Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, July 15, 2013

Musik dan Habitatnya

Minggu, 14 Juli 2013

KlabKlassik, setelah sekian lama menyerahkan aktivitasnya hanya pada Ririungan Gitar Bandung (RGB), akhirnya berkumpul lagi untuk berdiskusi. Kali ini KlabKlassik membahas tentang film Searching for Sugar Man (2012). Sebelum mulai didiskusikan, terlebih dahulu para peserta menyaksikan filmnya bersama-sama.

Searching for Sugar Man adalah film dokumenter yang disutradarai oleh Malik Bendjelloul. Isinya tentang musisi asal AS bernama Sixto Rodriguez yang dua albumnya, Cold Fact (1970) dan Coming from Reality(1971) tidak laku sama sekali di AS. Yang menarik, ternyata Rodriguez mendapatkan pendengarnya di Afrika Selatan -di sana, ia lebih populer dari Rolling Stones dan Elvis Presley-. Meski demikian, Rodriguez tidak tahu sama sekali tentang popularitasnya tersebut hingga di tahun 1998 ia diberitahu oleh kedua penggemarnya, Stephen 'Sugar' Segerman dan Craig Bartholomew Strydom. 

Setelah selesai menonton film berdurasi sekitar 90 menit tersebut, diskusi dibuka dengan pendapat spontan dari Kang Trisna, "Seperti mimpi saja Rodriguez nasibnya bisa berubah seketika dengan manggung di Afrika Selatan." Ketika ditanya, bagaimana kualitasnya dibandingkan dengan Bob Dylan yang jauh lebih tenar dibanding Rodriguez di masa yang sama? Kang Trisna, yang sudah terlanjur menggemari Dylan mengatakan, "Saya masih menganggap Dylan lebih berkualitas." Meski demikian, peserta lain tetap mendiskusikan tentang "apa yang salah" pada musik Rodriguez sehingga katanya hanya terjual enam keping di seluruh AS. "Kemungkinan besar adalah kenyataan bahwa dia adalah seorang turunan Meksiko," ujar Rendy yang diamini juga oleh Arul. Tapi Mas Yunus menolak argumen tersebut, katanya, "Carlos Santana juga punya nama latin tapi dia sukses di masa yang sama."

Kegagalan Rodriguez di pasaran sebenarnya menunjukkan bahwa karya seni apapun sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks ruang dan waktu. Barangkali penjualan albumnya merosot pada masa itu disebabkan oleh kenyataan bahwa Dylan memang dikatrol oleh industri. Sementara Beben punya argumen yang cukup menarik. Katanya, "Jangan-jangan musik, sebagaimana makhluk hidup, punya habitatnya. Musik Rodriguez tak cocok hidup di iklim AS, maka itu ia berkembangbiak di Afrika Selatan."

Wednesday, July 10, 2013

KlabKlassik Edisi Nonton: Searching for Sugar Man (2012)


Minggu, 14 Juli 2013
Pk. 13.00 - 15.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Setelah sekian lama tidak berkegiatan, KlabKlassik Edisi Nonton muncul lagi di bulan Ramadhan ini dengan film Searching for Sugar Man. Film dokumenter ini bercerita tentang musisi asal Amerika Serikat, Sixto Rodriguez, yang dua albumnya, Cold Fact (1970) dan Coming from Reality (1971) gagal total di pasaran. Namun tanpa sepengetahuan Rodriguez, ternyata musiknya laku keras di Afrika Selatan. Tidak hanya ia menjadi lebih populer dari Elvis Presley ataupun Rolling Stones di negara tersebut, tapi juga ternyata karya-karyanya sangat berpengaruh dalam gerakan anak muda yang menentang politik apartheid. Film ini penting untuk diputar dan didiskusikan, untuk mengetahui bahwa kualitas musik bisa saja absolut dan tidak tergantung oleh corong industri. Buktinya, meski musik Rodriguez tak punya pendengar, tetap ada yang merestorasinya di ujung sana oleh sebab merasakan kualitasnya yang sejati. 


Sunday, July 07, 2013

Geliat Kuartet RGB

Minggu, 7 Juli 2013

Ririungan Gitar Bandung (RGB) merupakan kelompok ensembel gitar untuk umum binaan KlabKlassik. Sejak mereka konser menampilkan lagu-lagu The Beatles pada bulan Maret lalu, jadwal latihan RGB memang belum kembali konsisten. 

Namun dalam beberapa minggu belakangan, geliat itu muncul kembali. RGB kembali berlatih bersama meski jumlahnya tak banyak sama sekali. Ketika sang ketua, Sutrisna, ditanyai mengenai latihan yang melibatkan sedikit orang itu, ia menjawab, "Ini sengaja yang latihan sedikit, memang dipersiapkan untuk konser peserta RGB yang dianggap 'senior'. Jadi kami menyiapkan semacam resital." Yang berlatih bisa dikatakan hadir dalam format kuartet saja yakni Kristianus, Rendy, Tubagus, dan Trisna. Mereka tengah serius berlatih lagu W.A. Mozart berjudul Eine Kleine Nachtmusic. Rencananya, resital kuartet RGB ini akan diadakan bulan Oktober nanti.