Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, August 16, 2015

Catatan Kecil Senartogok tentang Diskusi Santai Musik Folk

Catatan ini ditulis oleh Senartogok, salah satu narasumber dalam diskusi musik folk KlabKlassik. 

Minggu, 9 Agustus 2015

Jangan Kasih Kendor!

Entah darimana kalimat itu kuperoleh. Kemarin baru saja diskusi Anarkisme Sosial Dan Pengorganisasian selesai. Belum bisa bernafas, aku masih terpukul di atas trotoar dengan tas tergeletak, kopi yang mulai dingin, juga beberapa kertas-kertas hasil risetku tentang musik folk yang nanti akan dibincangkan ringan bersama kawan-kawan. Sebetulnya aku sok sibuk, mungkin dipengaruhi oleh banyaknya kegiatan yang kebetulan terjepit satu sama lain. Walaupun begitu, semoga mamak di kampung tahu kalau anaknya tidak kriminal merantau di Bandung.

Diskusi kali ini merupakan bagian dari kegiatan rutin sekelompok pertemanan. Mereka menyebut dirinya Klabklassik. Salah satu sahabatku merupakan anggotanya, dan memang sangat berkompeten dalam menyiarkan musik-musik bagus, sehingga ia dipercaya, setelah sekian pertemuan menyuguhkan tema-tema dari genre yang akan dibahas. Yang terakhir klub ini membahas tentang avant-garde. Kesempatan kali ini, beliau mendapat tugas mulia untuk memaparkan pada anggota apa itu musik folk.

Suatu hari, ia mengajakku berjumpa, dan percayalah kami belum lama berkenalan. Di depan salah satu sekretariat kepemudaan yang tentunya bukan ormas, kami bersua diikuti pertemuan-pertemuan selanjutnya, sebab ia menyodorkan padaku mengenai acara ini, tema, topik, sampai tetek bengek lainnya mengenai acara kecil yang tak terlalu formal-formal bentuknya ini. Tentulah aku menyanggupinya, barangkali aku bisa memperluas cakrawala pengetahuanku, karena senartogok sendiri sudah setahun lebih mencari penyakit menyanyikan lagu yang ia klaim sebagai folk. 

Malam-malam berikutnya, mulai dari sekretariat, trotoar, sampai warung gorengan Haji Yahya yang cukup terkenal di kalangan para buruh rumah sakit Boromeus, menjadi ajang persiapan kami atas acara ini. Aku takjub dengan upayanya, mulai dari membuat slide, membedah beberapa aliran sejenis, merangkum sejarah, mencari pernak-pernik lagu yang berhubungan dengan pembahasan, sampai menentukan dengan argumen mendalam musisi-musisi yang konon dicap sebagai pembawa semangat folk di setiap zamannya. 

Untuk mempermudah pembahasan atas tujuan perbincangan nantinya, sang kawan menyepakati folk dibahas dari era folk kontemporer. Dua minggu lamanya, kami intens berjumpa, membuka lagi kitab-kitab folk di kepala kami. Siapa itu Jackson C. Frank, kenapa Bob Dylan kian memburuk, hingga kenapa Payung Teduh atau Banda Neira itu semacam kolak yang dibenamkan di lautan jerami. Bingung? Tak perlu! Aku harus membagi waktu, antara acara beruntun selama bulan ini dengan kesanggupan finansial dan waktuku. Semuanya mampu juga kuatasi, tak ada kendala sampai detik menjelang acara, walaupun kenangan masih basah bagaikan cat di tembok diskusi anarkisme sosial kemarin. 

Pagi tak terlalu mendung, aku mengobrak-abrik lemari, menemukan poster yang kukreasikan dari campuran sekian gambar, yang kebetulan pula ada AXL Rose-nya agar sesuai dengan judul diskusi kami Reinventing AXL: Rose Diskusi Santai Tentang Folk. Selain itu, aku harus mencari kain putih, untunglah di Balepare ada, dan aku tak perlu membayarnya, ah...kawan-kawanku memang baik. Sang sahabat, yang selanjutnya kusebut jagalbabi, juga telah menyiapkan porsinya. Sebagai pemimpin diskusi, ia juga menyiapkan bahan, proyektor, speaker dan sebagainya. Beruntunglah tempat sudah disediakan Klabklassik jadi kami tak perlu kerepotan. 

Kami berjumpa di sebuah kantor hukum yang belakangan telah berubah jadi ruang gulma, mengikut istilah dari salah satu stiker ciamik pemberian Bodi. Jagalbabi tampak riang, sehat, dan penuh semangat. Sehabis mandi beliau memeriksa kembali barang bawaan, sementara aku sibuk menghisap kretek, meneguk kopi, dan mengevaluasi sedikit acara yang masih fresh di ingatan kemarin, bahkan kawan-kawan dari Jogja masih tertidur pulas karena letih seharian kemarin berkegiatan. Sekali gocek Against Me! Juga lagu lama yang sial sekali aku lupa menyanyikannya kemarin Nada-Nada Anarki, tak terasa sudah hampir pukul 3. Jagalbabi mengajakku berangkat, dan kami berjalan kaki menelusuri Gasibu, proyek dari Agung Podomoro yang berdiri kokoh itu, taman lansia, lalu belok ke arah Cisangkuy yang sedang maraknya dihadiri pengunjung. 

We want a band that plays loud and hard every night That doesn't care how many people are counted at the door That would travel one million miles and ask for nothing more than a plate of food and a place to rest 

Tempat itu satu kompleks dengan biro perjalanan haji dan umroh, letaknya tepat di sebelah kanan. Mungil dengan suasana yang akrab dengan kegembiraan hati. Ditumbuhi tanaman, bebungaan, pot kecil hiasan, dengan dekorasi yang mengingatkanku pada banyak cafe buku di Eropa sana, Ita menyambut kedatangan kami. Ia mengaku bermarga Lubis, dan hadiah yang disuguhkan semesta padaku saat itu adalah Maja kecil, anak dari mbak Ita ini. Lucu, menggemaskan, dan enak diajak bercanda, berbeda dengan bocah kebanyakan yang aku temui, yang lebih banyak menangis atau takut pada sosokku. Echa (aduh aku lupa nama mas baik hati itu), menyiapkan peralatan, menarik ulur kabel, memasangkan kain putih untuk layar, sementara Jagalbabi terbit bersama kang Syarif yang lebih dulu berkenalan denganku. Sosok pria yang elegan, dan aku bisa menebak dialah orang yang jagalbabi ceritakan, maksudku, manusia dengan jemari ganas yang siap menghancurkan gitar dengan permainan klasik. Mengutip jagalbabi, Tchaikovsky dan semacamnya mah mudah dimainin mereka... 

Lambat laun teman-teman berdatangan, ketika jagalbabi dan kang Syarif mengambil sesuatu keluar dari lokasi. Ada Jasi dan istrinya, kemudian Ben, kemudian si Audry dan temannya, sampai bangku-bangku yang tersedia padat. Sekembalinya dua pahlawan bertepung itu, acara pun dimulai. Jagalbabi dengan begitu kerennya menjelaskan pada kami apa itu folk, sejarahnya, tokohnya, perkembangannya, dan segalanya yang kalau kuandaikan engkau perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan melakukan riset, namun di tangan sang kawan, dapat diringkas hanya belasan menit saja. 

Inyong dan Bahrul merapat, lalu Urab, lalu mas Gusbarlian diikuti kawan-kawan sepermainan petak umpet sang jagal babi, yang akhirnya memadati arena tinju yang kami gelar. Intinya acara semakin menarik, menegangkan, dan penuh adu pendapat satu sama lain. Pertanyaan didiskusikan, implikasi budaya, akulturasi, jenis musik, bagaimana band ini berbunyi, kandungan lirik, sampai folk metal yang memukau. Lalu langit mulai padam, dingin mulai menusuk. Ada satu hal yang perlu kukabarkan sebagai promosi, bahwa kedai mbak Ita ini menyuguhkan minuman herbal aneka jenis. Paling favorit adalah Sere, dan pastikan engkau menjajalnya suatu kali mengunjungi Herbsays ini. 

 Dari Woody Guthrie sampai Rusa Militan, dari folk punk, anti fok, hingga acid folk. Dari politik, melankoli hingga Jandek. Dari Pete Seeger sampai Lach, semuanya dituntaskan jagalbabi dengan penuh kharisma, karena aku pribadi begitu mudah memahami pemaparannya. Semakin gelap, acara ditutup dengan penampilan dari Syarif, juga senartogok si penyanyi folk dari planet Mars. Tak sampai disitu, layaknya keutamaan diskusi mungil seperti ini, gagasan, ide, dan inisiasi dipertukarkan antar imajinasi yang hadir. Mulai dari acara musik elektronik yang GB tawarkan, okupasi taman tujuh rupa yang akan dicanangkan, sempat pula teman-teman Jogja merapat, dan sial! Mereka tak bisa berlama-lama sebab lonceng kereta sudah memanggil tiket dan kedatangan mereka. Padahal aku ingin tarik si bodi, si yab, sebab kedua orang ini bagiku adalah folk sesungguhnya seperti yang kuperdebatkan di sana. 

Apalah daya, selamat kembali ke Jogja man teman, tunggu kami di kemudian hari bertandang ke sana. Malam semakin pekat, tak ada kopi, aku berubah jadi Rojali (rokok jarang beli), dan teman-teman satu persatu beranjak dari duduknya. Ada satu pernyataan dari kang Syarif yang cukup mengganggu dan merusak jam tidurku berikutnya, ketika aku menyanyikan lagu Katekismus, ia berkata itu polanya ¾ yang berarti sedih mendayu, padahal aku tak pernah sadar saat menciptakannya dulu. Ah! Momen ini sulit dilupakan, lalu aku dan jagalbabi berpulang ke rahmat liona, tempat semula di mana kawan-kawan anarhis bergerombol. 

Di saat seperti ini, perlu mengulang kembali salah satu lagu dari Against Me! Dan menghayati liriknya penuh khidmat, Reinventing AXL Rose... 

Saturday, August 08, 2015

Reinventing Axl Rose: Diskusi Santai tentang Folk


Istilah "musik klasik" sebenarnya agak bersifat hegemonis. Seolah-olah istilah tersebut hanya layak disematkan bagi musik yang muncul dari kebudayaan tinggi di Eropa (Barat), yang rentang waktunya dimulai sejak Abad Pertengahan hingga Modern -dalam pemahaman yang lain, bahkan istilah musik klasik dapat dibatasi menjadi "musik zaman klasik" yaitu periode dimana Mozart dan Haydn hidup saja-. Padahal, setiap musik sebenarnya punya "musik klasik"-nya sendiri. Seperti kata Prof. Dieter Mack, "Musik bukanlah bahasa universal. Yang benar, musik adalah fenomena universal." Artinya, setiap kebudayaan melahirkan musiknya sendiri-sendiri, dan musiknya itu punya sejarahnya sendiri, nilai luhurnya sendiri, tokohnya sendiri, tingkat kerumitannya sendiri, dan maknanya sendiri. 

Dalam rangka memahami sejarah "musik klasik yang lain", KlabKlassik melanjutkan dialektikanya dengan membicarakan musik folk -setelah pernah berdialog dengan black metal, reggae, psikedelik, hingga avant-garde. Dengan demikian, diharapkan bahwa musik klasik di Bandung tidak tumbuh menjadi sebuah gerakan yang elitis, melainkan punya dampak positif bagi sosio-kultural dimana komunitas itu berada. 

Mari gabung bersama Rahar Palsu (KlabKlassik, Aliansi Hipster Bandung) dan Senartogok (musisi, seniman kolase) hari Minggu, 9 Agustus 2015 di Herbsays, Jalan Cisangkuy no. 48 jam 15.00 - 17.00. Gratis dan terbuka untuk umum!

Tuesday, August 04, 2015

Resital Piano Gwynn Elizabeth Sutanto



Resital Piano Gwynn Elizabeth Sutanto
Menampilkan karya-karya dari komposer:
Bach, Beethoven, Debussy, Brahms, dan Copland

Jumat, 7 Agustus 2015
Jam 19.30 - 21.00
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32

Gratis dan terbuka untuk umum
Dengan syarat masuk menggunakan undangan
yang dapat diambil di IFI pada hari dan jam kerja
Informasi: Syarif (0817-212-404)

Gwynn Elizabeth Sutanto lahir di Bandung, 25 September 1997. Siswi SMAK Yahya kelas XII ini mulai belajar piano sejak tahun 2003 di bawah bimbingan Stephen Michael Sulungan dan dibantu oleh Yohanes Siem. Saat ini, Gwynn dibimbing oleh Dr. Pinkcheer Tamio dan Yuty Lauda. Prestasi Gwynn antara lain adalah meraih nilai Distinction pada ujian teori tingkat enam dan praktek Association Board of Royal School of Music (ABRSM) London – bahkan pada ujian tingkat delapan, Gwynn meraih nilai 143, dan sekaligus merupakan nilai tertinggi se-Indonesia untuk ujian tahun 2011-. Beberapa kali mengikuti perlombaan, pada kompetisi terakhir yang diikuti, Gwynn meraih juara 1 untuk kategori C pada Kompetisi Piano Musik Perancis tahun 2013. Untuk mengasah kemampuan bermusiknya, ia juga aktif mengikuti beberapa masterclass piano, antara lain: dari Prof. Tamas Ungar, Toru Oyama, Dr. Catherine Keffersten, Edna Stern, Prof. Peter Amstutz, Dr. Mary Scanlan, Dr. Jill T. Sprenger, dan Prof. Josef Anton Scherrer. Selain bermain piano, Gwynn juga menekuni biola dan aktif bermusik di GKI Kebonjati di Exultate Deo Sinfonietta (EDS) Orchestra dan Paduan Suara Efrata II. Saat ini, Gwynn sedang mempersiapkan ujian tingkat Diploma ABRSM. 

Media Partner: 
100,4 KLCBS, The Jazz Wave 
KLCBS Jazz Alliance