Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, September 08, 2013

Dari Bach hingga Lifelover

Minggu, 8 September 2013

KlabKlassik untuk pertama kalinya berkumpul setelah terakhir kali mengadakan acara komunitas pada Bulan Ramadhan kemarin. Apa yang digelar oleh KlabKlassik kali ini adalah Edisi Playlist. Seperti biasa, Edisi Playlist mengajak para peserta untuk memutar lagu-lagu kesukaannya -kali ini dalam koridor tema "Lagu Kebebasan"-.


Ada sekitar lima belas orang hadir untuk membawa masing-masing lagu favoritnya untuk kemudian didengarkan dan dibahas bersama-sama. Berikut adalah lagu-lagu yang diputar pada Edisi Playlist kemarin.

Cello Suite no. 1 - Mstislav Rostropovich
Karya komposisi Bach yang cukup populer, yakni Cello Suite no. 1, membuka Edisi Playlist. Lagu yang dibawa oleh Gin-Gin tersebut dimainkan dan diinterpretasi oleh Mstislav Rostropovich secara lebih cepat dari biasanya. Gin-Gin mengaku bahwa lagu tersebut membebaskan karena dimainkan secara solo. Hal itu ditegaskan pula oleh Afifa, "Karena bermain solo, meski tentu saja harus menaati rambu-rambu partitur, tapi ada interpretasi dan ekspresi yang sifatnya personal." Sementara Mas Yunus berujar bahwa ia lebih suka interpretasi Cello Suite no. 1 yang lebih lambat.

The End of The World - Sketter Davis
The End of The World adalah lagu yang juga dibawa oleh Gin-Gin. Tentang lagu ini tidak banyak orang berkomentar kecuali Gin-Gin sendiri yang mengatakan bahwa The End of The World membuat ia menerima kenyataan bahwa dirinya tengah mengalami suatu kecamuk hati. Dengan penerimaan itu, katanya, ia menjadi semakin lebih bebas.

Moro, Lasso - Carlo Gesualdo
Awalnya, Bach dikira sebagai komposer yang secara periodisasi lebih tua. Ternyata Benn meralatnya. Katanya, "Yang saya bawa, Gesualdo, ini berasal dari jaman Renaisans." Karya Gesualdo yang dibuat untuk dua sopran, satu alto, satu tenor dan satu bas tersebut diputar terlebih dahulu sebelum dibahas. Afifa berpendapat bahwa lagu berjudul Moro, Lasso tersebut lebih bernuansa kudus. Namun ketika Benn menceritakan asal muasal lagu tersebut, ada perubahan dalam cara pandang para peserta. Ujar Benn, "Gesualdo adalah seorang sado-masokhis yang jauh lebih duluan dari Marquis de Sade. Ia membunuh anak dan istrinya sendiri dan memutilasinya. Setelah itu, ia mengurung diri di menara dan mempunyai pembantu khusus untuk memukulinya setiap hari." Musiknya tersebut adalah salah satu ekspresi kegilaannya, lanjut Benn.

Miserere - Carlo Gesualdo
Setelah mendengarkan kisah menarik dari Benn tentang Gesualdo, para peserta tampak tertarik untuk mendengarkan lagu berikutnya meskipun Benn tidak merekomendasikan. Alasannya, "Terlalu panjang, hingga sembilan menit." Namun ternyata lagu tersebut tetap diperdengarkan dan para peserta mendengarkan dari awal hingga akhir secara tertib. Rudy berpendapat bahwa ada kemungkinan lagunya yang Miserere ini dibuat ketika Gesualdo mungkin sudah menyadari berbagai kekeliruan dalam hidupnya. 

Feelin So Good - Olivia Ong
Musik bossa-nova ini dibawa oleh Afifa dengan alasan, "Sangat membebaskan dan cocok untuk kita dengarkan di pagi hari sebelum memulai aktivitas." Afifa juga menyebut bahwa mungkin karena dirinya adalah seorang perempuan, maka ia lebih memerhatikan liriknya. Lagu tersebut mungkin dianggap terlalu panjang untuk ukuran sebuah lagu pop yakni lima menit. Kata Rahar, "Biasanya lagu pop itu struktur lagu keseluruhannya sudah dapat kita kenali sejak menit pertama. Sehingga jika lagu pop bisa sampai bisa lima menit, biasanya kita sudah agak bosan di menit ketiga." Meski demikian, Mas Yunus mengoreksi bahwa Feelin So Good adalah bossa-nova. "Ini adalah samba, karena lebih cepat dan rapat," ralatnya.

Wave - Olivia Ong
Meski berasal dari artis yang sama, namun lagu Wave ini dibawa oleh orang yang berbeda. Rudy, sang pembawa, mengatakan bahwa lagu ini sangat membebaskan jika diputar di malam hari. Liriknya pun cukup menarik. Terjadi sedikit diskusi setelah mendengarkan dua lagu bossa-nova secara berurutan. Mengapa bossa-nova menjadi musik yang biasanya cocok diputar di kafe-kafe? Kata Benn, "Mungkin beat-nya cocok untuk santai, tidak terburu-buru, dan membuat kita lupa akan waktu."

Simple Man - Lynyrd Skynyrd
Simple Man, lagu berdurasi enam menit ini dibawa oleh Liky yang baru pertama kali datang ke KlabKlassik. Ketika ditanyai, mengapa membawa lagu ini? Ia menjawab, "Lirik lagu ini cukup mendalam. Tentang bagaimana nasihat orangtua kepada anaknya, bahwa jadi orang itu biasa-biasa saja, tidak usah terlalu begini atau terlalu begitu." Pembahasan menjadi sedikit menyentuh tentang band Lynyrd Skynyrd sendiri yang diakui Rahar sebagai band yang cukup fenomenal dan masih berdiri hingga hari ini. Meski demikian, Rahar dan Benn mengaku bahwa lagu yang ia suka adalah Free Bird.

Air on G String - The Swingle Singers
Lagu ini meski sudah diperdengarkan dari awal sampai akhir, namun Mas Yunus mengaku keliru. Katanya, yang dimaksudnya bukan lagu yang ini melainkan yang bersama Modern Jazz Quartet dimana isinya mengandung improvisasi piano jazz. Kata Mas Yunus, sisi itu yang membuat Air on G String versi The Swingle Singers dan Modern Jazz Quartet memberikan nuansa kebebasan tersendiri. "Ketika kita mendengarkan satu komposisi barok yang 'kaku' dan lantas disambut oleh improvisasi piano yang sangat kaya, kita akan merasakan suatu kebebasan yang mengejutkan," ujar Mas Yunus.

Sore-Sore - Desy Dingdong
Secara mengejutkan, Bagus membawa lagu dangdut untuk diperdengarkan. Kata Bagus, lagu dangdut punya semangat untuk membebaskan terutama ketika ia pikir di sekolah tempatnya kuliah, semua orang menyukai jazz dan klasik. Bagus kemudian bertutur pengalamannya, "Saya waktu itu iseng putar lagu dangdut padahal di kampus saya hampir semua orangnya mendengarkan jazz dan klasik. Namun ternyata ada kakak kelas yang menghampiri dan sangat suka dengan bagaimana saya jujur pada diri sendiri dengan memutar lagu dangdut." Kemudian pembahasan berkembang menyentuh topik Rhoma Irama. Kata Bagus, "Rhoma Irama pernah disebut oleh majalah di luar sana sebagai rock asli Indonesia." 

Les Marseilles - Edith Piaf
Mohammad Syafari Firdaus atau akrab dipanggil Mas Daus, datang terlambat tapi langsung menyuguhkan sebuah lagu yang membuat diskusi menjadi lebih panjang. Les Marseilles, lagu yang menjadi kebangsaan Prancis, dahulunya adalah lagu penyemangat revolusi. Kata Mas Daus, "Biasanya lagu kebangsaan Prancis tidak pernah menjadi perhatian saya. Tapi ketika Edith Piaf menyanyikannya, saya langsung merinding." Meski demikian, Rahar mengatakan bahwa lagu Les Marseilles sekarang menjadi semacam "lagu kebangsaan" bagi kelompok sayap kanan Prancis yang tengah berupaya memurnikan bangsanya dari kaum imigran. Jadi lagu tersebut tidak lagi bernuansa revolusi ataupun kebangsaan, melainkan juga mendukung rasisme. 

Les Marseilles - Django Reinhardt
Kemudian Mas Daus membandingkan versi Edith Piaf tadi dengan versi lain yang dimainkan secara instrumental oleh Django Reinhardt dan Stephane Grapelli. Mas Daus langsung bertanya, "Coba dengarkan, apakah kita mau revolusi jika interpretasinya seperti ini?" Peserta tertawa karena jelas bahwa lagu revolusi memang harus memberikan efek membangun dan bukannya mendayu-dayu seperti yang ditampilkan oleh Reinhardt dan Grapelli. 

I Love (To Hurt) You - Lifelover 
Lagu terakhir dibawakan oleh Rahar. Ia menghadirkan satu musik beraliran black metal yang secara spesifik ia katakan bahwa sub-alirannya adalah depressive suicidal black metal. Katanya, black metal semacam itu akrab dengan rasa sakit untuk menambah efek depresif dalam musik-musiknya. Rahar mengatakan, "Depressive suicidal black metal menganggap bahwa kebebasan adalah bebas untuk mengekspresikan rasa sakit dengan senyatanya." Setelah itu, terjadi diskusi ringan tentang mengapa aliran semacam ini justru timbul di Eropa bagian utara atau Skandinavia. Mas Daus menuding bahwa itu mungkin akibat negaranya terlalu tertib dan makmur, sehingga orang-orang kebingungan mencari apa lagi yang dilakukan. Rahar juga menambahkan bahwa itu bisa jadi disebabkan oleh kepercayaan pada dewa-dewi kuno-nya yang sebenarnya sudah diupayakan untuk digantikan oleh Kristianitas. 

KlabKlassik sore itu meski sudah ditutup dari pukul enam, namun ternyata diskusi antara Rahar dan Mas Daus terus berlangsung. Hal ini didorong oleh keingintahuan Mas Daus akan topik depressive suicidal black metal yang cukup dikuasai oleh Rahar. Namun Rahar berkata, "Minggu depan kita akan sama-sama saksikan dua film yakniGlobal Metal dan Metal: A Headbanger's Journey. Mari kita bahas lebih dalam nanti."

No comments: