Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, October 30, 2016

Konser The Fabulous Four dari Animé String Orchestra: Antara Musikalitas dan Militansi

Sabtu, 29 Oktober 2016

Setiap kita melihat ensembel instrumen gesek, tentu asosiasi pertama yang dibayangkan adalah musik klasik. Tidak salah juga, memang ensembel semacam itu berkembang dari jalur tradisi musik Eropa Barat, mulai dari periode Barok (lewat para komposernya seperti Bach dan Vivaldi), Klasik (Mozart, Haydn), Romantik (Beethoven, Schubert), dan seterusnya hingga hari ini. Namun belum terlalu lumrah jika kita menyaksikan ensembel instrumen gesek, memainkan karya-karya populer dari jalur industri. Mungkin kita pernah menyaksikannya dalam satu atau dua karya saja, bukan dalam satu balutan konser tunggal.

Itulah yang dilakukan oleh Animé String Orchestra pada hari Sabtu kemarin. Mereka menampilkan 21 lagu dari band legendaris The Beatles. Orkes dengan anggota sekitar empat puluhan orang tersebut memang akrab dengan musik-musik gubahan pimpinan mereka, Haryo Yose Suyoto. Selain The Beatles, Pak Yose juga menggubah musik-musik dari Led Zeppelin, Focus, Yes, Jimi Hendrix, hingga Emerson, Lake, and Palmer. Bersama Anime, orkes yang ia dirikan sejak tahun 2007, gubahan-gubahan tersebut ditampilkan secara bergantian nyaris rutin setiap tahun.

Pilihan untuk menampilkan hanya karya The Beatles dalam satu konser memang menjadi pilihan berani yang berhasil. Terbukti, 450 kursi yang disediakan panitia terjual habis. Penonton yang datang sekurang-kurangnya ada dari dua latar belakang: Penyuka musik klasik yang ingin melihat kemahiran bermain orkes Animé dan kejeniusan aransemen Pak Yose, serta penyuka The Beatles yang ingin mendengarkan musik dari band kesayangannya disajikan dengan gaya lain. Para hadirin dimanjakan oleh lagu-lagu The Beatles seperti Eleanor Rigby; Here, There, and Everywhere; Let It Be; Hey Jude; Martha, My Dear; Lady Madonna; Michelle; A Long and Winding Road; dan banyak lagi. Meski tata tertib konser mengacu pada aturan umum pertunjukkan musik klasik -dimana penonton harus tertib dan tidak banyak bersuara-, namun pada bagian encore, penonton tidak tahan untuk tidak ikut menyanyi di bagian coda Hey Jude. Walhasil, gedung New Majestic di Jalan Braga itu pun riuh oleh suara penonton yang bernyanyi, "La.. La.. La.. Lalala.. Hey Jude.."

Konser kemarin bukan hanya tentang penonton yang meriah dan interaktif. Konser yang diberi nama The Fabulous Four tersebut juga bermakna oleh sebab proses pertunjukkannya yang nyaris swadaya. Seluruh anggota Animé String Orchestra mengumpulkan uang secara kolektif sebagai modal berkonser. Di luar konser pun, Animé String Orchestra dikenal sebagai ensembel yang berlatih rutin sambil mengumpulkan iuran bulanan. Artinya, tidak ada dana besar di balik konser ini, kecuali hanya bermodal semangat dan militansi semata. Meski demikian, militansi Animé String Orchestra tercium oleh banyak pihak yang akhirnya memberikan dukungan  seperti komunitas KlabKlassik, 100.4 KLCBS, KLCBS Design of Life, iCan Studio Live, Musisi Bandung Pisan dan Bandung Music Council.

Animé String Orchestra. Foto oleh Sandi Mardiansyah.


No comments: