Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Wednesday, January 30, 2013

Catatan tentang Konser Musik Klasik di Bandung

Entah kenapa, saya merasa perlu untuk menuliskan hal ini. Dalam setidaknya lima atau enam tahun terakhir, konser musik klasik di Bandung mengalami peningkatan kuantitas yang tajam. Classicorp Indonesia dan KlabKlassik menjadi dua penyelenggara yang secara konsisten menyajikan pertunjukkan paling sedikit dua bulan sekali.

Pada awalnya, ada semacam perjanjian tak tertulis tentang artis siapa yang disajikan oleh masing-masing baik Classicorp maupun KlabKlassik. Classicorp -yang dipimpin oleh pianis Mutia Dharma- menyajikan lebih banyak musisi mancanegara, sedangkan KlabKlassik mewadahi musisi lokal terutama yang masih dalam kategori potensial. Namun makin kesini, batas-batas tersebut agaknya menjadi lebur. Classicorp melirik musisi lokal-potensial untuk ditampilkan secara berkala. Mereka juga membuat program semacam open stage untuk siapapun yang mau tampil. Hal ini justru dilakukan KlabKlassik di awal-awal. Lewat acara semisal Classical Guitar Fiesta dan Soirée Française, KlabKlassik mencoba menampung peserta konser dari pihak manapun. Sekarang ini seolah-olah ada pertukaran: KlabKlassik, seperti halnya apa yang dilakukan oleh Classicorp sejak lama, menjadi penyelenggara bagi pertunjukkan musisi lokal-profesional maupun mancanegara.

Sekarang ini baik Classicorp dan KlabKlassik, keduanya berkembang secara dinamis. Konser-konser yang diselenggarakan menjadi tidak lagi bergerak di isu profesional-amatir atau lokal-mancanegara, melainkan lebih pada bagaimana format penyajian konser musik klasik itu sendiri. KlabKlassik sepertinya sejak awal mula sedikit lentur soal ini. Tercatat ada beberapa pertunjukkan yang digelar dalam suasana yang cair dan kadang penuh nuansa humor. Sebagai catatan, secara stereotip kita tahu bahwa konser musik klasik kerapkali identik dengan suasana yang tegang, kaku, dan cenderung dingin. Ini tentu mempunyai tujuan tersendiri. Ada semacam upaya pengondisian agar musik yang dihasilkan oleh pemain sampai dengan lengkap ke telinga penonton tanpa distorsi bunyi-bunyi lainnya. Aura pertunjukkan konser musik klasik dibuat senyap agar apresiasi menjadi maksimal.

Kembali ke format penyajian, ada beberapa konser musik klasik di Bandung yang disajikan secara "tidak sesuai kaidah". Secara narsistik, saya harus akui bahwa resital saya sendiri termasuk dalam kategori pertunjukkan musik klasik non-konvensional. Saya melemparkan humor sangat banyak dan mungkin menjadi kontroversial bagi mereka yang terbiasa dengan konser-konser tradisional. Kemudian Classical Guitar Fiesta juga termasuk konser yang tidak bisa tidak, disajikan secara santai dan penuh canda. Yang terbaru tentu saja resital biola Satryo Aryobimo Yudomartono yang menurut saya sangat cutting-edge. Ia bermain humor tidak saja di tataran verbal tapi juga musikal. Bimo, panggilannya, dengan sangat konseptual menyusun satu pertunjukkan yang harus saya katakan sebagai avant-garde. Bukan karena penggunaan mikrotonal atau twelve tone series, tapi karena ia dengan berani menghajar batas-batas dalam pertunjukkan musik klasik untuk kemudian menggantinya dengan pertunjukkan yang "tidak masuk dalam kategori-kategori apapun".

Bebauan ini agaknya tercium oleh Classicorp yang selama ini dikenal menerapkan format pertunjukkan musik klasik yang baku. Hal ini tentu saja bukan suatu kekurangan. Justru publik Bandung disuguhi pelbagai pertunjukkan yang amat dinamis: Satu yang avant-garde dari KlabKlassik, satu lagi yang pakem dari Classicorp. Susah sekali untuk memahami yang avant-garde jika tanpa mengetahui apa yang sebelumnya baku. Meski demikian, ada kecenderungan Classicorp belakangan mulai ingin menabrak batas-batas itu sendiri. Saya melihat, meski ini kejadian tidak besar, dalam konser sekitar sebulan silam, Mutia Dharma, Arya Pugala Kitti, dan Sarah Tunggal, berkonser bertelanjang kaki memainkan karya-karya Bach, Dvorak, Schubert dan Faure. Tentu saja, meski cuma urusan sepatu, ini sebuah terobosan. Sepatu, kita tahu, sudah lekat artinya dengan formalitas pertunjukkan musik klasik.

Belakangan juga saya mendapatkan undangan dari Mutia untuk tampil di acara Classical Revolution. Saya tidak tahu persis apa yang akan terjadi di konser yang punya judul menarik tersebut. Namun dengan lokasi penyelenggaraan yang tidak lagi di gedung pertunjukkan resmi melainkan di café -plus desain poster yang tidak konvensional-, agaknya Classicorp mulai menunjukkan kecenderungan mengadopsi posmodernisme pelan-pelan. Posmodernisme adalah suatu pemahaman mutakhir tentang bagaimana menerima dunia yang sudah semakin majemuk. Modernisme selalu ingin mendefinisikan sesuatu secara ketat dan membatasinya dengan tembok-tembok tebal. Posmodernisme meruntuhkan itu semua oleh sebab suatu kenyataan tak terbantahkan: Dunia tak lagi pantas dipisah-pisah oleh tembok tebal. Konser musik klasik tidak harus melulu seperti itu dan seperti ini. Konser musik klasik boleh begini boleh begitu, asal saja esensi yang terkandungnya tidak luntur sama sekali.

Juga, selain soal posmodernisme, ada kecenderungan juga baik Classicorp maupun KlabKlassik mulai memahami bagaimana kecenderungan penonton di Bandung yang rasanya memang lebih suka sajian yang lebih santai. Setelah beberapa kali menyajikan pertunjukkan musik klasik konvensional, agaknya harus diakui bahwa dalam masyarakat terkandung semacam sosio-kultural yang khas di masing-masing wilayah. Ada memang wilayah yang bisa kita jejali musik klasik konvensional secara padat, keras, dan apa adanya. Ada juga wilayah yang untuk menjejalinya kita harus membuatnya menjadi bubur terlebih dahulu agar menyuapinya menjadi mudah.

Komentar ini adalah semacam kegembiraan, optimisme, dan keharuan akan bagaimana kedua penyelenggara ini ternyata ikut bergerak bersama jaman. Ada suatu pepatah latin berbunyi tempora mutantur, nos et mutamur in illis. Artinya, waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya. Sekarang adalah tentang bagaimana musik klasik tetap lentur bersama jaman yang bergerak cepat.

Syarif Maulana

Sunday, January 13, 2013

RGB Membludak Lagi!

Minggu, 13 Januari 2013

Setelah mengalami kelesuan serius menjelang berakhirnya tahun 2012, ternyata lambat laun RGB bergairah di awal tahun 2013 ini. Minggu sebelumnya, hanya dua orang baru saja yang mewarnai formasi RGB. Namun minggu kemarin, amunisi bertambah menjadi total dua belas personel. 

Kegiatannya menjadi tidak hanya latihan bersama, namun personel berlimpah ini membuat kegiatan juga mencakup diskusi dan pelajaran singkat. Beberapa orang baru yang dirasa belum terlalu lancar, diajari oleh yang lebih senior beberapa saat. Sehingga ketika bermain kembali, mereka yang belum lancar, menjadi pelan-pelan dapat ikut serta berbaur. 

Tidak hanya lagu Let it Be yang saat ini tengah dilatih, melainkan juga kemarin berlatih duet dari Dodi dan Rendy memainkan lagu Penny Lane. Meski belum dimainkan hingga rampung, namun terasa sekali bahwa aransemen karya tersebut memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi -sebagai keterangan, sang pengaransemen adalah komposer besar asal Kuba, Leo Brouwer-. 

Awan gelap yang dulu sempat menggelayuti kelompok ensembel ini pun pelan-pelan menyingkir. Ada fajar baru terbit lewat cerahnya suasana latihan kemarin.


Sunday, January 06, 2013

Konser Lintas Batas dari Bimo

Sabtu, 5 Januari 2013

Tahun 2013 baru memasuki hari kelima, Bandung sudah mulai diramaikan oleh konser musik klasik. Yang tampil adalah Satryo Aryobimo Yudomartono, pemain biola asal Bandung yang bersekolah di Prancis -lantas pulang ke Indonesia setahun sekali untuk salah satunya mengadakan resital-. Seperti halnya tahun sebelumnya, Bimo -panggilannya- tidak hanya sekedar menampilkan karya-karya klasik, melainkan juga melakukan berbagai aksi panggung.

Sesi pertama berlangsung serius. Bimo memulainya dengan bermain solo karya Telemann. Setelah itu, ia dan Nesca Alma (piano) berduet menampilkan sejumlah karya dari Schumann, Henry Vieuxtemps, dan Arvo Pärt. Konser ini berlangsung dalam suasana gerah karena penonton yang membludak. Hal ini salah satunya disebabkan oleh sistem pemberian harga tiket yang bebas tergantung apresiasi penonton. Konser ini tidak seperti umumnya yang mana selalu punya harga tiket tetap yang harus ditaati penonton agar bisa masuk.


Setelah sesi pertama yang berlangsung "seperti konser musik klasik pada umumnya", di sesi kedua -setelah break selama dua puluh menit-, Bimo menggebrak dengan sejumlah karya populer baik dari genre reggae, R & B, hingga dangdut. Di posisi piano, kali ini duduk Fero Aldiansyah. Bimo juga mengajak seorang pemain perkusi bernama Irene Edmar Wirawan. Bimo tidak henti-hentinya bercanda dan berjoged di atas panggung membawakan karya-karya seperti Keong Racun, Umbrella, I can Do It, Autumn Leaves, hingga Bamboleo. Pada mulanya, ia menyuguhkan semacam transisi dengan membawakan sejumlah karya klasik yang dibawakan dalam format medley

Meski penuh dengan humor, namun Bimo tetap menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemain yang mumpuni. Karya-karya klasik yang dibawakannya di sesi satu adalah karya-karya yang membutuhkan teknik 
baik. Pada sesi kedua, meski sudah menampilkan sesi penuh canda, namun Bimo masih menunjukkan kelasnya lewat improvisasi, permainan efek bebunyian, kecepatan tangan, dan tentu saja eksplorasi aksi panggung. 

Konser musik klasik semacam ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Ada yang memilih untuk tidak dikategorikan sebagai konser musik klasik karena karya-karya yang ditampilkan tidak lagi identik dengan karya-karya dari periode Renaisans hingga Romantik. Ada juga yang masih tetap merasakan bahwa konser tersebut menarik karena justru mengambil semangat musik klasik untuk kemudian didekonstruksi sehingga mengandung unsur kontemporer. Memang harus diakui, di era sekarang -yang katanya posmodern-, sejumlah narasi yang dulunya berdiri sendiri-sendiri sekarang bisa ditabrakkan, dilebur sesuka hati.