Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, March 25, 2013

Visiting Lecture Prof. Dieter Mack di UPI

Pada hari Rabu 20 Maret 2013, beberapa anggota Klabklassik yaitu Afifa, Syarif, Fiola, Royke, Mutia, dan Beben mendapatkan kesempatan untuk menghadiri visiting lecture dari Professor Dieter Mack yang dilaksanakan di Auditorium FPBS UPI. Kesempatan ini dinilai sangatlah berharga karena kuliah beliau memang telah dikenal selalu inspiratif dan membuka wawasan tentang musik. Sebagai seorang tokoh yang bisa dibilang cukup memberikan pengaruh pada kurikulum pendidikan musik Indonesia, pada kesempatan ini beliau memberikan kuliah bertemakan pendidikan musik sekolah umum di Indonesia. 

Sebagai negara yang memiliki berbagai keanekaragaman termasuk dalam ranah musik, sangatlah disayangkan bahwa terkadang pendidikan musik sekolah umum di Indonesia dinilai belum bisa memberikan kompetensi secara musikal yang bersumber dari keanekaragaman musik Indonesia. Sebelum dilakukan pembaharuan terhadap kurikulum, pendidikan musik sekolah umum di Indonesia kebanyakan berasal dari ranah musik Barat. Seharusnya pendidikan musik sekolah umum harus mencakup pula musik yang berasal dari Indonesia. 

Dengan banyaknya jenis musik yang ada di Indonesia, apakah lebih baik bagi seorang peserta didik untuk menerima pendidikan musik mengenai hampir semua jenis musik lokal di Indonesia atau satu musik lokal saja yang berasal dari daerahnya tinggal? Profesor Dieter Mack berpendapat bahwa lebih baik seorang peserta didik mendapatkan pendidikan musik yang berfokus kepada satu atau dua musik lokal saja yang berasal dari daerahnya tinggal. Mengapa demikian? 

Pertama, musik adalah bagian dari seni yang merupakan hal yang bersifat lokal, berbeda-beda untuk setiap daerah. Hal ini tidak dapat disamakan dengan sains yang bersifat universal dan dapat disamakan di semua belahan bumi manapun. Kedua, tujuan utama dari pendidikan pada sekolah umum sebenarnya adalah memberikan model atau contoh yang kelak dapat dipelajar lebih lanjut oleh siswa sendiri. Tidak mungkin dalam pendidikan sekolah umum semua materi dapat diberikan oleh karena itu hanya model atau contoh yang diberikan. 

Ketiga, pendidikan musik yang berfokus pada musik lokal merupakan suatu pendekatan yang baik untuk memenuhi sasaran utama pendidikan musik yaitu memberikan kompetensi musikal pada peserta didik. Sebagai contoh apabila diberikan materi mengenai gamelan terhadap peserta didik, pendidikan musik yang berfokus hanya pada satu jenis gamelan lokal walaupun hanya melalui media sederhana, apabila meliputi suatu pengalaman bermusik lebih dapat memberikan kompetensi musikal terhadap peserta didik daripada apabila diberikan pembelajaran mengenai semua jenis gamelan yang ada di Indonesia. Pembelajaran mengenai jenis-jenis gamelan di Indonesia merupakan suatu apresiasi terhadap keanekaragaman atau bahkan hanya merupakan informasi budaya yang tidak dapat meningkatkan kompetensi musik bagi peserta didik.

Kompetensi bermusik meliputi warna suara, bentuk musik, ritme, dan tinggi rendah nada (laras). Pemahaman mengenai hal-hal tersebut pun sebenarnya dapat dicapai melalui media sederhana apabila alat musik yang ingin dipelajari tidak ada. Sebagai contoh, pembelajaran mengenai suatu jenis gamelan dapat dilakukan dengan cara melakukan imitasi terhadap ritme dari instrumen gamelan tersebut seperti gong yang dilakukan oleh guru dan diimitasikan lagi oleh peserta didik. Untuk mengetahui laras, guru juga dapat menggunakan botol yang diisi air dengan ketinggian berbeda. Tentu saja keberadaan media seperti audio visual juga dapat digunakan sebagai pendamping pembelajaran tetapi tindak imitasi yang dilakukan peserta didik merupakan suatu bentuk praktek yang dapat meningkatkan kompetensi musikal. 

Berdasarkan buku Learning Sequences of Music karangan Edwin E. Gordon, imitasi ialah suatu proses pembelajaran paling alamiah yang disebut sebagai figural knowledge. Proses figural knowledge dapat diibaratkan dengan mengisi “laci-laci” di otak dengan cara imitasi mempraktekkan, layaknya bayi yang belajar berbicara. Pada tingkat ini, pembelajaran musik yang diterima masih belum terkait satu sama lain. Setelah proses figural knowledge terdapat proses formal knowledge yaitu mengaitkan isi “laci-laci” di otak tersebut dengan arti otonom. Pengalaman figural yang telah didapatkan peserta didik kemudian diformalkan. Cara pembelajaran musik seperti ini dijamin akan lebih memberikan memori yang kuat sekaligus meningkatkan kompetensi musik peserta didik dibandingkan pendidikan musik secara kognitif terlebih dahulu. 

Salah satu pesan lain dari Profesor Dieter Mack mengenai pendidikan musik sekolah umum di Indonesia ialah hendaknya kita tidaklah selalu mendewakan kurikulum karena kurikulum hanyalah materi dan seharusnya bisa lebih fleksibel diatur sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebagai pengajar musik kita harus dapat menentukan sendiri secara kreatif metodologi penyampaian yang tepat untuk anak didik karena metodologi penyampaian ialah kunci dari proses pendidikan musik. 

No comments: