Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Thursday, May 09, 2013

Siapa Bisa Menggantikan Diecky?

Agaknya sudah hampir delapan tahun saya mengenal Diecky K. Indrapraja meskipun baru sejak sekitar lima tahun silam kami mulai sering intens bekerjasama hingga akhirnya menjadi kawan dekat. Akibat dari kedekatan tersebut, saya memetik banyak hal terutama mengenai pengetahuannya tentang musik kontemporer. Tidak hanya soal pengetahuannya saja, melainkan pada bagaimana konsistensi Diecky dalam berbagi dan "meracuni" orang-orang agar kupingnya lama-lama sanggup menerima musik-musik yang dia tawarkan. Tentu saja penolakan pada mulanya lazim terjadi. Musik yang disuguhi Diecky, yang berasal dari komposer semisal Frank Zappa, Gyorgy Ligeti, John Cage, Karlheinz Stockhausen, hingga Philip Glass sepertinya susah sekali untuk ditelan.

Diecky K. Indrapraja
Diecky, dengan latar belakang akademik di bidang musik dan pengetahuan teori yang kompeten, menyebarkan virus kontemporer ini lewat berbagai medium. Kadang lewat diskusi filosofi, lainnya lagi lewat kelas teori musik dan komposisi, serta ada pula lewat permainan musik secara langsung. Pada akhirnya, sulit untuk mengukur keberhasilan aksi militan yang dilakukan Diecky ini sehubungan dengan kepindahannya ke Kalimantan -ia menikah dan ditawari untuk mengajar disana-. Meski demikian, kepergian Diecky ini menyisakan pertanyaan serius yang mengganggu saya dalam beberapa bulan terakhir: Siapakah yang punya sikap dan pengetahuan setara Diecky di Bandung ini? Siapa pendekar yang berani berteriak soal idealisme musik ketika orang rata-rata menilai musik hanya apakah ia memuaskan telinga atau tidak? Kalaupun ada mereka penyuka musik kontemporer dengan pengetahuan cukup, siapa yang punya kecintaan untuk berbagi seperti Diecky yang mau dengan sabar meladeni murid-muridnya hingga dini hari?

Ketika Diecky pergi, yang saya rasakan adalah musik seni di Bandung kehilangan suatu denyut  kontemporer-"isme". Saya tentu saja mengetahui beberapa orang yang setaraf Diecky, bahkan lebih, menyoal kemampuan mereka dalam pemahaman soal musik kontemporer tersebut. Tapi soal militansi dan gelegak semangat yang tak terperi, saya khawatir Diecky sulit tergantikan. Pak Haryo Yose atau Pak Iwan Gunawan misalnya, dengan pengetahuan garda depan yang mereka miliki, tetap saja posisi mereka sebagai senior membuat kita tidak bisa memaksa mereka untuk aktif bergerilya seperti halnya Diecky melompat dari komunitas ke komunitas. Disini kita sedang bicara dalam konteks anak muda yang sedikit banyak masih bersemangat untuk menyuarakan idealisme tanpa rasa takut -Untuk mereka yang sudah senior, saya yakin mereka pernah sangat aktif di waktu mudanya kesana kemari seperti halnya apa yang saya lihat dari seorang Diecky-.

Tentu saja terlalu naif jika saya mencari seseorang dengan kemiripan tinggi dengan Diecky dalam soal pengetahuan dan idealisme. Yang saya lebih khawatirkan sebenarnya lebih ke arah tradisi pengetahuan musik-musik kontemporer dan garda-depan yang cukup memprihatinkan di Bandung -kita bisa melihat Yogyakarta atau Surabaya sebagai perbandingan bagaimana apresiasi mereka terhadap musik-musik semacam itu-. Mesti ada suatu upaya untuk berbagi tentang musik-musik yang revolusioner di jaman kini sebagaimana halnya Bach, Beethoven, atau Debussy juga adalah seorang "pemberontak estetik" di jamannya yang pada masa itu barangkali ditolak mentah-mentah sebagaimana halnya kita hari ini mempertanyakan yang avant-garde. Jika tidak menemukan orang semacam Diecky, siap-siap Bandung terjebak pada romantisme musik klasik (menganggap musik klasik eksklusif dan luhur tanpa memahami seluk beluk kontekstualnya), pragmatisme musik jazz (menganggap musik jazz sebagai suatu "penipuan estetik" yang terkesan mewah untuk mencari uang) serta eksotisisme buta musik etnis-tradisional (menganggap musik tradisi sebagai hal yang eksotis hanya dengan memasukkan unsur-unsur instrumentalistiknya agar terdengar kaya tanpa paham apa yang disebut Dieter Mack sebagai "aspek interkultural"). 

Mari bertanya sekali lagi: Siapa bisa menggantikan Diecky?


No comments: