Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Tuesday, February 26, 2013

Ririungan Gitar Bandung Latihan di Garasi10

Senin, 26 Februari 2013



Biasa rutin berlatih di Tobucil, kelompok ensembel gitar Ririungan Gitar Bandung (RGB) kali ini memilih untuk latihan di Garasi10. Apa gerangan hal yang menyebabkan RGB mesti pindah tempat latihan?

RGB akan menjalani konser cukup serius di akhir minggu ini tepatnya 2 Maret. Mereka membutuhkan waktu latihan yang lebih sering. Ketika waktu yang tersedia bagi para peserta ensembel ini hanya di malam hari, maka diputuskan bahwa latihan dilakukan tidak di Tobucil. Alasannya, Tobucil biasanya sudah harus mengakhiri aktivitas di pukul delapan malam. Disertai sejumlah catatan untuk merendahkan volume suara kegiatan ketika hari sudah melewati maghrib.

Di akhir minggu ini, RGB akan tampil di konser yang khusus memainkan karya-karya dari band legendaris asal Liverpool, The Beatles. Empat lagu dipersiapkan oleh ensembel gitar yang didirikan tahun 2009 ini yakni Come Together, If I Fell, Let It Be, dan Drive My Car. Total dua belas gitaris meramaikan Garasi10 dari mulai pukul lima hingga sembilan malam. Rentang usia dari dua belas orang itu amat beragam mulai dari yang terkecil, Ilalang, yang masih kelas lima SD hingga Rendy dan Dody yang sudah selesai kuliah. Semuanya berlatih dengan penuh semangat dan penuh canda tawa terutama karena celotehan Ilalang yang meski masih SD namun sering membuat pernyataan yang membuat peserta lain geleng-geleng kepala saking cerdasnya.

Monday, February 25, 2013

Ririungan Gitar Bandung Main The Beatles!


Sabtu, 2 Maret 2013
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Pk. 19.00 - 21.00
Harga Tiket Diserahkan pada Penonton
Informasi: Syarif (0817-212-404)

Pengantar

Sebelum acara ini, lebih dari setahun lalu ada konser serupa di Bandung yang digagas oleh Haryo Yose Soejoto. Idenya mirip: Mengangkat karya-karya dari kelompok musik era 60-an dan 70-an melalui instrumen dan format yang secara stereotip biasa digunakan untuk memainkan karya-karya musik klasik. Bedanya, Yose mengangkat lebih banyak kelompok musik dengan genre spesifik yaitu rock. Karya-karya dari Led Zeppelin, Jimi Hendrix, dan Emerson Lake and Palmer secara apik dipresentasikan oleh orkestra yang dibina olehnya, yakni Anime String Orchestra (Astro). Seperti yang diduga sebelumnya, pertunjukkan semacam itu sukses mendatangkan dua komunitas sekaligus: Mereka yang gemar musik klasik, dan mereka yang gemar musik rock.

Ririungan Gitar Bandung (RGB) tentu saja tidak bisa kita samakan levelnya dengan Astro. Nama yang terakhir disebut adalah kumpulan pemain profesional yang bergabung dalam satu wadah yang dikelola oleh komposer, arranger, dan konduktor berkelas seperti Yose. RGB bisa dibilang merupakan ensembel gitar yang terkandung di dalamnya dominasi pemain yang dapat dikatakan amatir. RGB memang dibuka untuk siapa saja dan cenderung ditujukan bagi siswa-siswi yang masih belajar gitar klasik agar mereka menemukan komunitas untuk berbagi. Dengan level permainan yang belum bisa dikatakan mahir, RGB mencoba untuk "mengejar" konsep brilian dari Yose untuk sama-sama merepresentasikan kelompok musik yang -tidak berdosa jika kita katakan bahwa taraf kesejarahan dan pengaruh yang dihasilkannya- sama-sama bisa kita sematkan label "musik klasik", yakni The Beatles.

Konser Ririungan Gitar Bandung Main The Beatles yang seolah-olah "cross-over" ini seringkali punya alasan klise yang dibuat-buat seperti "berupaya membumikan musik klasik". Saya bukan termasuk ke dalam golongan yang berkata, "Sebelum kamu dengerin Bach, Dvorak, atau Rachmaninoff, coba deh dengerin dulu orkestra yang maenin OST Twillite atau permainan piano David Foster." Mengapresiasi musik klasik seringkali lebih banyak menemui kegagalan jika melalui gerbang masuk musik pop. Memang bisa saja dalam tataran instrumentasi, kita membiasakan diri dengan bunyi piano ataupun orkestra dengan karya yang simpel sebelum memasuki rimba kerumitan musik era Renaisans hingga Romantik. Namun upaya semacam itu sering mentok ketika mulai bersentuhan dengan harmoni, progresi, kadens, dan term-term musikal yang lebih kompleks. Untuk memahami keruwetan musik klasik rasanya tidak cukup dengan selewat-selewat mendengarkan musik pop. Musik klasik, untuk menyentuh "inti persoalan"-nya seringkali kita perlu memahaminya via sejarah, seni, sastra, dan sejumlah amunisi teori musik yang kontekstual dengan si musik itu sendiri.

Konser RGB ini, meski dilatari oleh sebagian besar pemain yang berlatarbelakang gitar klasik, namun tidak ada semacam tendensi bahwa tujuan diselenggarakannya adalah dalam rangka membumikan musik klasik. Terlalu naif jika katakan bahwa musik klasik haruslah membumi -sama seperti kita menyuruh musik Chick Corea diputar di radio anak muda atau lukisan Jackson Pollock diwajibkan dipahami oleh para seniman Jelekong. Musik klasik harus dikenal seluas mungkin tentu saja iya, tapi keluasan ini jika tidak dibarengi pemahaman yang mumpuni akan jadi eksklusivitas kosong dan yang terjadi malah penyalahgunaan.

Jika demikian halnya, apa tujuan dari konser RGB ini? Kami tidak punya alasan yang rumit-rumit dan dibuat-buat. Kami hanya ingin memberikan penghormatan setinggi-tingginya bagi band yang sudah mengubah wajah dunia dalam lima puluh tahun terakhir. Kami hanya ingin memanjatkan doa sekaligus berterima kasih atas musik-musik dari John, Paul, George, dan Ringo yang secara harmoni dan progresi jauh dari kerumitan musik Bach, tapi dibuat dengan ikhtiar keras dan jiwa yang ditumpahkan setumpah-tumpahnya. Kami juga ingin RGB belajar dari sari-sari perjuangan The Beatles, bahwa rumit itu tidak selamanya penting. Ketika kamu bermain dengan jiwa dan hati yang bertujuan demi keluhuran estetika itu sendiri, kamu akan didengar. Kamu akan mendunia.

Tentang Ririungan Gitar Bandung

Ririungan Gitar Bandung (RGB) adalah kelompok ensembel gitar untuk umum yang didirikan pada bulan Januari 2009. Ensembel yang berada di bawah payung KlabKlassik ini, menyelenggarakan latihan secara rutin seminggu sekali di bawah binaan Sutrisna, Kristianus Tri Adisusanto, dan Yunus Suhendar. Sistem latihannya yang terbuka untuk umum membuat RGB diisi oleh orang-orang dari beragam usia dan latar belakang. Pada bulan November 2009, RGB tampil di konser tunggal perdananya dengan tajuk Ririungan Gitar Bandung: Maen!. Setelah itu, RGB rutin tampil di acara-acara seperti konser sekolah musik, acara-acara komunitas serta penampilan di ruang publik. Setelah hampir empat tahun tidak menyelenggarakan konser tunggal, RGB berencana kembali menggelarnya di awal tahun 2013 dengan tajuk Ririungan Gitar Bandung Main The Beatles.

Personel RGB dalam konser menampilkan karya-karya The Beatles ini adalah: Ilalang Dzahira Anwar, Nasrullah Putra, Rendy Lahope, Adli Sabila Jannatul Ma'wa, Edo Persadanta, Johanes Dodi, Alkautsar Purnama Agung, Kristianus Tri Adisusanto, Prabu Perdana, Deni Ramdani, Bagas Budi Widya, Trisna Karisma, Tubagus Pandu Mursahdo.





Karya-Karya yang Akan Ditampilkan

Tidak hanya RGB, konser ini juga akan menampilkan Ammy Alternative String, Bandung Guitar Society, Minorchy BNZ, Royke Ng Kuartet, Andi Danial - Syarif Maulana, dsb yang akan menampilkan karya-karya The Beatles seperti:

Because
Blackbird
Come Together
Drive my Car
Eleanor Rigby
Fool on The Hill
From Me to You
Hey Jude
If I Fell
In My Life
I Saw Her Standing There
I Want to Hold Your Hand
Let it Be
Long and Winding Road
Norwegian Wood
Penny Lane
Yesterday





Thursday, February 14, 2013

Resital Piano Empat Tangan Lendi - Danang: All Schubert Recital


Ririrungan Gitar Bandung di Acoustic Guitar Night UPI

Kamis, 7 Februari 2013

Ririungan Gitar Bandung (RGB), sekalian dalam rangka persiapannya menjelang konser tanggal 2 Maret, menerima tawaran tampil dari anak-anak mahasiswa seni musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). 

Acara yang diberi tajuk Acoustic Guitar Night tersebut ternyata bukan acara sembarangan. Tempatnya di aula cukup besar dengan sound system mumpuni dan suasana yang dibuat khidmat. Jumlah penampil pun cukup banyak dan atraktif mulai dari format solo gitar, duet, trio, hingga ensembel. RGB tentu saja menampilkan lagu-lagu yang sedang dipersiapkan sebagai amunisi untuk menghadapi konser menampilkan The Beatles bulan depan. Selain RGB, KlabKlassik juga menampilkan Kristianus Triadisusanto dan duet Rendy - Dodi sebagai penampil. Kris memainkan Tears in Heaven sedangkan Rendy - Dodi menampilkan repertoar yang akan dimainkan kelak yaitu Fool on The Hill dan Penny Lane. RGB sendiri memainkan dua lagu. Yang pertama berjudul If I Fell, yang kedua berjudul Let it Be. Dengan adanya even ini, semoga RGB semakin siap menghadapi konser "sesungguhnya" di awal Maret.

Penampilan solo Kristianus.

Duet Rendy dan Dodi.

Syarif sedang memerhatikan persiapan RGB sebelum naik panggung.

Trisna memimpin persiapan RGB.

Trisna dan Kris, duo pembina RGB.

Latihan RGB di tangga.

Meski cuma latihan, Lalang terlihat sangat menghayati.

Penampilan RGB di panggung Acoustic Guitar Night.