<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421</id><updated>2012-01-23T20:52:46.642-08:00</updated><category term='Ruang Utama'/><category term='Ruang Celoteh'/><category term='Ruang Informasi'/><category term='Ruang Edukasi'/><category term='Ruang Apresiasi'/><category term='Ruang Diri'/><category term='Ruang Istilah'/><category term='Ruang Personal'/><category term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik Bandung</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>169</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6601582269420467739</id><published>2012-01-23T09:05:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T09:05:00.166-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Resital Empat Gitar</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fzY8o2IOLfs/Tx0nVi2s9GI/AAAAAAAAFuI/L6EZRf9TR5U/s1600/previewresitalfinal.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="http://4.bp.blogspot.com/-fzY8o2IOLfs/Tx0nVi2s9GI/AAAAAAAAFuI/L6EZRf9TR5U/s320/previewresitalfinal.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 26 Januari 2012&lt;br /&gt;Auditorium IFI - Bandung&lt;br /&gt;Jl. Purnawarman no. 32&lt;br /&gt;Jam 19.30 - 21.00&lt;br /&gt;Info Tiket:&lt;br /&gt;Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)&lt;br /&gt;Syarif (0817-212-404)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Program acara:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Polonaise Concertante Op. 137 no. 2 (Mauro Giuliani) - Royke, Syarif&lt;br /&gt; Brandenburg Concertos no.3 BWV 1048 (Johann Sebastian Bach, arr. Jeremy Sparks) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja&lt;br /&gt; Danza Espanola no. 2 "Oriental" (Enrique Granados) - Bilawa, Widjaja&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; La Cumparsita (Matos Rodrigues, arr. Diecky K. Indrapraja) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Interval&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Carawitta &amp;amp; Fugue (Fauzie Wiriadisastra) - Royke, Syarif&lt;br /&gt; Danza de "La Vida Breve" (Manuel de Falla) - Bilawa, Widjaja&lt;br /&gt; Carmen Suite: Introduction, Habanera, Entr'act (George Bizet) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja&lt;br /&gt; Obituari (Bilawa Ade Respati) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;b&gt;Profil pemain:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bilawa Ade Respati (Balikpapan, 24 Mei 1987) mulai belajar gitar klasik pada Benjamin Limanauw di sekolah musik Dita Corona Balikpapan dari tahun 2000-2002. Sempat belajar secara otodidak dan kemudian melanjutkan belajar gitar pada Ridwan B. Tjiptahardja di Bandung tahun 2005-2010. Selain belajar gitar, juga sempat mempelajari komposisi musik pada Fauzie Wiriadisastra. Beberapa kali mengadakan resital bersama grup trio Tiga Gitar dalam Resital Tiga Gitar (Bandung, 2008), dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu dalam Resital Tiga Gitar  Plus Satu (Bandung, 2009), dan duet dengan Widjaja Martokusumo dalam Romantic Music at Kerkhoven (Bandung, 2009). Bilawa juga sering berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta baik sebagai solois atau duet dengan violinis Fiola Christina Rondonuwu. Masterclass yang pernah diikuti yaitu dengan Iwan Tanzil (2006) dan Miguel Trapaga (2010). Baru saja menyelesaikan studinya di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung tahun 2011, kini aktif di komunitas Klabklassik Tobucil, Ririungan Gitar Bandung, sebagai program manager Garasi 10 dan mengajar gitar klasik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Royke Ng (Bandung, 11 Januari 1982) pertama kali belajar gitar klasik kepada Bapak Joko. Lalu ia belajar pula kepada Bapak John Korompis, Bapak Krishnan Mohammad, Bapak Kadar, dan Bapak Ridwan B. T. Prestasi yang pernah diraih oleh lulusan Matematika ITB ini adalah: Juara I BTC Guitar Competition kategori klasik senior (2003), Juara I BTC Guitar Competition kategori pop (2003 &amp;amp; 2005), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Jawa Barat (2003 &amp;amp; 2004), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Nasional (2004). Selain itu, ia adalah semifinalis Spanish Guitar Awards (2001) dan Singapore International Guitar Competition (2006). Selain mengajar gitar, ia juga menjadi juri di beberapa kompetisi musik dan penguji. Masterclass oleh gitaris dalam dan luar negeri pun ia ikuti. Royke Ng juga tampil dalam Acara Beasiswa Nias, ITB Untuk Indonesia, dan lain-lain. Pada tahum 2009, dia bersama rekan-rekannya malam ini menggelar Konser Tiga Gitar Plus Satu. Di tahun 2011 Royke Ng dan rekan-rekan mendirikan Stretto (klab hobi bermain musik klasik) dan Musici Parvi (2012, wadah untuk pemusik klasik anak dan remaja).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Syarif Maulana (Bandung, 30 November 1985), belajar gitar klasik sejak usia tiga belas tahun pada Kwartato Prawoto. Pada usia delapan belas, Syarif melanjutkan belajar gitar klasik pada Ridwan B. Tjiptahardja. Prestasi yang pernah diraih antara lain Juara III BTC Guitar Competition Kategori Pop (2005), Semifinalis Festival Gitar Nasional Yogyakarta (2006), Juara III Yamaha Student Contest Tingkat Sekolah Musik (2007), dan Juara III Bandung Spanish Guitar Festival Kategori Senior (2007). Syarif juga sempat mengikuti masterclass oleh Iwan Tanzil dan Alessio Nebiolo. Aktif di komunitas KlabKlassik sejak 2005 dan mengajar gitar klasik di beberapa tempat. Syarif pernah mengadakan empat kali resital, yaitu Resital Gitar Klasik Syarif Maulana (2006), Konser Gitar Klasik Syarif Maulana &amp;amp; Johan Yudha Brata (2007), Resital Tiga Gitar (2008) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (2009). Syarif juga lulus dari grade 8 ABRSM untuk praktek dan grade 5 ABRSM untuk teori.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Widjaja Martokusumo (Jakarta, September 1966) belajar gitar klasik pertama kali tahun 1978, kemudian 1979-1982 berguru pada David H. di Yayasan Pembinaan Musik Indonesia, Jakarta. 1982-1984 melanjutkan pendidikan musik di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) yang dikelola oleh pianis Rudi Laban. Di sini, dia belajar gitar pada Adis Sugata dan teori/sejarah musik pada Alex Paat, dan ikut pagelaran Konser 30 Tahun berdirinya YPM dan Sekolah YPM (Jakarta, 1983) dan Konser Musik Remaja YPM I (RRI Bandung, 1984). 1984-1986 ia belajar privat gitar klasik dengan Reiner Chaidir Wildt dan mengikuti beberapa masterclass gitaris Suzuki dan Julian Byzantine. Bergabung dengan Klabklassik sejak Classical Guitar Fiesta (CGF) Agustus 2006 dan menjadi anggota juri dalam CGF 2008. Sejumlah resital yang dilakukan meliputi Resital Tiga Gitar (Gramedia, Bandung, 2008), Quintet Gitar (acara International Year of Astronomy 2009) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (CCF Bandung, 2009). Ia juga bermain duet bersama Bilawa Ade Respati (Wisma Kerkhoven, Lembang, 2009) dan acara pembukaan Pameran Dua Arsitektur Jerman 1949-1989 (Campus Centre ITB, September 2011). Widjaja Martokusumo adalah dosen pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, dan saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Akademik SAPPK.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6601582269420467739?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6601582269420467739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6601582269420467739' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6601582269420467739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6601582269420467739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2012/01/resital-empat-gitar.html' title='Resital Empat Gitar'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-fzY8o2IOLfs/Tx0nVi2s9GI/AAAAAAAAFuI/L6EZRf9TR5U/s72-c/previewresitalfinal.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1960978087075859256</id><published>2012-01-23T09:03:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T09:03:59.844-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist #9: Dari OST Final Fantasy #8 sampai King Crimson</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;Minggu&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;22 Januari 2012&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Setelah berbulan-bulan edisi playlist tidak muncul, hari Minggu kemarin akhirnya muncul lagi. Yang hadir tidak terlalu banyak, namun pembahasan melebar hingga dua setengah jam. Ditambah lagi, di tengah-tengah kegiatan, operator Adrian Benn mempresentasikan hal yang menarik: Musik Video Game.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;The Fragment of Memory Theme of Final Fantasy 8 &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu yang dibawa oleh violinis Angsa dan Serigala, Afifa Ayu ini, adalah musik yang keluar dari format string quartet. Katanya, "Karena saya sering dengar kakak saya main game tersebut, jadi terngiang-ngiang." Mas Ismail Reza menyebutkan, "Final Fantasy memang selalu menggarap musik di game secara serius, sehingga impresi pemain menjadi kuat." Musik bawaan Afifa ini menimbulkan diskusi segar yang digagas Benn. Ternyata diam-diam ia membawa materi presentasi tentang evolusi musik dalam game mulai dari console Atari, Nes, SEGA, hingga PC. "Keterbatasan &lt;i&gt;hardware&lt;/i&gt;," kata Benn, "Membuat musik pada mulanya hanya dua suara saja, hingga lanjut empat suara, dan akhirnya bisa &lt;i&gt;digital recording.&lt;/i&gt;" Presentasi Benn ini membuat para peserta &lt;i&gt;playlist&lt;/i&gt; jadi &lt;i&gt;diwawaas&lt;/i&gt;, ingat masa kecilnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/402498_2842658218363_1016563133_32956550_1086270427_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/402498_2842658218363_1016563133_32956550_1086270427_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&amp;nbsp;Presentasi Adrian Benn. Foto oleh Ismail Reza.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Nessun Dorma and Joy to the World (Twelve Girl Band)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu yang diputar oleh Benn ini, menampilkan orkestra instrumen Cina yang tampil di Shanghai. Pembahasan menjadi masuk ke perbandingan orkestra instrumen Barat dan instrumen Cina. Kata Diecky, "Bagaimanapun orkestra Barat lebih kompleks daripada Cina. Namun perlu diingat bahwa Cina dalam satu oktaf punya 24 nada yang dua kali lipat lebih banyak dari Barat. Artinya, Cina punya kompleksitas yang lain daripada Barat."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Amazing Grace between Violin and Erhu Instruments&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu yang dibawa oleh saya ini adalah lagu Amazing Grace yang ditampilkan oleh dua instrumen yang berbeda dari dua peradaban yang berbeda, yaitu biola dan erhu. Meski sama-sama instrumen gesek, namun nuansa yang hadir berbeda. Kata Afifa, "Biola adalah instrumen ekspresif, namun erhu ternyata lebih ekspresif." Kedua instrumen tersebut memang terdengar berbeda, namun pertanyaan dalam forum itu adalah: &lt;i&gt;apakah cuma bahan dan konstruksinya yang membuat berbeda, atau lebih dari itu, idiom, dialek, cengkok bangsanya juga menentukan instrumen musik apa yang dianggap pantas mewakilinya?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Red (King Crimson)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelang tahun baru Imlek, Mas Reza memutar satu lagu yang mengambil esensi "merah" yang memang terasosiasi dengan perayaan Imlek. "Bedanya", kata Reza sambil menunjukkan sampul album King Crimson, "Di sampul album ini yang dominan justru warna hitam, warna merahnya hanya ada di tulisan &lt;i&gt;Red&lt;/i&gt;." Yang ditampilkan oleh Reza adalah &lt;i&gt;progressive rock&lt;/i&gt; yang katanya, "Satu dari seratus lagu gitar paling penting versi majalah Rolling Stones." Gara-gara diputarnya lagu ini, pembahasan menjadi melebar, yaitu membahas geliat progressive rock di Indonesia, termasuk keberadaan RIO alias Rock In Opposition yang sangat bersemangat untuk dibahas Diecky di bulan depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Minggu depan tanggal 29 Januari, KlabKlassik akan menghadirkan bintang tamu Riyan Hidayat untuk mempresentasikan apa itu musik "Shoegaze". Hadirilah!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1960978087075859256?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1960978087075859256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1960978087075859256' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1960978087075859256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1960978087075859256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2012/01/klabklassik-edisi-playlist-9-dari-ost.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist #9: Dari OST Final Fantasy #8 sampai King Crimson'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-9158257804046918028</id><published>2012-01-23T09:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T09:00:05.665-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik: Nonton Bareng "Amadeus" (1984)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Minggu, 15 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/401608_10150495125879845_550449844_8876976_1483136458_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/401608_10150495125879845_550449844_8876976_1483136458_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertemuan pertama KlabKlassik tahun ini diawali dengan nonton bareng. Sang koordinator, Mas Yunus memilih film Amadeus (1984) yang menceritakan tentang perjalanan dua komposer besar era Klasik yaitu W.A. Mozart dan Antonio Salieri. Film tersebut lebih menyoroti dari sudut pandang Salieri yang terjebak pada rasa bersalah karena merasa telah membunuh Mozart. Film Amadeus kemudian menjadi flashback, cerita bagaimana awal pertemuan Salieri dan Mozart, disertai perjalanan tumbuhnya rasa cemburu Salieri pada karir Mozart. Film berdurasi 161 menit yang disutradarai oleh Milos Forman itu sebetulnya diangkat dari karya drama tulisan Peter Shaffer. Pemeran Salieri yaitu F. Murray Abraham meraih Oscar karena penampilan gemilangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah film tersebut selesai diputar, ada diskusi singkat seputar film itu sendiri. Misalnya, Jazzy mengomentari logat para pemain dalam dialog tersebut yang seringkali terjebak pada logat &lt;i&gt;American&lt;/i&gt;. Padahal biasanya jika latarnya Eropa, ketika dialog berbahasa Inggris biasanya menjadi agak &lt;i&gt;British&lt;/i&gt;. Sedangkan Pirhot sangat suka dengan berbagai &lt;i&gt;tagline&lt;/i&gt; dalam filmnya, seperti "&lt;i&gt;Mediocrity is everywhere&lt;/i&gt;" atau "Kamu tidak bisa menulis ulang apa yang sudah sempurna". Kang Beben melihat Mozart yang dalam film itu digambarkan &lt;i&gt;nyleneh &lt;/i&gt;dan bengal, sebagai hal yang dibutuhkan jika seseorang mau maju dan ingin menjadi sesuatu. Harus ada upaya mendobrak tatanan meski berisiko dimusuhi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbincangan menjadi berkembang membahas opera, misa, serta perkembangan piano. Kemudian juga menjadi membahas hubungan antara seni dan kekuasaan. Dalam film itu terlihat adanya intervensi terlalu banyak dari Joseph II, &lt;i&gt;Holy Roman Emperor&lt;/i&gt; kala itu, pada karya-karya Mozart. Artinya, agar kesenian itu diakui, barangkali akses terhadap kekuasaan harus ada. Seperti misalnya Salieri yang waktu itu menjadi salah satu orang dekat Joseph II, sehingga karya-karya begitu mudah diakui.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KlabKlassik minggu depan (tanggal 22 Januari) akan menampilkan edisi Playlist. Bawa satu lagu favoritmu apa saja, kita dengarkan sama-sama! &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-9158257804046918028?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/9158257804046918028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=9158257804046918028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/9158257804046918028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/9158257804046918028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2012/01/klabklassik-nonton-bareng-amadeus-1984.html' title='KlabKlassik: Nonton Bareng &quot;Amadeus&quot; (1984)'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-2197035124388399683</id><published>2012-01-12T17:01:00.001-08:00</published><updated>2012-01-12T17:02:10.232-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Program KlabKlassik Bulan Januari</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 2012 ini KlabKlassik akan kembali rutin dengan program mingguannya. Program mingguan dalam satu bulan akan selalu terdiri dari:&lt;br /&gt;1. &lt;b&gt;Edisi Film:&lt;/b&gt; Berisikan acara nonton film yang bisa bermuatan sejarah musik klasik, tokoh-tokoh dalam musik klasik, atau bisa juga membahas music scoring dalam sebuah film. Pemandu: Yunus Suhendar.&lt;br /&gt;2. &lt;b&gt;Edisi Playlist:&lt;/b&gt; Berisikan apresiasi musik bersama dengan cara masing-masing peserta membawa satu lagu favoritnya (bebas, tidak usah musik klasik loh!) dalam format mp3. Lagu favorit masing-masing akan didengar serta dikomentari secara santai oleh Ismail Reza. Pemandu: Adrian Benn.&lt;br /&gt;3. &lt;b&gt;Edisi Bincang-Bincang:&lt;/b&gt; Berisikan diskusi santai tentang isu-isu musik yang kekinian. Untuk edisi ini, selalu diupayakan kehadiran narasumber untuk berbagi pengalaman secara lebih luas. Pemandu: Diecky K. Indrapraja.&lt;br /&gt;4. &lt;b&gt;Edisi Panggung Gembira:&lt;/b&gt; Berisikan performa musik klasik yang ditujukan bagi apresiator yang ingin merasakan suasana pertunjukkan yang hangat, dekat, dan tidak berjarak seperti di gedung-gedung pertunjukkan pada umumnya. Pemandu: Bilawa Ade Respati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua edisi diselenggarakan setiap hari Minggu di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 umumnya pukul 15.00 (perubahan jam akan diberitahukan kemudian). Semua edisi adalah TERBUKA UNTUK UMUM dan GRATIS!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk januari ini, edisi yang hadir beserta temanya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;15 Januari jam 15.00:&lt;/b&gt; Edisi Film akan mengetengahkan film produksi tahun 1984 berjudul Amadeus. Film yang berkisah tentang hidup W.A. Mozart dan Antonio Salieri ini, masuk dalam urutan ke-53 dari 100 film terbaik sepanjang masa versi American Film Institute. Durasi film yang disutradarai Milos Forman tersebut adalah 161 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/387729_10150481078169845_550449844_8826101_124545933_n.jpg" /&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;22 Januari jam 15.00:&lt;/b&gt; Edisi Playlist, oleh karena esok harinya adalah Tahun Baru Imlek, maka temanya adalah "Enter The Dragon". Peserta silakan membawa satu lagu favoritnya yang berhubungan (atau dihubung-hubung-kan) dengan peringatan Tahun Baru Imlek, boleh tentang naga, merah, angpao, keluarga, hujan, ramalan, tahun baru, atau apapun yang asyik. Nantikan juga komentar-komentar seru dari Ismail Reza yang seringkali mencengangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" height="240" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/374773_10150481080524845_550449844_8826103_1928175797_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;29 Januari jam 15.00:&lt;/b&gt; Edisi Bincang-Bincang akan menghadirkan Riyan Hidayat yang siap menampilkan topik bahasan "Membedah Shoegaze Music". Dinamai Shoegaze karena setiap tampil, para pemain bandnya seringkali melihat pada sepatunya sendiri. Tentu saja kita perlu informasi lebih daripada itu. Maka itu datangilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" height="240" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/382603_10150481085289845_550449844_8826120_805271611_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat bahwa musisi klasik bukanlah alien yang hanya hidup di tumpukan partitur!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-2197035124388399683?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/2197035124388399683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=2197035124388399683' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2197035124388399683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2197035124388399683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2012/01/program-klabklassik-bulan-januari.html' title='Program KlabKlassik Bulan Januari'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-3298614051756349326</id><published>2011-12-25T22:07:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T22:07:31.927-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Ulang Tahun Keenam KlabKlassik</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Minggu, 18 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Merujuk pada acara Clasicares yang berlangsung pada 9 Desember 2005, tanggal itulah yang ditetapkan sebagai hari ulangtahun KlabKlassik. Meski tidak selalu diselenggarakan tepat hari H, namun bulan Desember biasanya ada saja acara kumpul-kumpul yang diadakan dalam rangka syukuran dan silaturahmi.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ulangtahun keenam ini terasa agak spesial oleh sebab dipersiapkannya sebuah pameran kecil-kecilan. Apa yang dipamerkan adalah perjalanan singkat KlabKlassik, mulai dari awal berdiri, acara-acara yang pernah diselenggarakan, hingga kegiatan klab sekarang dan harapan klab ke depan. Pameran yang diadakan di Garasi 10 itu juga sekaligus menjadi latar acara paling utama: Makan-makan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/400596_10150440000744845_550449844_8638202_767553681_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/400596_10150440000744845_550449844_8638202_767553681_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/394116_10150440001919845_550449844_8638207_487459997_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/394116_10150440001919845_550449844_8638207_487459997_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk acara yang satu ini, makan-makan diisi dengan tumpeng nasi uduk, kue buatan Mba Kenti Tobucil, sirup ABC, dan kue ulangtahun dengan lilin bertuliskan angka enam. Oleh sebab awak Klab yang sebagian sudah cukup umur, tak lupa juga dituangkan bir botol dari Thailand di akhir acara. Acara langsung dibuka dengan pembacaan doa dan potong tumpeng. Setelah itu, sambil makan kami nonton bareng film dokumenter &lt;i&gt;The Stomp.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/404524_10150439982394845_550449844_8638096_64291551_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/404524_10150439982394845_550449844_8638096_64291551_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah puas nonton, acara berikutnya adalah pemotongan kue ulangtahun yang dilanjutkan dengan &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt;. Bilawa, Beben, dan saya mengawali &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt; dengan memainkan lagu-lagu Spanyol dari Garcia Lorca. Setelah itu Royke dan saya lanjut berduet gitar memainkan &lt;i&gt;Carawitta and Fugue&lt;/i&gt;. Acara menjadi sedikit mengharukan ketika saya mencoba menerangkan detail pameran perjalanan Klab mulai dari awal hingga akhir. Petikan gitar Bilawa-lah yang menjadikan suasana agak sendu, plus pembacaan puisi oleh Beben di tengahnya. Setelah itu semua kami berangsur-angsur pulang dan seperti biasa, ada bincang kecil-kecilan hingga larut malam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/403284_10150439980404845_550449844_8638079_2052202836_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/403284_10150439980404845_550449844_8638079_2052202836_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.syarifmaulana.blogspot.com/"&gt;Syarif Maulana&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-3298614051756349326?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/3298614051756349326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=3298614051756349326' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3298614051756349326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3298614051756349326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/12/ulang-tahun-keenam-klabklassik.html' title='Ulang Tahun Keenam KlabKlassik'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7522420641175708426</id><published>2011-11-24T23:32:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T23:43:33.963-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Resital Klarinet &amp; Piano: Urs Bruegger &amp; Ratna Sari Tjiptorahardjo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-aBh1xxsAaaE/Ts9HGS6Ti_I/AAAAAAAAAZQ/yDKbbxfB3i4/s1600/389451_10150374026134845_550449844_8414292_1148308025_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 284px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-aBh1xxsAaaE/Ts9HGS6Ti_I/AAAAAAAAAZQ/yDKbbxfB3i4/s400/389451_10150374026134845_550449844_8414292_1148308025_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678835828618660850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/389451_10150374026134845_550449844_8414292_1148308025_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 25 November 2011&lt;br /&gt;Lembaga Indonesia Prancis (LIP)&lt;br /&gt;Jl. Sagan no.3&lt;br /&gt;Pk. 19.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 30 November 2011&lt;br /&gt;Auditorium CCF&lt;br /&gt;Jl. Purnawarman no. 32&lt;br /&gt;Pk. 19.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sabtu,  3 Desember 2011&lt;br /&gt;Pusat Kebudayaan Prancis - Surabaya (CCCL)&lt;br /&gt;Jl. Darmokali no. 10&lt;br /&gt;Pk. 19.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi&lt;br /&gt;Syarif (0817-212-404)&lt;br /&gt;Studio Musik Melodia, Jl. Cipunagara no. 15 (022-727-3390)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Urs Brugger (Klarinet)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Lahir di Biel, Switzerland. Meraih  Teaching Diploma di bawah Kurt Weber. Urs Brugger menyelesaikan studinya  meraih gelar Soloist Diploma di Hannover Academy of Music di bawah  Proffessor Hans Deinzer. Semenjak tahun 1970, dia berkarir sebagai  princi&lt;span class="text_exposed_show"&gt;pal clarinet player Orchestra  Biel, Lucerne * Basel. Dia juga mengajar para peniup clarinet  professional di Lucerne Conservatory. Dia telah beberapa kali  mengunjungi Indonesia mengadakan Concert Tour sebagai anggota Trio La  Tache. Sebagai dosen tamu mengajar Clarinet di Studio Musik Melodia,  mulai bulan Agustus 2011.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Ratna Tjiptorahardjo (Piano)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;  Lahir di Bandung , dalam lingkungan keluarga yang musikal.Pelajaran  musik piano dimulai sejak umur 7 tahun dengan guru-guru pertamanya Mnr  Domm, Ibu Yenly Kasim dan Ibu Ibrahim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Pelajaran musik tingkat  lanjut diterima dari Bapak Oerip Santoso, Bapak Su Saw Ching di Bandung  meraih Diploma LRSM, ABRSM, London.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Pelajaran musik formal pertama  didapatkan dengan bea siswa di Royal College of Music, London dibawah  bimbingan Prof. Peter Element dan Mrs Judith Burton untuk pelajaran   Music Performance dan Pedagogy. Pendidikan musiknya dilanjutkan di  University of Melbourne, Australia dengan meraih gelar Master of Music  Studies dibawah bimbingan Dr. Mikhail Solovey, Caroline Almonte dan  Julie Haskell.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Ketika mengajar di Universitas Pendidikan Indonesia,  Bandung pada tahun 1995-2000, banyak menerima bimbingan dari dosen tamu  dari Jerman, Prof. Dieter Mack, seorang komponist dan musikolog bersama   almarhum Hansjoerg Koch,seorang pianis konser. Sampai sekarang hubungan  kerja dalam bidang musik masih terus berlanjut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Di Melbourne aktif  mengajar music sebagai guru piano privat dan aktif sebagai konduktor  koor di Keluarga Katolik Indonesia, Melbourne. Konser yang akan diadakan  Sepember 2012 untuk merayakan 25 th anniversary KKI Melbourne ini akan  membawakan Missa Mozart, the Great Mass in C minor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Di Bandung,  membimbing dan mengelola sekolah musiknya, Studio Musik Melodia , Jalan  Cipunegara 15 Bandung.Banyak diantara siswa/i didiknya yang berhasil  menyelesaikan study musiknya dan berprofesi sebagai guru musik yang  baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Program&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schumann -  Fantasiestuecke Opus 73 fuer Klavier und Klarinette&lt;br /&gt;Francis Poulenc - Sonata for Clarinet and Piano&lt;br /&gt;Saint-Saens - Sonata for Clarinet and Piano&lt;br /&gt;Darius Milhaud – Scaramouche&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7522420641175708426?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7522420641175708426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7522420641175708426' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7522420641175708426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7522420641175708426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/11/resital-klarinet-piano-urs-bruegger.html' title='Resital Klarinet &amp; Piano: Urs Bruegger &amp; Ratna Sari Tjiptorahardjo'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-aBh1xxsAaaE/Ts9HGS6Ti_I/AAAAAAAAAZQ/yDKbbxfB3i4/s72-c/389451_10150374026134845_550449844_8414292_1148308025_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6153510284295147599</id><published>2011-11-24T23:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T23:31:16.147-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Membahas Seluk Beluk Hak Cipta Musik</title><content type='html'>Minggu, 13 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;i&gt;Di sore yang hujan itu, KlabKlassik (KK) mengadakan pertemuannya.  Hari itu bahasannya agak lain, yaitu lebih berat ke arah hukum.  Diundanglah seorang pakar hukum bernama Pirhot Nababan, ia berbagi  tentang hak cipta musik.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; "Hak cipta itu ada ketika kita selesai mencipta, bukan ketika kita  mendaftar," demikian kalimat pembuka Pirhot yang biasa dipanggil Iyok  itu. "Namun mendaftarkan hak cipta itu ada baiknya juga, terutama jika  suatu saat kita bersengketa," tambahnya. Iyok juga mengatakan bahwa  tentu saja mendaftar itu perlu uang, ia menambahkan ada solusi lain yang  berkekuatan hukum jika memang dirasa pendaftaran itu terlalu mahal,  "Amplopi karya tersebut, partitur, contoh rekaman, dan lain sebagainya,  lalu kirim pos ke alamat sendiri. Itu sudah berkekuatan hukum jika ada  yang mengklaim yang mengatakan bahwa dirinya membuat karya lain duluan."&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Kebetulan hari itu juga kedatangan Mba Uci, seorang sarjana hukum dari  Solo yang tertarik datang. Selain menjadi peserta, ia juga ternyata bisa  memberikan pandangan-pandangan tentang hukum, terutama menjawab  beberapa kegalauan peserta. Obrolan itu meluas menjadi banyak hal  tentang hukum seperti pidana, perdata, kasus-kasus tertentu, hingga  undang-undang pornografi. Hal tersebut disebabkan oleh tidak banyaknya  diantara peserta yang betul-betul mengerti soal hukum, sehingga ini jadi  semacam kesempatan untuk bertanya-tanya. &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Kegiatan ini rencananya akan dibuat secara berkala, untuk menjawab  pertanyaan-pertanyaan tentang hukum secara umum. Karena, kata Mba Uci,  "Kita adalah bagian dari hukum, kita tidak bisa mengelak dari hukum  dengan argumen 'saya tidak tahu'." Lalu pesan terakhir dari Iyok, "Jika  ada sengketa, jadikanlah pengadilan sebagai jalan terakhir, usahakan  selesaikan dengan jalur damai dulu. Ada yang dikenal dengan &lt;i&gt;economic analysis of law&lt;/i&gt;, yaitu biaya gugatan kamu lebih besar dari kemungkinan hasil gugatannya, itu harus dipertimbangkan betul."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6153510284295147599?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6153510284295147599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6153510284295147599' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6153510284295147599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6153510284295147599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/11/membahas-seluk-beluk-hak-cipta-musik.html' title='Membahas Seluk Beluk Hak Cipta Musik'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6769786379866950831</id><published>2011-11-11T08:24:00.001-08:00</published><updated>2011-11-11T08:24:58.050-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>KlabKlassik: Membahas Hak Cipta Musik bersama Pirhot Nababan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Minggu, 13 November 2011&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tobucil, Jl. Aceh no. 56&lt;/p&gt;&lt;p&gt;jam 15.00 - 18.00&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gratis&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masalah  hak cipta musik masih menjadi isu yang cukup serius di Indonesia. Perlu  diketahui, pelanggaran hak kekayaan intelektual di Indonesia tergolong  besar. Di tahun 1999, petugas Direktorat Bea dan Cukai di Bandara  Soekarno-Hatta membongkar paket yang berisi ribuan keping video porno  dan VCD ilegal. Negara telah dirugikan sebesar Rp 3,655 miliar akibat  insiden ini&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, selain negara telah dirugikan  dalam jumlah yang sangat besar dari sektor pajak, akibat adanya  pembajakan. Kerugian ini juga dialami oleh pencipta lagu karena tidak  menerima royalti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masalah lain yang muncul adalah keluhan  dari pencipta lagu yang tidak menerima honor sesuai berdasarkan  perjanjian dengan perusahaan rekaman. Produser rekaman, tak jarang,  memaksakan kemauannya dalam semua aspek seperti sistem kontrak, besar  honor, sampai waktu pembayaran honor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih jauh,  pembayaran royalti atas karya cipta musik atau lagu yang diputar atau  dinyanyikan di hotel, karaoke, diskotik, restoran, kapal terbang dan  lain-lain, tetap menimbulkan berbagai persepsi dari publik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertemuan  minggu nanti adalah momen yang baik untuk berdiskusi tentang persoalan  hak cipta musik ini. Dipandu oleh pakar hukum Pirhot Nababan, acara ini  gratis dan terbuka untuk umum.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6769786379866950831?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6769786379866950831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6769786379866950831' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6769786379866950831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6769786379866950831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/11/klabklassik-membahas-hak-cipta-musik.html' title='KlabKlassik: Membahas Hak Cipta Musik bersama Pirhot Nababan'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-2348565048897020150</id><published>2011-11-10T17:58:00.000-08:00</published><updated>2011-11-10T17:59:19.242-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Musik Garasi: Introduction to Castanet Playing by Marina Bollain</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.todomusicales.com/fckeditor/upload/mbollain.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 312px;" src="http://www.todomusicales.com/fckeditor/upload/mbollain.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 20 November 2011&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; 15.00 WIB - Selesai&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Garasi 10 | Jl. Rebana 10, Turangga, Bandung&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Biaya:&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Rp20.000 (membawa kastanyet masing-masing)&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Pendaftaran dan informasi: &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Mutia - (022) 700 21 446&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; classic.indonesia@gmail.com&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Profil Maria Bollain:&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Marina Bollaín, soprano of wide experience in the European scene, brings  her beautiful voice, and charm rhythmic castanets. She graduated in  singing and opera stage direction by the Hanns Eisler Hochschule fr  Musik in Berlin and Germanic Studies from the Universidad Complutense de  Madrid. He has recorded three CDs of Spanish music with Federico Garcia  Lorca songs, Fernando Sor, and Enrique Granados. With her guitar chords  in the experienced hands of Teresa Folgueira, they give the public a  performance of high artistic level. (Sumber: &lt;a href="http://www.abrebrecha.com/articulos.php?id=65335&amp;amp;tipo=&amp;amp;id_seccion=&amp;amp;pagina=1&amp;amp;criterio="&gt;Abrebrecha&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-2348565048897020150?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/2348565048897020150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=2348565048897020150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2348565048897020150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2348565048897020150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/11/musik-garasi-introduction-to-castanet.html' title='Musik Garasi: Introduction to Castanet Playing by Marina Bollain'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7105271050176232163</id><published>2011-11-10T17:56:00.000-08:00</published><updated>2011-11-10T17:58:00.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Musik Garasi: Guitar Master Class by Teresa Folgueira</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-God2ULeWt7s/TrpIIdg9IQI/AAAAAAAAAB4/6cKKDvn5Psg/s400/Teresa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-God2ULeWt7s/TrpIIdg9IQI/AAAAAAAAAB4/6cKKDvn5Psg/s400/Teresa.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 21 November 2011&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Jam 10.00 WIB - Selesai&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Garasi 10 | Jl. Rebana 10, Turangga, Bandung&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Biaya:&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Rp50.000 - penonton&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Rp400.000 - peserta aktif&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Pendaftaran dan informasi: &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Mutia - (022) 700 21 446&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; classic.indonesia@gmail.com&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; Profil Teresa Folgueira:&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Teresa Folgueira (guitar) was born in Madrid, Spain,  and started  studying music in her childhood at the Art and Music Academy with Carlos  Perón until intermediate level. Later she went to the Real  Conservatorio Superior de Música of Madrid where she received tuition  from José Luis Rodrigo, and afterward took her postgraduate  qualification under the tutelage of Miguel Angel Jiménez. &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Currently she completed her training with Gerardo Arriaga. She also  attended lessons by Demetrio Ballesteros, Manuel Estévez, Carles Trepat,  Margarita Escarpa, Miguel Trápaga, José Tomás, Ana Jenaro, Odair Assad,  Zoran Dukic, Eduardo Fernández, David Russell and Pepe Romero. &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; She has given concerts at the Cultural Centre of the Village of Madrid,  Centro Cultural Conde Duque of Madrid, IFEMA, the Railway Museum, The  Juan March Foundation, The Polish Embassy in Spain, French Institute in  Madrid, Ateneo of Madrid and in different theaters in Spain. Abroad, she  has performed in several cities in Poland, in China, Nigeria, Gabon,  Venezuela, Morocco, Ghana,  Portugal, either as part of groups or as  soloist. &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; In 2002 she was awarded the second prize at the XV Guitar Competition of  Cantabria (Comillas). She now divides her time between performing and  teaching classical guitar at several conservatories of music in Madrid.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7105271050176232163?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7105271050176232163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7105271050176232163' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7105271050176232163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7105271050176232163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/11/musik-garasi-guitar-master-class-by.html' title='Musik Garasi: Guitar Master Class by Teresa Folgueira'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-God2ULeWt7s/TrpIIdg9IQI/AAAAAAAAAB4/6cKKDvn5Psg/s72-c/Teresa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-5131074459795268772</id><published>2011-11-10T17:52:00.000-08:00</published><updated>2011-11-10T17:55:14.992-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik: Nonton Bareng Film "Notes Interdites"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-5Yy5iVonikk/TqUJK6370pI/AAAAAAAAFqk/5TFMoQSmlvE/s320/Notes+Interdites.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5Yy5iVonikk/TqUJK6370pI/AAAAAAAAFqk/5TFMoQSmlvE/s320/Notes+Interdites.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;There are three things i don't believe in:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;i don't believe in medicine&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;i don't believe in sunspots&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;and i don't believe in the art of conducting&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;--Leo Tolstoy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;i&gt;Tagline &lt;/i&gt;tersebut menjadi pembuka film "Notes Interdites", film  dokumenter yang mengisahkan tentang konduktor Gennadi Rozhdestvensky,  seorang konduktor ternama asal Rusia. Film ini bertutur tentang  persiapan, &lt;i&gt;rehearsal&lt;/i&gt;, dan kebijaksanaan dari sang konduktor  ketika tengah mempersiapkan orkestra untuk konser. Ada juga adegan  ketika Gennadi mengajar murid-muridnya di konservatorium Moskow. Gennadi  bukanlah konduktor konvensional. Gayanya atraktif, aktif, dan  menghibur. Ia ingin orkestra hidup bersama dengan gestur tubuhnya.&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Film ini menarik, selain atraksi Gennadi dan juga caranya mengajar yang  cukup keras, ada beberapa review sejarah tentang perkembangan orkestra  musik di Rusia. Gennadi mengutip banyak kalimat-kalimat dari Prokofiev,  Stalin, Tolstoy hingga Gorky. Mereka semua berdebat tentang musik apa  yang bagus, tentang musik apa yang cocok bagi Rusia (kala itu Soviet).  Apakah musik yang menyentuh? Apakah musik yang menyemangati orang  banyak? Atau apa? Demikian adalah hal yang lumrah bagi negara dengan  ideologi keras semisal Uni Soviet. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-5131074459795268772?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/5131074459795268772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=5131074459795268772' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5131074459795268772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5131074459795268772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/11/klabklassik-nonton-bareng-film-notes.html' title='KlabKlassik: Nonton Bareng Film &quot;Notes Interdites&quot;'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-5Yy5iVonikk/TqUJK6370pI/AAAAAAAAFqk/5TFMoQSmlvE/s72-c/Notes+Interdites.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7301433719761365197</id><published>2011-11-10T17:48:00.000-08:00</published><updated>2011-11-10T17:51:58.546-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Monday, October 17, 2011 KlabKlassik: Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 16 Oktober&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik kali ini tidak melulu mendengarkan musik, melainkan ada juga acara menyaksikan film. Hanya saja dari film tersebut tetap dibahas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;music scoring&lt;/span&gt;-nya, atau musik latarnya (bukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soundtrack&lt;/span&gt;). Untuk memahaminya betul-betul, film diputar dari awal sampai akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taxi Driver adalah film garapan Martin Scorsese yang diperankan oleh Robert de Niro dan Jodie Foster. Ceritanya adalah tentang supir taksi yang gelisah oleh keadaan di sekitarnya. Ia merasa bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Animals come out at night,"&lt;/span&gt; setelah menyaksikan fakta disana-sini terdapat pelacur, penjahat, dan berbagai ragam keburukan lainnya. Sebagai supir taksi, ia ingin melakukan perubahan, ingin menjadi pahlawan. Maka itu ia membeli pistol, menembaki para penjahat dan menyelematkan salah seorang pelacur untuk dipulangkan pada kedua orangtuanya. Film ini, meski alur ceritanya seperti sederhana, namun penggambarannya agak gelap dan absurd. Betul-betul mencerminkan kegelisahan eksistensial seorang supir taksi yang bisa dibilang tidak tinggi secara strata sosial masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.themovingarts.com/wp-content/uploads/2011/06/taxi_driver1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 410px; height: 295px;" src="http://www.themovingarts.com/wp-content/uploads/2011/06/taxi_driver1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Robert de Niro sebagai Travis Bickle. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun yang datang tak terlalu banyak, Diecky sukses memancing kekritisan para pendatang. Ia menyebutkan bahwa dalam music scoring garapan Bernard Hermann tersebut, hanya ada dua lagu yang dominan. Pertama, lagu jazz sendu. Kedua, lagu dengan interval berdekatan yang menyebabkan disonan. Kata Diecky, "Lagu jazz biasa diputar ketika sang supir tengah bermonolog dan mengendarai taksinya, sedangkan lagu dengan interval berdekatan digunakan ketika adegan-adegan yang dianggap 'penting' dan harus diberi aksen." Kedua lagu dominan tersebut dianggap berhasil menyuguhkan dinamika emosi antara yang ideal dan yang riil, termasuk ketika film memasuki sesi akhir: ada adegan yang tidak masuk akal ketika supir taksi itu berambut normal kembali (sebelumnya di&lt;span style="font-style: italic;"&gt; mohawk&lt;/span&gt;) dan sehat seperti sediakala (sebelumnya kena tembak tangannya), lalu ia mengantarkan wanita yang sempat menjadi pujaannya. Menilai lagu yang dimainkan adalah lagu jazz itu, maka para pendatang memberi kesimpulan bahwa jangan-jangan adegan terakhir itu semacam sesi nostalgia saja, tidak riil dan mungkin hanya ada dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu depan Diecky akan mengusulkan sebuah film musikal yang katanya, "Saya jamin sembilan puluh persen orang belum nonton." Mari kita tunggu!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7301433719761365197?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7301433719761365197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7301433719761365197' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7301433719761365197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7301433719761365197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/11/monday-october-17-2011-klabklassik.html' title='Monday, October 17, 2011 KlabKlassik: Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-5004855399273876137</id><published>2011-10-14T01:03:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T01:32:23.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-JY8gtXQeHWM/TpfukQ0KjBI/AAAAAAAAAZE/HQdqZXLtylM/s1600/220px-Taxi_Driver_poster.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 310px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-JY8gtXQeHWM/TpfukQ0KjBI/AAAAAAAAAZE/HQdqZXLtylM/s400/220px-Taxi_Driver_poster.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663257363198151698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt;Minggu, 16 Oktober 2011&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pukul 16.00 - 19.00&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tobucil, Jl. Aceh no. 56&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gratis&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Taxi Driver adalah film garapan Martin Scorcese yang berkisah tentang  kehidupan urban di Amerika pasca Perang Vietnam. Diperankan oleh Robert  de Niro, Jodie Foster, Harvey Keitel, dan Cybil Shepherd, film ini  dinominasikan empat Academy Awards dan memenangkan Palme d'Or pada  Cannes Film Festival tahun 1976. American Film Institute memasukkan Taxi  Driver dalam daftar seratus film terbaik sepanjang masa. Music Scoring  film Taxi Driver yang digarap oleh Bernard Hermann merupakan karya  terakhirnya sebelum ia meninggal di tahun 1975. Film ini didedikasikan  untuk mengenangnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Menyimak Music Scoring" adalah  program baru KlabKlassik yang diselenggarakan kedua kalinya setelah film  Apocalypse Now (1979) pada 11 September lalu. Tujuannya adalah  mengetahui signifikansi penggarapan musik bagi dramatisasi sebuah film.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-5004855399273876137?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/5004855399273876137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=5004855399273876137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5004855399273876137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5004855399273876137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/10/menyimak-music-scoring-film-taxi-driver.html' title='Menyimak Music Scoring Film Taxi Driver (1976)'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-JY8gtXQeHWM/TpfukQ0KjBI/AAAAAAAAAZE/HQdqZXLtylM/s72-c/220px-Taxi_Driver_poster.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-4149099153577868152</id><published>2011-10-14T00:35:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T01:00:34.915-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Kompetisi Piano untuk Pianis Muda Bandung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-CTjlGAc6BQE/TpfnmOOln3I/AAAAAAAAAY0/Iam5fkUZ438/s1600/PosterFB%25281%2529.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 283px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-CTjlGAc6BQE/TpfnmOOln3I/AAAAAAAAAY0/Iam5fkUZ438/s400/PosterFB%25281%2529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663249700282015602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mediafire.com/?mgg17po44bok7t8"&gt;Unduh Infopack&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.mediafire.com/?6e2bbdbhtpht4cv"&gt;Unduh Formulir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-4149099153577868152?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/4149099153577868152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=4149099153577868152' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4149099153577868152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4149099153577868152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/10/kompetisi-piano-untuk-pianis-muda.html' title='Kompetisi Piano untuk Pianis Muda Bandung'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-CTjlGAc6BQE/TpfnmOOln3I/AAAAAAAAAY0/Iam5fkUZ438/s72-c/PosterFB%25281%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6061823359228648472</id><published>2011-09-28T17:22:00.001-07:00</published><updated>2011-09-28T17:22:58.676-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Resital Kuartet Gesek: Djava String Quartet</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px; background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center; "&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-sLV4U0oTPBY/ToCxBz1bUxI/AAAAAAAAFqM/F4auMnmzbvg/s1600/revisidjava2.jpg" imageanchor="1" style="text-decoration: none; color: rgb(61, 133, 198); margin-left: 1em; margin-right: 1em; "&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-sLV4U0oTPBY/ToCxBz1bUxI/AAAAAAAAFqM/F4auMnmzbvg/s320/revisidjava2.jpg" width="227" style="border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; position: relative; padding-top: 8px; padding-right: 8px; padding-bottom: 8px; padding-left: 8px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; "&gt;&lt;span style="font-size: x-small; "&gt;desain poster oleh vitarlenology&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Djava String Quartet:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Ahmad Ramadhan - biola&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Danny Ceri - biola &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Dwi Ari Ramlan - biola alto&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Ade Sinata - cello&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Jumat, 7 Oktober 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Auditorium CCF&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Jl. Purnawarman no. 32&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;jam 19.30 - 21.00&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Tiket seharga Rp. 25.000 dijual mulai tanggal 30 September di&lt;br /&gt;Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-426-1548) atau Syarif (0817-212-404)&lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Berawal dari semangat bermain tanpa konsep, akhirnya Danny Ceri (biola), Ahmad Ramadhan (biola), Dwi Ari Ramlan (biola alto) dan Ade Sinata (cello) memutuskan untuk membentuk kuartet gesek pada tanggal 22 November 2008 yang diberi nama D’Java String Quartet (DSQ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terbilang pendatang baru, namun DSQ aktif menunjukkan eksistensinya dengan menyelenggarakan konser bersama maupun tunggal. Pada 9 Maret 2009, DSQ mengadakan konser apresiasi di UKRIM Yogyakarta. Tanggal 27 Maret 2009, bersama dengan dua string quartet lainnya yang tergabung dalam Yogyakarta Youth String Quartets (YYSQ), DSQ mengadakan konser di Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta. Dan 17 April 2009 d’Java menggelar resital tunggal perdananya di auditorium CCF Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain program apresiasi, DSQ mencoba membawa misi edukasi dengan mengadakan Workshop Chamber Music di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta yang berlangsung dari tanggal 13-30 Oktober 2009 bekerjasama dengan YYSQ dan Jogjakarta Pilharmonic Orchestra, tampil sebagai bintang tamu di acara Music Classic Concert di Purwokerto untuk penggalangan dana bagi anak-anak SLB ( Sekolah Luar Biasa ), memainkan karya Eugene Ysaye Harmonie du Soir for String Quartet and String Orchestra diiringi F-Hole String Orchestra dari Institut Seni Indonesia dalam acara Chamber Music Concert, tampil di acara Chamber Music Festival di Yogyakarta, dan Youth Artist Chamber Music Festival di Goethe Haus Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DSQ juga rajin mengikuti beberapa masterclass dari grup string chamber seperti Doric String Quartet dari Inggris, Trio Storioni dari Belanda, Prof. Takashi Shimizu dari Jepang, serta mengikuti Bandung Music Camp 2009 dengan tutor Damien Ventula ( Cellist/France ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tampil secara kelompok, para personil d’Java pun aktif untuk mengikuti event musik skala Internasional seperti South East Asian Youth Orchestra and Wind Ensemble (SAYOWE) di Thailand dan Hida Takayama Music Festival di Jepang. Bulan Juni 2010 d'Java String Quartet mendapatkan First Price pada acara Chamber Music Competition di Singapore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tampil di Bandung 7 Oktober nanti, seminggu sebelumnya d'Java tampil di Filipina.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6061823359228648472?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6061823359228648472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6061823359228648472' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6061823359228648472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6061823359228648472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/09/resital-kuartet-gesek-djava-string.html' title='Resital Kuartet Gesek: Djava String Quartet'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-sLV4U0oTPBY/ToCxBz1bUxI/AAAAAAAAFqM/F4auMnmzbvg/s72-c/revisidjava2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1295974387213945804</id><published>2011-09-28T17:20:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T17:22:18.922-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>Seminar Musik Kontemporer dan Problem Interkultural</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px; background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;MInggu, 25 September 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Hari Minggu adalah jadwal rutin kumpul KlabKlassik. Meski pada Minggu itu KK tidak berkumpul di Tobucil, mereka tetap mengadakan kegiatannya di Studio Musik Melodia, jalan Cipunagara nomor 15. Ini punya kaitan dengan kerjasama antara Studio Musik Melodia dan KK dalam rangka menggelar suatu seminar berjudul "Musik Kontemporer dan Problem Interkultural". Pembicara dalam seminar tersebut adalah Dieter Mack, seorang guru besar komposisi asal Jerman dan satu lagi tidak lain adalah aktivis Tobucil yang aktif di Madrasah Falsafah maupun KK, yaitu Diecky K. Indrapraja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center; "&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9dHYEdElYQg/ToCpNyekwFI/AAAAAAAAFqI/lNACzOoor0Q/s1600/334547_1969577931061_1591365731_31618752_2125985830_o.jpg" imageanchor="1" style="text-decoration: none; color: rgb(61, 133, 198); margin-left: 1em; margin-right: 1em; "&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-9dHYEdElYQg/ToCpNyekwFI/AAAAAAAAFqI/lNACzOoor0Q/s320/334547_1969577931061_1591365731_31618752_2125985830_o.jpg" width="320" style="border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; position: relative; padding-top: 8px; padding-right: 8px; padding-bottom: 8px; padding-left: 8px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Sebetulnya acara tersebut tak tepat benar disebut seminar. Karena jika berbicara seminar, biasanya konotasinya langsung ke suatu pertemuan besar di gedung besar yang mana suasananya kurang lebih formal. Acara ini tidak. Tempatnya relatif kecil, suasananya santai, dan terjadi dialog yang cukup intens antara peserta dan pembicara. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Awalnya, Dieter Mack menyatakan awal mula mengapa ia hendak membicarakan topik tersebut. Ini terkait dengan acara yang akan digelar di Taman Budaya Jawa Barat dari tanggal 2 hingga 9 Oktober. Acara yang disponsori oleh Goethe Institut itu merupakan semacam kompetisi bagi komposer muda se-Asia Tenggara. Dieter Mack menjadi penggagas sekaligus juri, sedangkan Diecky menjadi salah satu dari sepuluh finalis terpilih dalam kompetisi tersebut (mari beri selamat). Kemudian Dieter masuk ke apa yang disebutnya sebagai interkultural, dengan menyajikan empat contoh lagu yang mengandung baik instrumen barat maupun timur. Pertanyaannya sederhana, namun agak sulit menjawabnya, "Diantara keempat ini, manakah yang terasa seperti ditempelkan atau digabungkan, dan mana yang terasa seperti satu kesatuan?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Jawabannya beragam. Namun kesimpulan Dieter cukup mengena, "Soal kepekaan kita tentang mana yang terasa digabungkan dan mana yang terasa sebagai satu kesatuan, ditentukan oleh sebanyak apa kita mendengar. Jika mendengarkan tak terlalu banyak, kita akan sulit menerima pelbagai kemungkinan-kemungkinan dari komposisi baru." Kemudian Diecky tampil mengemuka, memperdengarkan karya pemenangnya pada para peserta. Namun di tengah presentasinya, ketika ia menyebut kalimat, "Tradisi Barat yang sistematis..", Dieter Mack langsung memotong, "Kata siapa tradisi Barat sistematis?" Dieter langsung melanjutkan, "Di Barat sistematis dengan tradisi tulisan. Di Timur sistematis dengan tradisi lisan. Kalau Timur tidak sistematis, bagaimana mungkin kita bisa menabuh gamelan, sekarang ini?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Menjelang akhir diskusi yang berlangsung selama dua setengah jam itu, peserta boleh bertanya secara bebas. Misalnya, Ulung bertanya, "Apakah betul fungsi musik itu terbagi dua antara musik seni dan hiburan? Apakah ada musik yang seni sekaligus hiburan?" Dieter menjawab dengan contoh, ia memainkan dua lagu dalam piano, yang satu agak jazz, satu lagi kontemporer. Setelah lagu yang terakhir, ia berujar, "JIka saya memainkan lagu seperti itu, saya pasti diusir."Kata Dieter, "Musik hiburan tidak salah. Tapi ia tidak ditujukan untuk menarik perhatian. Ia bisa dimainkan sambil orang melakukan apapun. Tidak harus dinikmati sebagai sesuatu yang independen. Penghasil musik hiburan bisa disebut juga tukang atau pengrajin. Tapi sekali lagi ia tidak salah, tidakkah kita semua butuh tukang atau pengrajin?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Setelah dua jam setengah yang mengasyikkan sekaligus memabukkan (oleh sebab musik kontemporer yang kadang-kadang tidak cocok untuk semua telinga), diskusi itu ditutup jua. Diakhiri dengan makan kudapan ringan di halaman belakang. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1295974387213945804?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1295974387213945804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1295974387213945804' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1295974387213945804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1295974387213945804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/09/seminar-musik-kontemporer-dan-problem.html' title='Seminar Musik Kontemporer dan Problem Interkultural'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9dHYEdElYQg/ToCpNyekwFI/AAAAAAAAFqI/lNACzOoor0Q/s72-c/334547_1969577931061_1591365731_31618752_2125985830_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-2408047416484239300</id><published>2011-09-12T20:18:00.000-07:00</published><updated>2011-09-12T20:21:56.263-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Seminar "Komposisi Kontemporer dan Masalah Interkultural"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/277063_238453352867016_73394841_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 180px; height: 258px;" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/277063_238453352867016_73394841_n.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;KlabKlassik dan Studio Musik Melodia bekerjasama untuk menyelenggarakan  seminar bertemakan "Komposisi Kontemporer dan Masalah Interkultural".  Tema ini akan dibawakan oleh dua orang narasumber yaitu Dieter Mack  (foto) dan Diecky K. Indrapraja. Penyelenggaraan akan dilakukan pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/ Tanggal : Minggu, 25 September 2011&lt;br /&gt;Jam                  : 15.00 - 18.00&lt;br /&gt;Tempat           : Studio Musik Melodia, Jl. Cipunagara no. 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil Dieter Mack: &lt;a href="http://dieter-mack.de:8081/dieter_mack?set_language=id" rel="nofollow" target="_blank"&gt;&lt;span&gt;http://dieter-mack.de:8081&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;/dieter_mack?set_language=&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Profil Diecky K. Indrapraja: &lt;a href="http://www.diecky.jigsy.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;&lt;span&gt;http://www.diecky.jigsy.co&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;m/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;Informasi: Studio Musik Melodia (022-7273390)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moderator: Syarif Maulana&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-2408047416484239300?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/2408047416484239300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=2408047416484239300' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2408047416484239300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2408047416484239300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/09/seminar-komposisi-kontemporer-dan.html' title='Seminar &quot;Komposisi Kontemporer dan Masalah Interkultural&quot;'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-8159215151245807090</id><published>2011-09-12T20:17:00.000-07:00</published><updated>2011-09-12T20:18:37.937-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Nonton Bareng KlabKlassik: Apocalypse Now</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://tobucil.blogspot.com/2011/09/nonton-bareng-klabklassik-apocalypse.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt; &lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;   Minggu, 11 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-jiHDonPguyQ/Tm1dQQ-WfeI/AAAAAAAAFps/CsI1YA3KWWU/s1600/215px-Apocnow.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-jiHDonPguyQ/Tm1dQQ-WfeI/AAAAAAAAFps/CsI1YA3KWWU/s1600/215px-Apocnow.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;i&gt;Hari Minggu kemarin KlabKlassik punya program baru. Atas usul Ismail Reza, KK sebaiknya memutar sebuah film, lantas dibahas &lt;/i&gt;&lt;i&gt;scoring-nya,  atau musik latarnya. Setelah melalui diskusi, diputarlah film tahun  1979 berjudul Apocalypse Now. Film garapan sutradara Francis Ford  Coppola yang berlatarbelakang perang Vietnam itu diperankan oleh dua  aktor kawakan, Martin Sheen dan Marlon Brando. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Ceritanya, Martin Sheen berperan sebagai Kapten Benjamin Willard, yang  ditugaskan untuk membunuh Kolonel Kurtz yang diperankan (secara  gemilang) oleh Marlon Brando. Keduanya adalah sesama Amerika, dan misi  ini terbilang rahasia, tidak resmi, atau biasa disebut &lt;i&gt;black ops&lt;/i&gt;.  Cerita menjadi menarik karena sebagian besar berisikan pergulatan batin  dari Kapten Willard, karena ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia  ditugaskan membunuh sesama Amerika? Segila apakah Kolonel Kurtz itu  sehingga harus dilenyapkan?&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Film tersebut, meskipun berjudul "film perang", namun yang ditampilkan  justru aspek psikologisnya. Mas Daus, salah seorang peserta menyebutkan,  "Ini film perang vietnam yang anti-hero, disamping &lt;i&gt;Platoon&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Killing Fields&lt;/i&gt;."  Film berdurasi sekitar dua setengah jam itu cukup menguras tenaga,  beberapa peserta bahkan pulang sebelum berakhirnya film. Terutama juga  karena musiknya secara subjektif agak kurang nyaman di telinga, sehingga  berpengaruh sekali terhadap &lt;i&gt;endurance&lt;/i&gt;. Selain itu, gambar-gambarnya gelap, betul-betul jauh dari hingar bingar heroisme ala &lt;i&gt;Rambo&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Green Berets&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Setelah film berakhir, terjadi diskusi singkat. Pertama, bagaimana &lt;i&gt;scoring&lt;/i&gt; mempengaruhi dramatisasi film itu sendiri. Bagi Mas Daus, &lt;i&gt;scoring&lt;/i&gt; sangat penting dan boleh dibilang vital. Itulah yang terjadi pada perfilman Indonesia yang mana &lt;i&gt;scoring&lt;/i&gt; seringkali digarap asal-asalan. Bahkan dalam banyak sinetron, &lt;i&gt;scoring&lt;/i&gt;  dicomot saja dari lagu yang sudah ada, tanpa memperhitungkan kecocokan  dengan adegan. Profesi penggarap musik bahkan, kata Mas Reza, "Kawan  saya di Berkeley, mengambil jurusan khusus &lt;i&gt;music scoring&lt;/i&gt;, dan katanya susah. Jadi di luar sana, profesi &lt;i&gt;music scorer&lt;/i&gt; gak main-main."&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Program perdana kemarin menginspirasi KK untuk menyusun program  berikutnya. Kemungkinan di akhir September ini akan diputar film G 30  S/PKI karya Arifin C. Noor, dengan agenda sama, yaitu membahas &lt;i&gt;scoring&lt;/i&gt; musik. Kata Mas Daus, "Inilah film Indonesia terbaik sepanjang sejarah, bagi saya."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-8159215151245807090?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/8159215151245807090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=8159215151245807090' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8159215151245807090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8159215151245807090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/09/nonton-bareng-klabklassik-apocalypse.html' title='Nonton Bareng KlabKlassik: Apocalypse Now'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-jiHDonPguyQ/Tm1dQQ-WfeI/AAAAAAAAFps/CsI1YA3KWWU/s72-c/215px-Apocnow.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-2564310232493626854</id><published>2011-09-05T17:52:00.000-07:00</published><updated>2011-09-05T19:17:54.782-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Silaturahim KlabKlassik 2011</title><content type='html'>Sabtu, 3 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah tahun lalu melakukan silaturahim keliling rumah ke rumah, tahun ini KlabKlassik (KK) melakukan hal serupa. Ide cetusan Kang Tikno ini katanya ditujukan untuk, "Agar KK tidak semata-mata komunitas berbasiskan hobi musik klasik saja, tapi juga lebih dari itu, berbasiskan persaudaraan yang tulus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta halal bi halal yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;start&lt;/span&gt; bersama-sama dari ada enam orang, yaitu Syarif, Kristianus, Pak Ato, Aldi, Jardika, dan Kang Aka. Pertama-tama KK mengunjungi rumah Kristianus terlebih dahulu di daerah Cicadas. Setelah itu lanjut mengunjungi rumah Mas Yunus di Sukajadi, yang kemudian Mas Yunus sendiri bergabung dengan rombongan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan agak jauh ke daerah Cihanjuang, Parongpong, untuk mengunjungi rumah Pak Ato. Dari rumah Pak Ato, lanjut ke rumah Kang Aka di Cibuntu, yang salah satu tujuannya adalah juga menyantap Tahu Cibuntu. Dari Cibuntu yang terkenal dengan tahu nya itu, rombongan bergegas menjauh ke Bandung Timur, ke rumah Aldi di Riung Bandung. Setelah itu, KK mengunjungi rumah Jardika di daerah Margahayu. Tapi ternyata itu belum selesai, KK juga menyambangi rumah Mba Tarlen, pemilik Tobucil, di kawasan Gudang Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia foto-fotonya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-mgYBSxQxWeA/TmV-gI6APQI/AAAAAAAAAYk/jwrDw_LkjTU/s1600/2011-09-03%2B09.41.39.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-mgYBSxQxWeA/TmV-gI6APQI/AAAAAAAAAYk/jwrDw_LkjTU/s400/2011-09-03%2B09.41.39.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649060398217837826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jardika bermain gitar di kediaman Kristianus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-h8t5Dzpr8wM/TmWBlMsnaQI/AAAAAAAAAYs/1xKobZ52yZI/s1600/2011-09-03%2B09.43.12.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-h8t5Dzpr8wM/TmWBlMsnaQI/AAAAAAAAAYs/1xKobZ52yZI/s400/2011-09-03%2B09.43.12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649063783669655810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini Aldi bermain di rumah Kristianus&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-K9CTOfvabyY/TmV62b-uSBI/AAAAAAAAAYU/nN7v0Z4SiI4/s1600/2011-09-03%2B10.45.48.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-K9CTOfvabyY/TmV62b-uSBI/AAAAAAAAAYU/nN7v0Z4SiI4/s400/2011-09-03%2B10.45.48.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649056383248517138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kediaman Mas Yunus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-05Q2ZFX_Yo8/TmV8vy-FkWI/AAAAAAAAAYc/PELH3lugPYo/s1600/2011-09-03%2B13.14.53.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-05Q2ZFX_Yo8/TmV8vy-FkWI/AAAAAAAAAYc/PELH3lugPYo/s400/2011-09-03%2B13.14.53.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649058468184035682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tahu Cibuntu di kediaman Kang Aka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-2564310232493626854?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/2564310232493626854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=2564310232493626854' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2564310232493626854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2564310232493626854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/09/silaturahim-klabklassik-2011.html' title='Silaturahim KlabKlassik 2011'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-mgYBSxQxWeA/TmV-gI6APQI/AAAAAAAAAYk/jwrDw_LkjTU/s72-c/2011-09-03%2B09.41.39.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6685201391215696524</id><published>2011-08-24T21:51:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T22:01:02.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik: Discovering Music in Ourself</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px; background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;Minggu, 21 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;i&gt;Hari Minggu itu Tobucil kedatangan oleh-oleh dari Jerman. Berupa pengalaman yang dibawa oleh Fiola Christina Rondonuwu. Ia baru saja mengikuti sebuah festival musik di sana selama kurang lebih dua minggu. Lewat forum KlabKlassik ia berbagi.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Berbekal power point dan catatan yang cukup panjang, Fiola membagikan sejumlah pengalamannya selama di sana. Mula-mula ia berbagi tentang usia dengan pertanyaan kritis, "Apakah usia berpengaruh dalam belajar musik?" Menurutnya, "Pengaruh pasti ada, tapi soal apakah orang lanjut usia bisa belajar musik, jawabannya bisa!" Jawaban ini ia peroleh setelah menyaksikan sendiri wanita berusia 65 tahun di festival musik tersebut, masih mempelajari vokal dan bahkan bernyanyi dengan sangat baik. Fiola juga meminta forum untuk mengetik kata kunci &lt;i&gt;Late Bloomer &lt;/i&gt;di Wikipedia untuk mengetahui banyak orang yang justru produktif di masa tuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Bahasan berikutnya, Fiola menceritakan tentang sikap apa yang mendukung seseorang dalam belajar musik. Ia menyebutkan kalimat kuncinya, "Bahwa seseorang mesti tahu alasannya bermain musik, dan sebaiknya itu memang ditujukan untuk dirinya sendiri." Dengan mempunyai alasan kuat, ia bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ketat seperti yang disaksikannya di Jerman sana. Di Jerman, kompetisinya amat keras dan nyaris tidak ada toleransi. Terlambat hingga 30 detik dapat diceramahi hingga nyaris setengah jam. Fiola pun tidak jarang menemukan sesama pemain saling mengritik secara pedas. Fiola juga menambahkan, "Sikap-sikap lain seperti rendah hati, disiplin, kontrol ego, dan sikap baik juga sangat mendukung dalam belajar musik." Di akhir kalimat Fiola sering menambahkan, "Tidak cuma dalam belajar musik, tapi juga dalam kehidupan pada sehari-hari."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center; "&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JtjAKANEkkw/TlILJvDtu2I/AAAAAAAAFpc/A6dm0e23BGo/s1600/ola2.jpg" imageanchor="1" style="text-decoration: none; color: rgb(61, 133, 198); margin-left: 1em; margin-right: 1em; "&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-JtjAKANEkkw/TlILJvDtu2I/AAAAAAAAFpc/A6dm0e23BGo/s320/ola2.jpg" width="320" style="border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; position: relative; padding-top: 8px; padding-right: 8px; padding-bottom: 8px; padding-left: 8px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; "&gt;&lt;span style="font-size: x-small; "&gt; Fiola tengah mempresentasikan pengalamannya (kiri)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Fiola juga menjelaskan tentang bagaimana latihan musik yang baik, mulai dari&lt;i&gt;stretching&lt;/i&gt; (peregangan), &lt;i&gt;tuning&lt;/i&gt; (penalaan), pemanasan (dengan memainkan tangga nada misalnya), memainkan lagu, membuat catatan latihan dan membuat&lt;i&gt;progress&lt;/i&gt; latihan. Soal ini Mas Yunus bertanya, "Bagaimana cara agar kita bisa rajin latihan?" Fiola menjawab, "Mula-mula coba letakkan instrumen di tempat yang mudah kelihatan dan dekat dengan sehari-hari kita. Di samping tempat tidur misalnya." Mba Tarlen juga menambahkan, "Teknik sungguh penting. Karena orang yang mau berkreasi secara bebas pertama-tama harus melampaui teknik dasar dulu hingga mumpuni."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Penjelasan dari Fiola berlangsung cukup panjang dan bahkan hingga empat jam. Dipotong oleh buka puasa, Fiola melanjutkan lagi dengan berbagi soal&lt;i&gt;performance&lt;/i&gt; atau penampilan. Fiola meminta forum untuk maju ke depan orang demi orang untuk mempraktekkan tata cara berjalan ke panggung, hormat, memulai dan mengakhiri lagu, hingga meninggalkan panggung. Ternyata semuanya mengandung detail-detail yang menarik. Kata Fiola, "&lt;i&gt;Performance&lt;/i&gt;dimulai bukan ketika lagu dimulai, tetapi ketika kita mulai menjejak panggung."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center; "&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mUhjy0kzDIE/TlIL4DflgNI/AAAAAAAAFpg/9ivD4y8b114/s1600/royke.jpg" imageanchor="1" style="text-decoration: none; color: rgb(61, 133, 198); margin-left: 1em; margin-right: 1em; "&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-mUhjy0kzDIE/TlIL4DflgNI/AAAAAAAAFpg/9ivD4y8b114/s320/royke.jpg" width="240" style="border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; position: relative; padding-top: 8px; padding-right: 8px; padding-bottom: 8px; padding-left: 8px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;i&gt;Pertemuan hari itu pun ditutup dengan manis. Dengan duet Fiola dan kekasihnya, Bilawa, memainkan Waltz of the Flowers-nya Tchaikovsky. Setelah itu Fiola tampil sendiri, membuat sendu beranda Tobucil dengan lagu Allemande dari Johann Sebastian Bach.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/goog_534849116" style="text-decoration: none; color: rgb(61, 133, 198); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;a href="http://www.syarifmaulana.blogspot.com/" style="text-decoration: none; color: rgb(61, 133, 198); "&gt;Syarif Maulana&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6685201391215696524?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6685201391215696524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6685201391215696524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6685201391215696524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6685201391215696524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/08/klabklassik-discovering-music-in.html' title='KlabKlassik: Discovering Music in Ourself'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-JtjAKANEkkw/TlILJvDtu2I/AAAAAAAAFpc/A6dm0e23BGo/s72-c/ola2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6839019003372406606</id><published>2011-08-15T23:22:00.000-07:00</published><updated>2011-08-15T23:24:02.530-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Discovering Music in Ourself: Berbagi Pengalaman Mengikuti Sebuah Festival Musik di Jerman</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px; background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;b&gt;Fiola Christina Rondonuwu&lt;/b&gt;, seorang violinis dan juga mahasiswi jurusan Arsitektur ITB, mendapat kesempatan untuk mengikuti InterHarmony Festival Musik Internasional yang diselenggarakan di kota Hinterzarten/Schwarzwald - Birklehof, Jerman Selatan, minggu-minggu kemarin. Selama dua minggu itu, ia mendapatkan banyak sekali pengalaman mengenai pegembangan kemampuan musik, pencapaian pertumbuhan artistik, peningkatan pelatihan profesional, serta jaringan dengan sesama musisi dan tampil di konser.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Atas dasar pengalaman berharga yang sudah diperolehnya, Fiola berniat untuk berbagi sekaligus mendiskusikannya di &lt;b&gt;Tobucil&lt;/b&gt; pada hari &lt;b&gt;Minggu, 21 Agustus 2011 jam 15.00 - 17.00&lt;/b&gt;. Diskusi akan berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="padding-top: 0px; padding-right: 2.5em; padding-bottom: 0px; padding-left: 2.5em; margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; line-height: 1.4; list-style-type: disc; list-style-position: initial; list-style-image: initial; text-align: left; "&gt;&lt;li style="padding-top: 0.25em; padding-right: 0px; padding-bottom: 0.25em; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.25em; margin-left: 0px; text-indent: 0px; border-top-style: none; border-top-width: initial; border-top-color: initial; color: rgb(51, 51, 51); border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; "&gt;Apakah umur berpengaruh dalam belajar musik?&lt;/li&gt;&lt;li style="padding-top: 0.25em; padding-right: 0px; padding-bottom: 0.25em; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.25em; margin-left: 0px; text-indent: 0px; color: rgb(51, 51, 51); border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; "&gt;Sikap/ attitude seperti apa yang bisa membantu dalam belajar musik dan berkembang lebih lanjut?&lt;/li&gt;&lt;li style="padding-top: 0.25em; padding-right: 0px; padding-bottom: 0.25em; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.25em; margin-left: 0px; text-indent: 0px; color: rgb(51, 51, 51); border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; "&gt;Bagaimana cara berlatih yang baik dan benar?&lt;/li&gt;&lt;li style="padding-top: 0.25em; padding-right: 0px; padding-bottom: 0.25em; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.25em; margin-left: 0px; text-indent: 0px; border-bottom-style: none; border-bottom-width: initial; border-bottom-color: initial; color: rgb(51, 51, 51); border-top-style: none; border-right-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; "&gt;Bagaimana cara untuk melatih penampilan agar baik dan benar?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Sharing dan diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px; background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6839019003372406606?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6839019003372406606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6839019003372406606' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6839019003372406606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6839019003372406606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/08/discovering-music-in-ourself-berbagi.html' title='Discovering Music in Ourself: Berbagi Pengalaman Mengikuti Sebuah Festival Musik di Jerman'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6368799816936149637</id><published>2011-08-06T14:11:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T14:17:42.476-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist #8: Dari Haydn sampai Zappa</title><content type='html'>Minggu, 31 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KlabKlassik Edisi Playlist #8  mengusung tema "Musik Religi". Musik religi yang dimaksud bukan seperti  Haddad Alwi atau Maher Zain, melainkan "musik apapun yang meningkatkan  spiritualitasmu". Keenam orang yang hadir membawa musiknya dalam  flashdisk. Semuanya bercerita tentang kisah dibalik musik yang ia bawa,  ternyata suasana spiritual tidak bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Joseph Haydn - String Quartet in D Minor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lagu pembuka ini diusung oleh Mba Tarlen. Mengingatkan ia pada  pengalamannya menemani proses rekaman Djava String Quartet (kuartet  gesek dari Yogya). Proses rekamannya berlangsung dari jam delapan malam  hingga lima pagi, materinya ya lagu Haydn ini. Bagi Mba Tarlen sendiri,  ia terkesan pada &lt;i&gt;ambience&lt;/i&gt; yang dihasilkan oleh ruangan dan juga  karya itu sendiri, "Seperti bertemu Yesus Kristus." Pembahasan meluas  menjadi bagaimana band-band dulu, yang proses rekamannya masih analog,  mencari tempat-tempat rekaman yang &lt;i&gt;ambience&lt;/i&gt;-nya disesuaikan.  Mereka tidak mengandalkan efek-efek digital seperti sekarang. Misalnya  Pink Floyd yang kata Mas Ismail Reza pernah rekaman di kastil berhantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Dream Theater - Spirit Carries Within&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang dibawa oleh Mas Yunus ini baginya sangat spiritual. Katanya, "Tengok liriknya:"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Where did we come from?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why are we here?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Where do we go when we die?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;What lies beyond&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And what lay before?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Is anything certain in life?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Dream Theater yang biasa memainkan rock progresif yang cepat, lagu  ini agak anomali. Dream Theater memainkan sebuah lagu balad bertempo  lambat. Di tengah-tengah, sayatan gitar John Petrucci mengundang  komentar Mas Reza, "Bagian ini yang bikin lagu tersebut terasa  religius."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Burzum - Kaimadaltas Nedstigning&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lagu  yang dibawa oleh Mas Ismail Reza ini mengusung genre Black Metal. Artis  dari Norwegia tersebut memang menawarkan isu religi. Burzum "marah"  pada agama Kristen yang notabene telah mendominasi kepercayaan di  Norwegia yang tadinya beragama pagan (menyembah Thor, Odin, dsb). Di  lain kesempatan, Burzum juga pernah membakar beberapa gereja. Namun,  kata Mas Reza, "Burzum sudah tepat, ia menyerang institusinya. Ia tidak  pernah menyerang personal manusia yang memeluk agama. Yang ia serang  adalah klaim sepihak dari gereja yang sering menuduh pagan sebagai  sesat." Lagunya sendiri berdurasi cukup panjang dengan distorsi sangat  tinggi namun anehnya bertempo lambat. Rudi menyebutnya, "Aneh, metal  biasanya bikin segar, tapi ini bikin ngantuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Steve Reich - Tehilim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lagu  yang ditulis tahun 1981 ini berdurasi sebelas menit. Ditulis oleh  komposer minimalis AS, Steve Reich. Materi lagunya adalah ayat-ayat yang  diambil dari kitab suci Yahudi, yang kemudian dinyanyikan oleh choir.  Dengan apik, Steve Reich menjadikan komposisinya bergaya canon atau  sahut-sahutan susul-menyusul. Meskipun durasinya panjang, namun peserta  Playlist cukup betah mendengarkannya. Hal tersebut diperkuat Diecky kala  pertama jatuh cinta pada Tehilim, "Aku menemukan ini di rumah Mas  Slamet Abdulsjukur. Mendengarkannya sungguh membuatku terlena, seperti  dzikir." Lagu tersebut juga merangsang Diecky untuk membuat sebuah karya  yang bermaterikan ayat Al-Qur'an, tapi kemudian dikomposisi ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Frank Zappa - G-Spot Tornado&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lagu  Frank Zappa ini dibawa oleh saya. Menghadirkan sebuah komposisi cepat  yang diramu oleh Zappa dengan teknologi komputer yang ia kuasai. Yang  menjadi menarik adalah motif Zappa membuat karya ini. Kata Diecky,  "Zappa berambisi membuat karya yang tidak bisa dimainkan oleh manusia."  Meski demikian, menjelang akhir hayatnya, Pierre Boulez dan orkestranya  sanggup mengimitasi G-Spot Tornado dengan sangat cantik. Zappa yang  meninggal setahun setelah orkes tersebut manggung memainkan karyanya,  mengatakan, "Boleh saja manusia menirunya, tapi tetap saya yang harus  menjadi konduktornya." Demikian sang maestro meninggal dengan wasiat  yang mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Pearl Jam - Sometimes&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lag yang dibawa oleh Mba Tarlen ini diambil dari album Pearl Jam yang "gagal" yaitu &lt;i&gt;No Code&lt;/i&gt;. Dianggap gagal karena hanya terjual 500.000 kopi dan isi dari album tersebut hampir semuanya bertempo lambat. Tidak ada &lt;i&gt;grunge&lt;/i&gt; cepat yang menjadi khas Pearl Jam di album seperti &lt;i&gt;Ten&lt;/i&gt;.  Mba Tarlen merasa bahwa meski Eddie Vedder sang vokalis dikenal ateis,  tapi dalam lagu ini ia menunjukkan sisi spiritualitasnya. Terlihat dari  liriknya yang mendalam, menyiratkan kerinduannya pada Tuhan:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sometimes I know sometimes I rise&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sometimes I fall sometimes I don't&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sometimes I cringe sometimes I live&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sometimes I walk sometimes I kneel&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sometimes I speak of nothing at all...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sometimes I reach to myself, hear God..&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;7. Ennio Morricone - Gabriel's Oboe&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gabriel's Oboe adalah lagu kedua yang dibawa oleh Mas Yunus. Diambil  dari film The Mission. Ceritanya Gabriel, seorang misionaris, berjalan  menuju air terjun dan ia meniupkan oboe nya. Di belakangnya, menguntit  beberapa orang dari suku setempat yang siap membunuh sang pastur. Namun  mereka urung karena mendengar suara oboe nya yang begitu menyayat. Bagi  Diecky, ini sangat spiritual, "Ketika kamu punya satu nafas terakhir  sebelum mati, apa yang kamu lakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik Edisi Playlist #8 seolah menunjukkan adanya upaya untuk  mendahului MUI yang masih sibuk menentukan awal mula Ramadhan. Karena di  Tobucil kemarin, kegiatan spiritual sudah dimulai sebelum Ramadhan  ditentukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6368799816936149637?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6368799816936149637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6368799816936149637' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6368799816936149637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6368799816936149637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/08/klabklassik-edisi-playlist-8-dari-haydn.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist #8: Dari Haydn sampai Zappa'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7319653115205872892</id><published>2011-08-06T14:02:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T14:19:11.771-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>From French with a Lot of Surprises: Liputan Resital Violin dan Viola Satryo Aryobimo Yudomartono</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Bilawa Ade Respati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 13 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu tidak berlebihan rasanya jika penampilan Satryo Aryobimo Yudomartono, yang akrab dipanggil Bimo, disebut pertunjukan yang special dan penuh kejutan. Penampilan Bimo menyuguhkan kenangan dan kesan tersendiri bagi para penontonnya malam itu dengan suguhan pilihan repertoar, pembawaan, dan permainan instrumennya. Resital dengan judul “Violin and Viola Recital” itu dipertunjukan di Auditorium CCF Bandung pada Rabu (13/7/11) yang lalu. Penampilan Bimo malam itu dinanti oleh banyak penonton, setelah sebelumnya ia “absen” dari pertunjukan musik klasik di Bandung karena studinya di Perancis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Resital dibuka dengan karya Georg Philipp Telemann, Fantaisie no.9 TWV 40:32. Bimo masuk panggung yang ditata pencahayaannya dengan hangat dan serius. Suasana yang sempat agak tegang ini langsung dicairkan oleh Bimo dengan mengajak penonton bertepuk tangan sambil berjalan masuk. Setelah karya solo dari Telemann, Bimo menampilkan berturut-turut Fantaisie Op. 94 (Hummel), movement pertama dari Concerto in C Minor Op.25 (Bowen), dan Beau Soir (Debussy). Akompanimen piano dari Andrew Sudjana mengiringi kepiawaian Bimo menggesek violin dan viola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-1EyjZ5JacfY/Tj2s67qOPsI/AAAAAAAAAX8/Fk072o-jN3A/s1600/273000_10150239336978002_706783001_7351013_6889962_o.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-1EyjZ5JacfY/Tj2s67qOPsI/AAAAAAAAAX8/Fk072o-jN3A/s400/273000_10150239336978002_706783001_7351013_6889962_o.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637852436984905410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kemampuan teknik Bimo memukau penonton, terutama pada karya romatik dari Bowen yang menuntut presisi tinggi pada rangkaian scale dan arpeggio, disamping menjaga keindahan estetika yang menjadi ciri romantisisme. Karya Beau Soir, ia persembahkan untuk mendiang kakeknya yang telah berpulang. Alunan melodi khas Debussy memancing suasana haru. Bimo terlihat menitikan air mata, sambil samar-samar terdengar isak tangis yang mungkin berasal dari kerabatnya. Karya yang sangat sentimental ini menutup babak pertama recital dengan tepuk tangan puas dari penonton.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Babak kedua dibuka dengan penampilan karya 3 Pieces for 2 Violin and Piano (Shostakovich) yang Bimo bawakan bersama violinis Fiola Christina Rondonuwu dan pianis Dina Kamalita. Hal yang cukup mengejutkan penonton setelah karya Shostakovich adalah kemunculan MC yang mengatakan bahwa, “Penonton dipersilahkan untuk memotret dengan blitz, menyalakan telepon genggam, bertepuk tangan kapanpun mereka mau, dan ikut bernyanyi jika mengetahui lagu yang dibawakan.” Penonton terlihat sangat penasaran dengan bentuk pertunjukan di babak kedua ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Bimo kembali ke atas panggung bersama pianis Fero Aldiansya Stefanus. Bimo bersama dengan Fero menyuguhkan penampilan yang sangat kontras dengan babak pertama. Penampilan pada babak ini sangat komikal, ekspresif, dan penuh kenakalan. Fero dan Bimo seolah sedang bermain-main dengan musik yang mereka bawakan. Lagu – lagu popular dari Czardas, beberapa aransemen jazz, bossa nova, dan tango sukses membuat penonton ikut tertawa dan bersorak. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Bimo sukses mengajak penonton menyanyi bersama saat memainkan medley lagu film animasi anak-anak seperti Doraemon, Sailor Moon, dan Sponge Bob. Bahkan Bimo sempat keluar panggung dan tiba-tiba muncul di belakang penonton. Guru violin-nya dulu, Ammy Kurniawan (4Peniti), di-“paksa” untuk naik panggung bersamanya memainkan improvisasi pada lagu Panon Hideung dan Duo Etude karya Ammy Kurniawan. Bimo dan Fero makin menguasai panggung saat menyuguhkan karya Libertango (Piazzolla) dan encore yang merupakan medley dari lagu-lagu pop justin Bieber, Britney Spears, 7 Icon, dan Smash. Mereka melompat-lompat, berjoget, memukul-mukul instrumen mereka, bahkan mengenakan kaca mata hitam sebagai properti.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zioc-TbG68I/Tj2tFUpHySI/AAAAAAAAAYE/faIg3D_8Tuw/s1600/277647_10150239345793002_706783001_7351125_3249118_o.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-zioc-TbG68I/Tj2tFUpHySI/AAAAAAAAAYE/faIg3D_8Tuw/s400/277647_10150239345793002_706783001_7351125_3249118_o.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637852615489866018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Penonton pulang dengan sangat puas, terlihat dari standing applause yang diberikan oleh penonton. Sebuah recital yang lain dari biasanya, karena Bimo berhasil menarik penonton untuk ikut dalam alur musikalnya, dengan rentang repertoar yang luas dan beragam. Bimo kini masih melanjutkan studinya di Perancis di Conservatoire Rayonement Regional de Boulogne-Billancourt dibawah bimbingan Sébastien Levy dan Damien Nedonchelle. Bimo tergabung di beberapa orkes di Perancis diantaranya Orcheste Sostenuto (Direction Takashi Kondo) dan Orchestre de la Cite International de Paris (Direction Julien Leroy &amp;amp; Adrian McDonnell) dan telah mendapat Diplôme d’Etudes de Musique Violon di tahun 2009. Benar-benar sebuah recital yang spesial oleh Satryo Aryobimo!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vR_Xs5pdGN4/Tj2tmcy_DXI/AAAAAAAAAYM/NuQc2CO1R_c/s1600/266974_10150239347153002_706783001_7351136_1724878_o.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vR_Xs5pdGN4/Tj2tmcy_DXI/AAAAAAAAAYM/NuQc2CO1R_c/s400/266974_10150239347153002_706783001_7351136_1724878_o.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637853184614403442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto oleh: Hilmiani Yudomartono dan Arief Darmawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7319653115205872892?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7319653115205872892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7319653115205872892' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7319653115205872892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7319653115205872892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/08/from-french-with-lot-of-surprises.html' title='From French with a Lot of Surprises: Liputan Resital Violin dan Viola Satryo Aryobimo Yudomartono'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1EyjZ5JacfY/Tj2s67qOPsI/AAAAAAAAAX8/Fk072o-jN3A/s72-c/273000_10150239336978002_706783001_7351013_6889962_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7217556067428103312</id><published>2011-07-25T16:41:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:18:34.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>Musik Klasik masuk Pesantren</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Minggu, tanggal 24 Juli kemarin, KlabKlassik dipercaya untuk mempresentasikan program-programnya di Pesantren Manba'ul Huda, daerah Cijawura. Hal tersebut dimungkinkan karena sang kepala sekolah, Rosihan Fahmi, menginginkan adanya sentuhan musik bagi siswa-siswinya. Katanya, "Agar pola berpikir mereka tidak jadi hitam putih." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;as-sama&lt;/span&gt;') bukanlah sesuatu yang terlalu akrab dengan dunia keislaman, setidaknya itu yang menjadi stereotip. Aliran-aliran tertentu dalam Islam bahkan mengharamkan musik. Contoh konkritnya ada di Afghanistan. Ketika Taliban menguasai pemerintahan, mereka yang ketahuan memutar musik di rumah atau di mobilnya, akan dihukum. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa musik punya efek "memabukkan". Dalam kadar tertentu, musik dipercaya dapat membuat insan pendengarnya "melupakan Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pertanyaan kritisnya, apakah dengan demikian tidak ada musik dalam tubuh Islam itu sendiri? Coba dengarkan lantunan adzan ataupun seseorang yang mengaji. Dengan sentuhan "musikal" atau nilai-nilai estetika dalam lantutan tersebut, adzan ataupun ayat-ayat Al-Qur'an bisa lebih masuk ke hati daripada jika diucapkan secara datar. Aliran dalam Islam lainnya, seperti sufisme, bahkan mewajibkan musik sebagai syarat untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tawajjud&lt;/span&gt; alias ekstase. Dalam ekstase ini, makhluk bersatu dengan khalik, tiada perbedaan antara keduanya. Artinya, haramnya musik adalah tergantung dari penggunaannya. Musik itu sendiri secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an sich&lt;/span&gt; barangkali susah didefinisikan. Karena apapun bisa jadi musik, seperti bunyi curahan air hujan atau orkestra kodok di sawah. Yang terpenting, tujuan dari penggunaan musik itu sendiri bukanlah untuk menjauhkan diri dari yang khalik. Melainkan justru untuk lebih mengenal-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro dan kontra, halal dan haramnya musik tidak menjadi halangan bagi KK untuk mengenalkan musik klasik di Pesantren Manba'ul Huda. Setiap hari Minggu jam 10.30, KK mendapat kesempatan untuk berbagi dan mengupayakan insan pendengarnya untuk menghargai apapun yang mereka dengarkan. Selain itu, KK juga akan berbagi tentang dasar-dasar bermain musik dalam format solo maupun ensembel. Tidak ada harapan berlebihan yaitu si murid harus mencapai tawajjud. Tujuannya sederhana saja, selain mengasah hati seperti yang kepala sekolah siratkan tadi, KK juga ingin membuat siswa-siswi pesantren mengenal musik secara lebih mendalam, sebagai salah satu ciptaan Allah yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7217556067428103312?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7217556067428103312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7217556067428103312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7217556067428103312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7217556067428103312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/musik-klasik-masuk-pesantren.html' title='Musik Klasik masuk Pesantren'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-8377830726613932381</id><published>2011-07-25T16:40:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:41:35.948-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist #8: Menyambut Ramadhan dengan Musik Religi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-B_gsx6tktRY/Ti302qWNw4I/AAAAAAAAFpU/n3sSeXen0WE/s320/playlist.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-B_gsx6tktRY/Ti302qWNw4I/AAAAAAAAFpU/n3sSeXen0WE/s320/playlist.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara sederhana, religi diartikan sebagai sistem kepercayaan. Lebih dari itu, religi biasanya dikaitkan dengan "sistem kepercayaan yang ditujukan untuk membangun spiritualitas". Contoh kegiatan religi yang cukup besar yakni Bulan Ramadhan - yang akan disambut oleh umat Islam dalam beberapa hari lagi saja-. Di dalamnya terkandung seperangkat latihan untuk membangun spiritualitas, mulai dari puasa dan shalat malam bersama-sama. Atas dasar itu, -sehubungan dengan kedekatannya dengan Ramadhan- pertemuan KlabKlassik Edisi Playlist berikutnya akan bertemakan "musik religi" atau jika dimaknai secara bebas: "Musik yang kamu percayai telah berhasil membangun spiritualitasmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan ini akan berlangsung hari Minggu, tanggal 31 Juli 2011 jam 14.30 sampai 17.30. Sistem kepercayaan edisi playlist ini masih sama, yaitu masing-masing orang membawa satu lagu "religi"-nya dalam flashdisk, yang nantinya akan didengarkan sama-sama lewat laptop dan speaker yang sudah disediakan oleh pihak kami. KlabKlassik Edisi Playlist ditujukan untuk membangun kesadaran apresiasi, lewat saling mendengarkan musik yang barangkali bukan yang disukainya. Acara ini rutin dipandu oleh dua komentator yaitu Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja. Pertemuan akan dilaksanakan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Terbuka untuk umum dan gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-8377830726613932381?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/8377830726613932381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=8377830726613932381' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8377830726613932381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8377830726613932381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/klabklassik-edisi-playlist-8-menyambut.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist #8: Menyambut Ramadhan dengan Musik Religi'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-B_gsx6tktRY/Ti302qWNw4I/AAAAAAAAFpU/n3sSeXen0WE/s72-c/playlist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1195484329996461023</id><published>2011-07-25T16:19:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:39:08.002-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>Musik Klasik di Halaman Belakang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir pekan di Bandung seringkali tidak membuat saya merasa bisa menikmati terputusnya siklus rutinitas. Kemacetan yang setia menanti dalam perjalanan biasanya membuat saya memilih untuk tinggal di rumah saja. Namun, hari itu saya memilih untuk menembus antrian panjang kendaraan, berputar-putar melewati jalur-jalur alternatif yang bisa membawa saya sampai ke Rumah Buku/Kineruku, sebuah perpustakaan yang terletak di Hegarmanah. Hari itu saya menginginkan akhir pecan bersama teman-teman, jauh dari keramaian, melakukan hal yang saya sukai, menikmati musik, lalu mengobrol tentang banyak hal; menikmati waktu istirahat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Sabtu 23 Juli 2011, Rukustik #3 diadakan di Kineruku. Sebuah acara yang terselenggara atas kerjasama KlabKlassik dan Kineruku, yang juga didukung oleh teman-teman ITB Student Orchestra (ISO).  Acara ini bertajuk, “Everything You Always Wanted to Know About Classical Music but Were Too Afraid to Ask.” Merupakan sebuah gagasan yang mencoba membangun komunikasi yang lebih baik antara penampil musik klasik dengan penonton, serta membawa musik klasik ke publik yang lebih luas dengan mempertunjukannya di luar suatu gedung konser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-llECJ-SWcZ8/Ti1ly3YQUwI/AAAAAAAAFpI/k4eXd0tNS5U/s320/2011-07-23+17.30.19.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-llECJ-SWcZ8/Ti1ly3YQUwI/AAAAAAAAFpI/k4eXd0tNS5U/s320/2011-07-23+17.30.19.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foto oleh &lt;a href="http://www.wix.com/wahdinidegayanti/cestlepapillon"&gt;Wahdini Degayanti&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dimulai pukul tujuh malam, dibuka oleh Ariani Darmawan pemilik Kineruku dan Syarif Maulana dari KlabKlassik. Penonton disuguhi Air on G String karya Johann Sebastian Bach yang dibawakan dalam format ensemble biola dan flute dari teman-teman ISO. Kemudian disusul dengan penampilan gitar Ryan Sentosa yang membawakan karya Giulliani, Sonata Op. 15. Suasana yang awalnya agak ‘tegang’ mulai mencair saat duet Syarif Maulana dan Lutfi Farabi memainkan Polonaise Concertante dengan sangat ‘jujur’: kita akan menemui mereka janjian untuk memulai permainan, mengulangi satu bagian jika ada kesalahan, dan sekaligus melihat betapa mereka menikmati permainan di atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentang karya yang dibawakan malam hari itu mencakup era renaisans hingga modern. Setelah duet Syarif dan Lutfi berturut-turut penonton disuguhi solo piano Todora membawakan Valse milik Chopin, duet violin piano oleh Ecko dan Ibrahim membawakan Humoresque karya Dvorak, duet violin Nabila dan Fida membawakan Hungarian Dance No.5 karya Brahms, Autumn Song karya Hohmann oleh duet violin Mei dan Poppy. Saya sendiri kemudian dapat giliran untuk menampilkan Koyunabab karya Domeniconi, kemudian disusul penampilan ensemble gitar Ririungan Gitar Bandung membawakan La Cumparsita karya Matos Rodriguez yang diaransemen composer Diecky K. Indrapraja dan Canarios karya Gaspar Sanz. Sesi penampilan ditutup oleh trio Ibrahim, Mei, dan Akbar membawakan Elegie karya Sostakovich. Mood dari periode late-romantic/modern kental sekali dalam komposisi ini, dalam alunan suara piano dan sahut-sahutan duet violin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-N_fLA0U37zU/Ti1myz1yU-I/AAAAAAAAFpM/2puFIzHCRqg/s320/2011-07-23+20.13.04.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-N_fLA0U37zU/Ti1myz1yU-I/AAAAAAAAFpM/2puFIzHCRqg/s320/2011-07-23+20.13.04.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penampilan Ensembel Gitar KlabKlassik alias Ririungan Gitar Bandung (RGB)&lt;br /&gt;Foto oleh &lt;a href="http://www.wix.com/wahdinidegayanti/cestlepapillon"&gt;Wahdini Degayanti&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sesi diskusi kemudian dimulai, dipandu Ariani Darmawan dan Syarif Maulana. Tema pembicaran terpusat pada topik pengistilahan “classical music” serta pemaknaannya. Komposer Diecky K. Indrapraja serta dosen apresiasi musik Bapak Tono Rachmad ikut serta memberikan jawaban-jawaban dari sudut pandang akademisi. Beberapa penonton ikut serta dalam diskusi, walau topic yang kemudian berkembang menurut saya pribadi menjadi cukup berat bagi penonton yang masih awam. Pembedaan kata “classical”, “classic”, lalu kemudian berlanjut hingga pembahasan mengenai hubungan “kelas” dengan “musik” pada periodisasi tertentu. Acara ditutup oleh penampilan ISO membawakan bagian Largo dari komposisi Winter karya Vivaldi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan sebuah pengalaman baru yang menyenangkan, di mana saya seperti mendapatkan akhir pekan saya kembali. Setiap orang menikmati pertunjukan dan seolah enggan untuk lansung membubarkan diri, masih memilih untuk mengobrol satu sama lain seusai acara. Bagi saya, acara ini seperti sebuah eksperimen. Di mana percobaannya adalah mencoba membawa musik klasik ke ruang-ruang publik yang lebih luas. Mencoba memberikan kesempatan kepada musisi-musisi muda untuk mendapatkan kesempatan perform. Mencoba menjembatani kaum akademisi, seniman, masyarakat umum untuk duduk bersama kemudian berbagi cerita, dengan satu sama lain mempelajari bahasa yang digunakan oleh masing-masing pihak. Akhir pekan yang memuaskan, dengan sajian musik klasik di halaman belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilawa Ade Respati&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1195484329996461023?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1195484329996461023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1195484329996461023' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1195484329996461023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1195484329996461023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/musik-klasik-di-halaman-belakang.html' title='Musik Klasik di Halaman Belakang'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-llECJ-SWcZ8/Ti1ly3YQUwI/AAAAAAAAFpI/k4eXd0tNS5U/s72-c/2011-07-23+17.30.19.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-923184173879599585</id><published>2011-07-20T15:24:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T15:37:14.002-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Program KlabKlassik Akhir Minggu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rukustik #3: Everything You Always Wanted to Know About Classical Music, but Were Affraid to Ask&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 23 Juli 2011&lt;br /&gt;Kineruku, Jl. Hegarmanah no. 52&lt;br /&gt;19.00-21.00&lt;br /&gt;(Konser dari KlabKlassik dan ITB Student Orchestra, diselingi dengan diskusi. Gratis.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Workshop Apresiasi Musik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 24 Juli 2011&lt;br /&gt;Pondok Pesantren Al-Huda, Cijawura&lt;br /&gt;09.00-12.00&lt;br /&gt;(Perkenalan KlabKlassik pada siswa-siswi pesantren. Memasukkan musik sebagai suplemen dalam kehidupan beragama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Munggah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minggu,24 Juli 2011&lt;br /&gt;Garasi 10, Jl. Rebana no. 10&lt;br /&gt;18.00 - 21.00&lt;br /&gt;(Acara musik yang digelar di garasi rumah sebagai bentuk penghayatan pra-Ramadhan. Menampilkan Orkes Keroncong Jempol Jenthik dan dibuka oleh KlabKlassik. Gratis.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Belajar Musik bersama KlabKlassik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 24 Juli 2011&lt;br /&gt;Maestro 92,5 FM&lt;br /&gt;22.00-23.00&lt;br /&gt;(Program radio rutin setiap hari Minggu. Diisi oleh KlabKlassik yang pada hari itu akan berbicara tentang istilah musik klasik itu sendiri.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-923184173879599585?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/923184173879599585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=923184173879599585' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/923184173879599585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/923184173879599585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/program-klabklassik-akhir-minggu.html' title='Program KlabKlassik Akhir Minggu'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1185560849573605242</id><published>2011-07-18T08:46:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T08:55:39.888-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Rukustik #3: KlabKlassik feat. ITB Student Orchestra (Konser dan Diskusi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ZI8gkbYu27I/TiRXUGkwzEI/AAAAAAAAAXQ/SrTubLpUxGw/s1600/rukustik3_still.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZI8gkbYu27I/TiRXUGkwzEI/AAAAAAAAAXQ/SrTubLpUxGw/s400/rukustik3_still.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630721436993768514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-3Vmv4s9R6q4/TiRW6VS7xdI/AAAAAAAAAXI/0ykNSNa_z0w/s1600/rukustik3_still.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Rukustik #3: KlabKlassik featuring ITB Student Orchestra&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Konser &amp;amp; Diskusi&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 23 Juli 2011&lt;br /&gt;Pk 19:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(harap datang 15 menit sebelumnya)&lt;br /&gt;Gratis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Kineruku&lt;br /&gt;Jl. Hegarmanah 52&lt;br /&gt;Bandung&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Musik klasik adalah istilah yang sering kita  dengar. Namun, penggunaannya seringkali mengalami kerancuan. Misalnya,  apakah musik klasik itu berarti musik ‘lama’, sehingga musik The Beatles  atau Frank Sinatra pun dapat dikategorikan musik klasik? Atau, musik  klasik itu adalah musik-musik non-populer? Bagaimana dengan Mozart dan  Beethoven, bukankah mereka sebenarnya populer di jamannya? Dan lagi,  atas barometer apakah suatu musik dapat dikategorikan sebagai musik  populer?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan tersebut jarang sekali ditanyakan. Orang sudah  kadung menggunakan kata ‘musik klasik’ secara semena-mena.  Ujung-ujungnya, karena pertanyaan-pertanyaan tadi dilupakan, tidak  jarang istilah ‘musik klasik’ secara sederhana didefinisikan sebagai  ‘musik yang eksklusif’. Titik. Atau dalam kalimat yang lebih lengkap,  “Musik klasik adalah musik yang berat, berkelas, dan hanya mampu  menjangkau kalangan tertentu.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Atas dasar itu, kami merasa perlu mengadakan dialog mengenai musik klasik itu sendiri lewat sebuah konser sekaligus diskusi. &lt;em&gt;Concert hall&lt;/em&gt;  adalah tempat biasa digelarnya pertunjukan musik klasik, namun di sana  minim kesempatan untuk berinteraksi dua arah, sehingga penonton yang  datang seringkali manggut-manggut saja menikmati apapun yang tersaji.  Acara Rukustik yang diadakan secara regular di Kineruku dipilih karena  keinginan kami untuk mendekatkan pemain dan penonton, yang diharapkan  dapat bertanya dan bersikap kritis terhadap musik yang dibawakan. Dengan  demikian, terbuka kemungkinan adanya pemilahan secara jernih antara  bungkus dan isi musik klasik. Mana yang esensial, dan mana yang  semata-mata berperan sebagai pembentuk stereotip ‘berat dan eksklusif’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;em&gt;Repertoire&lt;/em&gt; yang dibawakan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Sonata Op. 15 Mov. 1″&lt;br /&gt;Ciptaan: Mauro Giulliani&lt;br /&gt;Penampil: Ryan Sentosa&lt;br /&gt;Instrumen: Gitar (solo)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Polonaise Concertante”&lt;br /&gt;Ciptaan: Mauro Giulliani&lt;br /&gt;Penampil: Syarif &amp;amp; Lutfi&lt;br /&gt;Instrumen: Gitar (duet)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Valse Op. 69 no. 2″&lt;br /&gt;Ciptaan: Frederic Chopin&lt;br /&gt;Penampil: Todora Nadya T. Silitonga&lt;br /&gt;Instrumen: Piano (solo)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Humoresque”&lt;br /&gt;Ciptaan: Antonin Dvorak&lt;br /&gt;Penampil: Ecko F. Manalu &amp;amp; Ibrahim&lt;br /&gt;Instrumen: Violin &amp;amp; Piano (duet)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Hungarian Dance no. 5″&lt;br /&gt;Ciptaan: Johannes Brahms&lt;br /&gt;Penampil: Nabila Khrisna &amp;amp; Fida Amalia&lt;br /&gt;Instrumen: Violin (duet)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Autumn Song”&lt;br /&gt;Ciptaan: Hohmann&lt;br /&gt;Penampil: Arina Resyta &amp;amp; Poppy Rahayu&lt;br /&gt;Instrumen: Violin (duet)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“The Swan”&lt;br /&gt;Ciptaan: Cammile Saint-Saëns&lt;br /&gt;Penampil: Aminah Nuraini, Aulia Fajar Rahmani, Guntario Sukma Cahyani, Irvito Adhy Sanjaya &amp;amp; Pandu Narendradewo&lt;br /&gt;Violin &amp;amp; Piano (ensemble)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Koyunbaba”&lt;br /&gt;Ciptaan: Carlo Domeniconi&lt;br /&gt;Penampil: Bilawa Ade Respati&lt;br /&gt;Instrumen: Gitar (solo)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“La Cumparsita”&lt;br /&gt;Ciptaan: Matos Rodriguez (arr. Diecky K. Indrapraja)&lt;br /&gt;Penampil: Ririungan Gitar Bandung&lt;br /&gt;Instrumen: Gitar (ensemble)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Canarios”&lt;br /&gt;Ciptaan: Gaspar Sanz&lt;br /&gt;Penampil: Ririungan Gitar Bandung&lt;br /&gt;Instrumen: Gitar (ensemble)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Elegie”&lt;br /&gt;Ciptaan: Dimitri Sostakovich&lt;br /&gt;Penampil: Ibrahim Adrian Nugroho, Meirita Artanti Putri, Teuku Fawzul Akbar&lt;br /&gt;Instrumen: Violin &amp;amp; Piano (ensemble)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Profil Penampil KlabKlassik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Bilawa Ade Respati &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Belajar gitar secara serius mulai di usia 14 tahun pada Benjamin Limanaw  dan kemudian pada Ridwan B. Tjiptahardja. Beberapa kali resital bersama  grup trio Tiga Gitar dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu (2008, 2009),  duet dengan Widjaja Martokusumo (Romantic Music  at Kerkhoven, 2009)  serta berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta. Beberapa  kali mengikuti kompetisi musik, juara 2 Yamaha Student Contest tingkat  Jabar, Jabodetabek, dan Sumatera (kategori senior, Jakarta, 2007), juara  1 Yamaha Student Contest tingkat kota Bandung (kategori senior,  Bandung, 2007), dan finalis dari Kompetisi Gitar Klasik UNY (Yogyakarta,  2006). Aktif di komunitas KlabKlassik, Ririungan Gitar Bandung, sebagai  &lt;em&gt;freelance acoustician&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;building physics engineer,&lt;/em&gt; dan mengajar gitar klasik.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;KlabKlassik Guitar Duo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Merupakan proyek kolaborasi antara gitaris Syarif Maulana dan Luthfi Farabi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Luthfi Farabi&lt;/strong&gt; adalah gitaris dan pengajar di  Sinfonia Music Center, belajar gitar pada gitaris Ridwan B.  Tjiptahardja. Aktif berpartisipasi dalam konser di Bandung dan pernah  menyelenggarakan resital tunggal (A Guitar Recital by Luthfi Farabi,  2010).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Syarif Maulana&lt;/strong&gt; belajar gitar klasik sejak usia 12  tahun pada Kwartato Prawoto dan Ridwan B. Tjiptahardja. Pada tahun 2005  bersama kawan-kawan mendirikan KlabKlassik. Aktif mengikuti berbagai  konser, ujian, maupun kompetisi. Pada tahun 2006, Syarif  menyelenggarakan resital tunggal debutnya pada usia 20 tahun di  Auditorium CCF. Syarif juga menjuarai beberapa kompetisi, seperti juara  III Bandung Spanish Guitar Festival dan juara harapan III Festival Gitar  Nasional Excellent di Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tidak hanya di bidang musik klasik, Syarif juga bermain secara  reguler di hotel maupun kafe seperti Hilton, Sheraton, Papandayan,  Selasar Sunaryo, dan Cafe Rumah 1930. Sekarang Syarif aktif sebagai  pengajar gitar klasik di sekolah musik Allegria; menjadi koordinator  KlabKlassik di Tobucil; aktif mengajar filsafat di Tobucil maupun di  rumahnya, Garasi 10; menulis untuk blog pribadi dan blog Tobucil; serta  menjadi dosen mata kuliah Logika di Universitas Padjajaran. Meski  demikian, cita-cita tertinggi Syarif adalah menjadi pelatih sepakbola  profesional.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Ririungan Gitar Bandung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ririungan Gitar Bandung adalah &lt;em&gt;ensemble&lt;/em&gt; gitar yang terbuka  untuk umum, berlatih dan bersilaturahmi setiap 2 minggu sekali di hari  minggu siang. Anggotanya tidak pernah tetap karena merupakan&lt;em&gt; ensemble&lt;/em&gt;  yang sangat terbuka, memberikan kesempatan berapresiasi dan tampil  bersama bagi siapa pun. Pernah mengadakan konser Ririungan Gitar  Bandung: Maen (2009) serta berpartisipasi dalam beberapa konser di  Bandung. Anggotanya saat ini adalah Yunus Suhendar, Kristianus Tri  Adisusanto, Ato Hardianto, Aldi, Syarif Maulana, dan Bilawa Ade Respati.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Profil Penampil ITB Student Orchestra&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; Ecko F. Manalu&lt;/strong&gt; adalah lulusan teknik informatika ITB, aktif sebagai &lt;em&gt;violinist&lt;/em&gt; ITB Student Orchestra, &lt;em&gt;violinist&lt;/em&gt; dan&lt;em&gt; mellophonist&lt;/em&gt; St. Laurentius Chamber Orchestra, dan pemain &lt;em&gt;french horn&lt;/em&gt; Pavana Woodwind Quintet. Selain itu Ecko  juga aktif di GKI Maulana Yusuf String Ensemble sebagai &lt;em&gt;violinist&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;arranger&lt;/em&gt;, pengajar Padus GKI Gatot Subroto.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Ibrahim Adrian Nugroho&lt;/strong&gt; mulai belajar piano di bawah  bimbingan Bapak Dwi di Braga Musik School Bandung pada saat kelas 5 SD,  kemudian melanjutkan bimbingan piano di bawah asuhan Bapak Stephen  Michael Sulungan. Ibrahim lulus ujian teori musik pada tahun 2006 dan  ujian praktik Associated Board of the Royal Schools of Music (ABRSM)  tingkat 8 pada tahun 2007.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Nabila Khrisna Dewi&lt;/strong&gt; adalah mahasiswa Fisika ITB angkatan 2008. Mulai belajar biola sejak November 2008.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Fida Amalia Fathimah &lt;/strong&gt;adalah mahasiswa Teknik Industri ITB angkatan 2007 dan telah aktif di ITB Student Orchestra sejak tahun 2008.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Ryan Sentosa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ryan Sentosa adalah mahasiswa ITB angkatan 2010 yang belajar bermain  gitar sejak 2006. Ia mengikuti les gitar klasik selama 2 tahun di  Purwacaraka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Aminah Nuraini&lt;/strong&gt; adalah mahasiswa Teknik Informatika ITB 2009 yang belajar memainkan biola sejak 2009 dari I Nyoman Mahendra.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Aulia Fajar Rahmani&lt;/strong&gt; belajar musik tahun 2007-2008  secara privat dan dilanjutkan tahun 2010 lewat ekskul musik SMAN 3  Bandung. Kini ia mahasiswa Teknik Lingkungan ITB angkatan 2010.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Guntario Sukma Cahyani&lt;/strong&gt; mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2009, belum lebih dari setahun belajar piano dibawah bimbingan Lina.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Irvito Adhy Sanjaya&lt;/strong&gt;, mahasiswa Manajemen Rekayasa Industri ITB 2010, mempelajari musik &lt;em&gt;flute&lt;/em&gt; sejak 2007 di bawah bimbingan Hery Udo dan biola di bawah bimbingan Weny Daratama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pandu Narendradewo&lt;/strong&gt; mahasiswa SBM ITB angkatan 2009  yang mulai belajar musik sejak SMP. Ia pernah dibimbing oleh I. Nyoman  Mahendra dan Ammy C. Kurniawan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; Arina Resyta,&lt;/strong&gt; mahasiswa Arsitektur ITB angkatan  2010, belajar piano sejak kelas 6 SD hingga kelas 3 SMP. Mulai belajar  bermain biola di kelas 2 SMP, namun tidak berlangsung lama. Kini Arina  mulai mengikuti les biola di Swara Moriska.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Poppy Rahayu&lt;/strong&gt; belajar musik dari tahun 2002 di sekolah musik Chic’s. Saat ini ia berkuliah di jurusan Seni Lukis FSRD ITB, angkatan 2010.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Meirita Artanti Putri&lt;/strong&gt; adalah mahasiswa Planologi ITB 2007 yang pertama kali bermain biola saat SMA lewat bimbingan Henry Virgan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Teuku Fawzul Akbar&lt;/strong&gt; adalah mahasiswa Teknik Fisika ITB 2009, belajar biola sejak 2008 pada I Nyoman Mahendra.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Todora Nadya T. Silitonga Dora&lt;/strong&gt;, mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2010, belajar musik sejak kelas 1 SD di Pekanbaru.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Tentang KlabKlassik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;KlabKlassik (KK) adalah komunitas dan ruang apresiasi musik klasik  yang berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2005. Dasar  kemunculannya tidak lepas dari stereotip orang kebanyakan yang  menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif, kompleks, berat,  dan serius. Meski stereotip itu terkadang ada benarnya, namun musik  klasik ternyata bisa “terjangkau”, santai, sederhana, dan membumi juga,  jika berhasil memilah mana yang menjadi inti, dan mana kemasannya.  Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, KlabKlassik  mencobanya lewat berbagai acara diskusi santai, konser musik klasik yang  jauh dari kesan eksklusif, serta keterbukaan tukar pikiran via milis  maupun blog.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada awal didirikannya, KlabKlassik hanya diniatkan sebagai kelompok  musik insidental yang tampil pada acara JazzAid: Jazz untuk Korban  Tsunami pada Februari 2005. Kala itu yang tampil adalah empat gitar yang  terdiri dari Royke Ng, Christian Reza Erlangga, Ahmad Indra dan Syarif  Maulana. Setelah penampilan tersebut, timbul dorongan dari Dwi Cahya  Yuniman, koordinator KlabJazz (komunitas musik jazz), untuk membangun  sebuah komunitas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dorongan tersebut akhirnya dicoba direalisasikan setelah mendapat  kesempatan berkumpul sebulan sekali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama  no. 8. Akumulasi dari kumpul-kumpul tersebut salah satunya berhasil  mencetuskan ide untuk membuat sebuah pagelaran musik klasik bernama  Classicares. Penyelenggaraan Classicares yang diadakan pada 9 Desember  2005 di Gedung Asia Afrika Cultural Center (sekarang Majestic), dianggap  sebagai titik tolak kelahiran KlabKlassik sebagai komunitas yang  mandiri. Sejak saat itu, penyelenggaraan konser secara berkala menjadi  agenda rutin KlabKlassik disamping acara kumpul-kumpul yang terus  berjalan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak pertengahan tahun 2007, KlabKlassik resmi berkomunitas di  Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Kepindahan tersebut juga menandai munculnya  beberapa agenda baru KlabKlassik, yang lahir dari proses evaluasi dan  otokritik tiada henti. Agenda baru tersebut menggiring KlabKlassik untuk  tidak melulu berkutat di ranah komunitas, melainkan juga ruang  apresiasi, yang mana mendorong KlabKlassik untuk semakin membuka diri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Tentang ITB Student Orchestra&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;ITB Student Orchestra (ISO) didirikan pada tanggal 2 Maret 2005 dan  diresmikan sebagai sebuah unit kegiatan mahasiswa pada tanggal 8 Agustus  2005. ISO didirikan oleh mahasiswa secara swadaya dan mandiri sebagai  sebuah orkestra mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang tidak memiliki  jurusan seni musik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;ISO terus berkembang dari tahun ke tahun. Dari hanya sebuah kelompok  seksi gesek berkekuatan 6 orang, menjadi sebuah orkestra yang mampu  menawarkan pilihan keragaman bentuk orkestra. Kini ISO bermain dalam  format string quartet yang terdiri dari 4 orang hingga chamber orchestra  dengan 40 pemain. &lt;em&gt;Repertoire&lt;/em&gt; ISO pun semakin berkembang, mulai dari lagu klasik hingga pop, rock dan etnik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam mengelola organisasi serta mengeksplorasi musiknya ISO bermitra  dengan berbagai macam pihak, seperti Republic of Entertainment selaku  event organizer, Addie M.S. sebagai musikus profesional, Orkes Simfoni  Universitas Indonesia, Orkes Simfoni Bumi Siliwangi, Bandung String  Ensemble, KlabKlassik, dan lain-lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1185560849573605242?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1185560849573605242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1185560849573605242' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1185560849573605242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1185560849573605242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/rukustik-3-klabklassik-feat-itb-student.html' title='Rukustik #3: KlabKlassik feat. ITB Student Orchestra (Konser dan Diskusi)'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZI8gkbYu27I/TiRXUGkwzEI/AAAAAAAAAXQ/SrTubLpUxGw/s72-c/rukustik3_still.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6072832013672991330</id><published>2011-07-17T21:43:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T21:58:39.304-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>Persembahan dari AAS: Let's Play Violin 2!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ammy Alternative Strings (AAS)  bukanlah nama baru di antara kegiatan Tobucil. Tercatat sudah dua kali  AAS tampil di beranda. Pertama ketika gelaran Musik Sore Tobucil, yang  kedua adalah baru-baru kemarin ini, Crafty Days #5. Kang Ammy Kurniawan  sebagai penggagas AAS itu sendiri, pernah mengadakan &lt;/i&gt;workshop&lt;i&gt; bermain biola di Tobucil.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://farm3.static.flickr.com/2717/5729099911_7c1a6dec64.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://farm3.static.flickr.com/2717/5729099911_7c1a6dec64.jpg" border="0" height="214" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt; Penampilan AAS di Tobucil kala Crafty Days #5&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Minggu, 17 Juli kemarin, AAS mengadakan &lt;i&gt;home concert&lt;/i&gt;-nya yang kedua. Setelah sukses digelar tanggal 23 Desember tahun 2009 dengan tajuk &lt;i&gt;Let's Play Violin&lt;/i&gt;, AAS mengadakan edisi sekuelnya dengan judul&lt;i&gt; Let's Play Violin 2&lt;/i&gt;.  Berbeda dengan jilid satu yang diselenggarakan di Auditorium CCF, AAS  kali ini bermain di Bumi Sangkuriang. Seperti biasa, AAS tampil dengan  format anak-anak didik Kang Ammy yang seluruhnya bermain biola, diiringi  oleh band, termasuk oleh Kang Ammy sendiri yang juga fasih dengan  gitar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konser ini dibuka dengan  penampilan solo Ilham Akbar yang membawakan lagu Indonesia Raya.  Penonton berdiri dan ikut menyanyi, sehingga suasana menjadi cukup  khusyuk. Tema &lt;i&gt;Let's Play Violin 2&lt;/i&gt; ini adalah memasyarakatkan  lagu-lagu daerah. Kata Kang Ammy, "Harusnya sebelum orang mencari ke  luar, gali dulu apa yang ada di negeri sendiri." Lagu-lagu daerah itu  sendiri dibawakan dalam format &lt;i&gt;medley&lt;/i&gt;. Misalnya, ada &lt;i&gt;Java Medley&lt;/i&gt;, isinya mencakup lagu tradisional Jawa seperti &lt;i&gt;Cingcangkeling&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Tanduk Majeng&lt;/i&gt;. Demikian ada juga &lt;i&gt;Sulawesi Medley, Kalimantan Medley, &lt;/i&gt;meskipun ada juga lagu yang tampil "sendiri" seperti &lt;i&gt;Janger&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Yamko Rambe Yamko. &lt;/i&gt;Seperti biasa, kang Ammy juga selalu menyelipkan lagu ciptaan sendiri seperti &lt;i&gt;Kupu-Kupu Kecil, Duo Etude&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Rose for You&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kang Ammy sukses mengemas  pertunjukkan AAS ini menjadi atraktif. Yang digali tidak cuma harmoni  dan kekompakan musikal, tapi juga penampilan visual. Meskipun relatif  sederhana, namun terlihat jelas bahwa Kang Ammy mengorganisasi beberapa  koreografi. Ini menjadi nilai plus ketika instrumen biola secara  stereotip sering dikaitkan sebagai alat musik yang dimainkan dengan  duduk dan membaca partitur. Kang Ammy secara berani mengacaukan imej  tentang instrumen biola dengan membawanya berlari, menari, dan  melenggak-lenggok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-G54lzXasdfs/TiO3thc0OII/AAAAAAAAFpE/uaVKiAFwYsw/s1600/279573_2207401832435_1469123272_32509637_7044310_o.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-G54lzXasdfs/TiO3thc0OII/AAAAAAAAFpE/uaVKiAFwYsw/s320/279573_2207401832435_1469123272_32509637_7044310_o.jpg" border="0" height="320" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt; Duet Kang Ammy dan Bimo di &lt;i&gt;Let's Play Violin 2.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span jsid="text"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kang Ammy Kurniawan adalah  musisi yang cukup aktif tidak hanya di blantika musik Bandung tapi juga  nasional. Ia sering mengisi rekaman dan menjadi &lt;i&gt;additional player&lt;/i&gt;  untuk band seperti Nidji, Mocca, Ari Lasso, dan Hijau Daun. Ammy juga  pernah menjadi bagian dari Violin All-Star yang tampil di RCTI bersama  Henri Lamiri, Didit, dan Oni. Bandnya, 4 Peniti, cukup aktif dan  dikenal. Sudah mengeluarkan satu album dan reguler tampil di Jakarta  International Java Jazz Festival. Meski demikian, dari seluruh aktivitas  musiknya, ia mempunyai tendensi untuk melabuhkan hatinya di bidang  pengajaran dan komposisi. Terbukti dari kegiatan mengajarnya di Jalan  Progo nomor 15 yang semakin berkembang serta produktivitasnya yang  tinggi dalam menulis karya baru.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6072832013672991330?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6072832013672991330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6072832013672991330' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6072832013672991330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6072832013672991330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/persembahan-dari-aas-lets-play-violin-2.html' title='Persembahan dari AAS: Let&apos;s Play Violin 2!'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm3.static.flickr.com/2717/5729099911_7c1a6dec64_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-2425328664160676026</id><published>2011-07-16T00:05:00.000-07:00</published><updated>2011-07-16T00:06:53.954-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Upaya Pengarsipan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salam Barok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu kami mengadakan bincang-bincang singkat dan menghasilkan satu ide yang memerlukan kerjasama kita semua. KlabKlassik -komunitas non-profit pecinta musik klasik sejak tahun 2005-, bermaksud mengumpulkan data dari para komposer dan instrumentalis di Bandung (baca: vokalis termasuk instrumentalis). Hal tersebut bertujuan untuk hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memudahkan penyebaran informasi konser, workshop, atau acara-acara lainnya.&lt;br /&gt;2. Memudahkan pencarian komposer, musisi, atau guru musik untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu.&lt;br /&gt;3. Menunjukkan semangat kebersamaan dan silaturahmi yang erat dari penggiat musik di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengarsipan ini akan diperbaharui per caturwulan atau setahun tiga kali. Misalnya: arsip yang dikumpulkan sekarang adalah untuk informasi bulan September - Desember 2011. Nanti akan ada pengarsipan baru untuk bulan Januari - April 2011. Siapapun yang memerlukan arsip ini, bisa menghubungi kami dan akan dikirim via email dalam format PDF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa semua hal yang berkaitan dengan kegiatan ini adalah gratis. Kami tidak memungut biaya bagi pengarsipan, kami juga tidak memungut biaya dalam pengiriman e-mail. Kegiatan ini murni berdasarkan alasan-alasan yang non-komersil. Hal yang berkaitan dengan kekurangan-kekurangan mohon segera disampaikan. Kami akan menampung secara terbuka karena kegiatan ini juga terbilang baru dan akan dipenuhi rintangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposer atau instrumentalis yang masuk ke dalam pengarsipan ini dibatasi sementara untuk yang berdomisili di Bandung. Silakan e-mail data diri dan foto ke syarafmaulini@gmail.com atau bilawarespati@ymail.com. Data diri meliputi poin-poin berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nama lengkap :&lt;br /&gt;2. Nama panggilan :&lt;br /&gt;3. Alat musik yang dikuasai :&lt;br /&gt;4. Tempat tanggal lahir :&lt;br /&gt;5. Nomor telepon :&lt;br /&gt;6. E - mail / Facebook / Twitter :&lt;br /&gt;7. Alamat rumah :&lt;br /&gt;8. Prestasi (konser / ujian / rekaman / bergabung dengan orkes / dsb):&lt;br /&gt;9. Karya yang pernah dibawakan / ditulis :&lt;br /&gt;10. Aktivitas musik (misal: wedding entertainment, mengajar di sekolah musik, pemilik studio band, jual beli alat musik, dll)&lt;br /&gt;11. Aktivitas non-musik (misal: dosen, penulis, pelatih sepakbola, dll):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan kirimkan data dirinya untuk membantu kami dalam pengarsipan komposer dan instrumentalis di Bandung. Kegiatan ini dikelola oleh Syarif Maulana, Bilawa A. Respati, Diecky K. Indrapraja dan Brigitta Arum Setyorini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kata, atas kerjasamanya kami ucapkan: Bach Memberkati.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-2425328664160676026?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/2425328664160676026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=2425328664160676026' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2425328664160676026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2425328664160676026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/upaya-pengarsipan.html' title='Upaya Pengarsipan'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1306782321809928021</id><published>2011-07-15T19:18:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T20:53:24.855-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Celoteh'/><title type='text'>KlabKlassik: Meneropong Musik Klasik dari Beranda Toko Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-D-wgJv-D8qI/TiELJIwbh-I/AAAAAAAAAXA/-sA4J3fvx-g/s1600/gairah%2Bensembel%2Bklabklassik.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-D-wgJv-D8qI/TiELJIwbh-I/AAAAAAAAAXA/-sA4J3fvx-g/s320/gairah%2Bensembel%2Bklabklassik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629793260787173346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:donotoptimizeforbrowser/&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:donotoptimizeforbrowser/&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Petikan gitar akustik melayang di udara; terbang ke jalan raya. Suaranya berderap, bersahutan, tetapi tertib seperti barisan semut yang mengangkut remah makanan. Gesekan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;cello&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt; lalu mengiringi. Seorang pendengar menajamkan telinganya. Suara ini berbeda dengan yang biasa ditemukannya di radio atau televisi. Ia menghampiri sumbernya. Langkahnya berakhir di beranda sebuah toko buku kecil. Para musisi masih sibuk memainkan instrumennya, tetapi pesan mereka sudah jelas: “Halo! Selamat datang di KlabKlassik!”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Berbagi beranda dengan sekelompok orang yang tekun merajut, Minggu sore (12/12) para penggiat &lt;/span&gt;&lt;a href="http://klabklassik.blogspot.com/"&gt;&lt;span class="InternetLink"&gt;&lt;span style="URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;KlabKlassik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt; sedang berlatih dalam bentuk ensambel. Empat gitaris dan seorang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;cellist&lt;/i&gt; duduk mengelilingi meja kayu tempat partitur diletakkan. Sementara yang lain menyimak, jemari musisi-musisi ini lincah berpindah membunyikan instrumen musiknya. Pandangan mereka lekat pada not-not balok. Saat lagu selesai, masing-masing langsung mengomentari permainannya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;“Mas Yunus, senarnya ada yang mati ya?” tanya Diecky, pengaransemen lagu. “Padahal di bass-nya ada bagian yang enak. Sebaiknya sebelum main nanti diganti atau pinjam gitar teman.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Saya ketinggalan di bagian D,” kata Trisna, gitaris ketiga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Tantangan memainkan lagu dansa adalah bagaimana membuat pendengarnya berdansa,” ujar Syarif, koordinator klab. “Sebetulnya di setiap bagian ada nada yang menonjol. Kalau kita terpeleset, paling nggak nada itu mesti keluar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Ulang?” pinta Trisna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Ga, Pat,” gitaris pertama, Kris, memberi aba-aba. Dan lagu pun kembali dimulai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Kris dkk. membawakan “La Cumparsita” (“Parade Kecil”), salah satu lagu berirama tango paling populer sedunia. Lagu gubahan komponis Uruguay, G.H. Matos Rodriguez (1897-1948), ini menjadi musik latar dalam lebih dari dua puluh lima film, antara lain &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Some Like It Hot&lt;/i&gt;-nya Marilyn Monroe (1959), serta &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Harry Potter and the Prisoner of Azkaban &lt;/i&gt;(2004). Saking cintanya kepada “La Cumparsita”, Uruguay mengajukan protes resmi ketika Argentina menggunakannya sebagai pengiring kontingen mereka pada pembukaan Olimpiade Sidney.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Beberapa hari lagi, KlabKlassik akan tampil dalam sebuah pertunjukan musik klasik di Universitas Padjadjaran. “La Cumparsita” termasuk repertoar yang hendak dimainkan. “Padahal kuartet gitarnya baru dibentuk Jumat kemarin,” ungkap Trisna sembari tertawa. Untungnya KlabKlassik Guitar Quartet terdiri dari wajah-wajah yang sering meramaikan pertemuan mingguan KlabKlassik. Selain Kris dan Trisna, ada juga Yunus sebagai gitaris kedua, serta Aldi yang memetik gitar pengganti &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;flute&lt;/i&gt;. Keempatnya sudah saling mengenal sehingga latihan pun terasa akrab. Kebetulan sore itu hadir pula seorang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;cellist&lt;/i&gt; bernama Ferry Matias. Ferry lantas ditodong ikut menggesek &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;cello&lt;/i&gt;-nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Nah, sekarang sudah lumayan enak,” tukas Syarif, setelah berkali-kali percobaan. “Kamis besok kita latihan lagi di rumah saya. Sekarang kita bicara dulu tentang teknis pementasan. Saya dan Diecky punya ide bikin buklet informasi buat dibagikan ke penonton. Sebetulnya panitianya nggak minta, tapi kita inisiatif saja. Menurut kalian isinya apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;KlabKlassik adalah komunitas pencinta musik klasik di Bandung. Berdiri sejak 9 Desember 2005, komunitas ini berkembang sebagai ruang apresiasi dan edukasi alternatif di luar sekolah-sekolah musik yang cenderung formal dan kompetitif. KlabKlassik tak mengenal sistem keanggotaan. Siapapun boleh bergabung dengan cuma-cuma. Para penggiatnya biasa bertemu setiap Minggu jam satu siang di Tobucil, toko buku berbasis komunitas di Jl. Aceh No. 56. Pertemuan ini biasanya dimanfaatkan untuk berlatih dan berdiskusi dalam suasana kekeluargaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Sampai sekarang kami sendiri masih sering bingung, ‘Musik klasik itu apa, sih?’,” tutur Syarif, mahasiswa pascasarjana yang belajar gitar klasik sejak sepuluh tahun silam. “Waktu pertanyaan ini dilempar ke teman-teman, jawabannya macam-macam. Ada yang menjawab musik seni, musik yang ‘dipetik’, musik sastra, musik serius ... padahal kalau Peterpan didengarkan serius, jadinya juga musik serius, kan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Sebutan ‘Musik Klasik’ (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Classical Music&lt;/i&gt;) mengemuka pada abad ke-19 di Eropa. Awalnya kata klasik dipakai untuk merujuk masa keemasan periode Barok. Pada masa itu sederet musisi besar, seperti Haydn, Mozart, Beethoven, dan Schubert, menghasilkan karya-karya terbaiknya yang tak lekang dimakan waktu (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;classic&lt;/i&gt;). Maka ‘Musik Klasik’ digunakan sebagai sebutan bagi semua &lt;/span&gt;&lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2004/04/05/LYR/mbm.20040405.LYR90414.id.html"&gt;&lt;span class="InternetLink"&gt;&lt;span style="URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;musik serius&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt; yang berkembang di Eropa pada periode Klasik, 1750-1830. Sebutan itu kemudian mengalami perluasan makna. Sekarang musik klasik tak hanya digunakan untuk menyebut musik yang dihasilkan pada periode Klasik, tetapi semua musik serius yang berkembang dari abad ke-11 sampai saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Di Indonesia kata klasik berkonotasi tua,” timbrung Diecky, musikolog lulusan Sekolah Tinggi Musik Bandung. “Kita sering mendengar sebutan ‘radio klasik’, ‘kamera klasik’, atau ‘mobil klasik’.” Seringkali orang keliru menyebut musik-musik dari dekade sebelumnya – misalnya lagu Utha Likumahuwa dari dekade ’80-an – sebagai musik klasik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Konon, musik klasik pertama kali masuk ke ‘Indonesia’ ketika Inggris menguasai Jawa, 1811-1816 (&lt;/span&gt;&lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2004/04/05/LYR/mbm.20040405.LYR90412.id.html"&gt;&lt;span class="InternetLink"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="InternetLink"&gt;&lt;span style="URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;, 5 April 2004&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;). Batavia pada pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles memiliki slogan ‘Beauty, Music and Wine’. Musik klasik lantas menjadi bagian acara makan malam di rumah-rumah kalangan menengah ke atas. Alhasil banyak orang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif. Hanya kalangan tertentu yang dapat menikmatinya. Mahalnya instrumen musik klasik dan besarnya biaya untuk mempelajarinya semakin mengukuhkan anggapan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Uniknya kesan eksklusif itu justru menjadi semacam daya tarik musik klasik. Seperti remaja yang berlatih band di garasinya karena terpikat klise &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;rock and roll&lt;/i&gt;, sejumlah orang mendengarkan dan mempelajari musik klasik demi menunjukkan eksistensinya di kelas sosial tertentu. “Banyak orang yang belajar musik klasik sebagai gaya hidup,” jelas Syarif. “Padahal di era Mozart, musik klasik justru merupakan musik rakyat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Berdirinya KlabKlassik erat terkait situasi tersebut. Para penggiat klab menyadari meskipun kesan eksklusif itu ada benarnya, musik klasik menawarkan lebih dari sekadar pencitraan semu. “Saya mendapat banyak dari musik klasik: disiplin, kegigihan, bertemu orang-orang baru, kesenangan bermain dan tampil di depan penonton,” Syarif mengakui. Bersama teman-temannya, ia yakin musik klasik juga bisa sederhana, santai dan membumi, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;asalkan &lt;/i&gt;para musisi dan penikmatnya mampu memilah inti musik klasik dari kemasannya. Seluruh kegiatan KlabKlassik merupakan upaya sedikit demi sedikit meruntuhkan citra eksklusif yang telanjur melekat pada genre ini. Moto mereka: “Bach memberkati.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Jumat malam (17/12), jelang duet gitarnya dengan Kris, Yunus memperkenalkan lagu kepada para hadirin, “Lagu kedua masih dari Franz Schubert. Judulnya “Serenade”, berasal dari kata &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sereno&lt;/i&gt; yang artinya teduh atau tenang.” Laki-laki jangkung ini berhenti sejenak. “Mudah-mudahan kami juga te&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;nang&lt;/i&gt; selagi memainkannya.” Hadirin tertawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Yunus dan Kris memainkan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;serenade&lt;/i&gt;, suatu bentuk komposisi yang sudah ada pada periode &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Medieval&lt;/i&gt;, 500-1400. Awalnya komposisi ini dimainkan untuk menyapa kekasih, teman, maupun orang yang dihormati. Di pekarangan rumah kekasihnya, seorang pria akan menyanyikan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;serenade&lt;/i&gt; diiringi alat musik yang dimainkannya sendiri – biasanya gitar atau instrumen petik lainnya. Sementara itu, wanitanya menyaksikan dari jendela kamar. Kedengarannya romantis memang, tetapi tergantung &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;serenade&lt;/i&gt;-nya juga. “Serenade” Franz Schubert, Opus 90 No. 11, penuh nada-nada minor dan repetisi yang mengharukan. Daripada merayu, lagu ini lebih cocok mengantar perpisahan sepasang kekasih. Bila seseorang ingin terus diingat, tetapi tahu diri untuk tak memintanya langsung, barangkali memainkan “Serenade” Schubert dapat menjadi pilihannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Secara akustik, sebetulnya ruang audiovisual Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran kurang tepat untuk pertunjukan musik apapun. Suara instrumen hanya dikeraskan dengan deretan mikrofon. Panggung disorot lampu TL bercahaya biru. Hadirin menempati kursi-kursi kayu sempit yang dirancang supaya diduduki dengan tegak. Kendati demikian, tak seorangpun mengeluh. Hadirin yang didominasi anak-anak muda bertepuk tangan riuh setiap kali Kris, Yunus, dan musisi-musisi lainnya selesai membawakan lagu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Sebelum konser, para penggiat KlabKlassik membagikan buklet informasi kepada hadirin. Buklet yang dicetak empat puluh lima lembar itu habis dalam sekejap. Di dalamnya tercantum profil KlabKlassik, esei komponis Gatot D. Sulistiyanto, intisari diskusi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;world music &lt;/i&gt;di Tobucil, serta deskripsi program-program KlabKlassik. Setelah hadirin pulang, saat nada-nada yang didengarkan tadi menguap, paling tidak ada sesuatu yang bisa dibolak-balik. Jika penasaran mereka tahu harus mencari ke mana. “Ada usulan memasukkan sejarah gitar,” kata Syarif. “Tapi menurut Diecky, sebaiknya isinya bukan sesuatu yang bisa dibaca di Wikipedia. Kita nggak bisa terus-terusan menengok ke belakang, tapi juga harus melihat perkembangan saat ini.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Konser malam itu sedikit lain dengan konser musik klasik pada umumnya. Biasanya, musisi tak berinteraksi dengan penonton kecuali melalui musiknya. Begitu naik ke panggung, ia segera membungkuk untuk memberi hormat. Tanpa basa-basi, sang musisi langsung memainkan instrumennya. Setelah tepuk tangan penonton mereda, ia turun panggung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Musik klasik sangat mementingkan kemurnian bunyi,” komentar Tikno, guru musik SMA Plus Al-Muthahhari yang rajin menyambangi pertemuan KlabKlassik. “Bunyi apapun di luar bunyi instrumen musik dianggap mengganggu kenikmatan mendengarkan musik.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Namun, pertunjukan tanpa kata semacam itu memunculkan ketegangan bagi siapapun yang belum terbiasa. “Apalagi di Indonesia, kita nggak memiliki budaya menonton pertunjukan sambil diam,” Tikno berpendapat. “Di pementasan wayang saja, celetukan-celetukan penonton bisa menjadi bagian dari lakon dalangnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Sejak 2005, KlabKlassik terlibat dalam penyelenggaraan lebih dari dua puluh konser musik klasik, baik sebagai panitia utama maupun sebagai penanggung jawab logistik. Selain secara berkala menampilkan diri sendiri, mereka juga menyelenggarakan konser-konser musisi profesional, antara lain: Resital Andrew Sudjana dan Fauzie Wiriadisastra, The Sound of Flute: Andika Candra dan Yuty Lauda, Resital Trompet dan Piano: Eric Awuy dan Iswargia R. Sudarno, dll. Dalam konser yang diselenggarakan KlabKlassik umumnya para musisi tampil lebih komunikatif. Mereka bebas menyapa penonton, memperkenalkan lagu yang dimainkan, dan seperti yang dilakukan Yunus, bercanda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Pada dasarnya penonton mendengarkan musik klasik dalam keadaan tegang,” Syarif berteori. “Sebetulnya jauh di lubuk hatinya, mereka ingin tertawa.” Ini membuat lelucon yang paling garing sekalipun akan mengundang gelak tawa. “Waktu awal-awal mengadakan konser, saya bilang ‘Assalamualaikum’ saja mereka tertawa. Dikiranya itu bercanda. Padahal saya kan mendoakan mereka,” katanya serius. Menurut Syarif, semakin penonton rileks, semakin mudah mereka berkonsentrasi menyimak lagu-lagu yang dimainkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Hal lain yang identik dengan menonton konser musik klasik adalah keharusan mengenakan setelan jas. “Kalau di Eropa, mungkin memakai jas itu wajar karena udara di sana dingin,” ujar Syarif, menduga-duga. “Kadang-kadang ada teman yang SMS, ‘Kak, nonton musik klasik enaknya pakai baju apa?’ Sebetulnya menurut saya baju apapun boleh-boleh saja, asalkan kita nggak malu dan nyaman menikmati musiknya. Lagipula pakaian nggak memengaruhi permainan musisinya, kan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Meskipun begitu, ada juga aturan-aturan yang tetap dipegang KlabKlassik. Konser selalu dimulai tepat waktu. Penonton diminta untuk menonaktifkan ponselnya, tidak keluar masuk ruangan, tidak berbicara dan bertepuk tangan ketika lagu masih dimainkan, tidak memotret dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;blitz&lt;/i&gt;, tidak merokok, serta tidak melakukan tindakan lain yang sekiranya mengganggu kenyamanan musisi dan penonton lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Selain itu kami selalu memainkan lagu-lagu klasik sesuai dengan komposisi aslinya,” Syarif menambahkan. “Sebetulnya sah-sah saja membuat musik klasik lebih seru dengan menambah &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;beat&lt;/i&gt;-&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;beat&lt;/i&gt;, seperti Maxim. Atau cuma memainkan bagian yang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;catchy&lt;/i&gt;-nya saja.” Gitaris ini memainkan potongan “Canon in D” gubahan Johann Pachelbel (1653-1706). “Tapi saya yakin musik klasik yang kompleks sekalipun akan jadi ringan kalau pendengar memahami konteksnya: siapa komposernya, dari periode kapan, dan apa yang menginspirasinya. Pengetahuan itu meringankan. Sambil menyimak, pendengar bisa membayangkan cerita yang disampaikan sebuah lagu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Penulis India-Inggris, Vikram Seth, bercerita tentang para musisi klasik dalam novelnya, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;An Equal Music&lt;/i&gt; (1999). Keseharian kuartet gesek The Maggiore: sesi latihan, pemahaman lagu, tur, rekaman, sampai perburuan instrumen, menjadi menu utama novel ini. Tokoh utamanya adalah Michael Holme, pemain biola kedua The Maggiore yang mencintai seorang pianis yang kehilangan pendengarannya. Seth berupaya menyampaikan bagaimana dinamika kehidupan musisi, tanpa bisa dicegah, memengaruhi permainan musiknya; bahwa musik klasik – yang mengukung musisi dalam berbagai aturan kaku itu – bagaimanapun merupakan bagian kehidupan yang direkonstruksi komponis dan musisi&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;nya&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa sebutan musik klasik mengacu ke sebuah genre tertentu. Sebagaimana genre lainnya, musik klasik memiliki kaidah-kaidahnya sendiri. Musik yang dibuat di Indonesia pada periode Klasik, 1750-1830, tak serta merta dapat dikatakan sebagai musik klasik Indonesia. “Jangan-jangan nanti senimannya malah protes,” komentar Diecky. “Seniman karawitan saja masih belum menerima istilah musik. Bagi mereka, apa yang mereka lakukan itu karawitan, bukan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;musik &lt;/i&gt;karawitan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Ferry si pemain &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;cello&lt;/i&gt; lantas bertanya, “Kita kan tinggal di Indonesia, kenapa kita perlu belajar dan mendengarkan musik klasik Eropa?” Para penggiat KlabKlassik pun tertawa. “Nah, itu bagaimana, Kang Tikno?” Syarif melempar pertanyaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;“Karena pengarsipan musik klasik Eropa lengkap. Standarnya jelas, semua memakai tangga nada yang sama,” sahut Tikno. “Kalau dari pengalaman saya belajar degung, untuk mempelajari musik tradisional kita harus menyediakan alat musiknya dan mendatangi gurunya langsung. Guru ini akan mengajari kita secara lisan. Waktu pulang ke rumah, kita akan kesulitan mengulangi apa yang tadi diajarkan gurunya. Lain dengan musik klasik, semua sudah tercatat, kita bisa mengulangi pelajaran melalui buku, rekaman audio.” Ia menambahkan, “Ketika kita paham dan menghargai budaya bangsa lain, barangkali ketika itu juga kita mulai menghargai budaya sendiri. Kalau sudah begitu, tugas kita adalah mulai mengarsipkan musik tradisional seperti musik klasik.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Sebelumnya, Syarif mengakui dirinya mendapatkan banyak dari menggeluti musik klasik. Namun, kegairahannya mempromosikan genre ini bersama KlabKlassik juga disebabkan alasan sederhana: “Saya sudah lama belajar gitar klasik. Dulu apresiasinya minim sekali. Setiap saya mengadakan resital, penontonnya sedikit, akhirnya malah nombok,” ungkap gitaris berambut jabrik ini. “Sekarang apresiasinya semakin bagus. Konsernya semakin banyak, meskipun kadang penuh dan kadang sepi. Di Indonesia juga ada majalah musik klasik, tapi sayang juga jika yang diangkat lagi-lagi citra eksklusif musik klasik. Misalnya, kalau yang diresensi cuma konser-konser besar. Sebetulnya wajar kalau musik klasik kurang populer di Indonesia, karena ini memang bukan budaya kita.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/21/MS/mbm.20080721.MS127727.id.html"&gt;&lt;span class="InternetLink"&gt;&lt;span style="URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Dalam wawancara dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="InternetLink"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;, pianis kebanggaan Indonesia, Ananda Sukarlan, pernah menilai, “Musik pop sebetulnya juga dari Barat, tapi itu gampang dicerna. Orang sudah mau mencerna musik ini. Kalau musik klasik mesti didengarkan berkali-kali supaya kita bisa masuk ke intinya. Materinya banyak. Sama seperti seni lukis, perlu warna yang banyak untuk mencapai kekayaan yang cuma bisa dicapai dengan warna sedemikian banyak.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Akhirnya Syarif menyampaikan, “Sekarang harapan saya musik klasik diapresiasi dengan wajar. Nggak lagi sebagai musik bercitra eksklusif, tapi cukup sebagai satu dari sekian jenis musik yang ada.” Maksudnya, orang mendengarkan Bach sebagaimanamestinya orang menggemari Belle and Sebastian: kebetulan suka dan ingin tahu lebih banyak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:center;mso-line-height-alt: 5.0pt" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:right;mso-line-height-alt: 5.0pt" align="right"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Bandung, 2 Januari 2011&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:right;mso-line-height-alt: 5.0pt" align="right"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Kepada Yang Terhormat Dewan Juri The 1st JakartaBeat Music Writing Contest:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:right;mso-line-height-alt: 5.0pt" align="right"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Di beranda Tobucil saat ini Syarif, Kris, Yunus, dan Ato, seorang dosen, sedang berlatih “Canarios”. Lagu Gaspar Sanz ini bernada mayor, cocok untuk menyambut kepulangan prajurit dari medan perang. Mulanya jari-jari keempat gitaris ini sering berhenti. Kadang salah nada, kadang telat memetik. “Canarios” diulangi lagi dan lagi. Lambat laun petikan para musisi ini semakin tegas. Saat itu, entah bagaimana, kegembiraan yang meliputi wajah mereka merambat juga ke saya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Ketika pertama kali duduk bersama mereka, saya bertanya dalam hati, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Musik klasik, bagaimana mengapresiasinya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:.5in;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Musik klasik menuntut para pemainnya membawakan komposisi sebaik mungkin. Apabila kurang latihan, hasilnya bisa seperti parodi di film-film kartun. Segelintir orang berkesempatan mempelajari dan memainkan musik klasik. Bisa dimengerti jika mereka paham dan mengapresiasi genre ini. Akan tetapi, bagaimana dengan kebanyakan orang yang tak punya akses terhadap pendidikan musik klasik? Apakah kita tetap dapat menghargainya?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Menyaksikan latihan KlabKlassik, saya menyadari, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=" URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;Memang perlu sekolah setinggi apa untuk mengapresiasi musik klasik? Untuk mengapresiasi seni?&lt;i style=""&gt; Seni apapun merupakan bagian kehidupan yang diceritakan kembali. Ia tak selalu dekat, tetapi penikmatnya bisa bertanya. Musik klasik sebetulnya tak terlalu asing dari telinga kita. Potongan-potongannya muncul di iklan, dering ponsel, hingga adegan film kesukaan kita. Untuk mengapresiasi musik klasik, barangkali yang terpenting adalah keterbukaan.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=" URW Bookman L&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10.5pt;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;Andika Budiman  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt:5.0pt"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1306782321809928021?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1306782321809928021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1306782321809928021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1306782321809928021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1306782321809928021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/mengenal-musik-klasik-bersama.html' title='KlabKlassik: Meneropong Musik Klasik dari Beranda Toko Buku'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-D-wgJv-D8qI/TiELJIwbh-I/AAAAAAAAAXA/-sA4J3fvx-g/s72-c/gairah%2Bensembel%2Bklabklassik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7505527496244857784</id><published>2011-07-15T18:10:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T18:14:34.779-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist #7: Bernostalgia bersama Kaset</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 26 Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu KlabKlassik Edisi Playlist berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Jika sebelumnya menggunakan format mp3, sekarang semuanya wajib membawa kaset. Tape pemutar disediakan dari Tobucil dan menarik melihat masing-masing membawa kaset yang bisa dibilang hampir menjadi pemandangan langka. Bersama analisator Ismail Reza, inilah dia lagu-lagu yang dibawakan hari itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Palti Raja (judul lagu) - Vicky Sianipar (artis)&lt;br /&gt;Lagu yang dibawa oleh Pirhot Nababan alias Iyok ini adalah karya instrumental bertempo cepat dan riang. Palti Raja ternyata adalah generasi ke-6 terhitung dari Raja Batak yang biasanya merupakan pendeta untuk dimintai hujan oleh warga. Vicky Sianipar yang berlatar belakang Batak tulen mengangkat lagu ini dengan instrumen violin, flute, sarune, gondang, gitar, dan drum yang keseluruhannya terdengar ramai ketika berharmoni. Vicky Sianipar, kata Iyok, awalnya dianggap kontroversial karena mengaransemen ulang lagu tradisional Batak menjadi terlampau dinamis. Namun akhirnya lambat laun Vicky diterima karena faktanya terbukti banyak anak muda Batak yang menjadi tahu tentang musik Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. 9 Januari - Dewa Budjana&lt;br /&gt;Lagu ini lagi-lagi masih instrumental. Karya tahun 1997 yang dibawa oleh Kang Tikno ini katanya pada jamannya sedang hangat-hangat mengangkat musik tradisi. Ini termasuk album gitaris solo yang mula-mula muncul di Indonesia. Dewa Budjana pada masa itu termasuk berani menembus pasar dimana solois instrumental plus etnik belum begitu popular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ikhlas tapi Jauh - Ikhlas&lt;br /&gt;Nama band ini agak nyentrik, tapi kemudian dapat dipahami jika tahu asalnya dari Malaysia. Band dari Sheila Majid and friends di tahun 1991 ini dibawa oleh Mba Tarlen. Kata Mba Tarlen, "Ini adalah band ketika hubungan Malaysia - Indonesia masih harmonis." Patut diketahui bahwa di dalam band Ikhlas tersebut ada Erwin Gutawa, seorang konduktor dan arranger jenius milik tanah air. Ia mengisi album sebagai pembetot bas. Lagu tersebut cukup panjang hingga hampir tujuh menit dan meskipun slow, tapi ada beberapa gerakan progresif di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. You're Still The Young Man - The Rollies&lt;br /&gt;Kaset yang dibawa oleh Mas Reza ini adalah rekaman live tanggal 2 dan 3 Juli tahun 1976 di Taman Ismail Marzuki. Meski live, teknik perekamannya sudah cukup baik dan instrumen keseluruhannya terdengar jelas. Lagu You're Still The Young Man ini sendiri dibuka dengan penampilan drum solo, yang lalu dilanjut dengan tiupan terompet dari Bangun Sugito alias Gito Rollies. Asyik, dan pada masanya, kata Mas Reza, The Rollies wajib ditonton kawula muda dan kaum eksekutif Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Save a Prayer - Duran-Duran&lt;br /&gt;Kaset Duran-Duran dibawa oleh Nita. Ini adalah kaset yang ia beli sejak SMP. Band beraliran New Wave ini ia pilih sebagai kelompok favoritnya oleh sebab video klipnya yang keren-keren. Selain itu, Duran-Duran juga memang pernah booming terutama diakibatkan oleh rambut dari Simon LeBon yang kemudian mengilhami tokoh Lupus. Lagu ini cukup menghipnotis dari bunyi keyboardnya yang repetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Don't Stop Me Now - Queen&lt;br /&gt;Don't Stop Me Now dari Queen adalah lagu yang dibawa oleh Mas Adi Marsiella. Ini ia ambil dari kompilasi album The Best of Queen. Lagu penuh semangat ini menjadi tema lagu Mas Adi setiap dulu mau berangkat kuliah. Bangun tidur ia langsung menyetel lagu ini. Pada lagu ini gebukan drum Roger Taylor sangat dominan dan raungan gitar David May sukses membangun suasana. "Jangan lupakan juga," kata Mba Tarlen, "Celana ketat dan dada berbulu Freddie Mercury."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Since I've Been Loving You Too Long - Led Zeppelin&lt;br /&gt;Lagu ini dibawa oleh Mas Yunus. Katanya, lagu dari album kompilasi blues tahun 1997 ini dahulunya menjadi teman setia ketika Mas Yunus sedang mengerjakan tugas akhir. Lagu tersebut sangat lambat dan lembut dengan dominasi permainan gitar Jimmie Page yang bluesy. Namun kata Kang Tikno yang lebih sering mendengarkan Led Zeppelin, ia yakin bahwa ini adalah cover version. Artinya, bukan Led Zeppelin yang main, tapi seseorang yang menyerupainya. "Siapapun itu, yang main ini pasti band hebat," tutup Kang Tikno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Summer Song - Joe Satriani&lt;br /&gt;Summer Song dari Joe Satriani adalah lagu solo gitar elektrik instrumental. Lagu ini dibawa oleh saya sendiri dan menjadi bagian penting hidup ketika masa-masa SMA. Joe Satriani adalah salah satu gitaris yang sangat senang menjadikan gitarnya bukan hanya sebagai media improvisasi, namun juga media melodi. Dari melodi utama hingga akhir, gitarnya bermain bak nyanyian. Satriani juga senang dengan eksplorasi teknik-teknik seperti feedback dan whammy pedal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Besame Mucho - Trio Los Panchos&lt;br /&gt;KlabKlassik Edisi Playlist #7 ditutup dengan sebuah kaset jadul tanpa bungkus milik Mba Upi. Kaset Trio Los Panchos warisan ayahnya yang kerap diputar di masa kecil Mba Upi. Trio Los Panchos yang mempunyai format tiga vokal yang semuanya memegang gitar. Iramanya sangat latin dan setiap kalimat nyanyian selalu dibalas dengan petikan gitar spanyol yang eksotik. Trio Los Panchos ternyata tidak cukup didengarkan hanya lagu Besame Mucho saja, beberapa lagu ternyata cukup betah untuk terus diputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik Edisi Playlist #7 yang bertemakan kaset ini ternyata memicu obrolan bermacam-macam. Lagu jarang sekali didengarkan sambil terdiam seperti biasanya. Langsung dibahas dan langsung dikomentari ketika lagu itu masih berlangsung. Alasannya, kaset ternyata sukses merangsang romantisme masa lalu dalam diri masing-masing peserta. Bagaimanapun penggemar musik dimanapun ia berada yang lahir sebelum tahun 2000-an adalah penggemar musik yang lekat dengan jaman kaset.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7505527496244857784?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7505527496244857784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7505527496244857784' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7505527496244857784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7505527496244857784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/07/klabklassik-edisi-playlist-7.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist #7: Bernostalgia bersama Kaset'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7859490251901640237</id><published>2011-06-16T20:08:00.001-07:00</published><updated>2011-06-16T20:09:35.130-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Diskusi KlabKlassik: Antara Gamelan Jawa dan Ruang Akustik</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-d3VFwSRBFrY/TfWyJF_CI6I/AAAAAAAAFo8/gPnHBDUe6-Y/s320/P6120076.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-d3VFwSRBFrY/TfWyJF_CI6I/AAAAAAAAFo8/gPnHBDUe6-Y/s320/P6120076.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Bilawa A. Respati (Menunjuk wajah sendiri)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 12 Juni 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KlabKlassik hari itu terdapat suasana yang lain. Sebelum dimulai, sayup-sayup terdengar musik dari Gamelan Jawa yang diputar via laptop milik Bilawa. Topik hari itu memang cukup unik, ada presentasi dari Bilawa Ade Respati mengenai keterkaitan antara musik Gamelan Jawa, ruang akustik, impuls otak, serta fisika terapan. Ini merupakan upaya dari Bilawa untuk "membumikan" skripsinya yang berjudul "Dampak Perubahan Parameter Akustik Musik Karawitan Jawa terhadap Parameter Fisioakustik". Lulusan Fisika Teknik ITB tersebut berupaya menjadikan skripsi akademik yang biasanya cuma berguna bagi ruang akademi itu sendiri, menjadi punya nilai bagi masyarakat secara umum. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bilawa menggunakan beberapa perangkat untuk presentasi, mulai dari laptop, speaker, hingga power point yang ia rangkum dalam layar yang ia bawa sendiri. Dalam presentasinya yang dihadiri sekitar lima belas orang, cukup banyak termuat angka dan hitungan yang cukup rumit. Meski demikian, Bilawa memilih untuk tidak membahas angka-angka dan langsung pada esensi penelitian. Yang sesungguhnya mau ia bahas adalah tentang bagaimana terdapat suatu teori yang berkemampuan memparameterkan akutika ruangan berdasarkan musik klasik Barat beserta instrumennya. Bilawa lalu melanjutkan penelitian ini bukan dengan instrumen musik klasik Barat, melainkan dengan Gamelan Jawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasilnya, teori tersebut sukses diruntuhkan karena Gamelan Jawa mempunyai efek tersendiri bagi impuls otak. Selain itu, berdasarkan penelitian Bilawa terhadap delay dan reverb (suatu elemen krusial dalam akustik), Gamelan Jawa punya delay dan reverb yang terkandung dalam dirinya sendiri (dalam instrumen itu sendiri, yang disebut dengan Pela Yangan). Artinya, pagelaran Gamelan Jawa yang sering dipentaskan di pendopo yang semi-outdoor, sesungguhnya tidak sama dengan musik tradisi kita tidak mengenal gedung akustik. Musik tradisi kita, menurut Bilawa, justru lebih canggih: bahwa akustikanya terkandung dalam instrumen itu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi Bilawa, penelitian ini diharapkan punya sumbangsih tidak hanya bagi dunia keilmuan, tapi juga harga diri bangsa. Jika kacamata Barat seringkali menuduh musik tradisi terbelakang oleh sebab ketiadaan hitung-hitungan, maka lewat penelitian Bilawa ini, ternyata pengetahuan intuitif manusia Indonesia sejak dahulu telah amat matematis dan presisi. Selain itu, pertemuan KlabKlassik yang membahas skripsi-skripsi yang berkaitan dengan musik akan terus dilanjutkan. Diharapkan bahwa para akademisi mau dengan sadar turun dari "singgasana menara gading" untuk menerangkan penelitian akademiknya sehingga dapat dipahami dan berguna bagi masyarakat umum.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7859490251901640237?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7859490251901640237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7859490251901640237' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7859490251901640237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7859490251901640237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/06/diskusi-klabklassik-antara-gamelan-jawa.html' title='Diskusi KlabKlassik: Antara Gamelan Jawa dan Ruang Akustik'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-d3VFwSRBFrY/TfWyJF_CI6I/AAAAAAAAFo8/gPnHBDUe6-Y/s72-c/P6120076.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6747217020099790323</id><published>2011-06-16T20:04:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T20:07:40.475-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Personal'/><title type='text'>Berbincang dengan Teuku Ismail Reza: Persulit "Kangen PerWalian"!</title><content type='html'>&lt;a href="http://farm6.static.flickr.com/5226/5606454892_9f67cb595f_m.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 180px;" src="http://farm6.static.flickr.com/5226/5606454892_9f67cb595f_m.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teuku Ismail Reza, atau biasa dipanggil Mas Reza, adalah penikmat musik yang belakangan aktif di KlabKlassik sebagai narasumber. Beberapa kali ia membawakan materi menarik semisal soal psikedelik dan pemutaran piringan hitam Those Shocking Shaking Days. Salah satu ciri khas Mas Reza, yaitu suara yang berat serta gaya bicara yang penuh gairah dan meledak-ledak, membuat banyak penggiat Tobucil maupun KlabKlassik mengaku senang mendengarkannya. Pria menikah kelahiran 30 Oktober ini mengaku bahwa aktivitas sehari-harinya adalah mendengarkan musik sambil bekerja (yang ia akui terpaksa) dan mencari-cari piringan hitam murah. Awal penyebab ia nongkrong di Tobucil adalah karena Mas Reza bertemu Mba Tarlen (pemilik Tobucil) pada tahun 2000 di Bandung Art Event dan setelah itu sering kumpul bareng dan akhirnya mengakui bahwa nongkrong di Tobucil adalah habit yang sukar dilepaskan. Berikut petikan ngobrol-ngobrol dengan Mas Reza, yang kebanyakan membahas seputar permasalahan musik di Indonesia: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mas Reza adalah penikmat musik kan?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Iya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Adakah musik yang tidak bisa dinikmati Mas Reza?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada, musik yg dimainkan secara asal-asalan. Dangdut juga keren kalau yang maennya menjiwai musik, bukan sibuk olahraga atau sok sexy. Sayangnya, musik yang asal-asalan ini semakin banyak dipasaran, terutama sekali di pasaran Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sampai saat ini, apa musik favorit Mas Reza? Atau secara spesifik, band favorit Mas Reza?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tergantung mood, tapi semenjak tahun 1999, menjurus ke eksperimental rock -rangenya kan luas banget, dari yg aroma Jazznya kenceng sampai Noise jaya- kebeneran sekarang sih lagi suka sama genre Drone Doom Metal + Drone Metal semacam Sunn O))), Boris, The Body, Ascend, Earth, dan lain-lain. Di sisi lain yang juga sedang sering didengerin adalah para revivalists, mulai dari Cee Lo Green (Soul Revivals) sampai The Black Keys &amp;amp; The Heavy ( Motown + Blues + Soul revival). Kalau Band favorit sih banyak banget.... hehehehe ....&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mas Reza sering sekali terlihat kritis terhadap musik, termasuk musik Indonesia. Mari kita bicara banyak. Tentang musik Indonesia, bagaimana Mas Reza melihat musik Indonesia sekarang ini?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Musik Indonesia masih terlalu cemen-masak sekian banyak rakyat Indonesia cuman menghasilkan kualitas Kangen perWalian. Di sisi lain, banyak juga orang sok semacam D*a*i D**a yg kesannya jago banget, padahal kebisaannya nyontek dari lagu-lagu luar tahun 70an, parah lah!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mas Reza apakah punya solusi?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Solusinya; pecat semua purchaser musik wakil major label di Indonesia, yang kerjanya memutuskan cd musik apa yg bisa edar di Indonesia. Mereka ini orang-orang nostalgik tapi nggak punya referens yg nggenah. Selain itu, larang dan persulit semua band ala Kangen perWalian, biar kelaparan dan bikin musik yang bermutu karena lapar dan marah  Dimana-mana artis musik yang lapar dan marah akan menghasilkan karya-karya yang berbobot.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kalau Mas Reza menjadi pemilik sebuah mayor label di Indonesia, apakah yang akan Mas Reza lakukan pertama kali?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bikin aksi Urban Terror untuk mengkampanyekan musik bermutu di Indonesia. Memperbanyak produksi vinyl, menggratiskan mp3 - karena orang yg suka musik pasti akan cari format yg lebih representatif dan keren secara sound, dan mp 3 cukup efektif untuk menjadi sarana "coba sebelum membeli". Naon deui nya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bagaimana menurut Mas Reza peran ruang-ruang alternatif yang sedang marak dewasa ini dalam kontribusinya terhadap musik di Indonesia?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peran ruang alternatif masih terbatas untuk menghadirkan musik yg enak didengar, bukan musik yg benar-benar bermutu menurut saya - memang sih kualitasnya agak diatas band ala Kangen PerWalian, tapi saya merasa lumayan stagnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oke, kita ngomong yang lain. Mas Reza secara akademik berlatarbelakang arsitektur, adakah hubungan menarik yang bisa dilihat antara musik dan arsitektur?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Architecture is a frozen music.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dalam aktivitas Mas Reza sebagai dosen arsitektur (Di UPH -red), adakah Mas Reza menggunakan musik sebagai pendekatannya?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tergantung mata kuliahnya - ini ada satu yg lagi dicoba mata kuliah eksperimen menggunakan musik dan film-semoga berhasil dan mahasiswanya tidak jadi gila atau bikin agama baru yg mengkafirkan orang tuanya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oke, sebagai penutup, Adakah tips-tips khusus dalam menikmati sebuah musik? Misalnya, mencari ruang dan waktu yang pas, atau mengikuti perkembangan bandnya, atau apa, Mas?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Intinya memang musik itu merupakan cerminan dari kondisi sosio kultural masyarakatnya-makanya ngedengerin musik bukan melulu masalah musik enak nggak enak, tapi juga kemauan kita untuk memperluas wawasan dan menabung preseden. Mendengar musik adalah sebuah proses aktif, bukan sebuah proses pasif; jadi diperlukan kemampuan mendengar aktif yg dapat memilah-milah bunyi masing-masing instrumen, dan menyatukannya kembali dalam sebuah komposisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baiklah terima kasih, Mas. Jaya selalu musik Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jaya selalu Boris dan Sun O)))!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6747217020099790323?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6747217020099790323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6747217020099790323' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6747217020099790323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6747217020099790323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/06/berbincang-dengan-teuku-ismail-reza.html' title='Berbincang dengan Teuku Ismail Reza: Persulit &quot;Kangen PerWalian&quot;!'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm6.static.flickr.com/5226/5606454892_9f67cb595f_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6057744583894043630</id><published>2011-06-16T20:03:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T18:24:52.832-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist #6: Dari Pat Metheny sampai Jose Gonzales</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-CFab6-aeRQc/TiDoSK1YIRI/AAAAAAAAAVw/T80YcPVMNQY/s1600/playlist%2B6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-CFab6-aeRQc/TiDoSK1YIRI/AAAAAAAAAVw/T80YcPVMNQY/s320/playlist%2B6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629754933056643346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://farm6.static.flickr.com/5221/5649936400_1cea096627_b.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 22 Mei 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;KlabKlassik Edisi Playlist #6, seperti biasa digelar di minggu keempat pertemuan KlabKlassik. Masing-masing dari orang yang hadir membawa satu lagu untuk diputar dan didengarkan sama-sama. Jika beruntung, narasumber dan analisator Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja akan angkat bicara menyoal lagunya. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di hari Minggu yang ceudeum itu, peserta playlist beberapa diantaranya hadir lebih cepat sebelum jam tiga sore. Ketika acara itu sendiri dimulai sekitar jam setengah empat, lagu yang sudah didaftarkan di operator Beben mencapai sebelas lagu. Akhirnya acara dibuka, dan ini dia ulasan-ulasannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Last Train Home - Pat Metheny&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu ini dibawa oleh Mas Daus atau Moh. Syafari Firdaus. Lagu ini sebetulnya pernah diputar oleh Martina di edisi sebelumnya, namun yang ini versinya agak berbeda. Kata Mas Daus, ia punya sejarah yang melankolik-romantik terhadap lagu ini. Awalnya ia tak tahu Pat Metheny sama sekali dan cuma diberi oleh kenalannya. Ketika mendengarkan lagu tersebut dalam kereta perjalanan pulang ke Bandung, ia merasa karya Letter from Home sangat mewakili perasaannya kala itu, "Padahal sebelumnya saya gak tahu judul lagunya apa, cuma dengar aja sambil tidur-tiduran."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Paranoid Android - The Section Quartet&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu ini dibawa oleh Nia Janiar. Versi asli dari Radiohead, digubah dengan cukup aman menurut pandangan Diecky. Tidak banyak perubahan komposisi dari karya orisinilnya, hanya perpindahan instrumentasi dari Radiohead ke kuartet gesek saja (dua biola, satu biola alto, dan cello). Yang asyik adalah perasaan-perasaan gelisah yang ditimbulkan oleh lagu bagian verse-nya, yang lalu disambung dengan bagian tengah yang "metalistik". Menurut Diecky, menanggapi Mas Daus yang mengusulkan bagian biola diganti saksofon, "Memang bisa, tapi instrumen gesek punya efek glissando yang menyebabkan suasana metalnya lebih asik." Glissando sendiri merupakan efek yang ditimbulkan dari jari-jari kita ketika menggeserkan posisi dalam dawai. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Lady Gaga Fuga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu ini dibawa oleh Sebastian A. Nugroho. Ia mengambil karya tersebut dari Youtube, dan sepertinya lupa mencantumkan pemainnya. Karya fuga tersebut dimainkan pada piano, mengambil tema dari Bad Romance-nya Lady Gaga. Karya Fuga, kata Diecky, adalah karya yang populer di jaman Barok (abad ke-17) dan menonjolkan rajutan kalimat-kalimat musik yang susul menyusul dan sahut menyahut. Karya ini menarik karena bagi Bastian, "Fuga bisa juga dilakukan dengan materi lagu pop."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. My Friend - Sweeney Todd&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya ini dibawa oleh operator Adrian Benn atau Beben. Soundtrack dari The Demon Barber of Fleet Street ini dipilih oleh Beben karena menurutnya, "Asyik aja, ketika lagu ini dinyanyikan, meskipun berjudulkan My Friend, tapi sebetulnya si penyanyi menujukan 'friend' itu pada pisau belatinya." Di tengah-tengah lagu, lanjut Ben, terdengar ada suara penyanyi wanita yang muncul tapi cuma sebentar. Dalam film, si wanita ingin mengatakan bahwa "Akulah temanmu!", tapi apa daya si penyanyi pria kadung cinta pada pisaunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Bolero - Maurice Ravel (Aransemen oleh Frank Zappa)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya ini dibawa oleh Pak Tono Rachmad. Dosen Apresiasi Musik dari UPI tersebut memutar lagu sepanjang kurang lebih lima menit itu, dan membawa serta juga partiturnya. Beliau sebut karya ini sebagai "karya prosesual", karena dari awal musik hingga akhir, ada perkembangan dari sudut pandang nada, harmoni, instrumentasi maupun dinamika dari simpel ke kompleks. Bolero adalah tema dari tarian pergaulan di Kuba, dan dikomposisi ulang seorang Prancis bernama Ravel. Asyiknya, komposisi itu digubah ulang oleh seorang Amerika bernama Zappa yang membuat si karya itu menjadi unik secara instrumentasi dan warna bunyi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. You Suffer - Napalm Death &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya ini dibawa oleh Patra Aditia. Karya ini sangatlah unik dan menarik perhatian karena cuma satu atau dua detik saja! Ia cuma berisi growl singkat dengan pukulan drum, bass, dan distorsi gitar secara simultan. Kata Patra, "Walaupun lagunya singkat, moga-moga diskusinya tidak singkat." Betul saja, diskusinya sendiri berlangsung selama hampir dua puluh menit. Kata Pak Tono, karya-karya seperti ini menunjukkan bagi kita pentingnya "diam". Karena tanpa diam ataupun kesunyian, bunyi sesungguhnya tidak punya arti. Yang menarik, dalam growl itu sesungguhnya, kata Google, ia mengatakan, "You Suffer, but why?" &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Dalai Gama - Acid Mothers Temple &amp;amp; The Melting Paraiso UFO&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya yang dibawa oleh Ismail Reza ini, seperti biasa, punya banyak unsur keanehan. Lagu yang dibuat tahun 2006 ini adalah hasil karya dari mahasiswa-mahasiswa-nya Karlheinz Stockhausen, seorang komposer kontemporer asal Jerman. Isinya cuma bebunyian elektronik tanpa tonal, tanpa gravitasi, tanpa nada dasar. Hanya spiral, mengembang, dan bunyi cuit cuit cuit. Iman, seorang musisi elektronik yang hadir juga hari itu menyebutkan, "Ini bukan soal enak gak enak, tapi kejutan-kejutan yang dihasilkannya, dan kemungkinan-kemungkinan yang dibuat di tengah lagu." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Bluebird of Delhi - Duke Ellington.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya ini dibawa oleh Al-Mukhlisiddin alias AM. Lagu ini begitu kental aroma jazz-nya, meskipun AM merasakan ada bau rock di dalamnya. Bagi Mas Reza, dalam karya ini, Duke Ellington sangat rendah hati. Ia seorang pemain piano dengan skill eksepsional, tapi bunyi pianonya malah tak terdengar dalam lagu ini! Karya ini juga, kata Nia, menjadi karya favoritnya di playlist hari itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9. True Romance Main Theme - Hans Zimmer&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya ini dibawa oleh Dien Fakhri Iqbal Marpaung alias Iqbal. Karya ini sejuk, lembut, dan jauh dari absurd,  tak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak banyak yang dibahas dari karya yang diangkat dari film Quentin Tarantino ini, karena banyak orang betul-betul menikmatinya, diakibatkan sepanjang playlist mendengarkan musik-musik yang secara harmoni "kurang nyaman". &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;10. Dorotea - Jim Saku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya ini dibawa oleh Kang Tikno. Jim Saku adalah kependekan dari duo drum-bass Akira Jimbo dan Tetsuo Sakurai. Tidak seperti pada umumnya kala mereka membawakan lagu-lagu berteknik tinggi, dalam Dorotea mereka membawakan lagu lembut-melankolik-romantik. Patra menanggapi karya ini dengan menyamakan pada kecenderukan musik-musik yang dihasilkan oleh musisi Jepang pada umumnya, "Mereka skillful, berteknik tinggi, tapi ada unsur 'gelap', mewakili bagaimana cara pandang mereka terhadap teknologi yang apokaliptik, alih-alih mencerahkan." Ia mencontohkan soundtrack film Ghost in the Shell sebagai perbandingan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11. Mere Words- Bobby McFerrin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya ini dibawa oleh Permata Andika Rahardja alias Mata. Bobby McFerrin mengusung teknik a capella dalam musiknya. Ketika sudah biasa dalam playlist menghadirkan karya-karya instrumentalia non vokalia, Mata tiba-tiba menyuguhkan karya vokalia non instrumentalia. "Two thumbs up," demikian seru kebanyakan hadirin tanpa banyak berkomentar. Bobby McFerrin sendiri terkenal dengan lagunya Dont Worry be Happy yang rajin menjadi soundtrack beberapa film seperti Flushed Away, The Simpsons, Nip/Tuck, Dawn of the Dead, dan Jarhead. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;12. Heartbeats - Jose Gonzales&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya terakhir ini dibawa oleh Haris. Menurutnya, setelah mendengarkan lagu ini, untuk pertama kalinya ia mau menelisik hingga ke sejarah lagu tersebut via Google maupun wikipedia. Sehingga lagu tersebut berarti tinggi karena membuat Haris menjadi "melek teknologi" (haha). Meskipun demikian, ia juga punya alasan-alasan objektif, seperti misalnya lagu itu sering diputar di iklan-iklan elektronik dan iklannya itu sendiri sangat menarik. Meskipun namanya berbau hispanik, Jose Gonzales, tapi ternyata ia adalah seorang Swedia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian kisahan Playlist hari itu, lagi-lagi pengalaman eksistensial masing-masing dibagikan di satu forum. Sebuah perayaan akan kemajemukan. "Jagat bunyi," kalau kata Diecky&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6057744583894043630?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6057744583894043630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6057744583894043630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6057744583894043630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6057744583894043630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/06/klabklassik-edisi-playlist-6-dari-pat.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist #6: Dari Pat Metheny sampai Jose Gonzales'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-CFab6-aeRQc/TiDoSK1YIRI/AAAAAAAAAVw/T80YcPVMNQY/s72-c/playlist%2B6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-4306815564143835888</id><published>2011-06-16T19:56:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T18:35:33.085-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>Crafty Days #5: Musik Sore yang Menghebohkan</title><content type='html'>Minggu, 15 Mei 2011&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Crafty Days edisi lima Tobucil, seperti biasa, memilih musik sebagai pamungkas acaranya. Karena diselenggarakan di waktu sore, maka dinamailah Musik Sore. Untuk Crafty Days ini, diundanglah empat pengisi acara, yang pertama adalah Ririungan Gitar Bandung, lalu disambung Grace dan Tesla, Yustinus Ardhitya, dan ditutup dengan Ammy Alternative Strings. Acara yang semestinya dimulai pukul setengah empat ini agak molor karena hujan dan pemasangan sound system yang cukup rumit. Sound System ternyata dipasang cukup serius, plus mixer dan speaker aktif yang mengelilingi beranda mungil Tobucil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penampil pertama adalah homeband Tobucil, yakni Ririungan Gitar Bandung (RGB) dari KlabKlassik. Dengan format ensembel gitar akustik, mereka membawakan empat karya sekaligus. Yang pertama Air on G String, lalu Drive My Car, La Cumparsita dan ditutup dengan Canarios. Kecuali lagu nomor dua, sisanya adalah lagu klasik "murni". Meski bermain cukup apik, namun penampilan dari RGB ini belum didukung penuh oleh sound system sehingga volume suara kurang banyak terdengar, terlebih lagi penonton sudah sangat memadati beranda sehingga suara semakin teredam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-rVtXpNs5P6g/TiDpsiyOHzI/AAAAAAAAAV4/ckcdaKJE00k/s1600/RGB.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-rVtXpNs5P6g/TiDpsiyOHzI/AAAAAAAAAV4/ckcdaKJE00k/s320/RGB.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629756485674082098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski tadinya dijadwalkan Yustinus Ardhitya yang mengisi acara berikutnya, namun Grace dan Tesla menawarkan diri untuk main berikutnya. Duo gi tar-vokal ini, meski berbau jazzy, namun berulangkali mereka  menekankan bahwa mereka tidak sedang main jazz. Bebas saja, katanya, mau diartikan apa. Mereka berdua membawakan dua karya, yakni Blackbird dari The Beatles, dan Putih Melati dari Guruh Soekarno Putra. Grace dan Tesla, meski cuma berdua, namun sukses menghadirkan suasana mistis. Hal ini terutama keluar dari suara vokal Grace. Berkali-kali ia minta mikrofon diberi reverb atau gema ternyata bukannya tanpa alasan, ia ingin memberi sentuhan mistis itu. Sayang sekali, akibat Grace merangkap jaga stand juga, maka ia cuma menyanyikan dua lagu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yustinus Ardhitya hadir berikutnya. Ia bermain gitar vokal dibantu rekannya dengan gitar pula. Ia membawakan karya-karya balada ciptaannya sendiri. Yustinus menampilkan empat lagu, membawa penonton pada suasana lirih, setelah RGB dengan keademannya dan Grace-Tesla dengan kemistisannya. Suara Yustinus termasuk impresif: serak-keras-bertenaga. Genjrengan gitarnya pun asyik dan mantap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-S1n90e3Wd_U/TiDqp4yU0FI/AAAAAAAAAWA/pmBLs4pHgq8/s1600/ammy%2Balternative.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-S1n90e3Wd_U/TiDqp4yU0FI/AAAAAAAAAWA/pmBLs4pHgq8/s320/ammy%2Balternative.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629757539552120914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penampil terakhir adalah Ammy Alternative Strings. Kang Ammy Kurniawan, pemain biola 4 Peniti, hadir beserta murid-muridnya, para pebiola. Kang Ammy sendiri kemarin tidak bermain biola, melainkan gitar. Mereka menampilkan banyak karya, mulai dari tradisional, klasik, hingga pop yang kesemuanya diaransemen ulang dengan gaya alternative strings. Yang paling menarik adalah kala kelompok tersebut membawakan Java Medley yang menampilkan lagu-lagu daerah seperti Cublak-Cublak Suweng, Gundul-Gundul Pacul, Cingcangkeling, Rek ayo Rek, Manuk Dadali dan lain-lain. Gaya alternative strings adalah gaya bermain biola yang bebas dan mengedepankan improvisasi. Walhasil, dengan sajian pemain berbanyakan sejumlah 24 orang plus groove gitar Kang Ammy yang asyik mengiringi, puncak acara Crafty Days pun ditutup dengan manis dan juga heboh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-4306815564143835888?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/4306815564143835888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=4306815564143835888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4306815564143835888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4306815564143835888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/06/crafty-days-5-musik-sore-yang.html' title='Crafty Days #5: Musik Sore yang Menghebohkan'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-rVtXpNs5P6g/TiDpsiyOHzI/AAAAAAAAAV4/ckcdaKJE00k/s72-c/RGB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1689912441346927551</id><published>2011-06-16T19:54:00.001-07:00</published><updated>2011-06-16T19:55:13.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Diskusi KlabKlassik: Pendidikan Sejarah dan Kewarganegaraan bersama Those Shocking Shaking Days</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7aewaXBVhbg/TcfUCuUcUeI/AAAAAAAAFow/fJtxSzgcNHE/s320/those_shocking_days_thumb_325.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7aewaXBVhbg/TcfUCuUcUeI/AAAAAAAAFow/fJtxSzgcNHE/s320/those_shocking_days_thumb_325.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari itu KlabKlassik mengajak pendengarnya bernostalgia ke era tahun 70-an. Meskipun beberapa diantaranya belum lahir di tahun-tahun itu, tapi suasana “ke-dulu-an” tetap terasa. Keterlemparan itu dipicu oleh piringan hitam Those Shocking Shaking Days (TSSD) yang dibawakan oleh Ismail Reza. Album kompilasi berjudul lengkap Those Shocking Shaking Days: Indonesia Hard Psychedelic Progressive and Funk 1970-1978 itu (ironisnya) dirilis oleh Now Again Records dari Amerika Serikat dan mulai dipasarkan pada 8 Maret 2011. Di Indonesia sendiri album tersebut baru resmi dipasarkan pada 27 Maret.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lewat piringan hitam yang menyuguhkan kualitas audio analog yang total, acara hari itu dimulai dengan pemutaran karya The Panbers berjudul Haai yang bagi Mas Reza, “Tidak kalah dengan Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin.” Sangat enerjik, memabukkan, penuh kejutan, dan tidak menyangka bahwa band-band Indonesia zaman dulu demikian berkualitas. “Padahal, waktu itu era-nya serba terbatas dan terkungkung. Sekarang sudah serba terbuka, tapi kok kreativitas malah semakin rendah,” demikian lanjut Mas Reza.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu lanjut diputar lagu-lagu psychedelic seperti Bad News dari The Rollies, Evil War dari Shark Move, Hear Me dari Golden Wing, Do What You Like dari AKA, Pemain Bola dari Rasela, Uang dari Duo Kribo dan banyak lagi. Total empat jam setengah dihabiskan forum hari itu untuk membahas dan mendengarkan seisi albumnya. Termasuk penutupan yang cantik dari “band lokal” Don’t Talk About Freedom dari The Gang of Harry Roesli. Kebanyakan dari lirik-lirik tersebut menggunakan bahasa Inggris, yang menurut Budi Warsito, seorang aktivis dari Rumah Buku, “Menghindari sensor yang ketat jaman itu.” Yang bagi Nia Janiar, justru menjadi hal yang disayangkan karena ia berharap band-band Indonesia menggunakan lebih banyak bahasa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang lebih menarik justru pembahasannya, terlebih ketika mempertanyakan ada apa dengan musik Indonesia saat ini? Pertama, sudah jelas bahwa musik hari ini sudah sangat fokus pada kepentingan-kepentingan industri. Yang artinya, keragaman ditekan, dan keseragaman diangkat. Sedang musim gaya pop melayu, maka semua band jika ingin laku haruslah juga pop melayu. Padahal, mendengarkan TSSD tersebut, sudah jelas bahwa Indonesia punya sejarah kreativitas musik yang sampai diakui hingga mancanegara. Yang kedua adalah soal sejarah. Bagaimana mungkin Barat sanggup meramu sejarah hingga ke jaman pra-sejarah sekalipun, tapi musik Indonesia dalam kurun waktu tiga puluh sampai empat puluh tahun ke belakang saja akurasinya masih dipertanyakan?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pertemuan hari itu menjadi renungan menarik tentang nasionalisme dan juga kesejarahan. Kang Tikno menutupnya dengan patriotik, “Mendengar album ini, saya jadi bangga menjadi orang Indonesia.”&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1689912441346927551?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1689912441346927551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1689912441346927551' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1689912441346927551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1689912441346927551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/06/diskusi-klabklassik-pendidikan-sejarah.html' title='Diskusi KlabKlassik: Pendidikan Sejarah dan Kewarganegaraan bersama Those Shocking Shaking Days'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7aewaXBVhbg/TcfUCuUcUeI/AAAAAAAAFow/fJtxSzgcNHE/s72-c/those_shocking_days_thumb_325.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-3917681913017939174</id><published>2011-05-20T22:11:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T18:16:42.499-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>Resital Gitar Klasik Solo : Krishnan Mohammad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-oaCyoYciX4k/TdnIDgId7SI/AAAAAAAAAVc/_NwrQPWRFbQ/s1600/krishnan-06.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-oaCyoYciX4k/TdnIDgId7SI/AAAAAAAAAVc/_NwrQPWRFbQ/s400/krishnan-06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609734773357276450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;gambar diambil dari website &lt;a href="http://impguitarworks.com/photo-krishnan-mohamad%E2%80%99s-classic-guitars-solo-recital"&gt;IMP Guitarworks.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Minggu, 15 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu hujan sudah turun sejak kira-kira setelah maghrib namun hal itu tidak menyurutkan semangat Klabklassik (KK) untuk menghadiri resital gitar klasik solo dari Krishnan Mohammad SE. KK mengetahui Krishnan Mohammad atau yang akrab dipanggil sebagai ‘Pak Krishnan’ sebagai salah satu gitaris klasik dan guru gitar yang sangat dedikatif di Bandung ini. Resital ini diselenggarakan di Bale Rumawat Padjajaran kampus UNPAD Dipati Ukur.&lt;br /&gt;Saat KK datang ke Bale Rumawat terlihat suasananya masih cukup lenggang. Baru beberapa orang dan keluarga dekat Pak Krishnan yang ada di sekitar lokasi resital. Setelah menunggu beberapa lama dan jumlah penonton telah cukup bertambah kira-kira pukul setengah delapan lebih sedikit resital gitar tersebut dimulai.&lt;br /&gt;Dengan gayanya yang santai, Pak Krishnan membuka konser dan memulai lagu pertamanya dari periode Renaissance yaitu Aria con detta Varoazionne “La Frescobalda” karya Girolama  Frescobaldi.  Kemudian dengan salah satu karya komponis Barok terkemuka yaitu Johan Sebastian Bach yaitu “Chaconne” from partita in D minor for violin, BWV 1004 yang ditranskripsi oleh Andres Segovia.&lt;br /&gt;Kedua karya tersebut dimainkan dengan baik dan terlihat adanya penjiwaan yang tinggi dalam memainkan karya tersebut. Setelah memainkan dua karya tersebut, Pak Krishnan memberi waktu untuk jari-jarinya beristirahat sebentar sambil bercerita tentang karya yang selanjutnya akan dia bawakan yaitu Grand Solo karya Ferdinando Sor. Grand Solo seperti penjelasan yang diberikan oleh Pak Krishnan begitu pula yang dirasakan oleh KK merupakan suatu karya yang bisa diibaratkan sebagai suatu permainan orkestra yang dimainkan oleh satu gitar. Terkadang terlihat adanya passage-passage yang berbunyi seperti string section, open D string yang seperti timpani, dan bagian-bagian yang terdengar seperti alat-alat musik tiup.  Setelah Grand Solo resital dilanjutkan dengan dua lagu dari periode Romantik yaitu Capricho Arabe karya Fransesco Tarrega dan Asturias karya Isaac Albeniz. Kedua karya yang bertingkat kesulitan cukup tinggi itu dimainkan dengan baik dan penuh penghayatan oleh Pak Krishnan. KK sangat menikmati dua karya tersebut karena terasa dengan jelas bahwa suasana yang disampaikan pada tiap lagunya dapat disampaikan dengan baik oleh Pak Krishnan. Tampak jelas walaupun usia Pak Krishnan telah menginjak usia ke 51 namun permainan gitarnya masih prima dan dapat dinikmati.&lt;br /&gt;Resital dilanjutkan dengan karya dari periode modern yaitu “Etude no 11” from Deux Etudes karya Heitor Villa-Lobos. Setelah Deux Etudes dimainkan “Koyunbaba” Suite fur guitar (Opus 19) Part IV pada bagian Prestonya. Karya yang bertingkat kesulitan sangat tinggi ini dimainkan dengan cukup baik dan sepanjang lagu memang terlihat kerumitan dari lagu tersebut. Sebagai karya penutup, dimainkan lagu Jazz yang diaransemen ulang untuk gitar yaitu “All the Things You Are” suatu lagu yang digunakan pada drama musikal Very Warm For May, 1939. Lagu yang dikomposisi oleh Jerome Kern dan liriknya dibuat oleh Oscar Hammerstein II. Lagu ini ditranskripsi untuk dimainkan gitar solo tahun 2011 dan terlihat adanya keseimbangan antara unsur jazz dan gitar klasik yang ada menimbulkan nuansa yang cukup manis. Setelah All The Things you Are kemudian penonton termasuk KK meminta Pak Krishnan untuk membawakan&lt;br /&gt;satu lagu lagi sebagai encore. Akhirnya Pak Krishnan memainkan karya komposisinya sendiri yang berjudul  A Three parted Suite for Classical Guitar 2011 “Home nage a Ratnita” yang ditujukan untuk someone special yang ia miliki. Karya tersebut merupakan karya yang bisa dibilang hebat dan cukup terlihat influence-influence yang dimiliki oleh Pak Krishnan dalam memainkan gitar di beragam passagenya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(dalam konser ini, gitar Krishnan Mohammad disupport oleh &lt;a href="http://impguitarworks.com/"&gt;IMP Guitarworks&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;liputan oleh Afifa Ayu&lt;br /&gt;http://www.sleepingbeautysings.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-3917681913017939174?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/3917681913017939174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=3917681913017939174' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3917681913017939174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3917681913017939174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/05/resital-gitar-klasik-solo-krishnan.html' title='Resital Gitar Klasik Solo : Krishnan Mohammad'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-oaCyoYciX4k/TdnIDgId7SI/AAAAAAAAAVc/_NwrQPWRFbQ/s72-c/krishnan-06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7904860629292915275</id><published>2011-05-04T09:03:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T19:04:27.668-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Celoteh'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist: Merayakan Runtuhnya Subjek-Objek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-VubxwS4xRBo/TiDxpY7gnwI/AAAAAAAAAWw/jgRrPzXd7LA/s1600/playlist.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-VubxwS4xRBo/TiDxpY7gnwI/AAAAAAAAAWw/jgRrPzXd7LA/s320/playlist.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629765227582103298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Edmund Husserl (1859-1938), seorang matematikawan asal Jerman, suatu  hari pernah merumuskan demikian: Bahwa dunia keilmuan masa itu, dengan  segala dalil subjek-objeknya, justru telah gagal menjelaskan dunia  keseharian&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (lebenswelt&lt;/span&gt;). Ilmu  positif telah gagal menjelaskan pernyataan-pernyataan personal seperti,  "Hari yang sendu," "Air yang suci," "Cinta yang mendalam," hingga "Tuhan  yang dekat denganku." Para saintis lupa bahwa dalam dunia keseharian,  apa yang dialami oleh subjek sebagai ada, itu justru yang lebih esensial  ketimbang dunia yang dikonstruksi oleh distingsi subjek-objek yang  miskin. Pak Bambang pernah mencontohkan pemikiran Edmund Husserl ini  dengan sangat baik. Bahwa air, bagi dunia positif dirumuskan dalam H20.  Tapi fenomenologi (ilmu yang kemudian dikembangkan oleh Husserl),  mengatakan bahwa sah-sah saja jika air kemudian mempunyai makna yang  berbeda-beda bagi individu yang berbeda-beda pula. Air bisa sangat luas,  bisa sangat personal maknanya, mulai dari berwudhu hingga penyembuhan.  Air yang disepahamkan lewat H20 dianggap Husserl sebagai pemiskinan  terhadap makna air itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari kita menjauh sedikit dari  Husserl, dan membahas apa yang kami lakukan di setiap hari Minggu,  minggu keempat. Kami berkumpul dalam satu forum, meminta masing-masing  orang untuk membawa satu lagu favoritnya dalam format flashdisk. Setelah  dikumpulkan lagu-lagu tersebut dalam satu laptop, kami putar satu per  satu, didengarkan dengan seksama, dikomentari sekenanya. Selesai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Adakah  yang istimewa? Tergantung dari sudut pandang mana kau memandangnya.  Tapi mari kaitkan dengan fenomenologi Husserl di paragraf pertama, dan  mari berkaca pada realitas bagaimana musik diperlakukan hari ini. Musik,  bagaimanapun telah menjadi salah satu objek akademik yang maju cukup  pesat sejak era Romantik Eropa. Ia sukses dipelajari, dibedah,  diilmiahkan, diobjektivikasi dan disepahamkan. Sebelumnya, musik hanya  digunakan untuk dua kepentingan besar: religi dan hiburan. Seiring  perkembangan media massa, musik pun menjadi ikut-ikutan massal. Ia  diproduksi dalam piringan dan bit-bit data, disebarluaskan dan  dibunyikan dimanapun tempat-tempat yang punya pemutar: mobil, mal,  diskotik, bioskop, hingga ruang perkantoran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Masifikasi memang  selalu bertentangan dengan eksklusifitas. Yang massal menenggelamkan  keunikan. Musik menjadi sesuatu yang "terlampau biasa". Dalam  keseharian, kita bisa mendengarkan mulai dari Bach hingga Justin Bieber  tanpa mampu difilter. Ia menubuh dalam gerak rutinitas kita dan  terkadang bermukim dalam bawah sadar. Namun kemudian hal itu bukan  sesuatu yang buruk. Karena dengan berpadunya musik dan keseharian,  artinya ada musik-musik tertentu, bagi individu tertentu, yang begitu  lekat dengan hari-harinya. Saya ingat betul masa-masa SMP dan SMA adalah  masa dimana Metallica adalah musik pertama yang harus didengarkan  sewaktu bangun tidur, dan musik terakhir yang wajib disetel sebelum  terlelap. Saya juga tidak bisa begitu saja mengejek lagu-lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;request&lt;/span&gt; dari pengantin yang rata-rata seputar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;From this Moment, I Finally Found Someone&lt;/span&gt;, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lucky&lt;/span&gt;.  Karena bagi individu-individu tersebut, barangkali sang lagu punya  nilai sejarah yang tak bisa diobjektivikasi dengan cara apapun. Ia  berharga tinggi karena sejarahnya itu sendiri. Seperti halnya kaos  sepakbola saya yang bernomor punggung 19 waktu SMP. Masih saya simpan  dan meskipun kelak saya masuk tim AC Milan, saya tidak akan sekali-kali  membuangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomenologi Husserl pada akhirnya berupaya keras  meruntuhkan sekat subjek-objek yang telah mendominasi dunia ilmiah Barat  sejak era Cartesian. Ia berusaha mengembalikan segala sesuatu pada  keseharian, "yang benar adalah yang dekat". Ia berusaha mengritisi bahwa  upaya penyepahaman adalah upaya yang sia-sia karena patut kita curigai  bahwa ada klaim kekuasaan disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga para pengikut sekte  edisi Playlist, tak perlu khawatir kelak ada upaya penyepahaman dari  kami.  Sesungguhnya musik yang kalian bawa adalah bagaikan baju piyama  yang kalian pakai sebelum ke peraduan. Ia milik pribadi, ia bagian dari  darah daging kalian sendiri.  Datanglah hanya untuk menunjukkan inilah  piyama saya yang lusuh. Terserah kalian mau meniru coraknya, mencontoh  modelnya, atau bahkan mengatai kotor tentangnya, yang penting piyama ini  berarti bagi saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7904860629292915275?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7904860629292915275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7904860629292915275' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7904860629292915275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7904860629292915275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/05/klabklassik-edisi-playlist-merayakan.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist: Merayakan Runtuhnya Subjek-Objek'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-VubxwS4xRBo/TiDxpY7gnwI/AAAAAAAAAWw/jgRrPzXd7LA/s72-c/playlist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-3034392182912927162</id><published>2011-05-04T09:02:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T18:18:30.442-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Ririungan Gitar Bandung: Persiapan Menuju Crafty Days #5</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanggal  14 dan 15 Mei ini, Tobucil kembali mengadakan acara tahunan Crafty  Days. Acara semacam bazaar dan workshop handmade itu, menyisipkan juga  acara musik di dalamnya. Beberapa penampil sudah dikonfirmasi untuk  meramaikan diantaranya Ammy Alternative Strings, Grace and Tesla,  Yustinus Ardhitya, dan "&lt;i&gt;home band&lt;/i&gt;" Tobucil, yakni KlabKlassik.  Menghadapi acara akbar ini, -terutama juga karena Tobucil berulangtahun  kesepuluh- KlabKlassik terlihat melakukan persiapan secara serius lewat  salah satu programnya yaitu latihan bersama ensembel Ririungan Gitar  Bandung (RGB).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/229329_1691954618055_1213454295_31483513_1793393_n.jpg?dl=1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/229329_1691954618055_1213454295_31483513_1793393_n.jpg?dl=1" border="0" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;Ensembel RGB menyiapkan diri menghadapi Crafty Days #5&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sesi latihan kemarin, RGB  dihadiri oleh enam orang yakni Pak Ato, Aldi, Mas Yunus, Haris, Taqqya,  dan Ilham. Kesemuanya berencana menampilkan empat karya pada Crafty Days  nanti. Selain &lt;i&gt;Canarios&lt;/i&gt; dari Gaspar Sanz yang rutin dilatih belakangan, RGB juga akan memainkan &lt;i&gt;La Cumparsita&lt;/i&gt; dari G. Rodriguez Matos, &lt;i&gt;Air on G String&lt;/i&gt;  dari J.S. Bach, dan Drive My Car dari The Beatles. Format penampil RGB  adalah "ririungan", jadi setiap lagu bisa dimainkan oleh bersepuluh atau  bisa saja cuma dimainkan berempat. Bebas saja, tergantung siapa yang  siap. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain RGB, akan tampil pula  bintang tamu utama yaitu Ammy Alternative Strings. Ensembel pimpinan  Ammy Kurniawan (violinis 4 peniti) ini, menghadirkan kumpulan pemain  biola muda yang atraktif dan improvisatif, menghadirkan karya-karya yang  menghibur dan seringkali &lt;i&gt;bluesy&lt;/i&gt;. Jangan sesekali lewatkan Crafty  Days #5 tanggal 14-15 Mei nanti. Musik sendiri akan hadir pada tanggal  15 Mei-nya, pukul 15.00 sampai selesai. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-J2Z_xW2xXOA/Tb5dPBufP6I/AAAAAAAAFoo/7ft7x7l-ihY/s1600/38340_1304350863524_1673087860_650188_183176_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-J2Z_xW2xXOA/Tb5dPBufP6I/AAAAAAAAFoo/7ft7x7l-ihY/s320/38340_1304350863524_1673087860_650188_183176_n.jpg" border="0" height="212" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;Salah satu penampilan Ammy Alternative Strings&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:x-small;"&gt;(Ammy: Tengah)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-3034392182912927162?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/3034392182912927162/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=3034392182912927162' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3034392182912927162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3034392182912927162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/05/ririungan-gitar-bandung-persiapan.html' title='Ririungan Gitar Bandung: Persiapan Menuju Crafty Days #5'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-J2Z_xW2xXOA/Tb5dPBufP6I/AAAAAAAAFoo/7ft7x7l-ihY/s72-c/38340_1304350863524_1673087860_650188_183176_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6442370206772480761</id><published>2011-04-27T02:50:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T18:15:17.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist #5: Dari Gito Rollies hingga Secret Garden</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://farm6.static.flickr.com/5228/5649366099_4a4c81bae3_b.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;i&lt;img src="http://farm6.static.flickr.com/5228/5649366099_4a4c81bae3_b.jpg" border="0" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KlabKlassik  Edisi Playlist #5 digelar di sore yang hampir-hujan itu. Seperti biasa,  seluruh peserta memulai acara dengan memasukkan lagu favoritnya  masing-masing ke dalam laptop Beben, sang operator. Kegiatannya  sederhana, semuanya mengapresiasi lagu yang dibawa oleh  masing-masingnya, untuk kemudian dikomentari oleh yang lain, sementara  narasumber Diecky K. Indrapraja dan Ismail Reza memberi semacam analisis  singkat. Yang datang hari itu cukup banyak, termasuk beberapa mahasiswa  jurusan seni musik UPI dan dosen apresiasi musik UPI, Pak Tono Rachmad.  Berikut lagu-lagu yang diputar hari itu berikut pembahasan singkatnya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gito_Rollies"&gt;Gito Rollies&lt;/a&gt; - Burung Kecil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  yang dibawa oleh Kang Tikno ini cukup datar dan tidak banyak perubahan  dinamika, namun liriknya diam-diam cukup dalam serta suara Gito Rollies  sangat dipenuhi penghayatan. Hal ini, menurut Mas Reza, sekali lagi  menunjukkan hebatnya musisi Indonesia, namun yang sangat disayangkan  adalah pengarsipannya yang kadang kurang teliti. Kang Tikno menambahkan  bahwa pemilihan lagu ini disebabkan oleh mulai digunakannya efek-efek &lt;i&gt;synthesizer&lt;/i&gt; yang pada masa itu masih sangat langka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itzhak Perlman - OST &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Schindler%27s_List"&gt;Schindler's List&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  yang dibawa oleh Aldi ini sepaket dengan videonya. Sehingga beberapa  dari peserta bisa melihat raut wajah serius dan penuh kesan mendalam  dari Itzhak Perlman, sang violinis keturunan Yahudi itu. Pembahasan  menjadi cukup serius ketika Mas Reza berbagi pengalamannya ke museum  Yahudi di Jerman. Betapa bangsa Yahudi sangat pandai dalam menuturkan  kembali tragedi-tragedi yang mereka alami sehingga suasana dramatis  menjadi terbangun. Ini barangkali cukup mendasari bagaimana seorang  Yahudi seperti Perlman sanggup menerjemahkan karya yang ditujukan bagi  film Schindler's List itu dengan sangat sukses. Schindler's List sendiri  adalah film tentang holocaust.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;L.V. Beethoven - &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Symphony_No._5_%28Beethoven%29"&gt;Symphony no. 5&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  ini dibawa oleh saya sendiri, agar kemudian menjadi pembahasan yang  cukup analitikal terutama dari sudut pandang akademisi dari UPI seperti  Pak Tono dan mahasiswanya. Symphony no. 5 dibahas cukup dalam oleh Pak  Tono, dari sudut bagian-bagiannya seperti eksposisi, pengembangan, dan  rekapitulasi. Serta kalimat-kalimat lagunya yang diulang-ulang, namun  sesungguhnya menggambarkan suasana hati Beethoven yang waktu itu sudah  mulai kesulitan pendengaran. Bagi orang yang kesulitan pendengaran,  bunyi yang didengar biasanya hanya berupa gelombang-gelombang saja, dan  demikian Beethoven menuangkan "kegelombangan" itu dalam kalimat lagu  yang diulang-ulang dan berbeda &lt;i&gt;range&lt;/i&gt; suara tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pat_Metheny"&gt;Pat Metheny&lt;/a&gt; - Last Train Home&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  ini dibawa oleh Martina. Melodinya relatif sederhana, namun  pembahasannya cukup asyik. Ternyata ada bunyi drum yang dibunyikan  secara konstan, mengilustrasikan roda kereta yang berputar. Lagu  diakhiri secara &lt;i&gt;fade out&lt;/i&gt;, karena menurut Mas Reza, agar pesan  "kereta menuju pulang"-nya terasa, mesti ada kesan "menjauh". Dicky pun  membenarkan dengan mengatakan bahwa lagu seperti ini, dengan konstanta  seperti ini, haruslah di-&lt;i&gt;fade-out&lt;/i&gt;-kan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bilie Holiday - &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gloomy_Sunday"&gt;Gloomy Sunday&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu yang dibawa oleh Nia ini dijuluki juga dengan &lt;i&gt;Hungarian suicide song&lt;/i&gt;.  Memang lagu ini sangat lambat, melendut, mengawang-ngawang, dan  liriknya seolah mengajak "pergi dari dunia", dengan bas konstan yang  sengaja dipasang keras-keras. Meski demikian, ada beberapa peserta yang  tidak sepakat akan efek bunuh diri yang ditimbulkan oleh lagu ini,  meskipun Nia sudah memaparkan "data-data mitos" tentang lagu ini yang  konon meningkatkan angka bunuh diri di Hungaria. Bisa dicoba untuk  didengarkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Maurice_Ravel"&gt;Maurice Ravel&lt;/a&gt; - Bolero&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  berdurasi lima belas menit yang dibawa oleh Gilang ini adalah lagu yang  terpanjang hari itu. Temanya diulang dalam instrumen yang berbeda-beda,  dan dinamikanya turun-naik sepanjang karya. Karya jaman Romantik  tersebut tidak banyak dibahas oleh sebab waktu yang sudah melebihi jam  yang ditentukan, sedang karya yang belum diputar masih banyak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Zorn"&gt;John Zorn&lt;/a&gt; - The Big Gundown (OST Spaghetti Western)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya  kontemporer bawaan Mas Reza ini mempunyai banyak sekali elemen kejutan  sepanjang tujuh menitnya. Mulai dari irama country, hentakan-dentuman,  musik Afrika, hingga piano fur-elise dicampur adukkan dengan  "seenaknya", membuat beberapa peserta tertawa-tawa. Kata Diecky, ini  adalah salah satu bentuk karya kolase. Menempelkan potongan-potongan  karya untuk jadi sesuatu karya yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Leonard_Cohen"&gt;Leonard Cohen&lt;/a&gt; - Hallelujah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya  ini dibawa oleh Margaretha. Leonard Cohen adalah seorang  penyair-musisi, maka itu lagunya seringkali digarap dengan lirik-lirik  yang puitis. Lagu tersebut menjadi lebih relevan karena Edisi Playlist  #5 bertepatan dengan hari paskah. Karya tersebut juga tidak dibahas  panjang-panjang karena lagu-lagu lain masih menanti. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tom_Waits"&gt;Tom Waits&lt;/a&gt;- Walk Away&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  ini dibawa oleh Mba Tarlen. Lagu "blues murni" tersebut membuat peserta  terkagum-kagum karena dalam era sekarang ini sulit sekali menemukan  musisi yang betul-betul menjiwai blues. Blues sendiri, sering  didengungkan Mas Reza sebagai bentuk penghayatan mendalam, alih-alih  sebagai aliran musik saja.Tom Waits punya kekuatan dalam bertutur,  sehingga satu lagu pun, bagi Mba Tarlen, punya arti yang baru terus  setiap kali didengarkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Project - &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fables_of_Faubus"&gt;Fables of Faubus&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  jazz ini dibawa oleh Jazzy via iPod. Lagu tersebut baru ia dengar hari  itu sehingga ia pun tidak bisa membahas secara mendalam. Akhirnya Mas  Reza membahas bahwa lagu ini adalah ciptaan komposer jazz Charles Mingus  yang mengritik Gubernur Arkansas di tahun 1957, Orval Faubus, atas  kebijakannya yang melarang beberapa anak sekolah keturunan Afrika untuk  bersekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lukas Sulic &amp;amp; Stepjan Hauser - &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Smooth_Criminal"&gt;Smooth Criminal&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  ini dibawa oleh Beben, sang operator. Karya yang dipopulerkan oleh  Michael Jackson tersebut dibawakan oleh duet cellist muda Kroasia, Lukas  Sulic dan Stepjan Hauser. Meskipun hanya berdua, tapi karya tersebut  ditampilkan dengan sangat penuh dan spektakuler. Peserta terhibur  dibuatnya, dan banyak mengira lagu itu dimainkan dalam format kuartet.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Secret_Garden_%28duo%29"&gt;Secret Garden&lt;/a&gt; - Hymn to Hope&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu  penutup ini dibawa oleh Haris. Tidak banyak pengetahuan yang mendasari  mengapa ia memilih lagu ini, namun jelas bahwa lagu ini sarat dengan  kedekatan emosional dengan si pembawa lagu. Lagu yang menenangkan dengan  instrumen utama bagpipe Skotlandia itu berlangsung datar tapi sangat  melodius.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian kedua belas lagu yang  diputar dalam Edisi Playlist #5. Sesungguhnya pertemuan tersebut bukan  ditujukan untuk mencari kesepahaman atau objektivitas musik. Hanya  sekedar sebagai tempat dimana kita bisa menghargai "kepercayaan" yang  dipunyai oleh orang lain. Metallica, yang menjadi teman saya di kala  SMP, dari bangun tidur hingga tidur lagi, tidak ada guna apapun bagi  saya kala ia dibahas aspek musikalnya sekalipun. Bagi saya ia sudah  melekat, mendarah daging, dan yang pribadi itulah yang jauh lebih  penting dari kesepahaman apapun. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.syarifmaulana.blogspot.com/"&gt;Syarif Maulana&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6442370206772480761?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6442370206772480761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6442370206772480761' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6442370206772480761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6442370206772480761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/04/klabklassik-edisi-playlist-5-dari-gito.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist #5: Dari Gito Rollies hingga Secret Garden'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm6.static.flickr.com/5228/5649366099_4a4c81bae3_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-995991005059804225</id><published>2011-04-18T08:44:00.001-07:00</published><updated>2011-07-15T18:18:02.924-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Bersiaplah untuk KlabKlassik Edisi Playlist #5</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersiaplah  untuk KlabKlassik Edisi Playlist #5 yang akan berlangsung tanggal 24  April 2011 jam 15.00-18.00. KlabKlassik Edisi Playlist adalah  kumpul-kumpul rutin yang terbuka untuk umum. Peserta kumpul -kumpul  berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya dalam flashdisk  untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Di akhir pemutaran setiap  lagu, akan dianalisis oleh komposer Diecky K. Indrapraja dan penggalau  musik Ismail Reza. Calon peserta diharapkan mendaftarkan dahulu lagu  yang akan diputar ke &lt;b&gt;tobucil@gmail.com&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;syarafmaulini@gmail.com&lt;/b&gt; untuk diatur urutan pemutarannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan  tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan  bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah  jarang sekali diperlakukan sebagai "musik &lt;i&gt;an sich&lt;/i&gt;". Musik  sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di  mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk,  menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang  sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tobucil.blogspot.com/2010/11/apresiasi-lagu-favoritmu.html"&gt;Liputan Edisi Playlist #1&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tobucil.blogspot.com/2011/01/klabklassik-edisi-playlist-memamerkan.html"&gt;Liputan Edisi Playlist #2&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tobucil.blogspot.com/2011/02/klabklassik-edisi-playlist-3-dari.html"&gt;Liputan Edisi Playlist #3&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tobucil.blogspot.com/2011/03/klabklassik-edisi-playlist-4.html"&gt;Liputan Edisi Playlist #4&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://farm6.static.flickr.com/5211/5484501111_33f46cf2e9_m.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://farm6.static.flickr.com/5211/5484501111_33f46cf2e9_m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan: Lagu tak perlu lagu klasik biarpun ini KlabKlassik. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-995991005059804225?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/995991005059804225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=995991005059804225' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/995991005059804225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/995991005059804225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/04/bersiaplah-untuk-klabklassik-edisi.html' title='Bersiaplah untuk KlabKlassik Edisi Playlist #5'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm6.static.flickr.com/5211/5484501111_33f46cf2e9_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-3739300619925355471</id><published>2011-04-18T08:42:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T18:18:54.191-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Menghayati Musik lewat Piringan Hitam</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Minggu, 10 April 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Ada yang  menarik di hari minggu genap pertemuan KlabKlassik kemarin. Ismail Reza  atau Mas Reza, turun dari mobilnya membawa tiga tas besar ke beranda  Tobucil. Perlahan-lahan ia memburaikan isinya, dan kamipun mulai  tertegun. Mulai dari alat pemutar (jangan lupa jarumnya), trafo,  speaker, kabel, dan yang pamungkasnya: piringan hitam! Hari itu memang  sesuai rencana, Klablassik menyelenggarakan suatu diskusi mengenai  piringan hitam. Sesungguhnya bukan diskusi, yang esensial justru  “mendengar”, mengetahui kualitas audio yang dihasilkan oleh benda  tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center; font-family: georgia;"&gt;&lt;a href="http://farm6.static.flickr.com/5221/5606461418_b8d34af540_b.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://farm6.static.flickr.com/5221/5606461418_b8d34af540_b.jpg" border="0" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"  style="text-align: center; font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:78%;"&gt;Mas Reza dan Kang Tikno di hadapan piringan hitam beserta pemutarnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"  style="text-align: center; font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Piringan  hitam yang dicobakan pertama untuk didengarkan dalam forum adalah karya  Piotr Ilyich Tchaikovsky. Karya panjang berdurasi sekitar lima belas  menit itu, sukses melahirkan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ambience&lt;/i&gt;  yang betul-betul berbeda di Tobucil: Sayatan biola terasa jernih, gegap  gempita orkestra terasa di dada, ketebalan musik menjadi sangat  mengenyangkan. Satu jam pertama forum tiada berbicara apa-apa, kecuali  hanya duduk kagum, seolah kami adalah masyarakat Indian yang tertegun  menyaksikan telur diberdirikan oleh Kolombus. Padahal telur itu, kita  tahu, bukanlah sesuatu yang istimewa. Hanya benda yang sesungguhnya  berasal dari keseharian yang luput dari pengamatan, persis seperti kasus  piringan hitam ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Berturut-turut  kemudian diputar piringan hitam dari komposer Denmark, Craig Nielsen,  lalu Louis Armstrong (ah, indahnya kala ia memainkan La Vie en Rose),  dilanjut Stanley Clarke, hingga Emerson, Lake &amp;amp; Palmer. Tidak ada  suatu diskusi serius sampai tiba di beranda Tobucil, Pak Tono, seorang  dosen apresiasi musik dari UPI. Pak Tono mengangkat tema menarik, bahwa  ada dua macam karya musik, yang pertama adalah yang dimanipulasi, yang  kedua adalah yang murni. Manipulasi berarti sudah direkam, diedit, dan  dipadatkan, sedangkan yang murni berarti musik pertunjukkan atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;live music. &lt;/i&gt;Piringan hitam jelas masuk dalam jenis manipulasi. Hanya saja, manipulasi piringan hitam masih mengupayakan agar &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;experience&lt;/i&gt; (saya tidak menerjemahkannya dengan pengalaman) musik pertunjukannya masih terasa. Beda dengan format mp3 hari ini yang mana &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;experience&lt;/i&gt;  musik pertunjukkan tidak lagi menjadi inti. Yang penting manusia  bisamengunduh lagu sebanyak-banyaknya. Tidak perlu capek-capek beli  piringan hitam dengan ukuran besar, mahal, tapi durasinya pendek, cukup &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;download&lt;/i&gt; gratis, atau beli enam ribu bajakan, lagu isinya berlimpah, tanpa mempertimbangkan lagi aspek kualitas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;experience&lt;/i&gt; itu tadi. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Pembahasan  menjadi masuk kepada sistem perekaman piringan hitam yang masih analog.  Dengan sistem analog, kata Kang Tikno, sesungguhnya memang ada proses  yang lama dan melelahkan. Tapi sebenarnya detail-detail seperti timbre,  dinamika, dan ketebalan masih dijaga. Sedangkan dalam proses  digitalisasi, proses menjadi mudah, cepat, massal, tapi ada  pengompresian kualitas yang cukup serius. Pada akhirnya, musisi-musisi  yang pernah dipasarkan karyanya dalam piringan hitam, niscaya lebih  mementingkan kualitas bermain, karena proses editing masih belum  canggih, dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;output&lt;/i&gt; suara lebih detail. Beda dengan musisi sekarang yang melemparkan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;output&lt;/i&gt; pada kualitas digitalisasi alih-alih kualitas permainan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Mas Reza juga  menyayangkan cara mendapatkan musik hari ini yang begitu mudah, cepat,  tapi kemudian gagal untuk mengenal si kreator. Dalam piringan hitam,  dengan eksklusifitasnya, penikmat musik dapat bersentuhan langsung  dengan si musisi lewat kualitas suara, dan juga lewat desain grafik si  bungkus piringan hitam itu sendiri. Di piringan hitam Emerson, Lake  &amp;amp; Palmer misalnya, terdapat semacam gambar yang mengilustrasikan isi  keseluruhan album tersebut. Dengan membeli piringan hitam beserta paket  desain itu, kita sesungguhnya tidak hanya membeli musik, tapi juga  membeli &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;experience.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Demikian kami mengobrol. Mengobrol yang sebetulnya cuma selingan. Selingan dari sajian musik yang hari itu membius kita semua. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;a href="http://www.syarifmaulana.blogspot.com/"&gt;Syarif Maulana&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center; font-family: georgia;"&gt;&lt;a href="http://farm6.static.flickr.com/5309/5606456464_d18a248ef5_b.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://farm6.static.flickr.com/5309/5606456464_d18a248ef5_b.jpg" border="0" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"  style="text-align: center; font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:78%;"&gt;Ketika Louis Arsmstrong diputar, banyak yang tertunduk bagai berdoa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-3739300619925355471?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/3739300619925355471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=3739300619925355471' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3739300619925355471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3739300619925355471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/04/menghayati-musik-lewat-piringan-hitam.html' title='Menghayati Musik lewat Piringan Hitam'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm6.static.flickr.com/5221/5606461418_b8d34af540_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-5469365127447570796</id><published>2011-03-31T10:58:00.000-07:00</published><updated>2011-03-31T10:59:32.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist #4: Dari Metallica hingga Jason Becker</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Seperti biasa, minggu keempat  KlabKlassik mesti diisi edisi Playlist. Yakni kumpul-kumpul dimana  masing-masing orang membawa satu lagu dalam flashdisk. Diputar dan  didengarkan sama-sama, acara ini mengharuskan stamina dan konsentrasi  yang sangat tinggi, karena seringkali kita dipaksa untuk mendengarkan  musik yang bukan selera kita. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti biasa juga, dua analisator dihadirkan agar &lt;i&gt;listening party&lt;/i&gt;  ini menjadi agak berbobot, yakni Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja.  Awalnya acara diadiri beberapa orang saja, yakni Deni dan Firman dari  Bandung Guitar Network, Nia dari Reading Lights dan Martina Klab Rajut.  Hanya saja menit demi menit berlalu, mulai berdatangan orang-orang ke  Tobucil dan akhirnya hadirlah sekitar total dua belas orang. Kedua belas  orang tersebut sukses memutar lagunya masing-masing di mesin bernama  laptop yang disambungkan pada speaker. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski dua belas orang, tapi lagu  yang ditampilkan ada sekitar lima belas. Ini dikarenakan Mas Reza dan  Mas Beben masing-masing menyuguhkan dua lagu. Maksudnya, mereka ingin  mengkomparasi dua lagu yang bertemakan sama. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Edisi Playlist dibuka dengan  lagu dari saya yakni Metallica dengan judul Master of Puppets, disambung  dengan lagu dari Deni yang sama-sama Metallica dengan judul Enter  Sandman. Analisis dari Mas Reza adalah, bahwa Enter Sandman sudah  dipadatkan dalam format &lt;i&gt;radio friendly&lt;/i&gt;. Durasi lebih pendek, solo gitar lebih ringan, dan&lt;i&gt; beat&lt;/i&gt;  yang lebih familiar. Bahkan bagi penggila metal tertentu, Enter Sandman  yang masuk dalam Black Album disebut-sebut sudah tidak metal.  Ke-metal-an Metallica stop di album keempat, yakni And Justice For All. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mas Beben dapat giliran berikutnya, yaitu menampilkan opera dari  Rossini yang berjudul Miau Miau Miau ( Duetto Buffo di Due Gatti) yang  ia setel dalam dua versi: yang dinyanyikan anak-anak dan orang dewasa.  Lagu ini cukup menarik perhatian karena suara lengkingan opera yang khas  hanya berisikan satu kata, yakni "Miau". Apresiasi yang terlalu serius  mendapat kritikan dari salah seorang peserta yakni Brigitta. Katanya,  "Kalian kok pada serius, aku sih malah geli denger lagu ini."&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mas Reza dapat giliran nomor tiga, ia membawakan karya band  progresif Italia yakni Premiata Forneria Marconi dengan dua judul yaitu  Per un Amico dan Dolcissima Maria. Seperti biasa Mas Reza yang mempunyai  telinga khusus, lagu ini cukup sukar diapresiasi, karena musik yang  diusung cukup asing. Mereka menyuguhkan &lt;i&gt;skill&lt;/i&gt; tradisional klasik  sekaligus akar musik Italia, digabung dengan rock progresif. Grup yang  sejaman dengan Genesis dan Yes ini di masa itu dianggap menyuguhkan  semacam estetika percampuran baru yang cukup segar dan konon "khas"  Italia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nomor empat Mas Yunus yang maju. Masih dengan tema sama, yaitu  akulturasi klasik dan rock, Mas Yunus menyuguhkan String Quartet tribute  to Linkin Park dengan judul karya In The End. Meskipun riff rock nya  sangat kena via hentakan cello, namun Royke menyayangkan aransemennya  yang kelewat sederhana dan gagal mengeksplorasi potensi dari sebuah  kuartet gesek. Namun Diecky cukup menetralisir dengan mengatakan,  "Mungkin aransemen ini ditujukan bagi anak-anak atau orang yang baru  belajar, sehingga dibuat sederhana saja."&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah berkutat di bau-bau klasik, akhirnya forum memutuskan untuk  meninggalkan sejenak dan mendengarkan milik Nita. Ia membawa lagu Simon  and Garfunkel berjudul America. Lagu melendut khas &lt;i&gt;psychedelic&lt;/i&gt; di  akhir 1960-an ini cukup menenangkan suasana dan membuat beberapa  peserta berimajinasi ke alam lain. Seperti kata Firman, "Seperti tiduran  di padang rumput disinari sang surya." &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lagu yang dibawa Nia yakni Adele berjudul Rolling in The Deep  mendapat pembahasan yang cukup panjang. Salah satunya dikarenakan Adele  dianggap sukses menyanyi seperti penyanyi kulit hitam padahal dia  seorang putih. Intinya, soul dan blues Adele dianggap "dapet" dan  "kena". Diecky malah tertipu karena dikiranya ini penyanyi era 80-an  dimana &lt;i&gt;skill&lt;/i&gt; penyanyi masih unggul.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jethro Tull dengan Songs from The Wood kiriman AM (nama orang,  semoga betul cara menulisnya) mendapat perhatian lebih karena  aransemennya yang dahsyat. Tidak banyak kata terucap selain kekaguman.  Royke menyentil bahwa menarik jika Jethro Tull diputar di kafe-kafe,  bisa-bisa orang yang santai dan kerap mengetukkan kakinya akan salah  ketuk karena Jethro Tull punya banyak sekali variasi ketukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lagu dilanjutkan dengan Bubuka dan Mystical Mist dari Krakatau.  Kiriman Kang Tikno itu membawa peserta playlist pada musik Indonesia  untuk pertama kalinya hari itu. Pembahasan menjadi berkembang pada  keprihatinan musik Indonesia yang lebih dihargai di luar ketimbang di  dalam negeri. Contohnya ya Krakatau itu, yang begitu dicari di Eropa,  hingga wanita-wanita bersedia mengetuk kamar hotelnya. Sedangkan di  Indonesia job manggungnya relatif jarang dan apresiasinya kurang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Brigitta dapat giliran berikutnya. Ia memutar karya band Indie Yogya  bernama Frau yang berjudul Rat and Cat. Meski lokal, hidangan band ini  betul-betul terasa jazzy dengan swing yang cukup mantap. Hadirin cukup  kaget dengan logat vokalnya yang sangat Barat dan tidak &lt;i&gt;medhok.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Firman berikutnya, menjelang akhir pertemuan, memutar karya Parkway  Drive yang berjudul Idols and Anchors. Karya tersebut sangat  menginspirasi dirinya untuk bermain drum hingga hari ini. Berhubung  sudah berlangsung hingga tiga jam, akhirnya pembahasan dipersingkat dan  langsung ke karya pamungkas yakni Jason Becker berjudul Air yang dibawa  oleh Kang Aka. Karya terakhir sangat cocok sebagai penutup. Beraroma  klasik, Jason Becker menampilkan teknik gitar elektrik yang amat tinggi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-96N9nUZs42A/TZDW13YND7I/AAAAAAAAFno/1QNvxmjpvLA/s1600/DSC06187.JPG" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-96N9nUZs42A/TZDW13YND7I/AAAAAAAAFno/1QNvxmjpvLA/s320/DSC06187.JPG" width="320" border="0" height="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Speaker yang dikitari bagai api unggun di malam hari&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Playlist edisi keempat ditutup  dengan aura cukup segar, karena ternyata beberapa diantaranya, seperti  Nita, mengakui bahwa ia menemukan wadah tempat musik-musik favoritnya  dihargai secara tulus. Ia mengaku sering mendapat cemoohan karena  menyukai musik-musik macam The Doors. Dua minggu ke depan, KlabKlassik  akan bertemakan "Mengenal Piringan Hitam dan Kualitas Suara yang  Dihasilkannya". Jangan lupa hadiri ya. Gratis, ditraktir kopi pula.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-5469365127447570796?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/5469365127447570796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=5469365127447570796' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5469365127447570796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5469365127447570796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/03/klabklassik-edisi-playlist-4-dari.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist #4: Dari Metallica hingga Jason Becker'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-96N9nUZs42A/TZDW13YND7I/AAAAAAAAFno/1QNvxmjpvLA/s72-c/DSC06187.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-9006053425927723015</id><published>2011-03-15T05:38:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T18:19:11.166-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Menghadirkan Alam Lain lewat Musik Psikedelik</title><content type='html'>&lt;p&gt;Minggu, 13 Maret 2011&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Eight miles high and when you touch down&lt;br /&gt;You’ll find that it’s stranger than known&lt;br /&gt;Signs in the street that say where you’re going&lt;br /&gt;Are somewhere just being their own&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lirik di atas adalah penggalan dari lagu The Byrds yang berjudul Eight Miles High. Lagu tersebut menjadi pembuka pertemuan KlabKlassik yang bertemakan musik Psikedelik. Dipandu oleh Ismail Reza, diskusi tersebut berlangsung dalam kelompok kecil, sekitar lima orang, namun menarik. Secara sederhana, musik psikedelik diartikan sebagai musik yang terinspirasi oleh penggunaan obat-obatan seperti LSD, mariyuana, heroin dan sejenisnya. Dalam musik itu, diupayakan hadirnya ilustrasi dari "alam lain", yakni alam yang dihasilkan oleh pengaruh obat-obat tersebut.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;Musik yang dihadirkan memang "sesuai", misalnya temponya yang mendayu, melendut, sampai terdapat bebunyian eksperimen yang tiba-tiba, persis seperti jika seseorang dalam pengaruh obat-obatan. Mas Reza kemudian menjelaskan, fenomena tahun 60-an dan 70-an di Amerika dan sebagian Eropa ini sebetulnya tak bisa langsung dicap sebagai penyalahgunaan. Bagi sebagian besar masyarakat Amerika, misalnya, ini adalah bentuk perlawanan terhadap Perang Vietnam yang kala itu sedang marak sebagai efek Perang Dingin. Masyarakat Amerika merasa bahwa realitas begitu menyedihkan, begitu menakutkan, rasionalitas ternyata bisa begitu dingin dan kejam, maka marilah kita cari kebenaran dan ketenangan di "alam lain". Ini juga didorong oleh pengaruh budaya Timur yang mulai masuk ke Amerika. Di Timur, orang-orang "berpindah alam" dengan meditasi, membuat Barat pun tergiur. Bedanya, Barat memakai obat-obat.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;Diskusi berlangsung cukup padat dan mendalam, terutama ditambah dengan kehadiran Budi Warsito yang juga penggemar musik-musik macam ini. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah Bach dan Beethoven, juga membutuhkan semacam "doping" dalam menelurkan mahakaryanya? Diecky K. Indrapraja menjawab begini, "Seniman manapun selalu membutuhkan sesuatu dari luar dirinya dalam mencipta. Doping itu tak mesti obat-obatan, bisa istri, bisa pacar, bisa kopi, ataupun bir. Tapi yang pasti, 'alat bantu' itu mustahil tidak ada." Di ranah agama, Rudi, salah seorang peserta memaparkan profil Jalaluddin Rumi, seorang sufi yang membutuhkan anggur dan tarian memutar untuk "mencapai hakekat". &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;KlabKlassik seolah berubah arah, berganti kiblat, tak lagi membahas komposer abad ke-16 hingga ke-18. Tapi tidakkah wikipedia sudah hadir memfasilitasi semuanya jika kau ingin tahu? Yang esensial barangkali adalah bukan soal tiadanya bahasan tentang abad Barok hingga Romantik tersebut, melainkan bagaimana caranya agar musik psikedelik ataupun musik Kangen Band sekalipun, bisa menjadi puzzle yang melengkapi cara kita dalam memandang perkembangan musik Barat secara komprehensif. Amin.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.kosmikradiation.com/albums_files/santana-abraxas.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://www.kosmikradiation.com/albums_files/santana-abraxas.jpg" border="0" height="320" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kover album Santana, Abraxas, contoh gerakan psikedelik di bidang seni rupa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.kosmikradiation.com/albums_files/santana-abraxas.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Playlist hari itu:&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;1. Pendahulu - American Scene:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Byrds"&gt;The Byrds&lt;/a&gt; - Eight Miles High&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/13th_Floor_Elevators"&gt;13th Floor Elevator&lt;/a&gt;- You Don't Know (How Young You Are)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jefferson_Airplane"&gt;Jefferson Airplane&lt;/a&gt; - White Rabbit&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;2. Pendahulu - British Scene: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Yardbirds"&gt;The Yardbirds&lt;/a&gt; - For Your Love&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Soft_Machine"&gt;Soft Machine&lt;/a&gt; - A Certain Kind&lt;br /&gt;Soft Machine - Pataphysical Introduction pt 2 / Out of Tunes&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pink_Floyd"&gt;Pink Floyd &lt;/a&gt;- Mathilda's Mother / Interstellar Overdrive&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;3. yang Mempopulerkan:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Beatles"&gt;The Beatles&lt;/a&gt; - Being for the Benefit of Mr. Kite!&lt;/span&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;‎4. Tell me a Story:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cream_%28band%29"&gt;Cream&lt;/a&gt; - Tales of the Brave Ulysses&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gong_%28band%29"&gt;Gong&lt;/a&gt; - Oily Way&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;‎5. Soundtrack for the Era&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sly_and_the_Family_Stone"&gt;Sly &amp;amp; the Family Stone&lt;/a&gt; - Thank You (Faletinme Be Mice Elf Agin)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;6. Jazz&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Miles_Davis"&gt;&lt;br /&gt;Miles Davis&lt;/a&gt; - Black Satin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;7. Grunge/Seattle Sound&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Soundgarden"&gt;Soundgarden&lt;/a&gt; - Black Hole Sun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;‎8. Neo Psychedelia:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Black_Mountain_%28band%29"&gt;The Black Mountain&lt;/a&gt; - Wucan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Boris_%28band%29"&gt;Boris&lt;/a&gt; - My Neighbor Satan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span jsid="text"&gt;&lt;a href="http://www.syarifmaulana.blogspot.com/"&gt;Syarif Maulana&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span jsid="text"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span jsid="text"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span jsid="text"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span jsid="text"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-9006053425927723015?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/9006053425927723015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=9006053425927723015' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/9006053425927723015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/9006053425927723015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/03/menghadirkan-alam-lain-lewat-musik.html' title='Menghadirkan Alam Lain lewat Musik Psikedelik'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1434777884012515416</id><published>2011-02-28T12:46:00.001-08:00</published><updated>2011-02-28T12:47:57.856-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Four Hands Piano Recital: “Suatu Ketika di Théâtre du Châtelet”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://lh6.googleusercontent.com/-JuRbK0cdGF8/TWtIiViBfvI/AAAAAAAAFnA/t1TBqymyDj8/s320/piano+duet+resize.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="https://lh6.googleusercontent.com/-JuRbK0cdGF8/TWtIiViBfvI/AAAAAAAAFnA/t1TBqymyDj8/s320/piano+duet+resize.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta Conservatory of Music,&lt;br /&gt;KlabKlassik, Tobucil, Maestro 92,5 FM&lt;br /&gt;Mempersembahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Four Hands Piano Recital: “Suatu Ketika di Théâtre du Châtelet”&lt;br /&gt;Glenn Bagus - Iswargia R. Sudarno&lt;br /&gt;Sabtu, 12 Maret 2011 pk. 19.30&lt;br /&gt;Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32&lt;br /&gt;Tiket Rp. 30.000&lt;br /&gt;Tersedia di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548) (Mulai hari Rabu, tanggal 2 Maret 2011)&lt;br /&gt;atau hub. Syarif (0817-212-404)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repertoar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonata for Piano Four-Hand in C Major, KV 521 – Wolfgang Amadeus Mozart&lt;br /&gt;1. Allegro&lt;br /&gt;2. Andante&lt;br /&gt;3. Allegretto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Six Morceaux, Op. 11 – Sergei Rachmaninoff&lt;br /&gt;1.Barcarolle&lt;br /&gt;2.Scherzo&lt;br /&gt;3.Theme Russe&lt;br /&gt;4.Valse&lt;br /&gt;5.Romance&lt;br /&gt;6.Slava&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-intermission-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapsodie espagnole – Maurice Ravel&lt;br /&gt;1.Prélude à la nuit: très modéré&lt;br /&gt;2.Malagueña: assez vif&lt;br /&gt;3.Habanera: assez lent et d'un rythme las&lt;br /&gt;4. Feria: assez animé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trois mouvements de Pétrouchka – Igor Stravinsky&lt;br /&gt;1. Dance Russe&lt;br /&gt;2. Chez Pétrouchka&lt;br /&gt;3. Le semaine grasse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glenn Bagus memulai studi piano pada usia enam tahun, Pada usia sebelas tahun ia terpilih menjadi anggota Junior Original Concert (JOC), sebuah wadah pelatihan musik dimana para anggotanya di didik secara intensif untuk mengarang komposisi musik dan menampilkannya pada ajang nasional dan internasional. Selain itu Glenn juga aktif mengikuti berbagai ajang Kompetisi Piano, dimana ia berhasil meraih piala Grand Prize pada Yamaha Piano Competition pada tahun 1991. Glenn kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi musiknya di Berklee College Of Music, USA dan meraih gelar Bachelor Of Music. Ia juga kemudian terpilih menjadi satu-satunya pianist yang bukan berkewarganegaraan Amerika untukbergabung dengan Disney All-American College Orchestra; dimana mereka mengadakan konser secara rutin di Epcot Center, Disenyland, Florida, USA; dan bekerjasama dengan artis-artis dunia seperti Peabo Bryson, Shirley Jones, Kenny Werner dan Betty Buckley. Setelah kembali ke Indonesia dan berkarir dalam bidang musik sambil menimba ilmu di bidang Busines/Management, Glenn terpilih untuk kembali melanjutkan studi musiknya di University Of Miami, USA atas beasiswa dari Fulbright Foundation. Glenn berhasil mendapatkan gelar Master Of Music dengan predikat Magna Cum Laude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iswargia R. Sudarno tidak hanya dikenal sebagai seorang pianis, namun juga sebagai seorang pendidik dan pengarah acara serta perancang program kegiatan-kegiatan seni musik. Sebagai pianis ia telah tampil di empat benua, dan menjadi solis bersama beberapa orkestra di tanah air seperti Orkes Simfoni Nusantara, National Youth Orchestra Indonesia, Jakarta Chamber Orchestra, dan Orkes Simfoni Institut Seni Indonesia. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai tutor Nusantara Chamber Orchestra, direktur akademik Yayasan Musik Internasional, dan direktur musik National Youth Orchestra Indonesia. Dilahirkan di Bandung, Iswargia memulai pelajaran pianonya di sana, berturut-turut bersama Ibu Wibanu, Partosiswojo, John Gobée, dan Oerip S. Santoso. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya di bidang arsitektur di Institut Teknologi Bandung; ia melanjutkan pendidikan S-2-nya di bidang musik di Manhattan School of Music, New York, Amerika Serikat, dibawah bimbingan pianis &amp;amp; pedagog legendaris Karl Ulrich Schnabel, hingga meraih gelar Master of Music. Selama musim-musim panas, ia juga berguru pada pianis- pianis kenamaan, seperti Bela Siki di Johanessen International School of the Arts (Kanada), Gabriel Chodos dan Rita Sloan di Aspen Music School (Amerika Serikat), dan Robert Levin di Mozarteum International Summer Academy (Austria). Ia juga mendapat beasiswa dari DAAD untuk memperdalam pengetahuan musiknya di Staatliche Hochschule für Musik Freiburg, Jerman, dibawah bimbingan Hansjörg Koch. Saat ini, selain menjabat sebagai direktur akademik Konservatorium Musik Jakarta, ia juga menjadi dosen dan pengajar ahli Konservatorium Musik Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Universitas Pendidikan Indonesia. Ia juga kerap memberikan master class di beberapa kota besar di Indonesia dan juga di Asia International Piano Academy and Festival di Korea. Hingga kini murid-muridnya telah banyak memenangkan berbagai kompetisi tingkat nasional, maupun internasional.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1434777884012515416?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1434777884012515416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1434777884012515416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1434777884012515416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1434777884012515416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/02/four-hands-piano-recital-suatu-ketika.html' title='Four Hands Piano Recital: “Suatu Ketika di Théâtre du Châtelet”'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-JuRbK0cdGF8/TWtIiViBfvI/AAAAAAAAFnA/t1TBqymyDj8/s72-c/piano+duet+resize.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-2287747672809219370</id><published>2011-02-28T12:45:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T12:46:17.877-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist #3: Dari Deathmetal hingga Kerispatih</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 27 Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik minggu keempat selalu diisi dengan edisi playlist. Yaitu  berkumpul dan mengapresiasi musik sama-sama, atau bisa juga dinamakan &lt;i&gt;active listening. &lt;/i&gt;Musik  yang disetel itu sendiri berasal dari masing-masing yang datang, mereka  membawa satu musik favorit yang dimasukkan ke dalam flashdisk.  Kebetulan hari itu juga klab mengundang Ismail Reza, salah seorang  penggiat Tobucil di masa lampau tapi juga sekaligus seseorang yang  menurut Mba Tarlen adalah "pengamat &lt;i&gt;progressive rock&lt;/i&gt;". Berduet  dengan analis rutin klab yaitu Diecky K. Indrapraja, mereka menjadikan  suasana playlist menjadi lebih hidup, berbobot, dan berwawasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu pertama datang dari Hin-Hin. Gitaris band metal Beside tersebut membawa satu lagu dari band metal Swedia yang beraliran &lt;i&gt;melodic deathmetal&lt;/i&gt;.  Sebagai lagu pembuka, lagu tersebut cukup bising dan mengagetkan.  Terutama liriknya yang kurang jelas dan hanya terdengar seperti  teriakan-teriakan saja. Kata Hin-Hin, ia menyetel lagu ini untuk  meluruskan, bahwa band-band metal tak selamanya menyuarakan lirik-lirik  satanik. Di antaranya ada yang menyinggung isu politik, agama, bahkan  cinta yang tak jarang dibalut syair-syair puitik. Mas Reza menambahkan  bahwa ketidakjelasan lirik itu seperti yang sudah lumrah dan disengaja.  Band-band tersebut seolah menjadikan suara vokal bukan lagi penyampai  kata, tapi juga instrumen seperti halnya gitar, bas, dan drum. Padahal,  lucunya, kata Mas Reza, lirik-lirik itu seringkali kompleks. Namun  kenapa dibuat kompleks kalau ujung-ujungnya tak terdengar mereka ngomong  apa?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu berikutnya dari Bebeng, ia menyetel Music of The Night dari &lt;i&gt;soundtrack&lt;/i&gt;  Phantom of The Opera. Lagu ini gagah, orkestratif, dan jangkauan  dinamikanya sangat luas. Beben menyukainya karena lagu tersebut punya  nilai historis, ia jadi ingin menggeluti dunia &lt;i&gt;choir&lt;/i&gt; gara-gara  lagu ini. Mba Tarlen, pemilik Tobucil juga ternyata mengikuti forum ini.  Lewat dua lagu yang ia bawa, yakni lagu White Stripes berjudul The  Hardest Button to Button versi band dan orkestra, ia ingin menyuguhkan  perbedaan keduanya. Namun forum tersebut sepakat bahwa versi band jauh  lebih hidup. Padahal, White Stripes hanya bermodalkan dua orang dengan  dua instrumen, yaitu gitar (merangkap vokal) dan drum. Kata Mas Reza,  hebatnya White Stripes berasal dari vokalisnya, Jack White yang sangat  menguasa blues. Blues, bagi Mas Reza, adalah syarat utama bagi sebuah  lagu untuk menemukan &lt;i&gt;feel&lt;/i&gt;-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu diputar  berturut-turut lagu bawaan Nia yakni dari Daft Punk yang berjudul  Something About Us. Lagu tersebut dikomentari Iyok dengan satu kata  saja: "Galau!" Setelah itu lagu dari Mas Reza yaitu Sunn-O dengan judul  cukup unik: megszentségteleníthetetlenségeskedéseitekért. Lagu kelam  berdurasi sembilan menit tersebut bertemakan semacam mantra-mantra yang  kerap diucapkan kala inkuisi gereja pada kaum bid'ah. Lagu tersebut  disambut oleh lagu tak kalah absurdnya, yaitu Four Voice Canon dari  Larry Polanski. Lagu tersebut berasal dari Diecky. Setelah dikuras  otaknya oleh dua lagu terakhir tersebut, forum playlist didinginkan oleh  tiga lagu terakhir yaitu lagu Paman Doblang dari Kantata Takwa (bawaan  Kang Tikno), lagu  dari Glee (Martina) dan lagu dari Kerispatih (Dini).  Ketiganya menjadi penutup diskusi minggu itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata, selama ini musik hanya  menjadi latar kehidupan kita saja. Ia dinikmati sebagai komponen  tambahan. Namun ketika musik dinikmati sebagai musik: Kita mendengar  dengan serius, diam, dan konsentrasi, maka ternyata hal tersebut adalah  kegiatan yang cukup melelahkan juga. Dua jam setengah, sepuluh lagu,  kami berkeringat, sakit kepala, gelisah, namun jangan-jangan secara  batin menjadi sehat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="goog_2089127948"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.syarifmaulana.blogspot.com/"&gt;Syarif Maulana&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-2287747672809219370?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/2287747672809219370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=2287747672809219370' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2287747672809219370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2287747672809219370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/02/klabklassik-edisi-playlist-3-dari.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist #3: Dari Deathmetal hingga Kerispatih'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-5556519115727658390</id><published>2011-02-28T12:43:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T12:45:13.801-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Bermain Musik bersama Ammy Kurniawan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ZZeVYpSK91c/TWGLtt_YEsI/AAAAAAAAFmw/n14V3o69PMQ/s1600/ammy1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-ZZeVYpSK91c/TWGLtt_YEsI/AAAAAAAAFmw/n14V3o69PMQ/s320/ammy1.jpg" width="320" border="0" height="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu sore itu beranda Tobucil kehadiran rak-rak efek dan &lt;i&gt;amplifier&lt;/i&gt;. Ternyata akan diadakan &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt; mengenai &lt;i&gt;alternative strings&lt;/i&gt; dari Ammy Kurniawan, pemain biola grup band 4 Peniti. Ammy yang cukup aktif di blantika musik nasional sebagai &lt;i&gt;additional&lt;/i&gt; &lt;i&gt;player&lt;/i&gt;  dari beberapa band seperti Rif, Ari Lasso, hingga Nidji, memulai acara  ini dengan paparan selama kurang lebih 45 menit. Paparan itu adalah  mengenai apa itu &lt;i&gt;alternative strings&lt;/i&gt;. Berdasarkan paparan Ammy, &lt;i&gt;alternative strings&lt;/i&gt;  adalah cara mengekplorasi teknik-teknik dalam bermain biola sehingga  sanggup menciptakan efek yang atraktif, menghibur, dan improvisatif.  Lagu-lagu yang dimainkan akan terasa berbeda dan lebih hidup, karena  basisnya: bermain musik harus senang, dan tidak boleh tertekan. Hal  tersebut juga yang ditekankan Ammy berulang-ulang, bahwa kata "main"  adalah hal yang penting dalam musik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ammy kemudian memulai prakteknya  dengan memperagakan beberapa teknik, semisal chop and groove,  contoh-contoh improvisasi, dan penggunaan efek-efek. Yang menarik adalah  kala Ammy memperagakan looping, Dengan looping, ia bisa membuat empat  suara biola sekaligus. Ia menciptakan langsung di tempat, ritmik, bass  line, harmoni, hingga melodinya, yang ia beri judul "Orang Sunda".  Dengan looping, keempat suara yang ia ciptakan terpisah dapat menjadi  satu karya lengkap, seperti beberapa orang sekaligus!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Workshop kemudian menjadi  interaktif kala Ammy mengajak beberapa orang yang datang untuk bermain  biola. Yang tampil ke depan adalah Fiola dan Brigitta dengan biolanya  masing-masing. Namun sayang, lagu Canon yang sudah disodorkan oleh Ammy,  tidak disikapi dengan improvisasi bebas oleh kedua violinis tersebut.  Ammy mengatakan bahwa ini adalah "penyakit musik klasik", yaitu kala  orang terlalu takut dalam bermain musik. Kebetulan saat itu ada murid  Ammy bernama Abigail yang berani mencoba berimprovisasi sehingga suasana  interaksi kembali terbangun. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eicAYztXjSg/TWGL2lh7s6I/AAAAAAAAFm0/RysoJ1m0NFw/s1600/ammy2.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-eicAYztXjSg/TWGL2lh7s6I/AAAAAAAAFm0/RysoJ1m0NFw/s320/ammy2.jpg" width="320" border="0" height="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di akhir acara, Diecky berbicara  seperti halnya Kiai di penutup film horor. Ia menetralisir dan  mendudukkan keadaan menjadi "kembali tertib". Kata Diecky, "Ammy  mengajarkan kita untuk menjadikan instrumen barat sebagai sesuatu yang  tak harus membuat kita jadi mesti berkiblat kesana (Barat). Instrumen  barat adalah cuma alat, untuk mencari tahu jati diri kita sebenarnya. Ya  bagi Ammy, orang Sunda itu sendiri. Kesundaan."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="goog_556358881"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.syarifmaulana.blogspot.com/"&gt;Syarif Maulana&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; &lt;span style="font-size: x-small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Foto oleh Desiyanti Wirabrata&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-5556519115727658390?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/5556519115727658390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=5556519115727658390' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5556519115727658390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5556519115727658390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/02/bermain-musik-bersama-ammy-kurniawan.html' title='Bermain Musik bersama Ammy Kurniawan'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ZZeVYpSK91c/TWGLtt_YEsI/AAAAAAAAFmw/n14V3o69PMQ/s72-c/ammy1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-2397220420707335994</id><published>2011-02-05T08:50:00.000-08:00</published><updated>2011-02-05T08:53:58.240-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Lagu, Kenangan, dan Korelasi Antar Keduanya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 30 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu itu, seperti biasa saya datang ke Toko Buku Kecil di Jl. Aceh no. 56, untuk menghadiri komunitas kecil akhir pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Kakak saya, yang sudah lebih dulu nongkrong di sana bersama Klab Rajut, menyambut saya setelah seminggu tak bersua. Pipinya hangat terpapar mentari yang menembus kisi-kisi fiber glass  atap garasi tempat kami berkumpul. Pertanyaan pertama saya padanya adalah tentang salah seorang anggota Klub Kuliner kami yang baru saja bertolak ke Australia. Hanya kakak saya seorang yang sempat menemuinya sebelum berangkat. “Dia menitipkan kenang-kenangan untukmu,” ujarnya ceria. “Apa itu?” Tanya saya, pura-pura tak tahu menahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           “Sebuah pelukan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta merta kakak memeluk saya sekali lagi, dengan erat. Di benak saya terbayang jelas kawan kami. Cantik jelita, dengan busana favorit yang biasanya bernuansa biru toska atau biru marlin. Lengkap dengan syal serta kalung etnik khas dirinya. “Semoga nona Artyana betah serta sukses di sana,” ucapku sembari menepuk bahu kakak. Ia bercerita, syal rajutan tangannya sendiri telah disampaikan pada yang empunya sebelum ia berangkat ke bandara. Syal berwarna ilalang kering yang amat senada dengan pakaian batik yang sahabat kami kenakan hari itu. Meski awalnya saya mutung karena tidak diajak bertemu terakhir kali, mustahil untuk ngambek lama-lama pada orang seperti kakak. Toh saya sendiri yang tidak menghubunginya selama seminggu, perkara kesibukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Klab Klasik yang kami ikuti membahas tema “Apresiasi Playlist Favorit”. Saya membawa satu file lagu lengkap dengan lirik yang sudah di-print. Karena tidak diharuskan lagu klasik, saya memilih “The Man Who Can’t Be Moved” dari The Script. Saya pulalah yang kebagian presentasi pertama kali. Kami beserta semua kawan membahas mengenai kekuatan lirik, yang kini jarang ditemui di lagu-lagu industri. Bagaimana lagu bertema Cinta seakan tidak pernah habis-habisnya diangkat, dan lagu saya merupakan contoh bahwa kisah romantis yang sedih tidak melulu harus diberi melodi yang sedih pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran berikutnya adalah Mas Tikno. Ia membuat kami cukup terhenyak dengan lagu Iwan Fals yang berjudul “Nak”. Liriknya yang kaya akan kritik sosial mampu membuat siapa saja resah, termasuk penguasa. Lagu tersebut juga diakui masih relevan dengan kondisi saat ini. Mas Diecky, yang datang tak lama kemudian, melemparkan bahan untuk diskusi. Apa yang akan terjadi seandainya Iwan Fals menggunakan musik klasik alih-alih musik Rock n’ Roll? Musik Klasik lebih subtil dan tidak gamblang dalam menyampaikan pesan komposernya. Contohnya, komposisi musik flute dari musisi Prancis yang sebenarnya berkisah mengenai kehidupan lesbian. Kesimpulannya, andai Iwan Fals menggunakan musik klasik, mungkin beliau bisa tertawa dalam hati meski tidak semua orang mengerti, bahwa sesungguhnya dia sedang mengkritik para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran selanjutnya adalah kakak saya. Karena laptop yang tersedia tidak ada yang bisa memutar CD darinya, akhirnya lagu tersebut diunduh dari YouTube. Sambil menunggu unduhan selesai, mas Wawan mempresentasikan sebuah lagu choir dari Paduan Suara Unpar. Lagu acapella itu bercerita mengenai masa muda yang hilang. Dinamik lagu yang berubah dari forte ke pianissimo menggambarkan kemarahan serta penyesalan ketika mengetahui waktu sudah berjalan begitu cepat, usia sudah keburu bertambah tanpa pencapaian, yang akhirnya berujung pada penerimaan kondisi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelahnya, unduhan selesai. “Book of Love” dari Peter Gabriel, mantan vokalis utama Genesis, diperdengarkan pada semua. Lagu ini punya cerita tersendiri, terutama untuk saya dan kakak saya. Selain merupakan lagu pernikahan kak Reza (abang kandung kakak saya), ini juga merupakan lagu istimewa yang dipersembahkan kakak pada saya. Tentu saja bukan karena kami hendak menikah. Pasalnya, lagu Book of Love punya tiga kata kunci: Reading, Singing, dan Giving Things. Kesemuanya itu, menurut kakak, sangat mengacu kepada saya. Bahkan lagu itu, mulai dari alunan, ritme, sampai nadanya juga sangat “gue banget”, khususnya buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir curhat panjang lebar kakak mengenai kisah kami di balik lagu itu, Mas Syarief bertanya, adakah yang hendak saya sampaikan selaku ‘korban’ dari lagu tersebut. Saya tertawa. Singkat, saya berkata: “Saya berterima kasih pada kakak yang sudah menemukan lagu itu, and then dedicated it to me.... Thank you, Sista.” Kakak saya tersenyum. “You’re welcome, my little sister.” Hadirin yang mayoritas pria spontan bereaksi ramai, dan Mas Syarief menyeletuk. “Benar-benar deh, sesi Klab paling melankolis sepanjang masa. Banyak khutbah terselubung, mulai dari sabar menanti (The Script), pendidikan (Iwan Fals), sampai yang terakhir.” Ucapan ini disambut gelak tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sharing hari itu ditutup dengan lagu yang sangat sesuai, yaitu “Everything” dari Michael Buble. Petikan serta cabikan gitarnya yang riang menutup sesi kami hari itu. Lagu yang sangat easy listening, lebih gombal dalam segi lirik bila dibandingkan lagu-lagu sebelumnya, juga lagu terakhir yang memancing perbincangan hangat mengenai progresi, modulasi, serta transposisi akor dalam menciptakan sebuah lagu. Setelah sesi resmi ditutup agar semua rekan bisa saling berbagi lebih jauh, secara tak sengaja saya memainkan “Denting” milik Melly Goeslaw dengan gitar saya yang sejak tadi menganggur. Mas Tikno kemudian meminjam gitar itu, dan memainkan Denting dengan lebih lengkap. Saya menyanyikan penggalan-penggalan liriknya.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;  Mendengarnya, Mas Syarief bertanya. “Apa itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           “Soundtrack-nya Ada Apa dengan Cinta, Mas,” jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           “Ayo kita cabut dari sini sebelum jadi terlalu melankolis,” tukas Mas Syarief enteng, dan berlalu bersama Kang Yunus dan Mas Tikno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Mbak Upi memanggil mereka semua kembali dari pelataran parkir karena speaker beserta kumparan kabel yang digunakan tadi belum dibereskan. Setelah semua rapi dan hampir semua anggota pulang, saya menghabiskan malam itu dengan bercengkrama bersama hingga Tobucil tutup. Satu lagi hari Minggu berlalu dengan menyenangkan serta hangat. Diskusi kami sore itu sempat menyimpulkan, bahwa isi lagu tidak selamanya berkorelasi dengan kenangan yang muncul di benak orang yang mendengarnya. Lagu itu bisa menumbuhkan kesan buruk, juga baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Namun, sejak saya mengenal Tobucil, ada begitu banyak lagu, melodi, puisi, juga cerita yang saya bagi dan dapatkan di sini. Mungkin suatu hari nanti, toko buku ini akan menjadi tempat bersejarah bagi saya, tempat yang penuh dengan pengalaman serta kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;            Kenangan dan melodi yang akan kami semua ukir sejak sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini Afiandri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-2397220420707335994?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/2397220420707335994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=2397220420707335994' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2397220420707335994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2397220420707335994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/02/lagu-kenangan-dan-korelasi-antar.html' title='Lagu, Kenangan, dan Korelasi Antar Keduanya'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7565794715850440114</id><published>2011-02-05T08:48:00.000-08:00</published><updated>2011-02-05T08:50:21.106-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Musik Klasik India</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 23 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat tertegun ketika di  Facebook terdapat grup Musik Klasik Indonesia (MKI). Secara naluriah  saya sudah tahu bahwa ini pasti grup tentang Musik Klasik Barat yang  umum itu (Bach, Beethoven, dsb), tapi ditujukan untuk penggemar musik  semacam itu di Indonesia. Namun terdapat kerancuan juga, bagaimana jika  mengartikan bahwa Musik Klasik Indonesia adalah angklung, karawitan, dan  sebagainya? Rasa-rasanya boleh juga, dan gak salah-salah amat.  Berangkat dari itu, maka Klab Klassik mengadakan diskusi soal Musik  Klasik India, seolah-olah menyejajarkan posisinya dengan istilah Musik  Klasik Indonesia. Kebetulan Kang Hardianto mau memberikan materi ini,  terkait dengan pengalamannya studi S2 di India selama dua tahun.  Pemaparannya cukup lengkap dan asyik. Dan menjadi menarik ketika  segalanya bisa dikaitkan dengan Musik Klasik Barat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kang Hardianto memulai  presentasinya dari deskripsi berbagai macam alat musik di India. Mulai  dari sitar, sarod, sarangi, tanpura, esraj, santoor, dan tabla.  Keseluruhan instrumen yang disebutkan tersebut, yang patut dicermati  adalah kekhasan penggunaan dawai simpatetik yang sangat khas terdapat  pada alat musik India. Dawai simpatetik adalah dawai kecil yang  jumlahnya sangat banyak (hingga sembilan belas), dan berada tepat di  bawah dawai utama. Gunanya adalah mengeraskan suara. Karena bahannya  yang ringan, dawai simpatetik selalu ikut bergetar setiap dawai utama  dibunyikan. Kang Tikno menambahkan, bahwa setelah diteliti, dawai  simpatetik betul-betul cuma ada di India. Barat pernah mencoba, tapi  gagal terus dan akhirnya tidak diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Hardianto juga menambahkan,  bahwa di India, setiap minggu pasti ada pertunjukkan musik klasik ini.  Mereka tampil di semacam amphiteater dan peminatnya masih sangat banyak.  Hal tersebut menunjukkan upaya pelestarian musik klasik-nya masih  sangat besar dan tidak mudah tergerus oleh arus instrumen barat. Adapun  violin, instrumen yang akrab di barat, ternyata dimainkan dengan cara  yang sama sekali berbeda oleh para musisi India. Lazimnya violin  dimainkan dengan disimpan di bahu, dan dijepit oleh leher. Tapi di  India, mereka memainkannya di daerah sekitar lengan dan dada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://chandrakantha.com/articles/indian_music/instrument.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://chandrakantha.com/articles/indian_music/instrument.jpg" width="320" border="0" height="162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;dari kiri ke kanan: tabla, sitar, sitar, dan flute. gambar diambil dari &lt;a href="http://www.google.co.id/imglanding?imgurl=http://chandrakantha.com/articles/indian_music/instrument.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://chandrakantha.com/articles/indian_music/instruments.html&amp;amp;h=305&amp;amp;w=600&amp;amp;sz=25&amp;amp;tbnid=giZSdiyItaFIeM:&amp;amp;tbnh=69&amp;amp;tbnw=135&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dindian%2Bmusic%2Bpicture&amp;amp;zoom=1&amp;amp;q=indian+music+picture&amp;amp;usg=__wueepkwj142GMHo71IOKPCzJjjg%3D&amp;amp;sa=X&amp;amp;ei=x_s8TfGmJo2urAe3nui-CA&amp;amp;ved=0CBkQ9QEwAA"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terakhir, diungkapkannya pula  bahwa instrumen musik India sering erat kaitannya dengan upacara  keagamaan. Sederhana saja, karena para Dewa pun katanya bermain musik.  Atas dasar itu, tak jarang mereka-mereka menyakralkan instrumen musiknya  masing-masing. Memujanya dan kadang-kadang memberikan sesajen. Menurut  Kang Hardianto, jangankan instrumen musik, benda-benda lainnya seperti  buku, sapu lidi pun dihargai sebagaimana halnya makhluk hidup. Kafir,  musyrik? Bisa saja, dalam kacamata tauhid sempit. Tapi ini justru cara  tertentu dari bagaimana masyarakat India melestarikan alamnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7565794715850440114?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7565794715850440114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7565794715850440114' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7565794715850440114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7565794715850440114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/02/musik-klasik-india.html' title='Musik Klasik India'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1300802107117887084</id><published>2011-01-17T19:03:00.000-08:00</published><updated>2011-01-17T19:05:53.762-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Ririungan Gitar Bandung: Canarios untuk Trio</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://farm3.static.flickr.com/2605/4151157879_4239e2498e_o.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 527px; height: 395px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2605/4151157879_4239e2498e_o.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 17 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bulan Januari memang sudah  sewajarnya menjadi momen bagi banyak hal untuk dimulai atau dimulai  kembali. Demikian halnya dengan kegiatan-kegiatan di Tobucil, setelah  kelas Scrapbook diputuskan untuk dimulai secara paket, lalu Klab Nulis  mulai berbenah menyiapkan angkatan baru dengan lebih bergairah,  Ririungan Gitar Bandung (RGB) juga memulai gerakannya. Cabang kegiatan  dari KlabKlassik ini merupakan latihan ensembel gitar untuk umum. Siapa  saja boleh gabung, berbayar Rp. 50.000 untuk tiga bulan latihan.  Sebetulnya RGB sudah dimulai dari tanggal 3 Desember silam, namun  pertemuan saat itu masih dianggap &lt;i&gt;briefing&lt;/i&gt; biasa, belum mulai latihan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Materi tiga bulan pertama adalah  Canarios untuk tiga gitar, yang diusulkan oleh salah seorang peserta,  Kristianus. Canarios adalah karya dari jaman Barok yang ditulis oleh  komposer Spanyol, Gaspar Sanz. Dengan &lt;i&gt;time signature&lt;/i&gt; 6/8, tempo 120, dan aksen di ketukan pertama, Diecky memaparkan bahwa karya ini jelas merupakan karya &lt;i&gt;dance.&lt;/i&gt;  Artinya, "Karya ini pastinya dipakai untuk acara-acara dansa di jaman  Barok." Jaman Barok sendiri adalah periode sekitar tahun 1600 hingga  1750-an.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertemuan RGB ini ditandai  dengan hadirnya beberapa wajah baru, semisal Dini Afiandri yang biasa  aktif di Klab Nulis serta dosen di STT Tekstil, Pak Ato Hardianto.  Semuanya melebur menjadi satu, dalam alunan dansa dansi &lt;i&gt;Espagnola. &lt;/i&gt;Bagi  yang berminat ikutan, belum terlambat, silakan datang ke Tobucil, Jl.  Aceh no. 56 dua minggu ke depan atau tanggal 30 Januari. Permintaan  partitur bisa dipenuhi dengan menuliskan alamat &lt;i&gt;e-mail&lt;/i&gt; di komentar posting ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1300802107117887084?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1300802107117887084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1300802107117887084' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1300802107117887084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1300802107117887084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/01/ririungan-gitar-bandung-canarios-untuk.html' title='Ririungan Gitar Bandung: Canarios untuk Trio'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6486461100299786065</id><published>2011-01-17T18:59:00.002-08:00</published><updated>2011-03-19T13:06:59.080-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Akademi KlabKlassik: Studi Kontrapung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latar Belakang:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, musik seolah milik dua lembaga: kampus-kampus dan sekolah musik. Kampus, disana ada pengetahuan yang relatif menyeluruh soal musik. Mulai dari teknis, sejarah hingga teori. Persoalannya, akses terhadap kampus tidak bebas dan terbuka. Disertai biaya pendidikan yang semakin mahal, maka itu pada titik ini musik mengekslusifkan dirinya. Pelajaran holistik soal musik yang banyak diajarkan di kampus-kampus, seolah "dilarang" untuk keluar dari kampus. Hanya ia yang belajar dan membayar disana yang berhak memperoleh hak-hak semacam ini. Sekolah musik lebih umum dan membumi, hanya saja kepadatan jam belajar-mengajar membuat lembaga ini seringkali memfokuskan diri pada urusan teknis ketimbang sejarah ataupun teori. Kedua persoalan ini cukup dilematis dan memang tak bisa sepenuhnya menyalahkan dua lembaga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, KlabKlassik sebagai komunitas non-profit yang independen, mencoba menengahi persoalan ini dalam rangka mensinergikan seluruh pihak-pihak yang dianggap punya andil mengenalkan musik pada masyarakat. Pendidikan sejarah musik, analisa karya, teori dasar, aransemen, dan komposisi yang biasanya diperoleh di kampus-kampus, akan dicoba diperkenalkan di ruang alternatif yang mudah diakses: garasi rumah. Sedangkan menyoal biaya, akan diupayakan agar terjangkau masyarakat lebih umum: yakni mereka yang mencintai musik, mempelajarinya sungguh-sungguh, ingin berkontribusi dengannya, namun tidak memilih untuk belajar di kedua lembaga tersebut atas alasan tertentu. Akademi KlabKlassik, begitu program ini disebut, tidak ingin menyaingi kedua lembaga di atas dalam hal pengajaran musik. Melainkan mengajak seluruhnya agar tetap menjalankan fungsinya sendiri-sendiri dengan baik, untuk kemudian bersinergi mencerdaskan dan meningkatkan apresiasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tema Besar (Counterpoint Study):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrapung adalah struktur melodi pokok atau lazim disebut dengan cantus firmus (c.f.) dilawan dengan struktur melodi lainnya, keduanya mempunyai aturan-aturan yang berlaku. Ilmu terkait: sejarah musik, analisa karya, musik teori dasar, aransemen, dan komposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Narasumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diecky K. Indrapraja. Komponis dan Pendidik. Belajar gitar dan teori musik di Lembaga Musik Mayura Surabaya lalu melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Musik Bandung. Pada saat ia masih mahasiswa, ia menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Komposisi, Kontrapung, Harmoni dan Komputer Musik. Ia memperoleh gelar Sarjana pada tahun 2008 dan mengajar di universitas tempat ia pernah belajar. Sekarang ia melanjutkan studi di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung untuk mendapatkan gelar masternya. Workshop komposisi yang pernah diikuti, diantaranya oleh Dieter Mack, Shin Nakagawa, Jody Diamond, Roderik de Man, Armeno Alberts, Jonas Bisquert, dan Jurgen Sligter. Saat ini ia berkarya sebagai seorang komposer lepas di Bandung. Selain berbagai karyanya untuk solo instrumen, musik kamar dan musik orkestra, ia juga pernah bekerja sama dengan perupa dan penari kontemporer, serta ansambel tradisional untuk jenis musik baru. Beberapa karyanya telah direkam dan diterbitkan oleh "Cantus Music Center", dan dipentaskan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara di Amerika dan Asia lainnya. "G-Spot Tornado Ensemble Modern", merupakan ansambel musik kamar yang ia dirikan bersama "New Music Colony (NMC)", sebuah komunitas untuk musik kontemporer di Bandung. Ia juga sering menjadi pembicara dalam seminar dan workshop untuk apresiasi musik seni modern dan komposisi musik. ﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Silabus:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lesson 1: Introduction (3 Februari &amp;amp; 10 Februari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Music History&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Musical Textures&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Counterpoint Overview&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Consonance and Dissonance&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Identifying Ratios, Intervals, and Motions&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lesson 2: Contrapuctal Basics (17 Februari &amp;amp; 24 Februari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * 1:1 Ratios&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Applying Ratio Principles&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Linear and Vertical Awareness&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Two Part Counterpoint&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Writing Contrapuntal Basics&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lesson 3: Unessential Notes (3 Maret &amp;amp; 10 Maret)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * 2:1 Ratios&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * What are Unessential Notes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Examples of Unessential Notes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Writing Counterpoint with Unessential Notes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lesson 4: Unessential Notes II (17 Maret &amp;amp; 24 Maret)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * 3:1 and 4:1 Ratios&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Unessential Notes based on 3:1 and 4:1 Ratios&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Examples of Unessential Notes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Writing Counterpoint with Unessential Notes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lesson 5: Florid Counterpoint (31 Maret &amp;amp; 7 April)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Syncopations&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Suspentions&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Appoggiaturas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Anticipations&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Imitations&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Examples of Florid Counterpoint&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Writing Counterpoint with Florid Counterpoint&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lesson 6: Canon (14 April &amp;amp; 21 April)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * What is a Canon?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Early Examples of Canon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Writing a Simple Canon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Canonic Phrasing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Analyzing Pachelbel's Canon in D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    * Accompanied Canon in Popular Music&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadwal &amp;amp; Tempat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akademi KlabKlassik Angkatan II diselenggarakan setiap hari Kamis pukul 18.30-20.00 dari mulai 3 Februari sampai 21 April. Tempat penyelenggaraan adalah ruang alternatif Garasi 10, Jl. Rebana no. 10, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persyaratan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Umum&lt;br /&gt;  * Bisa membaca not balok.&lt;br /&gt;  * Membayar biaya keikutsertaan sebesar Rp. 150.000,- / 12x pertemuan (Dengan fasilitas sertifikat, konsumsi, kertas paranada, dan alat tulis). Biaya keikutsertaan boleh dicicil 3x.&lt;br /&gt;  * Peserta dibatasi hingga 20 orang.&lt;br /&gt;  * Informasi dapat menghubungii Syarif (0817-212-404)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Profil KlabKlassik:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik (KK) adalah komunitas dan ruang apresiasi musik klasik yang berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2005. Dasar kemunculannya tidak lepas dari stereotip orang kebanyakan yang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif, kompleks, berat, dan serius. Meski stereotip itu terkadang ada benarnya, namun musik klasik ternyata bisa “terjangkau”, santai, sederhana, dan membumi juga, jika berhasil memilah mana yang menjadi inti, dan mana kemasannya. Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, KK mencobanya lewat berbagai acara kumpul komunitas, diskusi santai, konser musik klasik yang jauh dari kesan eksklusif, serta keterbukaan tukar pikiran via dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal didirikannya, KK hanya diniatkan sebagai kelompok musik insidental yang tampil pada acara JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami pada Februari 2005. Kala itu yang tampil adalah empat gitar yang terdiri dari Royke Ng, Christian Reza Erlangga, Ahmad Indra dan Syarif Maulana. Setelah penampilan tersebut, timbul dorongan dari Dwi Cahya Yuniman, koordinator KlabJazz (komunitas musik jazz), untuk membangun sebuah komunitas. Dorongan tersebut akhirnya dicoba direalisasikan setelah mendapat kesempatan berkumpul sebulan sekali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akumulasi dari kumpul-kumpul tersebut salah satunya berhasil mencetuskan ide untuk membuat sebuah pagelaran musik klasik bernama Classicares. Penyelenggaraan Classicares yang diadakan pada 9 Desember 2005 di Gedung Asia Africa Cultural Center, dianggap sebagai titik tolak kelahiran KK sebagai komunitas yang mandiri. Sejak saat itu, penyelenggaraan konser secara berkala menjadi agenda rutin KK disamping acara kumpul-kumpul yang terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertengahan tahun 2007, KK resmi berkomunitas di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Kepindahan tersebut juga menandai munculnya beberapa agenda baru KK, yang lahir dari proses evaluasi dan auto-kritik tiada henti. Agenda baru tersebut menggiring KK untuk tidak melulu berkutat di ranah komunitas, melainkan juga ruang apresiasi, yang mana mendorong KK untuk semakin membuka diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2005, KlabKlassik cukup aktif mengadakan konser-konser musik klasik. Hingga sejauh ini, kurang lebih dua puluh konser sudah diselenggarakan KlabKlassik baik statusnya sebagai penyelenggara ataupun pendukung. Beberapa konser yang diselenggarakan KlabKlassik diantaranya Classicares (2005), April String Festival (2006), Classical Guitar Fiesta (2006, 2008, dan 2010), Resital Tiga Gitar Plus Satu (2009), Resital Flute dan Piano Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana (2009) Konser Ririungan Gitar Bandung (2009), Resital Piano Andrew Sudjana (2010), Resital Trumpet dan Piano Eric Awuy dan Iswargia R. Sudarno (2010) dan beberapa konser lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Informasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E- mail: klabklassik@yahoo.com&lt;br /&gt;Blog : www.klabklassik.blogspot.com&lt;br /&gt;Kontak: Syarif (0817-212-404)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6486461100299786065?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6486461100299786065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6486461100299786065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6486461100299786065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6486461100299786065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/01/latar-belakang-dewasa-ini-musik-seolah.html' title='Akademi KlabKlassik: Studi Kontrapung'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-5667475191199903694</id><published>2011-01-17T18:52:00.000-08:00</published><updated>2011-07-15T18:37:36.666-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik: Kenapa dengan Lembaga Pendidikan Musik?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-p1_-yuX2G5U/TiDrREyGd3I/AAAAAAAAAWI/yYLJXMB9l9E/s1600/diecky%2Byuty.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-p1_-yuX2G5U/TiDrREyGd3I/AAAAAAAAAWI/yYLJXMB9l9E/s320/diecky%2Byuty.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629758212787304306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://farm4.static.flickr.com/3069/3719785539_71c6b0efa8_o.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 9 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik (KK) hari itu berkumpul sejenak untuk rapat. Rapat soal Akademi KK yang akan diselenggarakan kembali tanggal 3 Februari. Atas dasar itu, pasca rapat ada baiknya kalau KK membahas soal lembaga pendidikan musik. Kenapa? karena pendirian Akademi KK tak lain sebagai bentuk kritik atas lembaga pendidikan musik seperti kampus dan sekolah-sekolah musik yang tengah marak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya KK tidak langsung membahas itu, melainkan ngalor ngidul soal kebijakan politik, soal sepakbola, soal pemerataan kemiskinan. Namun kehadiran Diecky di tengah-tengah diskusi langsung menggiring arah pembicaraan untuk mengkritisi lembaga pendidikan musik. Alkisah, Dicky dahulunya adalah seorang dosen di sebuah lembaga pendidikan swasta. Ia keluar, karena tercerabut dari sistem. Merasa bahwa sistem tak demikian cocoknya. Dan ia pun menemukan hal yang sama kala kuliah S2 saat ini. Maksudnya: mahasiswa tidak terbiasa kritis, mereka diajarkan untuk mencatat teori apa saja yang dipaparkan dosennya. Mereka kaget jika ada dosen yang mengajak mahasiswanya untuk kritis.Mahasiswa telah tunduk dan patuh, dan bersaksi bahwa dosen adalah orang yang lebih pandai dari mereka-mereka. Dan kekritisan sesungguhnya mengancam "singgasana" dosen selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, memang ini persoalan akademi kebanyakan. Bahwa akademisi seringkali paham teori semata, padahal yang terpenting adalah mengaitkannya dengan disiplin lain, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. "Tidakkah iya, bahwa akademisi adalah orang yang mengukuhkan generasi bangsa yang bermartabat di kala wisuda, tapi di saat yang sama mereka adalah yang membuat macet di jalanan?"demikian salah seorang punggawa KK menukas. Itu pertanda bahwa akademisi berpikir kurang holistik, atau kurang menyadari adanya paradoks dalam tiap-tiap sendi kehidupan. Seperti halnya akademisi jualah yang menyebabkan terjadinya global warming jika tolok ukurnya jumlah kertas yang kita sia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pembicaraan mengerucut pada penyelenggaraan Akademi KK yang merupakan antitesis dari situasi akademi di atas. Akademi KK kelak akan menyelenggarakan semacam pelatihan teori komposisi musik barok. Formatnya persis seperti kelas-kelas kebanyakan. Namun apa yang jadi perhatian, menurut Diecky, "Adalah bagaimana peserta akademi mampu kritis dan tidak melulu menyerap apa yang diajarkan secara pasif." Apa yang nanti diajarkan adalah komposisi, dan komposisi tentu saja menuntut kreativitas dan kebebasan. Benar-salah bukanlah sesuatu yang patut dibicarakan. Situasi kelas dijamin akan dibuat macam diskusi, dan Diecky selaku dosen tidak akan merasa dirinya superior, begitu menurutnya. Mahasiswa adalah mereka yang mampu memberi masukan bagi dosennya sekalipun. Karena dunia informasi saat ini sangat berlimpah. Mereka yang pintar, jangan-jangan bukan mereka yang secara akademik berstrata lebih tinggi. Melainkan mereka yang punya akses informasi lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai informasi, KlabKlassik memperluas diri dengan tidak hanya beraktivitas di Tobucil. Akademi KK sendiri akan diselenggarakan di ruang alternatif Garasi 10, Jl. Rebana no. 10 setiap hari Kamis jam 18.30 mulai 3 Februari 2010. Informasi keikutsertaan Akademi KK bisa hubungi Syarif di 0817-212-404. Kegiatan KK di Tobucil setiap hari Minggu tetap dilaksanakan seperti biasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-5667475191199903694?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/5667475191199903694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=5667475191199903694' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5667475191199903694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5667475191199903694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/01/klabklassik-kenapa-dengan-lembaga.html' title='KlabKlassik: Kenapa dengan Lembaga Pendidikan Musik?'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-p1_-yuX2G5U/TiDrREyGd3I/AAAAAAAAAWI/yYLJXMB9l9E/s72-c/diecky%2Byuty.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7811845504288709944</id><published>2011-01-17T18:43:00.000-08:00</published><updated>2011-01-17T18:50:27.681-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>KlabKlassik 2010: Lahirnya Akademi KlabKlassik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/S_tJaFw58wI/AAAAAAAAFes/hHLhGO14PuQ/s320/DSC00089.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/S_tJaFw58wI/AAAAAAAAFes/hHLhGO14PuQ/s320/DSC00089.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Akademi KlabKlassik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik merupakan salah satu klab  yang konsisten berkumpul di Tobucil setiap hari Minggu. Salah satu yang  menarik adalah hadirnya Akademi KlabKlassik (AKK) pada 10 Juni 2010. AKK  ini awal mula kemunculannya adalah sebagai respon terhadap  eksklusivikasi musik yang sepertinya dimiliki oleh lembaga-lembaga  pendidikan atau sekolah musik saja. AKK dicetuskan oleh Diecky K.  Indrapraja, salah seorang aktivis KlabKlassik yang cukup aktif.  Profesinya adalah komponis, dan sempat juga menjadi dosen di STiMB  (Sekolah Tinggi Musik Bandung). Ia mengusulkan bahwa AKK dimulai dari  pendidikan dasar tentang teori musik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Debut AKK dimulai pada tanggal  10 Juni 2010 dengan sepuluh orang peserta. Bayarnya relatif murah, yaitu  65.000 untuk tiga bulan dan diselenggarakan tiap minggu. Meski AKK  mendapat beberapa evaluasi sana sini terkait penyelenggaraannya, namun  AKK edisi pertama ini menjadi pembuka jalan bagi kelanjutan AKK  berikutnya. AKK sendiri diharapkan bisa menjadi ruang penting bagi  penyelenggaraan pendidikan musik yang non-eksklusif. "Alasannya  sederhana," kata Diecky, "musik adalah milik semua orang. Kenapa  seolah-olah hanya milik lembaga musik saja?" &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain AKK, KlabKlassik juga  menyelenggarakan sejumlah konser sejak bulan Agustus, yaitu Resital   Gitar Johan Yudha Brata, Resital Piano Andrew Sudjana, Classical Guitar  Fiesta, serta Resital Piano-Trumpet Iswargia Sudarno dan Eric Awuy.  Keseluruhan penyelenggaraan tersebut dilakukan di Auditorium CCF. Di  samping itu, kumpul komunitas KK juga berlangsung cukup konsisten setiap  minggunya. Menjelang tutup tahun, KK membuat semacam kuartet gitar yang  dipersiapkan untuk acara-acara yang melibatkan KK sebagai &lt;i&gt;performer.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tahun 2011, KK berharap tidak  hanya aktif di Tobucil ataupun di blognya saja, melainkan juga  menerbitkan semacam buletin yang disebarkan secara gratis. Buletin  tersebut memuat konten seputar musik klasik dan keadaan musik secara  umum saat ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7811845504288709944?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7811845504288709944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7811845504288709944' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7811845504288709944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7811845504288709944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2011/01/klabklassik-2010-lahirnya-akademi.html' title='KlabKlassik 2010: Lahirnya Akademi KlabKlassik'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/S_tJaFw58wI/AAAAAAAAFes/hHLhGO14PuQ/s72-c/DSC00089.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-3499893009530112631</id><published>2010-12-18T17:10:00.001-08:00</published><updated>2010-12-18T17:11:48.688-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Celoteh'/><title type='text'>Musik Dunia, Setua Bumi ini Usianya!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gatot D. Sulistiyanto, komponis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang menafsirkan musik dunia secara lebih ilmiah. Itu bisa disimak dalam internet, buku-buku literatur musik anda akan menemukan bahasan yang fasih mengenai hal tersebut. Namun pernahkan saudara sekalian merenung mengenai bunyi yang ada di dunia dari awal usia bumi sampai masa sekarang?. Apa yang mengakibatkan budaya bunyi menjadi rumit dan cenderung diremehkan karena sulit dipahami?. Padahal telinga kita menempati peranan penting sejajar dengan organ indra yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem kehidupan dunia berkembang dan bunyipun ikut-ikutan. Dulu tidak ada teknologi pengeras suara, jadi desibel bunyi bertumpu pada organologi instrumen musiknya. Mesjid jaman dulu mebutuhkan menara untuk kumandang adzan, sehingga dapat didengar dalam radius yang relatif jauh. Sekarang ada bantuan pengeras adzan yang dipasang di menara. Azdan jadi keras dan kencang suaranya terdengar kiloan meter. Namun dalam kondisi ini kita kehilangan sensitifitas terhadap panggilan sholat tersebut. Bisa anda bayangkan, suara panggilan dari kejauhan dan sayup-sayup itu menumbuhkan kesadaran diri untuk menangkap pesan tersebut. Simpulnya bahwa sensitifitas itu berhubungan dengan hal yang bersifat pribadi, nah hal yang pribadi ini membutuhkan kelembutan yang luar biasa, supaya kesadaran diri tidak terkoyak. Otomatis bila kita mencapai hal ini kwalitas hidup akan meningkat dan tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam merupakan ruang netral bagi hal-hal lembut. Saat malamlah orkestrasi alam muncul dengan gamblang dan sempurna. Sehingga daya konsentrasi kita meningkat lebih dari 70%. orang akan lebih peka terhadap sinyal gelombang yang lembut sekalipun. Itu mengapa alasannya banyak penemuan ide-ide, wangsit, ilham, bisikan, mawasdiri itu umumnya ada pada malam hari. Prinsipnya kesadaran titik netral ini bekarja disaat kondisi netral, sehingga perubahan kecilpun akan terdeteksi oleh indra kita. Apa gunanya? Yha tidak berguna kalau kita terbelit hal-hal yang bersifat jasmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik itu makanan ruhani. Kalau kita sejajarkan dengan wisata kuliner itu tidak jauh beda. Prinsipnya kaya pengalaman pernah mengecap berbagai jenis makanan hasil kebudayaan nenek moyang yang sangat berguna untuk tubuh untuk menysuplay daya hidup lahiriah. Tapi musik itu bekerja diwilayah ruhaniah atau urusanya dengan pengalaman batin, yaitu pengalaman dimana kita merasakan perbedaan kesan dan pesan dari berbagai budaya bunyi ini. Semakin kaya pengalaman, maka pengalaman batin juga akan bertambah kaya. Dimana letak kegunaannya pengalaman batin yang berkaitan dengan musik ini?. Begini; kita akan menjadi banyak memahami cara hidup dari banyak budaya yang boleh jadi akan melengkapi perjalanan hidup kita ini menjadi sempurna. Karena apa, dalam musik itu sarat dengan simbol jejak prikehidupan yang tak terkatakan karena dalam kehidupan itu tidak selalu diomongkan. Ada kecenderungan bahwa hal yang penting itu bersembunyi dibawah sesuatu yang tidak bermaksud secara verbal. Nah ini tiada lain selain musik / bunyi yang dekat dengan hal tersebut. Oleh karena sifat hakikinya bahwa bunyi itu tidak punya maksud tapi sarat dengan makna. Contoh sederhananya seperti ini; pentingnya menejemen dan organisasi dalam prikehidupan dinegara Eropah, ini bisa dilihat dari sistem musik Eropa dimana sangat terorganisir. Adanya catatan/ notasi, penggagasnya/ komponis, pelaksana/ penyajinya, pemimpin yang taat pada sistem/ konduktor, pemain dilarang bunyi sebelum diperintah tertulis dalam partitur dsb. Maka dilarang heran bila mereka piawai dengan pengelolaan. Namun kearifan dalam hidup bersembunyi dibudaya Gamelan. Dimana kendang hanya memimpin iramanya, namun urusan bagaimana warna detainya dipasrahkan kepada pemainnya masing-masing yang telah memahami gendhing sebagai manifestasi tertinggi tujuan dari kehidupan dalam urusan gamelan. Masing-masing bebas menafsirkan menggungakan jalan mana ketika mendapati balungan dari 2. 5. 6, beda pemain beda rasa dan cara, namun masih dalam kaidah keselarasan atas dasar toleransi dan demokratisasi cara hidup dalam kerangka kebebasan yang bertanggung jawab. Maka sebenarnya belajar hidup cara demokrasi tidak usah ke Yale. Cukup ke Cianjur atau ke Muntilan saja. Murah meriah sambil kulakan beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup tulisan ini saya mengutip pikiran bijak konfusian “apabila saudara itu ingin tahu suatu negara itu dikelola degan baik, cukup dengarkan musiknya saja”. Saya tambahi sedikit, tapi yang cocok di Indonesia itu begini “apabila saudara itu ingin tahu suatu negara itu dikelola degan baik, cukup lihat sinetronnya saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatot D. Sulistiyanto&lt;br /&gt;JL. Ireda, Keparakan Lor, Gg. Kemundung MG I / 1022&lt;br /&gt;Yogyakarta – Indonesia&lt;br /&gt;postcode 55152&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ph. +62 (274) 414309&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;totagranad@yahoo.com&lt;br /&gt;www.gatotdsulistiyanto.bravehost.com&lt;br /&gt;www.artmusictoday.bravehost.com&lt;br /&gt;www.rekambergerak.synthasite.com&lt;br /&gt;www.tepellere.synthasite.com&lt;br /&gt;www.kutikula.yolasite.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-3499893009530112631?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/3499893009530112631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=3499893009530112631' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3499893009530112631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3499893009530112631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/12/musik-dunia-setua-bumi-ini-usianya.html' title='Musik Dunia, Setua Bumi ini Usianya!'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1577091280503757104</id><published>2010-12-18T17:03:00.000-08:00</published><updated>2011-07-15T18:51:41.303-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Gairah Ensembel Klabklassik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-o-XeLKq9lOo/TiDuiXfXILI/AAAAAAAAAWg/RMALJwGQ03U/s1600/gairah%2Bensembel%2Bklabklassik.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-o-XeLKq9lOo/TiDuiXfXILI/AAAAAAAAAWg/RMALJwGQ03U/s320/gairah%2Bensembel%2Bklabklassik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629761808401637554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs719.snc4/63896_471610909844_550449844_5722347_3008190_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs719.snc4/63896_471610909844_550449844_5722347_3008190_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu, 12 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik terlihat bersemangat. Hal tersebut, konon disebabkan oleh undangan tampil dari UNPAD pada tanggal 17 Desember nanti. Meski demikian, bukan itu inti semangatnya, melainkan kenyataan bahwa undangan tersebut "memaksa" beberapa aktivis klab untuk membentuk ensembel dan berlatih bersama. Ketika ensembel Ririungan Gitar Bandung (RGB) tengah libur dari latihan, KlabKlassik membentuk kuartet gitar yang terdiri dari Mas Yunus, Aldi, Kang Trisna, dan Kristianus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuartet tersebut akan memainkan satu lagu saja, yaitu La Cumparsita karya G. Matos Rodriguez. Karya dengan ritmik Tango tersebut diaransemen untuk tiga gitar, dua flute, dan satu cello oleh Diecky K. Indrapradja, salah seorang aktivis klab juga. Karena tidak ada pemain flute, maka bagian flute diganti oleh gitar. Bagian cello juga tadinya ditiadakan, tapi mendadak KlabKlassik kedatangan seorang pemain cello bernama Fery Mathias, dan ia bersedia tampil tanggal 17 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuartet ini akan dinamai KlabKlassik Guitar Quartet, yang diyakini akan menjadi "home band" yang siap pakai untuk acara-acara Tobucil yang membutuhkan musik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1577091280503757104?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1577091280503757104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1577091280503757104' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1577091280503757104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/1577091280503757104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/12/gairah-ensembel-klabklassik.html' title='Gairah Ensembel Klabklassik'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-o-XeLKq9lOo/TiDuiXfXILI/AAAAAAAAAWg/RMALJwGQ03U/s72-c/gairah%2Bensembel%2Bklabklassik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-4893753183015079307</id><published>2010-12-07T16:29:00.000-08:00</published><updated>2010-12-07T16:30:33.007-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Apresiasi Lagu Favoritmu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengapa kita diberi dua telinga dan dua tangan, karena berlatih atau bermain musik, porsinya mesti sama dengan mendengarkan musik."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 28 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Diecky K. Indrapradja di tengah forum diskusi KlabKlassik yang menyajikan acara apresiasi bersama. Ini program baru, intinya, masing-masing peserta diskusi yang hadir membawa serta satu lagu untuk didengarkan dan dibahas bersama. Yang hadir saat itu adalah Fathimah, Kristianus, Yunus, Tesla, Aldi dan Ali. Semua nama itu diluar saya dan Diecky sebagai host diskusi. Fathimah mendapat kesempatan pertama, pianis muda itu memperdengarkan karya Chopin berjudul Piano Concerto #1 gerakan pertama berjudul Allegro Maestoso. Fathimah menyukai karya itu, karena digubah oleh Chopin dalam usia sangat muda, yakni 17 atau 18 tahun. Karya berdurasi sembilan belas menit itu diperdengarkan sampai tuntas dan peserta kagum oleh kemahiran Chopin dalam mengomposisi di usia muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya adalah aldi, yang memperdengarkan karya Tchaikovsky, judulnya Waltz of the Flowers. Karya waltz yang cukup mahsyur ini, sangat kaya akan instrumen-instrumen orkestra, termasuk oboe hingga triangle. Diecky kemudian membandingkan, bahwa jelas Tchaikovsky sudah lebih matang dalam mencipta Waltz of The Flowers ketimbang kala Chopin saat mencipta Piano Concerto. Hal tersebut terlihat dari kekayaan instrumen yang digunakan Tchaikovsky. Lalu pasca Aldi, tiba giliran Kristianus yang menampilkan soundtrack film Pirates of Caribbean, yang berjudul Pirates of Caribbean, dimainkan oleh Epica, band rock bersama dengan orkestra. Apakah ini bukan klasik? Iya, memang bisa dibilang bukan, secara periodisasi. Tapi memang acara apresiasi bersama ini terbuka bagi semua jenis musik. Tesla mengritik bahwa musik Epica ini kurang detail. Tapi Ali membela bahwa untuk musik-musik ilustrasi film, tidak usah kedetailan yang diperhatikan, tapi yang menjadi titik berat adalah kesesuaian dengan adegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara mendengarkan bersama ditutup oleh karya Tesla yaitu Play Dead. Tesla memperdengarkan karya ciptaannya sendiri, yang merupakan interpretasi pada karya rupa yang akan dipamerkan 11 Desember nanti. Durasinya 9:31, cukup panjang dan melelahkan didengarkannya. Absurd dan "Nadanya mengkhianati saya," demikian komentar Ali. Maksudnya, sulit ditebak, dikira kesini taunya kesana. Lalu kami membahas soal interpretasi, bahwa kesesuaian antara karya rupa dan karya musik bisa dipertanyakan ternyata. Karena apa yang dinamakan "sesuai", itu bisa jadi karena direka-reka oleh penikmat. Saya ingat karya Marchel Duchamp yang menhadirkan kloset dalam kondisi apa-adanya-ia di sebuah galeri. Awalnya kloset itu ditolak karena dianggap bukan seni. Tapi kala dipajang, pengunjung jadi berpikir, "Iya juga ya, seni itu, jangan-jangan tergantung konteks ruang dan waktu. Dulu kita percaya bahwa ada benda yang indah pada dirinya sendiri, tapi ketika melihat kloset ini di galeri, mendadak kloset tempat buang air menjadi sebuah karya seni."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan akhir karya Tesla ini dirumuskan oleh Diecky. Bahwa interpretasi apapun adalah bebas dan diserahkan pada masing-masing penikmat. Yang dilarang adalah memaksakan keragaman interpretasi pada orang lain. Padahal sudah jelas, manusia berbeda satu sama lainnya, tak bisa dipaksakan sama dalam memahami sesuatu. Tertarik ikut acara mendengarkan bersama KlabKlassik ini? Setiap minggu keempat setiap bulannya ya, bawa lagu favoritmu dalam format mp3. Sampai jumpa bulan depan!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-4893753183015079307?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/4893753183015079307/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=4893753183015079307' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4893753183015079307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4893753183015079307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/12/apresiasi-lagu-favoritmu.html' title='Apresiasi Lagu Favoritmu'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-8935443980152146115</id><published>2010-11-22T17:18:00.001-08:00</published><updated>2010-11-22T17:18:37.752-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Apa Lagu Favoritmu?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KlabKlassik hari Minggu, tanggal 28 November, akan diskusi dengan membawakan program baru. Program tersebut akan berisi apresiasi bersama tentang lagu-lagu favorit masing-masing peserta diskusi. Setelah apresiasi, akan diadakan pembahasan dan analisis tentang lagu favorit tersebut. Syaratnya, membawa satu buah lagu dalam format mp3 dan dimuat dalam flashdisk. Lagu yang diputar, bebas-bebas saja, boleh pop, rock, klasik, jazz, ataupun dangdut. Setelah diperdengarkan, peserta diskusi akan sama-sama membahas dan menganalisa beberapa aspek yang mungkin. Pukul 15.00 sampe 18.00, di Tobucil, Jl. Aceh. no. 56. Mari mendengar lebih banyak, karena telinga kita dua, sedang mulut cuma satu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-8935443980152146115?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/8935443980152146115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=8935443980152146115' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8935443980152146115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8935443980152146115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/11/apa-lagu-favoritmu.html' title='Apa Lagu Favoritmu?'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-5451336109410466304</id><published>2010-11-22T17:15:00.000-08:00</published><updated>2011-07-15T18:44:39.339-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Mengenal World Music</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-o9vlAbxbpP8/TiDsqkGpOGI/AAAAAAAAAWY/FgG4CkUFgdk/s1600/world%2Bmusic.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-o9vlAbxbpP8/TiDsqkGpOGI/AAAAAAAAAWY/FgG4CkUFgdk/s320/world%2Bmusic.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629759750203324514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1119.snc4/148147_1630720202403_1068569911_31668801_3494950_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;World Music adalah idiom yang rajin sekali diangkat belakangan ini. Ada dua even, yaitu Bandung World Jazz Festival dan Monju (Monumen Perjuangan) West Java World Music Festival. Walaupun even pertama dibumbui kata "jazz", namun esensi yang ingin diraihnya kira-kira sama: Ada unsur etnis, lokal, dan non-Barat disana. KlabKlassik kemudian melihat fenomena penamaan World Music ini sebagai hal yang menarik sekaligus bermasalah. Untuk itu dibuka diskusi, minggu kemarin, dengan judul Mengenal World Music yang dibawakan oleh Diecky K. Indrapraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diecky awal mulanya melemparkan pernyataan membingungkan: Apakah perbedaan musik Barat dan musik Timur? Seluruh peserta diskusi kesulitan menjawabnya, sebelum ditengahi oleh Diecky sendiri. Musik Barat, adalah musik yang diciptakan untuk musik sendiri. Mereka rasional, bisa dijelaskan, dan bisa dipertanggungjawabkan secara akal. Sedang musik Timur, adalah musik yang seringkali ditujukan untuk segala hal di luar musik itu sendiri. Misal, musik angklung untuk persembahan pada Dewi Sri, sedang beberapa musik tertentu untuk minta hujan. Hal tersebut, bagi kacamata Barat adalah irasional, tapi juga eksotik. Timur tidak mengenal pengilmiahan musik sekaligus pertanggungjawaban secara akal. Bagi Timur, musik adalah bagian harmonisasi alam, yang artinya "Ya memang begitu adanya", tak usah dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik kemudian, World Music adalah istilah yang merangkul musik-musik "irasional" tersebut, dalam satu kesatuan kata "world" itu. Permasalahannya kemudian, karena Barat yang memberi istilah World Music, hal tersebut dicurigai sebagai penyederhanaan, dan pemiskinan atas kekayaan kebudayaan masing-masing komunitas. Bayangkan jika sekitar tiga ratus etnis dan budaya di Indonesia memiliki musiknya masing-masing, lalu seluruhnya dirangkum secara sederhana dalam istilah "Musik Indonesia", barangkali keunikannya masing-masing menjadi tak tampak dan malah kehilangan jati dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Diecky memaparkan beberapa contoh musik, yang meminta peserta diskusi menebak: Ini komposer Barat atau Timur yang buat? Ada beberapa contoh seperti Krakatau, atau Discus, ataupula seorang komposer Jerman yang membuat karya piano dengan latar pengiring gamelan Bali. Ada pula sinden orang Amerika juga diiringi gamelan Bali. Pertemuan sore itu memperkaya telinga peserta, karena playlist milik Diecky banyak berisi lagu-lagu yang jarang ditemui di pasar-pasar umum. Pertemuan hari itu sampai pada kesimpulan yang mendalam: Orang Barat yang mempelajari musik Timur, biasanya ia telah lebih dahulu paham musiknya sendiri, baru eksplorasi ke luar. Sedangkan orang Timur kebanyakan, ia lebih dahulu belajar musik Barat, tanpa paham akar tradisinya sendiri. Efek negatifnya, mereka mudah terseret-seret kemanapun Barat pergi. Dan yang selamat adalah mereka: orang Timur yang belajar musik Barat, agar kemudian mengenal siapa dirinya. Dari mana ia berasal.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-5451336109410466304?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/5451336109410466304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=5451336109410466304' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5451336109410466304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5451336109410466304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/11/mengenal-world-music.html' title='Mengenal World Music'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-o9vlAbxbpP8/TiDsqkGpOGI/AAAAAAAAAWY/FgG4CkUFgdk/s72-c/world%2Bmusic.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-4730526827830288723</id><published>2010-11-14T00:08:00.000-08:00</published><updated>2010-11-14T00:29:33.998-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Trumpet-Piano Recital</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TN-aoMfetTI/AAAAAAAAAU0/qdbqRtzu8Z0/s1600/Trumpet%2B-%2BPiano%2BRecital.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TN-aoMfetTI/AAAAAAAAAU0/qdbqRtzu8Z0/s400/Trumpet%2B-%2BPiano%2BRecital.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539316082027705650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Trumpet-Piano Recital&lt;br /&gt;Eric Awuy (Trumpet)&lt;br /&gt;Iswargia R. Sudarno (Piano)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rabu, 24 November 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Auditorium CCF, Jl.Purnawarman no. 32&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Informasi &amp;amp; Reservasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)&lt;br /&gt;Syarif (0817-212-404)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Program:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intrada                    (Arthur Honegger)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hungarian Peasant Songs for solo piano   (Béla Bartók)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonata for Trumpet and Piano    (Halsey Stevens)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-interval-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slavische Fantasie     (Carl Hohne)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Méditation      (Marcel Mihalovici)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carnival      (J.B.Arban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Profil Penampil:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eric Awuy, trumpet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Bern, Swiss, 21 Januari 1964. Belajar bermain musik sejak usia dini di bimbing oleh ibunya, Paule Awuy, asal Quebec, Kanada, seorang pianis dan pedagog musik. Selanjutnya masuk ke sekolah musik pada usia 5 tahun di Jerman. Diusia 5 tahun, ia sudah mahir memainkan alat music flute. Saat berusia 13 tahun ia memutuskan untuk belajar trompet. Dan pada tahun 1979 ia mempelajari trompet secara mendalam di Hull Music Conservatory (1979-1985) dan di Montreal Music Conservatory (1985-1988), keduanya di Kanada. Ia menyelesaikan studinya di Konservatorium ini pada tahun 1988 dengan penghargaan tertinggi, Premier Prix de Conservatoire, dalam bidang trompet dan musik kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dari Montreal Music Conservatory tahun 1988, Eric bergabung dengan orkestra profesional di Montreal,dan di akhir tahun  itu ia tampil bersama dengan Montreal Symphony Orchestra di bawah pimpinan dirigen ternama Charles Dutoit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun tahun berikutnya ia kerap tampil bersama orkestra-orkestra lain, seperti National Arts Center, Quebec Symphony Orchestra dan World Youth Orchestra, yang membawanya keliling dunia ke Moskow, Berlin, Paris, Buenos Aires, dan New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai solis, ia juga tampil di berbagai resital dan sebagai solis tamu di Amerika Utara dan Eropa, diantaranya dengan  Montreal I Musici. Dalam musik kamar, Eric pernah main bersama Brass Five Quintet, salah satu grup brass terbaik di Kanada, dan pernah mendapat penghargaan ‘Laureat’ dari International Brass Quintet Competition di Narbonne, Perancis.&lt;br /&gt;Eric secara berkala tampil bersama pianis Iswargia Sudarno, disamping itu ia juga tergabung dalam beberapa orkestra di tanah air, diantaranya Twilite Orchestra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dirigen,  Ia pernah menjadi dirigen tamu di Notre-Dame College Orchestra, World Youth orchestra, dan Indonesian Youth Orchestra. Sejak  Juni 2004, Eric adalah Program Director dan dirigen  Twilite Youth Orchestra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iswargia R. Sudarno, piano&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iswargia R. Sudarno tidak hanya dikenal sebagai seorang pianis, namun juga sebagai seorang pendidik dan pengarah acara serta perancang program kegiatan-kegiatan seni musik. Minatnya tidak hanya terbatas pada repertoar tradisional musik tradisi Barat, namun juga musik-musik baru. Ia kerap bekerja sama dengan komponis-komponis kawakan Indonesia seperti Trisutji D. Kamal, Otto Sidharta, Slamet Abdul Sjukur, dan Tony Prabowo. Disamping sebagai pianis, ia juga pernah menjabat sebagai tutor Nusantara Chamber Orchestra, direktur akademik Yayasan Musik Internasional, dan direktur musik National Youth Orchestra Indonesia. Ia juga menjadi direktur artistik Indonesia Piano Festival hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan di Bandung, Iswargia memulai pelajaran pianonya di sana, berturut-turut bersama Ibu Wibanu, Partosiswojo, John Gobée, dan Oerip S. Santoso. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya di bidang arsitektur di Institut Teknologi Bandung; ia melanjutkan pendidikan S-2-nya di bidang musik di Manhattan School of Music, New York, Amerika Serikat, dibawah bimbingan pianis &amp;amp; pedagog legendaris Karl Ulrich Schnabel, hingga meraih gelar Master of Music. Selama musim-musim panas, ia juga berguru pada pianis-pianis kenamaan, seperti Bela Siki di Johanessen International School of the Arts (Kanada), Gabriel Chodos dan Rita Sloan di Aspen Music School (Amerika Serikat), dan Robert Levin di Mozarteum International Summer Academy (Austria). Ia juga mendapat beasiswa dari DAAD untuk memperdalam pengetahuan musiknya di Staatliche Hochschule für Musik Freiburg, Jerman, dibawah bimbingan Hansjörg Koch. Penghargaan lain yang pernah diterimanya adalah Norman Stanley Smith Award dari Manhattan School of Music atas studi piano pedagogi terbaik dan Beasiswa Aspen Music School.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, selain menjabat sebagai direktur akademik Konservatorium Musik Jakarta, ia juga menjadi dosen dan pengajar ahli Konservatorium Musik Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Universitas Pendidikan Indonesia. Secara berkala ia tampil dan mengajar di Asian International Piano Academy and Festival di Cheonan, Korea. Murid-muridnya telah banyak memenangkan berbagai kompetisi tingkat nasional, maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-4730526827830288723?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/4730526827830288723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=4730526827830288723' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4730526827830288723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4730526827830288723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/11/trumpet-piano-recital.html' title='Trumpet-Piano Recital'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TN-aoMfetTI/AAAAAAAAAU0/qdbqRtzu8Z0/s72-c/Trumpet%2B-%2BPiano%2BRecital.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-8682340492495170394</id><published>2010-10-19T17:54:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T18:40:40.166-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>Classical Guitar Fiesta 2010: Suguhan Konser Gitar yang Panas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-aKC2f6XsMas/TiDr0M202-I/AAAAAAAAAWQ/yWSvt_7hsC0/s1600/CGF%2B2010.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-aKC2f6XsMas/TiDr0M202-I/AAAAAAAAAWQ/yWSvt_7hsC0/s320/CGF%2B2010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629758816250026978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Panas diatas bukan semacam kiasan untuk kata "porno" misalnya, tapi memang panas yang nyata. Di Auditorium CCF, Jumat tanggal 8 Oktober itu, tergelar Classical Guitar Fiesta (CGF) 2010 buah karya KlabKlassik, salah satu komunitas yang rajin kumpul-kumpul di Tobucil. Entah AC nya tidak jalan atau penontonnya melebihi kapasitas, yang pasti hampir setiap yang berada di dalam berpeluh keringat. Meski demikian, keadaan tersebut tak menyurutkan minat penonton untuk bertahan di ruangan, meski harus selama hampir tiga jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal acara hingga akhir, penonton disuguhi macam-macam penampil dalam format yang berlainan juga, meski semuanya satu tema: gitar klasik. Penampilan dibuka dengan Ririungan Gitar Bandung, yang dengan format ensembel sepuluh orangnya, menyuguhkan aransemen lagu Drive My Car dari The Beatles. Setelah itu, berturut-turut hadir para penampil dalam format gitar tunggal, yang diseling satu lagu oleh duet gitar dan cello yang memainkan lagu The Swan karya Camille Saint-Saens. Acara yang dipandu oleh MC Royke Ng ini kemudian beristirahat lima belas menit kala konser sudah berjalan 45 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca interval, hadir gitaris asal Meksiko bernama Mulix Cabrera. Penampilannya unik, karena menampilkan lagu tradisional Meksiko dengan iringan petikan gitar, kecapi, dan vokal. MC Royke juga cukup menghibur, dengan mewawancarai Mulix memakai Bahasa Inggris pada mulanya, tapi lama-lama berganti Bahasa Sunda! Ini disebabkan, Mulix sesungguhnya kuliah di STSI selama lebih dari setahun. Setelah Mulix tampil, bergantian kemudian penampilan solo gitar lagi, diantaranya Caessario Toga Sakti Muda Perkasa dengan lagu Dream Adventure, dan Jardika Eka Tirtana dengan lagu Canzonetta karya Felix Mendelssohn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, di penutup, CGF 2010 menghadirkan bintang tamu bernama Phoa Tjun Jit dengan format gitar solo. Gitaris dengan prestasi juara Festival Gitar Klasik Nasional Yamaha 1981 dan Festival Gitar Klasik Asia Tenggara Yamaha 1982 itu, menyuguhkan empat karya aransemennya sendiri. Yang paling menarik bagi saya, adalah aransemen Bengawan Solo karya Gesang. Dibuka dengan petikan khas keroncong, lalu diseling dengan gaya blues, dan ditutup dengan ritmik country. Setelah lagu terakhir When I Am 64 dari The Beatles, penonton tak ingin acara berakhir. Tjun Jit diminta naik panggung lagi membawakan encore. Acara malam itu pun tidak hanya panas, tapi juga hangat. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CGF adalah acara rutin dwitahunan dari KlabKlassik. Formatnya adalah konser gitar untuk umum. Jadi, pendaftaran dibuka bebas untuk siapa saja yang mau ikut konser. Hanya saja, untuk kepentingan durasi acara yang terbatas, peserta diaudisi dulu dua minggu sebelum konser. Untuk memberikan bobot lebih pada acara, selalu dihadirkan bintang tamu. CGF 2006 berbintang tamu Royke B. Koapaha, CGF 2008 berbintang tamu Jubing Kristianto, dan CGF kemarin Phoa Tjun Jit. Semua nama-nama tersebut adalah gitaris senior yang telah berprestasi dan malang melintang di dunia pergitaran nasional maupun internasional. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-8682340492495170394?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/8682340492495170394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=8682340492495170394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8682340492495170394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8682340492495170394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/10/classical-guitar-fiesta-2010-suguhan.html' title='Classical Guitar Fiesta 2010: Suguhan Konser Gitar yang Panas'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-aKC2f6XsMas/TiDr0M202-I/AAAAAAAAAWQ/yWSvt_7hsC0/s72-c/CGF%2B2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-4645246109410332361</id><published>2010-10-04T18:24:00.000-07:00</published><updated>2010-10-04T18:45:45.035-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Susunan Acara Classical Guitar Fiesta 2010</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;1. Ririungan Gitar Bandung      &lt;br /&gt;2. Kristianus Tri Adisusanto &lt;br /&gt;3. Kevin Cahyady &lt;br /&gt;4. Kelvin Budiman &lt;br /&gt;5. Liv Audrey Suwandi &lt;br /&gt;6. KlabKlassik Duo &lt;br /&gt;7. Luthfi Farabi &lt;br /&gt;8 Dudung Irfan K. &lt;br /&gt;9 R. Lutfi Latifullah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interval&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Mulix Cabrera &lt;br /&gt;11. A. Dennis Morgan Permana &lt;br /&gt;12. Dicky Salam &lt;br /&gt;13. Caessario T.S.M.P. &lt;br /&gt;14. Jardika Eka Tirtana &lt;br /&gt;15. Phoa Tjun Jit &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disediakan waktu check sound dan coba panggung dari mulai pukul 14.00 sampai 18.00.&lt;br /&gt;- Peserta selambat-lambatnya datang ke CCF pukul 18.30 (Hati-hati parkir susah, sebaiknya parkir di Gramedia, BEC, atau Arcade).&lt;br /&gt;- Memakai pakaian rapih (Sepatu, celana kain, dan kemeja/polo shirt/jas/batik) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-4645246109410332361?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/4645246109410332361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=4645246109410332361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4645246109410332361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4645246109410332361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/10/susunan-acara-classical-guitar-fiesta.html' title='Susunan Acara Classical Guitar Fiesta 2010'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-4414087572875791544</id><published>2010-10-04T18:00:00.000-07:00</published><updated>2010-10-04T18:24:31.386-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Persiapan Menjelang Classical Guitar Fiesta 2010</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKp9LL4zoAI/AAAAAAAAAUU/acBqPs3JOYA/s1600/poster+cgf.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 276px; FLOAT: left; HEIGHT: 400px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524365524046422018" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKp9LL4zoAI/AAAAAAAAAUU/acBqPs3JOYA/s400/poster+cgf.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKp8iQRaBCI/AAAAAAAAAUM/P-W1UgbpSAM/s1600/poster+cgf.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak terasa, sudah dua tahun KlabKlassik berlalu dari acara dwitahunan nya yakni Classical Guitar Fiesta 2008. Sekarang telah menginjak 2010, dan alah, KK kembali menyelenggarakannya. Acaranya berbeda tempat dengan dua tahun lalu yang mana diselenggarakan di Asia Africa Cultural Centre, sekarang ini KK mengembalikan CGF ke Auditorium Centre Culturel Francaise (CCF) seperti tahun 2006. Persiapan kali ini lebih santai dan tidak seperti sebelum-sebelumnya yang kerapkali berlangsung cukup menegangkan. Barometernya, sebelum-sebelumnya KK rajin rapat dan bertemu di beranda Tobucil, dengan suasana yang agak-agak tegang. Sekarang ini hampir tak pernah bertemu, dan konon Royke mengatakan bahwa rapat dilakukan via chatting di YM. Oh teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Classical Guitar Fiesta adalah konser gitar yang terbuka untuk umum. Maksudnya, siapapun boleh ikut, dengan cara mendaftarkan diri. Untuk menyinkronkan dengan durasi acara, dan lalu menjaga kualitas jua, maka para pendaftar itu kemudian diaudisi oleh tiga orang juri. Nantinya mereka-mereka yang lolos ditampilkan bersama-sama dengan sisipan bintang tamu dan penampil terpilih pilihan panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audisinya sendiri telah lewat tanggal 26 September lalu, dengan juri Diecky K. Indrapradja, Tono Rachmad S.Pd. serta seorang Meksiko bernama Daniel Cabrera. CGF 2010 akhirnya sukses meloloskan sebelas orang. Sebelas orang tersebut terdiri dari mulai gitaris wanita berusia SMP, hingga seorang yang bisa dikatakan bapak-bapak gaek. Kesebelas tersebut akan tampil di CCF, tanggal 8 Oktober, Jumat ini. Serukah? Insya Allah, dan itu hanya akan kau ketahui jika membeli tiketnya di Tobucil langsung. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CGF 2010&lt;br /&gt;Jumat, 8 Oktober 2010&lt;br /&gt;Pk. 19.00&lt;br /&gt;Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tiket:&lt;br /&gt;Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)&lt;br /&gt;Syarif (0817-212-404)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-4414087572875791544?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/4414087572875791544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=4414087572875791544' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4414087572875791544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4414087572875791544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/10/persiapan-menjelang-classical-guitar.html' title='Persiapan Menjelang Classical Guitar Fiesta 2010'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKp9LL4zoAI/AAAAAAAAAUU/acBqPs3JOYA/s72-c/poster+cgf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-4501130443592644573</id><published>2010-10-02T23:03:00.000-07:00</published><updated>2010-10-04T23:18:36.633-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Nikmatnya Jumpa di Luar Beranda</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKrBVVnvYkI/AAAAAAAAAUk/27nGMqKagLY/s1600/ramadhan+058.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524440465248576066" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKrBVVnvYkI/AAAAAAAAAUk/27nGMqKagLY/s320/ramadhan+058.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKrBIhZLhcI/AAAAAAAAAUc/i7B9B63VlIQ/s1600/ramadhan+051.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524440245070431682" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKrBIhZLhcI/AAAAAAAAAUc/i7B9B63VlIQ/s320/ramadhan+051.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, KlabKlassik rajin berkumpul tiap hari Minggu di beranda Tobucil. Ketika libur lebaran, yang mana Tobucil tutup selama lebih dari seminggu, maka KK jadi kehilangan tempat nongkrong. Sebetulnya ini bukan hal yang buruk-buruk amat, mengingat semestinya orang-orang KK juga ikutan libur lebaran, jadi untuk apa tetap nongkrong? Tapi beberapa orang dari KK, yang terutama tidak keluar Bandung, berinisiatif untuk tetap berjumpa, alasannya apa lagi kalau bukan halal bi halal. Salam-salaman agar lebaran menjadi lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesama KK saling mengunjungi rumah masing-masing, bersalaman dengan sanak saudara dari rumah yang dikunjungi, serta basa-basi menyantap makanan yang disediakan pemilik rumah. Sistemnya berputar dan saling menjemput. Saya, bersama Bilawa, Kang Yadi, Kang Yunus, Kang Tikno, serta Kang Aka, adalah pesertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara sehari penuh yang dilakukan pada tanggal 14 September itu, KK menyelipkan kunjungan pada rumah pemilik Tobucil, Mbak Tarlen, yang tentu saja sekaligus kakak-adiknya, yakni Mba Kenti, Mba Upi, dan Mas Banung. Inilah untuk pertama kalinya KK khusus bertemu dengan para punggawa Tobucil itu, di luar beranda Tobucil. Menyenangkan, selain karena disuguhi tape ketan serta kue almond buatan Mba Kenti yang sedap (ini serius sedap, pesanlah kapan-kapan), KK juga merasakan suasana kekeluargaan kala bertandang ke rumah. Maksudnya begini, pertemuan di beranda Tobucil adalah jua bersuasana keluarga. Tapi saling mengunjungi dalam suasana lebaran, dengan niat silaturahmi, itu pertanda bahwa antara KK dan Tobucil, tidak berhubungan sebatas “ada maunya” semata. Belakangan ini banyak hubungan yang telah dinilai sebatas. Mesti ada nilai keuntungan praktis yang langsung bisa diterima saat itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi adalah bentuk penghindaran sikap politis yang berlebihan. Bahwa sesungguhnya, antara KK dan Tobucil hubungannya adalah sebagaimana sesama manusia: bisa saling memerlukan, menolong, dan menyayangi, tanpa ada takaran yang terlalu ketat. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-4501130443592644573?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/4501130443592644573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=4501130443592644573' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4501130443592644573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4501130443592644573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/10/nikmatnya-jumpa-di-luar-beranda.html' title='Nikmatnya Jumpa di Luar Beranda'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ARSJdJK6z9o/TKrBVVnvYkI/AAAAAAAAAUk/27nGMqKagLY/s72-c/ramadhan+058.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7465546113976115706</id><published>2010-09-27T10:38:00.001-07:00</published><updated>2010-09-27T19:26:30.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Pengumuman Hasil Audisi Classical Guitar Fiesta 2010</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Berikut adalah nama-nama peserta Classical Guitar Fiesta 2010 yang telah melewati proses audisi tanggal 26 September 2010:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Agustinus Dennis Morgan Permana&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Caessario Toga Sakti Muda Perkasa&lt;br /&gt;3. Dicky Salam&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Dudung Irfan K.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. Jardika Eka Tirtana&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;6. Kelvin Budiman&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;7. Kevin Cahyady&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;8. Kristianus Tri Adisusanto&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;9. Liv Audrey Suwandi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;10. Luthfi Farabi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;11. R. Lutfi Latifullah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Peserta yang namanya disebutkan di atas, harap mengumpulkan profil singkat dalam satu paragraf yang terdiri dari:&lt;br /&gt;NAMA, TEMPAT TANGGAL LAHIR, KEGIATAN SEKARANG, GURU/PEMBIMBING, PRESTASI, dan FOTO DIRI&lt;br /&gt;Yang dikirimkan ke klabklassik@yahoo.com (cc: syarafmaulini@gmail.com) paling lambat hari ini, Selasa 28 September 2010 pukul 24.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi peserta yang disebutkan di atas, harap juga mengikuti technical meeting pada:&lt;br /&gt;Hari : Minggu, 3 oktober 2010&lt;br /&gt;Jam : 13.00 - 14.00&lt;br /&gt;Tempat : Tobucil, Jl. Aceh. no. 56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dapat menghubungi Syarif di (0817-212-404)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk seluruh peserta yang bersedia mengikuti audisi Classical Guitar Fiesta 2010. Semoga semuanya mampu bersinergi untuk kemajuan pergitaran di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7465546113976115706?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7465546113976115706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7465546113976115706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7465546113976115706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7465546113976115706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/09/pengumuman-hasil-audisi-classical.html' title='Pengumuman Hasil Audisi Classical Guitar Fiesta 2010'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-2025780824152132949</id><published>2010-08-06T16:45:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T17:17:42.268-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Apresiasi'/><title type='text'>Review Resital Gitar Johan Yudha Brata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/2883_71906167077_697752077_1734523_1054728_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 325px; height: 214px;" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/2883_71906167077_697752077_1734523_1054728_n.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada dasarnya saya cuma penikmat musik, tidak bisa memainkan instrumen apapun. Gitar bisa sedikit, tapi tidak bisa dibilang jago. Maka itu mohon maklum jika review saya ini lemah adanya, atau bahkan tidak mewakili pendapat para penikmat yang hadir di CCF hari Selasa malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul resitalnya First Thing First, yang dibawakan oleh Johan Yudha Brata Sahertian dari Jakarta. Saya menyaksikannya pertama kali di acara musik klasik Radio Maestro yang berlangsung sehari sebelumnya. Waktu itu Johan memainkan dua lagu berjudul Memed dan Whirler of The Dance. Lagu pertama ini, cukup melodius dan berteknik. Johan memainkannya dengan terbata-bata, tapi saya maklum karena Johan terlihat masih tegang sebagai penampil pertama. Lagu kedua saya berharap lebih, tapi ternyata Johan belum juga tampil memikat dan masih terlihat tegang. Satu-satunya yang bikin saya bertahan, adalah tekniknya yang terlihat tinggi. Jari-jarinya sangat terlatih, meski kalimat yang keluar dari gitarnya masih sering terputus. Tapi anehnya, rasa penasaran saya tidak surut, pasti Johan menyimpan sesuatu untuk resital keesokan harinya di CCF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, tanggal 3 Agustus, saya memutuskan datang, membeli tiket resital gitar Johan. Harganya 25 ribu, cukup mahal untuk ukuran konser di Bandung. Saya mengambil tempat duduk di sebelah kanan agak ke tengah, berharap mendapatkan jarak yang tepat. Terlalu dekat juga sepertinya kurang baik. Pintu ruangan ditutup dan saya cuma melihat beberapa gelintir saja orang yang menyaksikan. Sepertinya kurang dari 20, tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk tetap menyaksikan konser Johan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan pun tampil, dengan membawakan lagu pertama berjudul Invocacion et Danse dari Joaquin Rodrigo. Lagu ini dibuka dengan bagian yang bagi saya terdengar abstrak, dengan ritmik yang susah ditebak. Agak berbeda dengan istilah "Danse" yang saya kenal. Tapi di tengah-tengah lagu, muncul juga Danse yang dimaksud meski singkat. Teknik tremolo juga dihadirkan dalam lagu ini. Johan seperti biasa, terlihat tegang sekali dalam lagu pertama ini. Apakah ini memang kebiasaannya, tegang di lagu pertama? Jujur saja, lagu pertama ini saya kurang menikmati. Tapi saya tidak mungkin menyerah di awal, dan saya bertekad tetap bertahan di kursi. Tapi lagu kedua dan seterusnya jujur, bikin saya pusing! Johan dengan tenangnya, tidak memberi ruang bagi tubuh saya untuk menerima harmoni yang "akrab". Mau goyang, susah, mau mejem, susah. Entah kenapa, apakah saya yang tidak paham? Mungkin demikian pikir Johan, ini seni kelas berat, hanya yang layak saja yang mampu mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penutup sesi pertama, lagu dari Ginastera yang amat panjang, saya keluar untuk mengisap rokok. Sambil berpikir panjang, masuk lagi atau tidak? Tapi tiket 25 ribu sayang untuk dibuang begitu saja. Sambil terus merenungkan lagu terakhir itu sesungguhnya apa? panjangnya hingga lebih dari 10 menit, tapi hanya berisi pukulan, erangan, petikan absurd, dan genjrengan emosional. Ah, saya pasti bukan orang yang paham atas ini. Pasti ada kandungan seni yang mendalam disana. Saya pun kembali masuk untuk sesi dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sesi dua, Johan tiba-tiba berbicara di pembuka. Wah, itu sungguh menyegarkan! Ketika kuping sudah terbiasa mendengar denting gitar yang miring, mendengar suara manusia yang pitch sangatlah enak. Tapi aduh, lagu pertama di sesi dua ini ternyata tidak ubahnya dengan sesi sebelumnya: pusing! Saya tidak bisa lagi menahan diri untuk melirik HP, membuka YM, untuk mencari teman yang mau diajak chat. Maksudnya, agar pikiran saya tidak habis hanya untuk berkonsentrasi di satu titik, yakni panggung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lagu kedua berjudul Memed, saya memutuskan keluar ruangan. Saya merasa tidak mampu lagi bertahan, dan memilih untuk mengintrospeksi diri: Pasti ini saya yang tidak mengerti. Saya mesti kembali meningkatkan apresiasi dan banyak mendengarkan dentingan gitar dengan nada miring. Selama ini saya dengarkan jazz Pat Metheny yang saya anggap sudah miring, ternyata masih jauh dengan yang ini. Bung Johan, saya tak bisa mengkritik anda, atau memberi masukan. Saya cuma bertanya pada diri saya, adakah penonton itu bisa disalahkan atas apa yang dia tidak mengerti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tony Soedjarwo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*foto diambil dari dokumen pribadi Johan oleh administrator blog in&lt;/span&gt;i&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-2025780824152132949?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/2025780824152132949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=2025780824152132949' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2025780824152132949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/2025780824152132949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/08/review-resital-gitar-johan-yudha-brata.html' title='Review Resital Gitar Johan Yudha Brata'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-5932749598612368868</id><published>2010-07-29T09:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-29T09:48:17.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Celoteh'/><title type='text'>KlabKlassik dengan Dua "S" (Tribute to Mas Niman)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jika kalian, wahai para penggiat di KlabKlassik, merasa bahwa komunitas ini tengah dalam kondisi menyenangkan, maka saya coba bahas darimana kita ini berasal. Agar kita tidak termasuk golongan Malin Kundang yang setelah mengalami nikmat duniawi lalu lupa pada wanita yang melahirkannya ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ini, diberi nama KlabKlassik, jangan tanya saya, Bilawa, Royke, atau Iyok, atau Kang Trisna kenapa-kenapanya. Bukan, bukan kami yang menamainya. Adalah seorang penikmat jazz sekaligus koordinator komunitas jazz bernama KlabJazz, yang menamai kita seperti ini, lima tahun silam. Ia pun, sesungguhnya, barangkali tidak tahu kenapa melabelinya dengan dua huruf "s". Saya cuma pernah mendengar pernyataan beliau: "Karena setahu saya, klasik itu nama salah satu periode dalam sejarah musik Barat. Jadi klasik disini mengacu pada hal yang berbeda." Demikianlah beliau berkata, dan kami yang tak paham mengangguk tanda iya. Adakah kami paham sekarang? Sesungguhnya tidak juga, tapi kami sudah menganggap dua "s" itu sebagai ciri yang memang telah melekat. Seperti kata Bilawa: Biarkan saja jika memang dua "s" tidak bermakna, setidaknya itu memudahkan orang dalam mengingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia orangnya, beliau, yang memberi kita pada mulanya, sebuah hari di minggu kelima pertemuannya. Jadi begini, KlabJazz berkumpul setiap hari minggu, dan jika di suatu bulan terdapat minggu kelima, itulah saatnya KlabKlassik beraksi. Beliau tak cuma merelakan pertemuan komunitasnya diambil kami, anak ingusan yang haus eksitensi, tapi juga mau mengundang komunitas jazznya untuk tetap turut serta dalam KlabKlassik. Jadilah pertemuan kami seolah banyak orang yang datang, biarpun mereka entah suka musik klasik entah tidak, atau barangkali ada rasa kasihan terhadap kami-kami yang tak jelas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia orangnya, beliau, yang mengingatkan bahwa: "Tidak boleh ada iuran bulanan, karena bayar berarti in, tidak bayar berarti out." Itulah ucapan yang mendasari, seluruh gerak-gerik kita sekarang ini. Jika ya, Ririungan Gitar Bandung bayar, itu disebabkan karena demi konser, agar anggota menjadi bertanggungjawab mengikuti latihan demi latihan. Karena absen satu atau dua kali dalam persiapan, akan mengganggu harmonisasi keseluruhan. Lagipula, siapa yang melarang kalian mengambil teh botol atau mie sebagai konsumsi? Keduanya berbeda harga, tapi di mata kami derajatnya sama: sama-sama dibayar dengan uang RGB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ya, akademi KlabKlassik membayar, juga karena ini sistem kelas lengkap dengan dosennya yang nyata. Artinya, kita semua tentu saja tidak mau mengecewakan sang dosen, baik oleh kehadiran, baik oleh imbalan. Sang dosen bukan seorang yang mata duitan, saya tahu betul. Tapi ia seorang yang mencintai apresiasi dari murid-muridnya. Dan berhubung klab tak mampu membayar jasa-jasanya dengan uang yang banyak, maka kami membayar dengan kehadiran yang bertanggungjawab. Bagaimana agar kehadiran bisa bertanggungjawab? Sebagai paksaan, ya lewat membayar. Dan kembali lagi, kau bisa ambil risoles ataupun kopi aroma sebagai konsumsi, dengan derajat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia orangnya, beliau, yang kemudian entah kenapa ternyata bagaikan filsafat Wittgenstein: "Aku hanya memberi kalian tangga. Setelah kalian berada di atas, maka tak perlu lagi tangga itu. Agar kalian tak punya pilihan untuk turun." KlabJazz kemudian berjuang di tempat yang berbeda dengan kami. Sementara kami, KlabKlassik, terus mencari bentuk sampai selama-lamanya: "Tempus mutantur, et nus mutamur in ilid" Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik sekarang, bagi saya, adalah tempat dimana saya tak perlu takut jadi manusia terasing di tengah mekanisasi rutinitas perkotaan. Ada masa satu hari dalam seminggu dimana saya mewaraskan diri. Menggunakan segenap hati untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna. Karena adakah segala sesuatu mesti berguna? "Bersiul pun tidak berguna," demikian kata Goenawan Mohamad. Ini adalah tempat dimana saya menghabiskan ongkos, waktu, tenaga untuk kesana. Yang oleh manusia ekonomi saya ini dibilang inefektif, karena kemudian apa yang saya lakukan tidak mengembalikan modal yang telah saya keluarkan. Tapi jika Nietzsche berkata, "Hakekat kehidupan adalah kehendak untuk berkuasa" maka dari klab saya belajar, "Hakekat kehidupan adalah mengekspresikan rasa cinta" Dan jika kau mempunyai sesuatu, ataupun tempat, ataupun manusia, tempat kau mengekspresikan rasa cintamu secara bebas, maka barangkali damailah engkau. Dan jika memang ekonomi berbicara tentang uang, tidakkah uang nantinya juga digunakan untuk mengekspresikan rasa cintamu akan sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kata, semoga tulisan ini adalah bentuk rasa syukur atas adanya tempat yang barangkali Tuhan akan berpikir ulang jika mau menggelar kiamat. Setidaknya masih ada satu tempat dimana orang masih mau menggerakkan kakinya untuk sesuatu yang tak praktis. Sesuatu yang melampaui kepraktisan, yang cuma bisa dijawab oleh makna yang tertanam dalam masing-masing orang. Yang hingga kini kami tak pernah paham kenapa Kang Trisna dari Subang mau jauh-jauh datang ke pertemuan klab yang cuma dua jam lalu lantas pulang. Yang hingga kini kami tak pernah paham kenapa Mas Yunus dalam kondisi tipus mau dengan sempoyongan datang ke klab untuk mendengarkan haha hehe kami yang pasti kemasannya jauh lebih tidak menarik dibanding filosofi The Secret. Tidakkah barangkali, kiamat turun ketika semua orang sudah berpikir praktis? Semua orang sudah berpikir apa yang berguna bagi ia, dan tidak lagi menalar soal hal-hal yang melampaui itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berbahagialah kita, dan berterima kasihlah pada orang yang jika tiada ide-idenya yang brilian, maka barangkali tak pernah ada klab ataupun tak pernah ada gairah untuk menjalankannya. Kita disini intinya mengikat silaturahmi, atau kata Kang Trisna, "klab ini dipersatukan oleh sesuatu, yang sesungguhnya bukan musik, tapi entah apa." Dan Mas Niman, Dwi Cahya Yuniman, kaulah beliau yang kami maksud. Dan kami berterima kasih sedalam-dalamnya atas batu pertama yang kau letakkan. Semoga kita bisa membangunnya hingga menjadi menara yang tinggi. Dan ketika sudah terlampau tinggi, seyogianya kita ingat tragedi Menara Babel yang mahsyur. Mereka tak mau lagi memandang ke bawah, tapi terus meninggikan menara, sehingga Tuhan menghukumnya dengan menjadikan lidah mereka bersilat berbagai bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bach memberkati&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.syarifmaulana.blogspot.com/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarif Maulana&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-5932749598612368868?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/5932749598612368868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=5932749598612368868' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5932749598612368868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/5932749598612368868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/07/klabklassik-dengan-dua-s-tribute-to-mas.html' title='KlabKlassik dengan Dua &quot;S&quot; (Tribute to Mas Niman)'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-8913970229868792888</id><published>2010-07-28T09:38:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T10:15:13.082-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Informasi'/><title type='text'>Peraturan &amp; Form Pendaftaran Classical Guitar Fiesta 2010</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Acara dwitahunan KlabKlassik berjudul Classical Guitar Fiesta akan kembali digelar setelah tahun 2006 dan 2008. Formatnya masih sama, yakni konser gitar untuk umum. Sebagai informasi tambahan, acara ini akan menghadirkan Phoa Tjun Jit (Juara Festival Gitar Yamaha 1981 dan juara Yamaha South East Asian Guitar Festival 1982). Bagi yang berminat ikut serta, bisa mengunduh formulirnya disini. Formulir yang sudah diisi dapat dikirimkan ke Tobucil, Jl. Aceh no. 56, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.esnips.com/doc/1d2229e1-8640-45d0-b9c0-e9cbd4c1062d/peraturan__form_pendaftaran"&gt;Peraturan &amp;amp; Form Pendaftaran&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-8913970229868792888?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/8913970229868792888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=8913970229868792888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8913970229868792888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/8913970229868792888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/07/peraturan-form-pendaftaran-classical.html' title='Peraturan &amp; Form Pendaftaran Classical Guitar Fiesta 2010'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-3981453148637940703</id><published>2010-07-21T04:32:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T04:47:35.252-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Mempertanggungjawabkan Karya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saya terlambat datang ke KlabKlassik (KK) hari itu. Ketika datang, telah berlatih delapan orang memainkan sebuah karya baru gubahan Yunus Suhendar. Mas Yunus mengaransemen sebuah lagu dari Enya yang berjudul Willow on The Water. Karya ini merupakan pesanan dari acara Rhapsodia Economica UNPAD yang akan diselenggarakan tanggal 7 Agustus. Isi pesannya: "Jika KlabKlassik bisa tampil, maka pertimbangkan untuk memainkan lagu Enya yang berjudul Willow on The Water". Lagu tersebut terbilang sederhana dan tidak ada variasi yang memikat sepanjang lagunya. Nyaris melodinya berulang dari awal sampai akhir, KK pun terbilang tak sulit memainkan karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Diecky, sang dosen di akademi KK (sebuah kelas komposisi musik yang rutin diadakan tiap Minggu), tidak ingin membuatnya sederhana. Mas Yunus seolah disidang dan diminta pertanggungjawabannya atas segala-gala yang telah ia lakukan. Karyanya dibedah dari banyak aspek, sehingga terasa sekali bahwa karya yang relatif sederhana tersebut ternyata memuat banyak unsur. Misalnya dari sudut pandang instrumentasi, Diecky melihat bahwa dalam lagu Enya, berusaha ditonjolkan teknik pizzicato dari instrumen gesek. Diecky melihat lagi bahwa Mas Yunus tidak berusaha menonjolkan itu, melainkan barangkali membuat suara baru yang berasal dari orisinalitas gitar. Perbincangan ini menarik dan cukup menyedot apresiasi para peserta KK. Di pertemuan nanti-nanti, diharapkan peserta akademi membawa sebuah komposisi untuk dibahas bersama. Ternyata lebih menarik jika ada contoh komposisi yang dibuat orisinil oleh peserta akademi sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KK hari itu cukup lengkap. Setelah dibuka dengan latihan Ririungan Gitar Bandung, dan dilanjutkan dengan analisis karya, KK ditutup dengan ini dia, performa. Kebetulan sore itu dua orang datang, namanya Yuty dan Andika. Keduanya akan konser di CCF hari Jumat tanggal 23 Juli dalam format piano dan flute. Berhubung tidak ada piano, maka yang dipaksa tampil adalah Andika. Andika pun rela memainkan satu potongan karya dari salah satu materi resital nantinya. Lagunya berkisah tentang senja, karya Singgih Sanjaya. Sore itu jadi sendu oleh tiupan lirih flute Andika. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-3981453148637940703?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/3981453148637940703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=3981453148637940703' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3981453148637940703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/3981453148637940703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/07/mempertanggungjawabkan-karya.html' title='Mempertanggungjawabkan Karya'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-4170809579374498093</id><published>2010-06-10T09:16:00.002-07:00</published><updated>2010-06-10T09:51:01.018-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Akademi KlabKlassik: Hari Perdana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari itu ada yang spesial di KlabKlassik, yakni untuk pertama kalinya, mereka berkumpul di hari Minggu yang ganjil. Maksudnya, jika biasanya klab berkumpul di minggu kedua dan keempat, sekarang di minggu pertama pun ternyata ada kumpul-kumpul, tepatnya pukul satu. Bagi Klab, itu adalah hari cukup bersejarah, karena pertama kalinya Klab membuat semacam akademi. Yang mana merupakan semacam kelas yang isinya mengajarkan seputar materi-materi mendekati kuliah. Dosennya? Ada, seorang aktivis Klab dan juga Madfal, namanya Diecky K. Indrapradja. Ia punya pengalaman mengajar cukup banyak, salah satunya di institusi resmi Sekolah Tinggi Musik Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari perdana kelas yang diberi nama Akademi KlabKlassik itu, belajar tentang dasar-dasar harmoni, yang nantinya akan mengarah pada penulisan komposisi. Pesertanya ternyata cukup banyak, ada sepuluh. Delapan diantaranya anggota Ririungan Gitar Bandung, dua lainnya ternyata orang yang baru datang, Kebetulan, yang bikin Klab senang, kedua orang baru tersebut berlatar belakang vokal. Namanya Ucok dan Wawan. Sesuatu yang jarang terlihat di Klab yang kebanyakan gitar dan biola. Meski dimulai agak telat, tapi peserta terlihat serius dan antusias, meski materi ternyata cukup berat. Hari itu belajar soal harmoni jaman barok dan klasik, dan beberapa anjuran serta larangan penulisannya. Misal, dalam sebuah harmoni Sopran, Alto, Tenor, dan Bas, tidak boleh mengulang nada ketiga dua kali. Hal tersebut disebutkan haram di era Klasik, meski bagi telinga kita sekarang, terdengar enak-enak saja. Akademi KlabKlassik akhirnya ditutup dengan latihan menulis pengembangan komposisi dari melodi dasar To Be With You-nya Mr. Big.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akademi KlabKlassik ini diselenggarakan tiap Minggu, hanya saja di Minggu ganjil waktunya tiga jam (jam 13.00-16.00), sedangkan di minggu genap waktunya sejam (jam 15.00-16.00). Bayarnya tidak mahal, yakni 65.000 Rupiah untuk satu triwulan. Adapun triwulan itu menandai habisnya satu materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-4170809579374498093?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/4170809579374498093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=4170809579374498093' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4170809579374498093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/4170809579374498093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/06/akademi-klabklassik-hari-perdana.html' title='Akademi KlabKlassik: Hari Perdana'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-6354036013311526180</id><published>2010-06-09T23:01:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T19:00:27.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Penampilan KlabKlassik di Rhapsodia Economica</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-I3y5rx1uZG8/TiDws55gzDI/AAAAAAAAAWo/Y7ObVAcdqnc/s1600/rhapsodia%2Bacademica.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-I3y5rx1uZG8/TiDws55gzDI/AAAAAAAAAWo/Y7ObVAcdqnc/s320/rhapsodia%2Bacademica.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629764188460076082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Jumat, tanggal 4 Juni kemarin, KlabKlassik mendapat undangan dari kampus UNPAD. Isinya adalah meramaikan acara Rhapsodia Economica, yang mana merupakan acara triwulanan dari kampus negeri itu, untuk mempersembahkan semacam acara musik klasik. KK kebetulan dapat kehormatan untuk mengisi edisi perdananya, bersama sekolah musik NADA. Jadi begini, KK diberi slot sekitar 35 menit, lalu bebas mengisinya dengan penampil siapa saja, selama masih sejalan dengan visi misi musik klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya KK memilih orang-orang yang memang rajin datang ke KK. Yakni di pembuka, ada Dicky Salam yang menampilkan Koyunbaba dalam format solo gitar, lalu Andrew Sudjana yang memainkan karya piano solo Haydn, lalu disambung Kelvin Budiman, solo gitar, lagunya It Might Be You. Setelah itu, mulailah format non-solo, mulai dari duet gitar-violin dari Yunus Suhendar dan Yusuf Thomas yang tampil membawakan Galih dan Ratna, lalu KlabKlassik String Trio yang diisi Afifa Ayu, Syarif Maulana, dan Azisa Noor. Nama terakhir kembali memainkan lagu klasik, yakni Air on G String dari J.S. Bach. Galih dan ratna memang sengaja disisipkan, karena panitia ternyata tidak klasik berat, bahkan barangkali masih bingung dengan defisini musik klasik itu sendiri. Awalnya malah KK disodori contoh songlist yang berkaitan dengan ABBA dan sejenisnya. Di akhir penampilan, KK menutup dengan suguhan Ririungan Gitar Bandung yang menampilkan dua karya The Beatles dan satu lagu penutup Pak Ketipak Ketipung. Bukan klasik? Kalau begitu katakan pada kami, apakah klasik itu? Karya musik dari Renaisans hingga Romantik? Teknik bermain atau format grup musik? Atau karya-karya lawas yang bukan berasal dari kekinian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, itu tak lagi penting sebenarnya. Yang penting, kata "Klasik" jadi tali penghubung silaturahim kita semua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);" class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-6354036013311526180?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/6354036013311526180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=6354036013311526180' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6354036013311526180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/6354036013311526180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/06/penampilan-klabklassik-di-rhapsodia.html' title='Penampilan KlabKlassik di Rhapsodia Economica'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-I3y5rx1uZG8/TiDws55gzDI/AAAAAAAAAWo/Y7ObVAcdqnc/s72-c/rhapsodia%2Bacademica.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-7671792561756297727</id><published>2010-06-09T22:47:00.000-07:00</published><updated>2010-06-09T23:00:45.431-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Pendidikan Musik Milik Semua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/S_tJaFw58wI/AAAAAAAAFes/hHLhGO14PuQ/s400/DSC00089.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/S_tJaFw58wI/AAAAAAAAFes/hHLhGO14PuQ/s400/DSC00089.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(24/5/10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik kemarin ada usulan menarik: Bagaimana jika dijadikan tiap minggu saja pertemuannya? Melihat ke masa lalu sebentar, KlabKlassik ini awal mulanya nebeng KlabJazz. Dalam artian begini: KlabJazz berkumpul tiap hari minggu, dan jika dalam satu bulan ada minggu kelima, maka KlabKlassik lah yang akan mengisi. Intinya: KlabKlassik berkumpul sekali dalam sebulan, itupun tidak setiap bulan, hanya bulan yang terdapat minggu kelimanya saja. Lalu ketika Tobucil pindah ke Aceh 56, KlabKlassik tidak lagi terikat dengan pertemuan KlabJazz, dan kemudian bertemu jadi sebulan dua kali, yakni di minggu ke-2 dan minggu ke-4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Diecky, seorang aktivis merangkap komposer dan dosen, mengajukan ide, “Gimana kalau tiap minggu aja. Minggu ganjilnya, kita pakai untuk semacam kelas teori dan komposisi.” Hal tersebut disambut hangat oleh aktivis klab lainnya. Jadinya, Klab akan mendirikan semacam pelatihan singkat dimana Diecky yang jadi tutornya. Tentu saja ini menjadi ilmu yang sangat bermanfaat bagi klab, karena kurikulum yang ditawarkan oleh Diecky, adalah kurikulum yang 90% mirip dengan kuliah musik. Jadi apa tujuannya? “Agar pendidikan musik menjadi milik semua orang. Bukan cuma milik orang-orang yang bisa membayar untuk masuk sekolah musik ataupun kuliah musik,” tutur Diecky. Jadi nantikan pertemuan perdana Klab di minggu ganjil pertama bulan Juni, yakni tanggal 6 Juni. Kelas teori ini direncanakan akan berbayar, untuk kemudian ditukar dengan peralatan seperti kertas paranada, alat tulis, dan minuman. Berapa bayarnya? Masih Klab bicarakan, dan tenang saja, Insya Allah tidak akan mahal, semahal kuliah yang makin mahal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-7671792561756297727?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/7671792561756297727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=7671792561756297727' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7671792561756297727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21330421/posts/default/7671792561756297727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://klabklassik.blogspot.com/2010/06/pendidikan-musik-milik-semua.html' title='Pendidikan Musik Milik Semua'/><author><name>klabklassik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09976164094244360978</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i47.photobucket.com/albums/f191/klabklassik/bach_not_dead.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/S_tJaFw58wI/AAAAAAAAFes/hHLhGO14PuQ/s72-c/DSC00089.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21330421.post-1612584760512225605</id><published>2010-06-02T06:38:00.000-07:00</published><updated>2010-06-02T07:08:44.386-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Komunitas'/><title type='text'>Balada Duo Jazzer di KlabKlassik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/S-uAJqUfoCI/AAAAAAAAFdM/o9ybXOZMYdM/s400/P1070642.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkgaHPODGng/S-uAJqUfoCI/AAAAAAAAFdM/o9ybXOZMYdM/s400/P1070642.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;(09/05/2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namanya juga KlabKlassik (KK), seyogianya diwarnai oleh musik klasik di dalamnya. Tapi hari itu ada yang beda, KK kedatangan Ridzky Diansyah dan Jasiaman Damanik (Jazzy), dua gitaris jazz yang kebetulan saja sedang ingin mampir. Ini menyenangkan sekaligus menarik, karena sebelumnya KK baru saja selesai menanggap permainan klasik dari Luthfi. Sebagai informasi, Luthfi ini akan melakukan resital tanggal 3 Juni, dan kemarin itu adalah gladi resiknya. Kontan terjadi perubahan suasana yang cukup kontras, dari tadinya dentang denting gitar klasik yang lembut syahdu, sekarang jadi jazz yang liar dan eksotik. Kedua gitaris tersebut, Ridzky dan Jazzy, berduet memainkan Stella by Starlight, All of Me, dan Desafinado. Yang hadir tak ba&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;nyak, tapi suasana keakraban sangat kuat dan terasa. Luthfi sampai bilang, “Hati-hati, jangan dekat-dekat, nanti ada yang jadian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana seisi Tobucil pun sepertinya terpengaruh dengan permainan kedua gitaris yang sama-sama sempat berguru pada Venche Manuhutu itu. Mereka seolah disuguhi alunan radio KLCBS yang memang khusus menyajikan musik-musik jazz. Ini pun sesungguhnya menjadi semacam keuntungan bagi KK, karena dengan kehadiran mereka, wawasan musik serta apresiasi aktivis KK menjadi bertambah, seperti Sutikno bilang, “Beruntung sekali KK punya suasana yang hangat dan kekeluargaan, sehingga banyak orang yang mau datang dan berbagi ilmunya tanpa berpikir soal uang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan KK ini mendorong aktivisnya untuk mengusulkan pertemuan setiap minggu saja, karena pertemuan dua kali dalam sebulan ini dianggap kurang mengakomodasi keinginan mereka untuk bersilaturahmi. Diecky kemudian memberi ide bahwa pertemuan Klab bisa diperkuat jadi tiap minggu, asalkan disisipkan pelatihan teori dan komposisi dengan format mentoring di dalamnya. Hal ini, kata Diecky, ditujukan agar yang datang ke KK semakin punya pengetahuan lengkap. Rencananya, jika memang Klab jadi tiap minggu, maka di minggu pertama dan ketiga, akan digunakan untuk belajar teori dan komposisi, yang diusulkan agar lebih enak, menggunakan sistem berbayar. Berbayar agar kurikulumnya berjalan kondusif dan orang tidak keluar masuk seenaknya karena akan merugikan peserta lain juga. Di akhir pelatihan yang rencananya berjalan tiga bulan, akan ada presentasi karya dan komposisi. Terdengar seperi Klab Nulis? Ya, jujur, memang KK terinspirasi dari sana. Mari kita nantikan realisasinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21330421-1612584760512225605?l=klabklassik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://klabklassik.blogspot.com/feeds/1612584760512225605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21330421&amp;postID=1612584760512225605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.c
