Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, September 15, 2013

Mencari Akar Musik Metal

Minggu, 15 September 2013

KlabKlassik Edisi Nonton sore itu, sesuai yang dijanjikan sebelumnya, mengadakan pemutaran film dokumenter berjudul Metal: A Headbanger's Journey. Film berdurasi sekitar sembilan puluh menit ini disaksikan oleh tujuh orang peserta. Setelah itu, Rahardianto mengajak para peserta untuk berdiskusi.

Dalam film Metal: A Headbanger's Journey, kita diajak untuk terlebih dahulu mencari akar paling keras dari musik metal. Setelah melalui wawancara disana-sini, maka Sam Dunn (narator sekaligus peneliti) mendapatkan kesimpulannya: Black Sabbath adalah pelopornya. Suara gitar yang katanya mempunyai interval tritonus -konon interval tersebut "dekat dengan iblis"- menjadi fundamen dasar musik metal yang mula-mula diletakkan oleh band asal Birmingham tersebut. Kemudian Sam berkeliling ke berbagai negara untuk mendapatkan fakta-fakta lebih lanjut. Ia pergi ke salah satu festival metal terbesar di dunia yakni di Wacken, Jerman, serta bertemu dengan musisi metal ternama seperti Bruce Dickinson (Iron Maiden), Tom Araya (Slayer), Lemmy (Motorhead), dan George "Corpsegrinder" Fisher (Cannibal Corpse). Mereka diwawancara secara bergantian untuk menjawab apapun tentang musik metal agar kata Sam, "Orang lebih mengenal tentang musik ini sehingga tidak ada lagi yang mispersepsi."


Kemudian ketika masuk sesi diskusi,  Kristianus bertanya tentang, "Adakah metal yang 'asli' itu? Karena sepertinya jika melihat metal-metal dari Skandinavia, mereka sepertinya mengklaim sebagai yang paling asli oleh sebab kebrutalan aksi panggung dan sikap dalam kesehariannya." Rahar kemudian menjawab singkat, "Tidak ada." Kemudian lanjutnya, "Masing-masing grup metal seringkali mengklaim dirinya sendiri sebagai yang paling murni seperti misalnya Manowar atau metal-metal dari Skandinavia. Banyak faktor yang membuat mereka mengakui dirinya sebagai true metal, entah dari musiknya sendiri, atau justru dari attitude. Metal-metal dari Skandinavia kerap mengaku dirinya sebagai metal sejati karena mungkin kedekatannya dengan atribut-atribut satanis."

Pembahasan kemudian menjadi berlanjut pada apakah betul metal itu identik dengan satanisme? Rahar kembali menjawab, "Sebenarnya banyak band-band metal yang kemudian mengakrabkan dirinya justru dengan agama dan ketuhanan. Di Eropa ada christian metal, di Bandung sendiri ada metal yang mengusung lirik-lirik tauhid." Tapi pertanyaan dari Agun kemudian lebih mendalam, "Kita jangan bicara lirik. Kalau musiknya sendiri, punya kontradiksi tidak dengan sifat-sifat kudus dari agama? Misalnya, adakah orang yang mendengarkan metal sambil khusyuk beribadah?" Rahar menjawab, "Bagi saya sendiri, ada metal-metal tertentu yang terasa sangat kudus. Hal ini bisa jadi karena mereka mengambil spirit musik dari gereja-gereja jaman dulu seperti misalnya era Gregorian." Pembahasan kemudian terus melebar menjadi hubungan metal dan ekonomi, hubungan metal dengan jiwa muda, hubungan metal dan popularitas, serta sub-sub genre metal yang lebih kompleks mulai dari drone hingga depressive suicidal black metal. Intinya, menurut Rahar, "Metal itu luas dan kompleks, mungkin lebih rumit dari musik klasik."

No comments: