Dodi and Friends yang juga sama-sama mengusung formasi empat orang. Mereka hadir membawakan tiga lagu yakni Blackbird, Eleanor Rigby, dan Can't Buy Me Love.
Royke Ng Kuartet membawakan Hey Jude.
Setelah rehat sekitar sepuluh menit, sekarang tiba bagian dimana yang tampil adalah mereka yang berformat lebih ramai dan beragam. Minorchy Bnz yang merupakan perwakilan Purwatjaraka Batununggal tampil dengan format band lengkap membawakan Hey Jude dan From Me To You. Dengan formasi piano, keyboard, gitar, bass, cajon, tiga biola, dan vokal, rata-rata personel yang merupakan kelahiran tahun 2000-an, cukup baik dalam membawakan karya-karya The Beatles yang populer di era tahun 1970-an dan 1980-an. 
Minorchy Bnz memainkan Hey Jude dan From me To You.
Berakhirnya Minorchy Bnz membawa penonton pada penampilan atraktif dari Ammy Kurniawan. Di lagu pertama, secara mengejutkan Ammy -yang terkenal dengan permainan biolanya- bermain solo gitar memainkan lagu Blackbird. Dengan menggunakan efek, ia tampil apik dengan meramu antara tempo lambat dengan arpeggio ala klasik dan tempo cepat dengan gaya strumming ala bluegrass dan sedikit sentuhan blues. Setelah permainan Ammy yang mengundang decak kagum, ia memanggil muridnya yang bernama Retno. Retno yang memainkan biola, secara atraktif berduet dengan Ammy -yang teguh dengan gitarnya- memainkan satu karya yang beraroma rock n roll cukup kental berjudul I Feel Fine. Yang menarik dari penampilan ini adalah intro pembukanya, yang berupaya menipu penonton dengan menyuguhkan potongan lagu Girl. Setelah duet tersebut, Ammy dipaksa bermain biola oleh penonton. Akhirnya ia pun dengan rela memainkan Norwegian Wood diiringi oleh Syarif.
Ammy dan Retno memainkan I Feel Fine.
Akhirnya perjalanan panjang selama lebih dari satu jam mengantarkan pula pada penampilan puncak yakni RGB. RGB memainkan empat buah lagu yakni Come Together, If I Fell, Let it Be dan Drive My Car. Dengan menggunakan kaos bergambar personel The Beatles, RGB tampil penuh semangat seolah menumpahkan apa yang sudah dilatih selama enam bulan terakhir. Penonton tertawa riuh ketika RGB melakukan sedikit atraksi di akhir lagu Let it Be. RGB mengulang-ulang secara tak terbatas bagian coda sehingga penonton tidak bisa bertepuk tangan. Hal ini memang sengaja dilakukan sebagai aksi panggung. Tak lupa juga, di bagian akhir Drive My Car, RGB juga menyelipkan tema lagu cingcangkeling yang membuat penonton tertawa geli.
Ririungan Gitar Bandung.
Bagi KlabKlassik sendiri, keberhasilan RGB tampil dalam konser sendiri ini adalah yang kedua kalinya setelah tahun 2009. Perlu menunggu hingga empat tahun sampai RGB sanggup tampil atas nama dirinya sendiri. Untuk kelompok ensembel gitar yang dibuka untuk umum, dengan personel yang datang dan pergi, memang konsistensi menjadi hal yang sulit dilakukan. Maka ketika konser RGB Main The Beatles terselenggara dengan sukses, tawa para peserta meledak tanda kelegaan yang luar biasa.

Sunday, March 03, 2013

Representasi Kehidupan Schubert Via Piano Empat Tangan

Jumat, 23 Februari 2013

Resital Piano Empat Tangan Lendi - Danang: All Schubert Recital berlangsung apik. Penampilan duet guru-murid memainkan karya-karya Franz Schubert ini dibagi dalam dua sesi yang menampilkan kekontrasan karakter karya sang maestro. Sesi pertama memainkan karya berdurasi empat puluh menit yang dibagi dalam empat bagian berjudul Grand Duo. Karya yang berkarakter amat simfonik ini komposisinya cukup kompleks dan sulit untuk ditangkap melodinya. Keduanya bermain apik meski harus berhadapan dengan lagu yang membutuhkan teknik tinggi. Yang menarik, sebelum mulai memainkan karya, Danang secara fasih menyampaikan tetek bengek mengenai karya ini terlebih dahulu. Pemaparannya cukup panjang, hampir sepuluh menit. Meski demikian, penonton jadi paham bagaimana mengapresiasi karyanya.

Sebelum mulai mereprensentasikan karya, masing-masing pemain diberi kesempatan memberi pemaparan.
Sesi dua berlangsung sebaliknya. Karya Rondo in A Major dan Fantasia in F Minor adalah lagu yang amat melodius. Lagu yang melodinya mudah ditangkap ini, menurut pemaparan Pak Lendi, justru diciptakan menjelang akhir hayat Schubert yang usianya relatif pendek (32 tahun). Artinya, Schubert menurunkan kompleksitas komposisi dibandingkan ketika ia berusia muda. Meski demikian, kesederhanaan komposisinya ini tidak lantas membuat karya-karya "Schubert akhir" kehilangan kedalaman. Resital Schubert ini, dengan gabungan antara permainan dan pemaparan, sepertinya sukses "menghadirkan" sang maestro ke tengah-tengah penonton yang mengapresiasi di Auditorium IFI - Bandung. 

Guru-murid melebur membawakan karya sang maestro era Romantik.

Iswargia R. Sudarno (Lendi) adalah pianis jebolan Manhattan School of Music yang pernah berguru pada pianis kenamaan dunia seperti Hansjorg Koch, Bela Siki, Rita Sloan, Gabriel Chodos dan Robert Levin. Aktivitasnya sekarang adalah lebih banyak mengajar dan menghasilkan sejumlah pianis muda berprestasi. Danang Dirhamsyah adalah salah satu murid yang diajarnya di Universitas Pelita Harapan. Danang adalah peraih Gold Prize di Asia International Piano Academy and Festival di Korea tahun 2012 dan dianugerahi Special Jury Prize. Meski usianya masih sangat muda (kelahiran tahun 1990), Danang tampak tidak canggung sama sekali bermain dengan gurunya. Mereka malah melebur, menjadi satu, mempresentasikan dengan baik karya-karya sang maestro Era Romantik yang pada masa mudanya amat disayang oleh dua komposer besar: Antonio Salieri dan Ludwig van Beethoven.
 
Akhir yang menyenangkan.

Tuesday, February 26, 2013

Ririungan Gitar Bandung Latihan di Garasi10

Senin, 26 Februari 2013



Biasa rutin berlatih di Tobucil, kelompok ensembel gitar Ririungan Gitar Bandung (RGB) kali ini memilih untuk latihan di Garasi10. Apa gerangan hal yang menyebabkan RGB mesti pindah tempat latihan?

RGB akan menjalani konser cukup serius di akhir minggu ini tepatnya 2 Maret. Mereka membutuhkan waktu latihan yang lebih sering. Ketika waktu yang tersedia bagi para peserta ensembel ini hanya di malam hari, maka diputuskan bahwa latihan dilakukan tidak di Tobucil. Alasannya, Tobucil biasanya sudah harus mengakhiri aktivitas di pukul delapan malam. Disertai sejumlah catatan untuk merendahkan volume suara kegiatan ketika hari sudah melewati maghrib.

Di akhir minggu ini, RGB akan tampil di konser yang khusus memainkan karya-karya dari band legendaris asal Liverpool, The Beatles. Empat lagu dipersiapkan oleh ensembel gitar yang didirikan tahun 2009 ini yakni Come Together, If I Fell, Let It Be, dan Drive My Car. Total dua belas gitaris meramaikan Garasi10 dari mulai pukul lima hingga sembilan malam. Rentang usia dari dua belas orang itu amat beragam mulai dari yang terkecil, Ilalang, yang masih kelas lima SD hingga Rendy dan Dody yang sudah selesai kuliah. Semuanya berlatih dengan penuh semangat dan penuh canda tawa terutama karena celotehan Ilalang yang meski masih SD namun sering membuat pernyataan yang membuat peserta lain geleng-geleng kepala saking cerdasnya.