Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, April 15, 2013

Mendengarkan Multi-Lapis Musik Sheik Yerbouti

Minggu, 14 April 2013

Mungkin akibat hujan deras yang konstan, mungkin juga akibat bincang-bincang edisi sebelumnya yang terlalu memusingkan telinga, KlabKlassik hari itu sepi peminat. Namun diskusi tetap berjalan seru oleh sebab topik menarik yang dibawa oleh Mas Ismail Reza tentang pembahasaan album Frank Zappa yang menurutnya, "Penting sebagai jalan masuk untuk memahami kegilaan Frank."

Sebelum masuk ke pembahasan mengenai Sheik Yerbouti, Mas Reza seperti biasa memberikan semacam pemanasan bagi telinga kita dengan sejumlah lagu yang bisa dianggap "ringan". Lagu-lagu yang diputarnya berasal dari band Return to Forever yang digawangi Chick Corea. Kata Mas Reza, mereka membentuk diri lagi setelah sempat tidak aktif untuk beberapa lama. Personil-personil seperti Frank Gambale, Al di Meola dan Jean Luc Ponty ikut terlibat dan memberikan rasa baru bagi salah satu lagu Chick Corea yang paling terkenal berjudul Spain. Setelah menanti beberapa saat dan tidak ada tambahan peserta, maka Mas Reza segera memulai diskusi meski dengan segelintir orang.

Album Sheik Yerbouti ini dirilis tahun 1979 dan merupakan album Zappa yang paling komersil. Kata Mas Reza, "Album ini adalah respon dari Zappa terhadap lagu-lagu pop yang beredar pada masa itu, yang terlalu sederhana dengan lirik-lirik yang dangkal." Atas dasar itu, lanjutnya, Zappa menggarap album Sheik Yerbouti yang merupakan parodi dari lagu-lagu pop yang beredar, namun diberi sentuhan mixing yang canggih. Akibatnya, album ini bisa diterima secara luas baik di kalangan serius maupun awam. Bagi Kang Tikno, ia merasa album Sheik Yerbouti ini tidak serumit album Zappa yang lain, malah sangat enak untuk dicerna. Namun jika diperhatikan dengan seksama, musik-musiknya mengandung banyak lapisan suara yang digabung-gabungkan secara rapi oleh sang maestro.

Ada tiga lagu yang langsung diputar dari awal oleh Mas Reza, yakni I Have Been in You, Flakes, dan Broken Heart Are for Assholes. Terasa sekali bahwa di dalam lagunya, terdapat sejumlah parodi yang kita hanya bisa paham jika tahu lagu atau musisi aslinya. Misal, ada nyanyian yang amat terasa meniru Bob Dylan lengkap dengan harmonikanya. Zappa juga tidak segan memasukkan suara-suara dari instrumen India di layer-layer yang agak tersembunyi. Kemudian, lanjut Mas Reza, Zappa juga "bermain" di lirik dengan menyuguhkan kata-kata yang kata Mas Reza, "Tidak penting sama sekali." Seperti misalnya di lagu Flakes, Zappa bercerita tentang montir yang tidak becus sehingga tak mampu memperbaiki kendaraan.

Seperti biasa, obrolan selalu menjadi lebih luas melebihi dari yang ditopikkan. Kesuksesan Zappa mendamaikan sisi idealisme dan pragmatisme menciptakan kekaguman tersendiri bagi Beben yang sebelumnya, meski sudah diberitahu oleh guru komposisinya, Diecky, namun tetap saja kesulitan untuk mengapresasi Zappa. Mas Reza kemudian menyarankan bahwa agar bisa menyukai Zappa, pertama harus dimulai justru dari album Sheik Yerbouti, setelah itu Mas Reza menyuguhkan beberapa contoh lagu Zappa dari luar album yang juga pantas diapresiasi sebagai jalan masuk. Sebagai informasi tambahan, Mas Reza juga menyebutkan Edgar Varese sebagai komposer panutan dari Zappa.

Daftar Lagu yang Diputar:

I Have Been inYou
Flakes
Broken Heart Are for Assholes
Dancing Fool
Jewish Princess
Bobby Brown Goes Down
Yo Mama
RDNZL
Dupree's Paradise
200 Motel
Valley Girl

Saturday, April 06, 2013

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Sheik Yerbouti (1979)


Minggu, 14 April 2013
Pk. 16.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no.56
Narasumber: Ismail Reza
Gratis dan terbuka untuk umum

Frank Zappa sering disebut sebagai komposer yang sanggup mengatasi dua dunia yang sering bertentangan dalam seni: idealis dan pragmatis. Selain dikenal sebagai komposer nyentrik yang menghasilkan sejumlah karya kontemporer, Zappa juga ternyata cukup disukai oleh pasar. Album Sheik Yerbouti yang dirilisnya tahun 1979 -terjual lebih dari dua juta kopi- adalah buktinya. Sheik Yerbouti, yang merupakan pelesetan dari kata "Shake your Booty" adalah album hasil dari rekaman live yang diolah kembali di studio. Beberapa lagu di dalamnya terkenal karena mengandung unsur humor dan parodi. Seperti apakah sesungguhnya humor dan parodi yang dimaksud dalam musik? Apakah efeknya betul-betul membuat kita tertawa, atau "tertawa" dalam konteks yang lain? Lantas, pertanyaan paling mendasarnya adalah: Apakah betul-betul ada musik yang sanggup diterima -dengan ikhlas- oleh pasar tapi juga sekaligus orang-orang serius? Mari simak pembahasannya.

Jika timbul pertanyaan, mengapa KlabKlassik membicarakan musik-musik di luar klasik, jawabannya ada di sini.